Puisi-Puisi Karya Asdar Muis RMS

Puisi-Puisi Karya Asdar Muis RMS
Puisi-Puisi Karya Asdar Muis RMS

Tuhan, Aku Cari Kau

saat bumi hangus
dagingku amis terbakar
aku mengendap terkoyak
mencari Tuhan
di antara puing menganga
mencari disela potongan mayat
mencari dimana-mana
tak ada!
tak kucari, Dia datang
memandang marah padaku
aku tantang. Dia tertawa
aku panggil, Dia enggan
lalu pergi
aku terperangah ketakutan
saat bumi hancur
daging amisku dijilati anjing
aku memeluknya erat
bersama mengendap mencari Tuhan!

Makassar, 9 Juli 1987


Bejatku, Bejat-Bejat

adakah kata lebih nikmat kutelan
bila jiwaku keropos menghadapi-Mu
hanya kata bejat menari-nari di benak
pun perjalanan bergumul nanah
kehidupan
kembali bermain-main di batin
pun beragam cakaran mencengkeram diri
tak mampu lepaskan ketakutan pada-Mu
bejat ... bejat…
kata itu nikmat, kurasa belenggu putus
bejatku, nanah menetes dari pori-pori
bejat-bejat, kehidupan tak ingin akhir
bejatku, kurasa lepas dari akhir
kini, berbekal keropos
aku beranikan diri datang pada-Mu
aku pun siap Kau teriak: Bejat!

Makassar, awal Maret 1992

Puisi: Fatimah Karya Kusuma Jaya Bulu

Puisi: Fatimah Karya Kusuma Jaya Bulu

Sebuah puisi dari Kusuma Jaya Bulu.

Puisi: Fatimah Karya Kusuma Jaya Bulu

Fatimah,
Berlarilah, Nak
Temui air mata yang menangis
diguratan wajah rinduku
pada perempuan
yang melahirkanmu

Bacalah aksara
Pada setiap bait
Luka yang sudah tua
Di sana, ada jejak ombak
Serta prasasti masa lalu menggelantung
di tiap ruas imajinasi yang patah

Jika,
Aku sudah dipenghujung jalan
Biarkan tanya mengantarkan matamu
Menghitung sembilan puluh sembilan kata
Di dalam lipatan ingatanmu

Dan kupastikan,
Nama Ibumu kutaruh di setiap baitnya

Fatimah,
Tetaplah berlari, Nak
Jangan biarkan senyummu retak
Serta lelah yang genit merayu lelahmu

Maaf,
Maafkan ayah,
Aku tak kuasa
Menahan kata kata beranak pinak
Dan mengisi rongga rongga puisi

Fatimah,
Saat aku tak lagi kau temui di gelas kopi hitam
Seperti sebelumnya
Maka ceritakanlah pada adik adikmu
Bahwa,
Ayah adalah matahari
Ibumu purnama ke tujuh di bulan berdarah

Bila mereka bertanya
tentang apa yang kuajarkan kepadamu?
Jawab dengan sederhana
CAHAYA
Selebihnya adalah ketiadaan dan kematian


Kusuma Jaya Bulu
13/06/2019



Di bawah adalah video dari puisi ini....


Puisi: Mencari Badik yang Hilang

Puisi: Mencari Badik yang Hilang
Ditulis oleh: Abidin Wakur

aku buka lembar-lembar daun lontar di rumah tua:
siri’ adalah BADIK yang menari di telinga
saat pertama mengenal dunia
kegagahan adalah badik yang terselip di pinggang
diam semedi di balik sarung
ketika bermain di pinggir hutan
kecongkakan dan kejantanan adalah badik yang BICARA di keramaian
laki-laki adalah
yang berpikir
kapan menancap lambungmu di tapal batas kampung
DARAH adalah jeruk nipis
pancuran kemilau badik pusaka
rambut dan tulang hutan bawakaraeng
MELIUKKAN PAMOR jeneberang ke selat makassar
kulit adalah sarung sutra
Pertahanan terakhir di somba opu
kaki adalah pinisi ke madagaskar
hati adalah tuanta salamaka si anak khaidir
prajurit di banten pahlawan di afrika
keringat adalah emas tetesi pesisir nusantara
rumah tua dicincang zaman:
pohon lontar sekarat menyembah gedung bertingkat
kelap-kelip lampu jalan memberantas kampunganku
duduk bersila adalah LELUHUR
asap kendaraan meracuni kuda penarik bendi
khalwatiah syeh yusuf tinggal tarian di panggung
badik pusaka raib bersama tubarani
telah lama aku disuapi fried chiken
ajari aku menikmati pallu basa
bagaimana resep sop konro
kepada siapa?

Makassar, 2000

Abidin Wakur

Puisi: Kemarin karya Kusuma Jaya Bulu

Puisi: Kemarin karya Kusuma Jaya Bulu
Kemarin karya Kusuma Jaya Bulu

Di suatu malam, aku ditemui oleh perempuan
Rambutnya sebahu, bersepatu hitam dengan kelopak mata yang indah
Ia duduk manis di dekatku. Tertunduk, sesekali wajahnya mencuri pandang

Aku suguhkan senyum
Tapi ia melotot padaku
Ku letakkan salam di telinganya
Lalu perempuan itu menampar wajahku
Setelah itu ia entah kemana?

Di malam ke dua
Ia kembali menemuiku, tapi tidak dengan sepatu
Apalagi dengan wajah yang kaku
Aku mengulurkan tanganku, lalu perempuan itu dengan lembut mematahkan jari-jariku

Di setiap malam
Perempuan berparas cantik itu mengunjungiku
Bibir mungil miliknya mendekati telingaku
Tidak berbisik, apalagi mengucapkan kata-kata

Tapi,
Telinga kananku di gigitnya
Tangannya gemulai mencekik leherku
Kakinya begitu cepat menghantam dadaku
Kuku tajam miliknya mencakar-cakar wajahku
Lalu hilang, entah ke mana?

Sudah sepekan aku tidak bertemu padanya
Aku sudah menitip surat di kanton celana anak awan yang kutemui bermain-main dengan pagi
Aku menitip pesan pada setiap sepi yang kutemui
Aku sudah menyampaikan
Galau ini disembilan puluh sembilan sudut kehidupan
Katakan itu adalah bagian caraku
Untuk mencari tahu tentang dirinya

“Apakah kau ingin menemuiku?”
Aku balikkan pandangan ke arah perempuan yang memisahkan aku dengan iamajiku
“siapa kau?”
Aku adalah Kerinduan
Yang tak ingin kau akui
Aku adalah kerinduan
Yang tidak pernah kau ingin mempertemukan dengan Dzat yang menciptakanku
Kerinduan dari Maha Perindu

Aku kerinduan, yang selalu kau tumpuki dengan dosa-dosa
Aku kerinduan yang menyaksikan
Kau berorasi panjang menyampaikan kebenaran
Seraya ayam tetangga murung dalam laci rumahmu
Aku kerinduan yang selalu mengikutimu menggunakan gaun putih dengan kain batik kau lilit di kepalamu
Sedangkan, jutaan anak-anak bangsa yang hidupnya lebih buruk dari binatang yang binasa
Maaf, Ucapnya!
Aku hanya ingin
Memperkenalkan namaku, kerinduan!

Yang Terlupakan

Yang Terlupakan
Yang Terlupakan
Ketika itu mengabdikan diri untuk berbagi ilmu di sekolah


"Hormati gurumu sayangi teman, itulah tandanya kau murid budiman"

Nyanyian ini telah lama dilupakan
Benar-benar terlupakan
Apakah kita masih ingat?
Aku yakin kita tak pernah tahu
Atau mungkin memang tak pernah mau tahu
Atau mungkin juga kita tak tahu apa-apa lagi

"Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku"

Kurasa kita tak lagi mengenal lagu ini
Sebab tradisi itu benar-benar telah raib dari hati
Dan nyanyian itu telah lama dikubur
Nyanyian itu telah lama dibuang ke tong-tong sampah
Disembunyikan dalam lipatan kertas-kertas yang hampir habis termakan waktu.
Kusam dan sobek, lalu perlahan hilang.

Lihat!
Lihatlah mereka;
Mereka tak pernah mengeluh mengalirkan ilmunya
Tak pernah pula mereka marah jika kita tak salah
Lalu apa yang kita berikan padanya?

Tak ada....
Mereka banyak yang diadukan hanya karena menegur kesalahan yang kita buat sendiri
Mereka banyak yang dizalimi karena dianggap bukan siapa-siapa.

Padahal, kita tak menyadari satu hal;
Tidak sedikit orang sukses berkat mereka; guru kita.
Berkat guru; tidak sedikit orang menjadi professor, insinyur, arsitektur, dosen, dokter, ahli matematika, ahli fisika, ahli kimia, bupati, gubernur, menteri, presiden dan banyak lagi.
Lalu kita melupakan semuanya....

"Namamu akan selalu hidup,
Dalam sanubariku......"

Benarkah namamu akan tetap hidup?

Esok nanti kau akan tahu betapa berharganya mereka
Dan nyanyian itu tak akan lagi dianggap pelengkap saja.

Makassar, 6 Mei 2010

PUISI: Puisi Cinta Kita dan Kenyataan Sosial yang Sakit

PUISI: Puisi Cinta Kita dan Kenyataan Sosial yang Sakit
Puisi-Cinta-Kita-dan-Kenyataan-Sosial-yang-Sakit

Ditulis oleh Andhika Mappasomba Daeng Mammangka

kita adalah batu panas sayang.
tahukah kau batu panas itu? itu ibarat kain yang kering yang tergeletak di sebuat sudut yang tak penting bagi siapapun. jika terkena tetesan air, tetesan itu tak menggenang. tetesan itu terserap dengan sangat cepat, masuk ke dalam kain atau batu. kain dan batu itu adalah pikiran kita sayang. yang dipaksa menikmati suguhan kenyataan sosial kita yang sakit.

sayang, tahukah kau kenyataan sosial yang sakit itu? itu adalah apa yang kita simak setiap detak jam dinding saat bergerak. dia adalah segala hal ingkar sosial. kemiskinan, kesakitan massal, pendidikan yang dungu, dan pemuda pemudi seperti kita; tak memiliki kesempatan memberi arti pada bangsa kita, Indonesia; bekerja. dan sejuta genangan-genangan air mata yang tiada pernah terserap dan terdengar di ruang mewah kursi kekuasaan.

menonton televisi, seperti bercermin pada derita sendiri. mendengarkan orasi politik, seperti ejekan-ejekan yang menusuk jantung sendiri. mereka bilang Indonesia kaya raya, utang luar negeri kita tiada tara. Indonesia kaya raya, sebarisan perempuan baru saja bersalin tak bisa keluar meninggalkan rumah sakit karena tidak memiliki uang tambahan pembelian obat dan sewa bangsal sialan.

berjalan-jalan di sepanjang lorong pasar, kita diperhadapkan dengan peminta-minta yang menengadahkan tangan. sampah-sampah busuk, liter-liter yang curang dan timbangan-timbangan kekurangan berat, daging-daging busuk berformalin dipaksa masuk ke dalam hidung dan mulut kita. menulis dan membaca ini semua, seolah tiada habisnya; sekarat mata dan telinga kita menjadi penyaksi.

kita adalah batu panas sayang.
tahukah kau batu panas itu? dia mengandung panas pastinya. dengan panas itulah, kita tak bisa menyimpannya dengan melekatkan pada bagian tubuh kita. kulit akan melepuh. batu panas itu seperti rindu, sayang. jika terlalu lama terpendam panasnya, batu itu akan pecah menjadi debu. seperti hati kita, jika dia terlalu lama dihempas rindu, dia akan memanas, menggelora dan akan menghadirkan amuk badai di dalam kesadaran. butuh tetesan-tetesan air yang akan menunda kepecahannya. butuh tetesan air untuk tetap membuatnya tetap menjadi hangat. kehangatan itulah salah satu tujuan kita di dalam lingkaran cinta ini, sayang.

malam-malam yang sunyi dan mencekam, mengajarkan kita pada kisah hidup helen keller. dari kesunyian yang mencekam ia belajar mengenal dunia dan menebarkan cinta. dari kesadaran J. J. Rosseau tentang sosialitasnya mengajarkan kita tentang hidup yang berjuang memerdekakan bangsanya yang sakit dan menjadi budak di zamannya. malam-malam sunyi yang mencekam, membuat kita mengenang tertangkapnya seorang komunis muda, semaoen oleh belanda karena menyerukan kesadaran dan perlawanan di zaman keterjajahan. penangkapan pejuang sosial itu yang mengobarkan seruan-seruan pemogokan massal di zamannya.

malam-malam yang sunyi dan mencekam, melemparkan ingatan kita tentang maipa deapati dan datu museng yang sehidup semati. malam yang begini pula mengajarkan kita kisah haddara dan tongguru mattatta yang terpisah diujung badik demi harga dirinya di tanah mandar.

kita pernah memiliki kisah hariman siregar yang belakangan ditantang oleh emha ainun najib kembali turun ke jalan menyerukan revolusi. kita pernah memiliki amuk benteng dan tirani yang disebarkan di hari demonstrasi oleh taufiq ismail yang kini telah tua.

sayang, sosial kita sedang sakit. orang-orang dibayar uang dan sekotak makanan dan air kemasan untuk beramai-ramai ke lapangan terbuka mendengarkan pidato-pidato tanpa filosofi. pidato-pidato yang tak memiliki puisi. pidato yang tidak memiliki angka-angka yang pasti, mereka tak pernah belajar pada kehidupan buya hamka dan soekarno tentang pidato yang teduh dan nyala.

entah sampai kapan ini akan selesai.

sayang, kita tiba disini. pada sebongkah batu yang panas. sebongkah batu itu kita beri nama; CINTA. dalam situasi sosial kita yang sakit. kita membaca sajak-sajak yang tertulis di ruang-ruang sosial itu, membuat kita kehilangan gairah. sajak-sajak yang tertulis bagai tanpa harapan dan keinginan. film-film porno menjadi pelajaran yang paling ujung dari pertempuran perasaannya. kalimat-kalimat filsafat bersatu dalam tubuh psikopat. sajak dan filsafat kehilangan tubuhnya. terjebak pada seks pada ujungnya. begitu rumit memilah kalimat filsafat dan sajak serta rayuan mengadu kelamin dengan paksa. semua masih tubuh, akhirnya seni kehilangan kemanusiaan dan kebijaksanaan

Monolog Andhika Mappasomba mengenang 30 tahun Phinisi Nusantara
Monolog Andhika Mappasomba mengenang 30 tahun Phinisi Nusantara

sayang. itulah mereka. mungkin juga kita
tapi, cinta kita adalah kisah dalam perjalanan yang mencari bentuk. sambil membuka-buka semua kisah sejarah cinta yang ada, kita membuka helai buku sejarah cinta dengan ketulusan jiwa. membuka halaman sejarah cinta dengan kesejatian, kesetiaan dan kesadaran akan semua kisah sampirannya.

dalam perjalanan ini, waktu kita tak banyak. tapi kita tidak boleh egois pada semesta dengan tak menghiraukannya. sebab bumi ini bukan miliki kita berdua dan hanya mengandung kisah cinta kita saja. ada kisah-kisah sosial lain yang menunggu kita.

sambil saling rindu dan saling memeluk mesra dari jarak paling jauhnya cinta kita, batu yang panas itu kita raih, kita lempari penjahat-penjahat sosial itu sambil berseru;

wahai dunia
aku menangisi kenyataan sosialku
tapi air mata ini aku tumpahkan bukan hanya untuk kenyataan itu
sebab dunia bukan hanya tentang kemiskinan, derita dan pidato politik

aku menumpahkan air mataku ini
sebab rindu pada kekasihku
rindu itu tak tertahankan lagi
aku ingin bertemu dengannya, kapan saja, dimana saja,
lalu kami ingin menyepi
menyalakan televisi dengan suara gaduh
tai kami tidak sedang menonton
tergeletak, di sebuah sudut tak penting bagi siapa pun

Bulukumba, 17 Juni 2014
Diposting 17 Juni 2014 pukul 20.29
Link asli baca di SINI.

Pernyataan (Sebuah Puisi Ahda Imran)

Pernyataan (Sebuah Puisi Ahda Imran)
Love by Ian Konjo

Ditulis oleh: Ahda Imran

Ini wajahku. Bawa ke laut,
lalu kenanglah!

Sepanjang abad perut ikan-ikan
menyimpannya. Menyerahkannya
pada nafas para nelayan.

Jangan menjemputku di pulau
dengan rindu
karena rindu telah kuserahkan
pada suara laut paling jauh

Ini tubuhku
bawa ke dalam kabut
lalu catatlah!

Burung-burung
menjeritkannya, angin mengurainya
para pemberontak menyebutnya
cahaya!

Jangan memanggilku dari keheningan
karena rumahku adalah percik api
dari ribuan kaki-kaki kuda!

Ini seluruhnya untukmu
tapi pulanglah padaku, seperti juga
aku datang padamu

Atau kita sama-sama membakar saja rumah ini!

2003

Kutulis Lagi Sebuah Puisi

Kutulis Lagi Sebuah Puisi
Karya: Ahda Imran

Kutulis Lagi Sebuah Puisi

Kutulis lagi sebuah puisi
mungkin untukmu, mungkin juga bukan
kata-kata selalu punya banyak kemungkinan,
seperti waktu, seperti tubuhmu. Banyak hari
yang tak bisa lagi kuingat padahal aku mesti
segera berangkat. Kupastikan aku akan sampai
di pulau berikutnya, tepat ketika kau
sampai di seberang sungai

Kupastikan juga ada sebuah kesedihan
yang aneh menempel di setiap helai rambutku
tapi entah apa. Mungkin ingatan pada mereka
yang meninggalkanku karena
kebencian atau kematian

Kutulis lagi sebuah puisi
mungkin untukmu, mungkin juga bukan
dalam tubuhmu kata-kata adalah waktu, irama
yang cemas dan bimbang, janji yang tak beranjak
pergi. Tidak bersama siapa pun, aku telah berada
di lubuk malam. Ingatan padamu menjadi air
yang menetes dari jemari tangan. Banyak hari
yang tak bisa lagi kuingat sebagai apa pun
tapi telah lama kupastikan, aku akan sampai
di sebuah pulau berikutnya, kampung halaman
dari seluruh ingatan. Tepat setelah
kau membaca puisi ini

dari seberang sungai

2007

Video Puisi: Homo Indonesia Homo (Andhika Mappasomba)

Video Puisi: Homo Indonesia Homo (Andhika Mappasomba)
Video Puisi: Homo Indonesia Homo (Andhika Mappasomba)

Pembacaan puisi berjudul "Homo Indonesia Homo"oleh penulisnya sendiri, Andhika Mappasomba Daeng Mammangka di Lapangan Sinjai Bersatu. Puisi ini dibacakan pada kegiatan Kemah Literasi Jurnalistik, Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) kabupaten Sinjai, Jumat, 11 Oktober 2018 lalu. Kegiatan ini bertemakan “Perwujudan Generasi Milenial Melek Media” yang berlangsung dari hari Kamis-Sabtu (11-13/10/2018).

Peserta diharapkan memiliki pengetahuan tentang ilm ujurnalist dan melek media agar tidak ikut menjadi penyebar hoax.

Praktisi literasi Indonesia yang hadir selain Andika Mappasomba adalah Zainal Abidin dan beberapa praktisi media di kabupaten Sinjai.

Silakan nonton videonya. Eh, jika ingin teks puisinya, bisa dilihat pada postingan sebelumnya. Klik saja di Homo Indonesia Homo (Sebuah Puisi).

Homo Indonesia Homo (Sebuah Puisi)

Homo Indonesia Homo (Sebuah Puisi)
Oleh: Andhika Mappasomba Daeng Mammangka

Andhika Mappasomba Daeng Mammangka
Foto by Lina Langit. Festival Rapang Bulang, Roemah Langit, Gowa - Sulsel

aku menyaksikan tanah dan air berlari-lari kecil pergi tak kembali
dua lembah dan perbukitan menjelma lubang-lubang kematian

aku menyeru pada tanah; "Diamlah!"
aku manusia khalifah mulia
hanya mahkluk iblis yang tak mau tunduk padaku

tanah membangkang
membuka liang lebar menganga
maka masuklah ke sana dua pasang kaum luth menjadi penyangga, menjadi mangsa

ini belumlah kiamat qubro

aku bertanya, kenapa bisa bumi bergoncang dan
kenapa air laut bisa tumpah ke daratan?

bumi menjawab;
"kitab suci telah menjabar jelas, kaum luth, suara musik merobek langit, perkenduan terang di bawah lampu warna-warni, pemimpin yang loba untuk pajak bumi."

bumi menjawab;
"bumi Allah kau pajaki, mahluk Allah kau rendahkan, adzan kau abaikan, anak-anak perempuan melahirkan anak bapaknya, ibu-ibu menjadi budak anaknya."
sepasang homo berciuman di pintu bandara
sepasang homo berpelukan di tepi pantai
sepasang homo terciduk di kamar hotel
sepasang homo bercumbu mesra di angkutan umum
sepasang homo bergelayutan di dalam rimba perkotaan
sepasang homo melucuti pakaian dalam di salon plus
sebaris ayat kitab suci menggambarkan ummat luth, tapi kau abaikan

lalu, kau undang mereka dalam sepasukan baris-berbaris, lalu kau girang melihat mereka berdandan melenggok dengan betis berbulu, cobalah terpingkal sebagaimana terpingkalnya dirimu ketika bumi berguncang, tanah bergerak dan air laut tumpah ke daratan

saya tak pernah kaget
sudah jamak itu terjadi

sudah biasa itu terjadi
seperti seperti itu dari hari ke hari
tak ada lagi Tuhan di dalam Cinta manusia homo Indonesia homo

Politik sialan
membenarkan anus disebut vagina
demi APBD tulang rebutan anjing kemaksiatan

Astagfirullahaladzim

Allahumma Shalli Ala Muhammad Wa Ala Ali Muhammad
aku terbayang tangan mulia Rasulullah memerintahkan diam kepada tanah berguncang dan Umar Bin Khattab menancapkan tongkatnya ke tanah

tangan mulia dan tongkat itu hilang dalam ingatan ummat manusia

musik mengalun
diskotik dan cafe mesum tak mau tahu itu

maka menarilah sampai badai


Gowa 4.10.18

Teruntuk Kamu (2)

Teruntuk Kamu (2)
Teruntuk kamu,
.
Malam kian gulita tetapi semakin riuh
Irama musik romantis dari luar rumah terdengar jelas
Aku memikirkan kalimat yang tadi kuucapkan padamu.
Tentang teduh yang hadir ketika memandangmu.
.
Aku sedang tidak sekedar merangkai kalimat-kalimat ini untuk menterjemahkan rasa yang diam-diam menyusup ke dalam relung hati terdalamku.
Aku hanya sedang menenangkan rasa yang kini bergelayut.
Aku ingin kau tahu, jika kata-kata yang kuucapkan itu bukanlah gombalan seperti kebanyakan orang.
.
Percaya atau tidak; kuserahkan sepenuhnya padamu.
Aku hanya ingin kau tahu.
Begitu saja...!!!


Gowa, 26/9/2018

Teruntuk Kamu

Teruntuk Kamu
Teruntuk kamu...
Perempuan yang berhasil membangun istana rindu pada sebongkah hati yang pernah luka.
Senyummu yang selalu jelas membekas dalam pikiranku.
Meneduhkan serupa rindangnya pepohonan.

Teruntuk kamu...
Aku hanya ingin mengatakan ini.
Kau menjelma rindu untuk yang kesekian kalinya.


Teruntuk kamu...
Perempuan yang berhasil membangun istana rindu pada sebongkah hati yang pernah luka.
Senyummu yang selalu jelas membekas dalam pikiranku.
Meneduhkan serupa rindangnya pepohonan.

Teruntuk kamu...
Aku hanya ingin mengatakan ini.
Kau menjelma rindu untuk yang kesekian kalinya.
.
.
Gowa, 01/09/2018
02.12.


Teruntuk Kamu
Foto by me. Lokasi Kabupaten Jeneponto - Sulsel

Puisi Soe Hok Gie - Sebuah Tanya

Puisi Soe Hok Gie - Sebuah Tanya
“akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
apakah kau masih berbicara selembut dahulu?
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku”

(kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih,lembah mendala wangi
kau dan aku tegak berdiri, melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)

“apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
ketika ku dekap kau,
dekaplah lebih mesra,
lebih dekat”
(lampu-lampu berkelipan di jakarta yang sepi,
kota kita berdua,
yang tua dan terlena dalam mimpinya.
kau dan aku berbicara.
tanpa kata,
tanpa suara ketika malam yang basah menyelimuti Jakarta kita)

“apakah kau masih akan berkata,
kudengar derap jantungmu.
kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta?”

(haripun menjadi malam,
kulihat semuanya menjadi muram.
wajah-wajah yang tidak kita kenal berbicara dalam bahasa yang tidak kita mengerti.
seperti kabut pagi itu)
soe-hok-gie-puisi
“manisku, aku akan jalan terus
membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan
bersama hidup yang begitu biru”


Selasa, 1 April 1969

Surat Untuk Cut Nyak Dien dan Kartini Muda

Surat Untuk Cut Nyak Dien dan Kartini Muda
.
sebelum memulainya, dingin memenuhi ruangan ketika surat ini kutulis untukmu
Cut Nyak Dien;
namamu kuyakin tak ada yang tak mengenalmu
dulu kita diperkenalkan oleh guru-guru tentangmu sejak masih duduk di bangku merah putih
kau selalu disebut-sebut sebagai perempuan pemberani
semangatmu adalah kobaran api di padang ilalang yg akan terus bergejolak
sekarang; entahlah
.
Cut, kau tahu;
generasi-generasi penerusmu kini mungkin banyak yang tak lagi mengabarkan semangatmu itu
semangat berjuangmu; dan kebijaksanaanmu yang harusnya tetap ada hingga kini
kobaran-kobaran itu mestinya menjadi cahaya dalam gelap seperti yang disorakkan R. A Kartini semasa hidupnya:
"habis gelap terbitlah terang"
.
masih banyak yang ingin kutulis dalam surat ini
bukan hanya untuk Cut Nyak Dien yang hingga ujung nafasnya masih tetap berperang meski kakinya tak mampu lagi menopang tubuhnya yang renta
dan matanya yang tak lagi melihat dengan jelas
atau hanya untuk kartini yang harus merasakan kepedihan dan kebimbangan dalam berjuang agar bisa mencapai pendidikan tinggi bukan hanya mereka; tetapi untukmu
untukmu;
untukmu;
dan untuk kita semua
.
Cut;
aku sering bertanya tentang generasimu kini; para perempuan
masihkah mereka memancang tiang-tiang keteguhanmu dalam berjuang?
dan Kartini;
aku selalu ingin kaum perempuan meneruskan cita-citamu seperti yang kau tulis dalam banyak surat-suratmu itu; kritis dan berani
meski berat; meski dengan perjuangan yang amat sulit
.
sebagai penutup dari suratku ini
kepadaku dan kepada para perempuan
kemarilah;
perjuangan Cut Nyak Dien belumlah usai
dan padacita-cita R. A Kartini masihlahterbentang dinding
kitalah perempuan-perempuan yang harus meneruskannya!
.
.
Gowa, 21/09/2017

Puisi: Surat Luka untuk Mantan Kekasihku

Puisi: Surat Luka untuk Mantan Kekasihku
.
.
ini adalah serpihan kenangan yang enggan beranjak
bukan kutulis untuk melembabkan luka lama
bukan juga tentang cinta yang memaksa keadaan
apalagi sebuah raungan rindu yang memaksamu meneteskan air mata
.
ini hanyalah sebuah janji yang kutunaikan
saat bunga-bunga matahari masih mekar di antara kesepian kita di musim-musim kesendirian silam, bertahun-tahun silam
Andhika Daeng Mammangka
Andhika Daeng Mammangka
kau dan kenangan kita memang tak mungkin bisa hilang
aku pernah menukar waktuku dengan sajak-sajak yang kutuliskan untukmu
sajak-sajak yang selalu menyerbakkan wewangian kenangan
sajak-sajak yang selalu kubacakan pada beberapa pengelana cinta yang kutemukan di perjalanan
dia tak mengenalmu
tapi kukisahkan dirimu padanya
dirimu, kekasihku yang telah pergi dengan pertanyaan-pertanyaan cinta yang tak pernah bisa terjawabkan
.
malam larut selalu saja menjelma alarm
membuatku selalu setia membuka sajak-sajak yang pernah kutulis dan kubacakan untukmu
tentang kegilaan perjalanan kabut
ataupun kenekatan mendaki malam kelam yang terjal
demi menemuimu di sudut penuh rindu
menuntaskannya dengan bergelas-gelas teh dari cangkir putih ukuran besar
kadang aku ingin melawan norma sosial dan agama
datang ke rumahmu dan mengajakmu berpetualang
sebuah mimpi yang tak mungkin kudoakan menjadi nyata
itu melukai kenyataan hidupmu hari ini
jadi aku menyimpan saja harapan itu
bukan untuk menumbuhkan harapan hidup bersama
hanya ingin menguji nama dan kisahmu pada waktu serta janji yang kau hembuskan pada angin malam di tahun-tahun silam
.
jangan biarkan jantungmu berdegup keras membaca surat ini
jangan pula membuat napasmu terengah-engah
apalagi garus meneteskan air mata
itu tidaklah berguna di usia tua ini
.
aku hanya ingin memastikan
bahwa sajak itu masih ada di dalam ingatanmu
sebab aku setia menghidupkannya untuk diriku
sebagai kenangan masa silam yang selalu punya ceritanya sendiri di hari ini
.
surat ini memang mengisahkan luka
tapi bukan untuk menghiba agar kau kembali
ini hanyalah sebuah kunci kenangan yang terlipat rapi dalam laci ingatanku
.
aku tak akan bergeming untuk selalu setia mencintaimu
seperti sajak-sajakku yang melakukan pengakuan kala itu
hanya saja
cinta ini telah menjadi kabut
hanya dirasa dan dilihat
tapi, tak bisa lagi dilipat dan digenggam lalu dibawa pulang
.
apa kabarmu kekasihku?
aku masih di sini
membuka lembaran sajak-sajak itu
dan terus mencintaimu
begitu saja
.
.
.
Makassar/6/6/17
---------------------------------
Selamat berpuasa, kawan-kawan revolusioner sekalian, semoga puisi ini mewakili kata hati anda yang mungkin takut dinyatakan. dan tetap setia di garis kesadaran bahwa cinta janganlah dibuang, karena jika itu terjadi, keadilan tak akan pernah datang dan kesedihan hanyalah menjadi tontonan (bongkar).

Kau Pemiliknya

Kau Pemiliknya
Kau Pemiliknya

Seperti biasanya, lagi-lagi mataku susah terpejam
Kepala sedikit tak bersahabat sejak sepulang kerja
Entah apa sebabnya, aku tak tahu
.
.
Aku ingin bertatap denganmu
Aku ingin menuntaskan rinduku
Tetapi, aku tahu jika itu sesuatu yang amat sulit
Bahkan pertemuan sebagai sesuatu yang bisa jadi penawar rindu itu
Pertemuan memang bisa jadi penawar atas semua rinduku yang kini bersemayam pada satu ruang hatiku
Tetapi aku takut
Sangat takut untuk menatapmu
Bukan karena pertemuan itu yang kutakutkan
.
.
Aku takut jika setelah pertemuan kita,
Akan lahir kerinduan lain karena sejatinya pertemuan itu menitipkan benih-benih kerinduan lain
Dan pertemuan kita hanya akan menumbuhkan kerinduan-kerinduan baru yang mungkin saja lebih dahsyat
.
.
Mungkin rindu ini kian lama akan terasa menyebalkan
Tapi untukmu, rangkaian kata sebanyak apapun tak akan pernah habis terangkai
.
.
Kau adalah penanda dari rinduku
Rindu yang tak pernah kau tarik kembali
Dan sajak inilah reingkarnasi rinduku yang benar-benar utuh
Kau adalah pemiliknya
Meski tiap kata yang kutulis hanyalah bagian-bagian kecilnya saja
.
.
.
Gowa, 17.12.2016

Tentang Rindu

Tentang Rindu
Seperti malam, tak ada yang salah dengan dinginnya
Atau seperti angin yang kadang riuh menerpa dedaunan yang basah
Dan sebuah cerita baru saja dimulai
.
.
Ini seperti sebuah kisah besar yang bermula dari kisah kecil kenanganku
Yang telah menjelma menjadi gunung
Menjulang tinggi hingga aku tak melihat apa-apa selain awan yang indah dan guratan senyummu
Wajahmu, kini selalu membayang pada kelopak mataku

Tentang Rindu

Seperti hujan, tak ada yang salah jika tiba-tiba ia datang dengan derasnya
Atau seperti aku yang tiba-tiba jatuh cinta
Dan sebuah kisah kini dimulai
.
.
Ini seperti menemukan kembali jalan baru untuk kulalui
Jalan yang selalu kuabaikan adanya hingga aku tak menyadari bahwa ada rindu yang diam-diam tumbuh di hatiku
.
.
Seperti matahari, tak ada salahnya jika teriknya terlalu menusuk
Atau seperti senyummu yang perlahan memenuhi ruang pikiranku
Dan kisah ini semua hanya tentangmu.
.
.
Gowa, 14.12.2016

Senyummu Pada Mataku

Senyummu Pada Mataku
Senyummu Pada Mataku


kepada perempuan dengan senyum manis
.
.
Hujan masih belum reda sejak siang kemarin
Malam menjelma dingin yang menusuk seperti rindu
Perlahan kantuk mulai menggoda
Mataku berulang kali meminta tuk dipejamkan
Barangkali jenuh menunggu bulan yang tak juga bersinar
.
Tetapi, tidak!
Aku memutuskan untuk tetap terjaga dan menuntaskan ini untukmu
Rasanya tak tenang jika belum kutuliskan
.
.
Tentang malam ini, aku sengaja tak menutup pintu rumah
Aku tak peduli dinginnya sebab aku percaya jika rindu akan menghangatkanku
Aku tak peduli derai hujan yang semakin betah bercumbu dengan bumi
Sebab aku yakin jika rindu akan menenggelamkan rinainya
.
.
Tentang rinduku pada dingin yang menggunung
Dan malam yang semakin pekat
Aku ingin menuntaskan rasaku segera
Tetapi rinai-rinai hujan yang jatuh itu seakan membawa rindu-rindu baru di tiap butirnya
Aku tertikam olehnya.
.
.
Sesekali kutatap cahaya lampu jalan di ujung lorong
Sinarnya seperti kerinduan yang tak padam walau sederas apapun hujan menerpanya
Ia tetap bercahaya seperti senyummu pada mataku
.
.
Sebelum kupejamkan mataku, ada namamu yang kusebut.
.
.
Gowa, 13.12.2016

Namai Ini Rindu

Namai Ini Rindu
Namai Ini Rindu

Aku meyakini satu hal
Bahwa pertemuan denganmu ketika itu adalah salah satu rencana tuhan
Dan kau menjadi salah satu dari banyak bagian perjalanan hidupku
.
.
Aku melalui bagian itu
Meski ada yang tak pernah mampu kujabarkan di sana
Bagian babak ini serasa membawaku pada sebuah titik yang tak bisa aku hindari
.
.
Aku terjebak pada ruang yang tak bisa kurupai
Aku terjebak dalam lekuk senyummu
Aku tak tahu harus menamainya apa
.
.
Semisal ini kita namai ini "rindu"
Pada kekosongan hatiku yang dingin
Pada mataku yang selalu saja betah melihat senyummu
Pada rasa yang entah kapan bermula
.
.
Tapi untuk urusan rindu, biarkan itu menjadi urusanku
Meski kau penyebabnya.


Gowa, 11-12-2016


Perjalanan Rindu

Perjalanan Rindu
Perjalanan Rindu

Pernah, aku berpura-pura seolah tak terjadi apa-apa
Melalui hari yang selalu saja membuatku gagal memahami rasaku
Aku tak peduli pada kekuatan rindu ketika itu
Hingga pada satu titik dimana tak ada lagi yang mampu kuperbuat selain merindu
.
.
Kepura-puraanku sirna terhempas topan kerinduan yang mengamuk
Aku benar-benar terhempas jauh
Teramat jauh
Hingga perasaan itu tak lagi kurupai
Semuanya terasa sangat berbeda
.
.
Aku berusaha mengenali perasaan yang kacau ini
Mencoba mencari satu arah yang mungkin saja bisa membuatku meredam semuanya
Menafsirkan keadaan sebagai peta menuju sesuatu yang entah
Aku merangkai pecahan-pecahan mimpi yang tersisa ditengah amukan rindu ini
.
.
Cukup lama;
Rakaian itu masih belum utuh
Tetapi aku menemukan sketsa yang tak asing
Aku seolah pernah berada di titik itu
.
.
Aku masih berjuang mengenali rasaku
Aku belum menemukan kebenaran atas kepura-puaraanku
Aku tak menyerah.
Aku terus membawa langkahku mengikuti kemanapun arah menuntunku
Aku menghitungnya satu-satu.
.
.
Lalu, tiba-tiba semua buyar.
Aku ingat.
Aku baru sadar jika kau pernah menitipkan rindu pada satu ruang di hatiku
Di satu senja pada pertemuan kita ketika itu
Aku menemukanmu di sana
Berdiri seraya tersenyum.
.
.
Dan kini, aku tak bisa lagi berpura-pura seolah tak terjadi apa-apa
Aku menemukan rekahan senyummu
Sebab aku terlanjur jatuh cinta
Dan kau menjadi sebab atas rindu yang kualami
.
.
Gowa, 02 Desember 201
Older Posts
Home