IAN KONJO: Andhika Mappasomba

Seniman "Gayanaji", Pemikiran dan Penemuan

Seniman "Gayanaji", Pemikiran dan Penemuan
Seniman "Gayanaji", Pemikiran dan Penemuan

Di tengah badai pandemi Covid 19, seniman pun mengalami shock. Seperti seorang lelaki yang duduk pada sebuah bangku di tepi pantai dan tiba-tiba dia melihat seorang gadis kecil sedang tenggelam di tepi laut.

Dia melihat tangan gadis kecil itu menggapai-gapai lemah. Tapi, lelaki yang seniman itu tak bisa melakukan apa-apa selain berteriak sekencangnya meminta pertolongan. Dia ingin menolong, tapi dia tak pandai berenang. Dia tak bisa melakukan sesuatu yang lebih baik untuk menyelamatkan keadaan.

Berteriak adalah pilihan pertama dan terakhir. Tak ada siapa-siapa di sana. Gadis kecil itu mati tenggelam dan seniman itu, mungkin juga akan mati dalam penyesalan sebab tak bisa melakukan apa pun.

Demikianlah yang akan terjadi jika tak ada yang bisa dilakukan


Seniman adalah pemikir dan dan penemu. Dia harusnya berpikir cepat memeras otak, lalu menemukan sesuatu yang dapat membuatnya mengapung dan berjuang mendekati si anak.

Demikianlah yang seharusnya dipikirkan. Seniman yang kehilangan panggung dan ruang berkreasi, seharusnya tidak boleh mati. Keterbatasan sebaiknya membuat dia lebih kreatif dengan potensi yang ada.

Jika panggung dan ruang fisik tak ada lagi, seniman pun akan kehilangan mata pencahariannya, jika dia menggantungkan ember beras dan galon airnya pada amplop jasa pentas. Amplop atau kwitansi honor setelah jasanya digunakan, itu tak akan lagi ada. Saat semua orang tinggal di rumah dan membatasi diri, artinya: ember dan beras takkan lagi dapat terisi.

Di sinilah seniman harus menunjukkan diri dan mengolah kreatifitas. Sebagaimana Leonardo Da Vinci yang membuat Prototipe senjata raksasa untuk menakuti lawannya, dalam sebuah film yang saya lupa judulnya. Kreatifitas dan keterbatasan membuat Leonardo menemukan gagasan baru soal prototipe tadi.

Bagaimana dengan seniman sekarang?


Masih sulit. Seniman yang memiliki cadangan devisa sumber daya masih bisa berkreasi secara virtual, menjadi konten kreator dan mendapatkan bayaran dari YouTube misalnya.

Tapi, tidak semua seniman memiliki ponsel android dan paket data. Seniman masih harus berkontemplasi untuk menunjukkan temuan karya-karya barunya.

Karya seni seharusnya menjadi semangat dalam melakukan perubahan. Temuannya harus menginspirasi umat dalam menyongsong kebaruan. Seniman selalu terbukti menjadi penemu-penemu baru dalam menjalani kehidupan.

Sebagaimana puisi Rendra menjadi jalan baru menunjukkan protes melalui metafora-metafora barunya pun sebagaimana Chairil menemukan gagasan baru puisi sebentuk jauh dari wajah mantra dan syair. Sebagaimana perkembangan fashion yang berubah dari masa ke masa sesuai musim.

Karena banyak seniman yang hanya bisa meniru hasil karya seniman lain. Dia gagal menjadi pemikir dan penemu.

Menjadi penemu adalah impian siapa pun. Termasuk dokter atas penyakit, fisikawan, Alchemistry, Tenaga ahli teknologi tepat guna atau pun yang lainnya. Penemuan mereka dihargai dan dibayar mahal saat dikembangkan.

Lalu, seniman menemukan apa?


Tentu, tidak sekedar menemukan harinya terluka parah saat melihat pujaan hatinya berjalan dengan lelaki lain di sebuah pantai, tepat saat ada seorang gadis kecil yang mati tenggelam.

Seniman tanpa penemuan "karya" baru adalah pembeda tegas antara seniman sejati dan seniman sekedar seniman. Seniman gaya-gayaan. Orang Makassar menyebutnya "GAYANAJI"


Makassar_Gowa, 6 Juni 2020

Puisi: Bulan yang Datang Melambat

Puisi: Bulan yang Datang Melambat
Puisi: Bulan yang Datang Melambat

aku lihat bulan datang malu-malu
membawa cahaya merah jambu
dia berbisik sendu
aku berseru,
jangan kau bilang sesuatu
tentang rindu

aku belum bisa menanggung banyak malu

bulan memaksa jiwa
melamar kelam
menjadi benderang

bagaimana bisa?
aku tak kuasa!
kelam mengikat jiwa raga
memenjara bahagia
di harga selembar surat cinta

aku melihat bulan berulang ulang
bisiknya sama
Memerintah mulutku melamarmu

bagaimana bisa
aku hanya pejalan sunyi
tak berteman ramai dan senyum pemenang

bulan terus saja memaksa
aku tak berdaya


aku diam sejenak
sadar hati tak tahu kemana mengadu

baiklah
baiklah
aku akan melamarmu
membawa seluruh napas tersisa
meski itu hanya segelas tak penuh

meski kisah ini terlalu lama
dan bulan terpaksa melambat

tapi ketahuilah kekasih
aku akan datang melamarmu
tepat matahari terbit di hari ketujuh minggu ini

wahai semesta
bantu aku meraih tangan cinta
akan kupadatkan cahaya bulan menjadi cincin pernikahan, meski dengan bahagia diserta sedikit air mata

tuhan
jadikan aku hamba
yang turut pada perintahmu
mengikuti sunnah Rasulmu

aku akan berjalan ke altar penghulu cinta
entah bagaimana caranya
meski bulan selalu datang melambat

tolong aku
selamatkan cintaku

Gowa, 13.2.2018

Ditulis oleh Andhika Mappasomba Daeng Mammangka untuk mereka yang bejuang meraih derajat sebagai suami dan mengikuti sunnah Rasulullah. Mari mendoakan mereka.

Mengenang Lelaki yang Berjalan di Atas Air

Mengenang Lelaki yang Berjalan di Atas Air
Mengenang Lelaki yang Berjalan di Atas Air

“Dia mengisahkan padaku tentang orang-orang yang dicatat sejarah dan pernah berjalan di atas air. Dia mengajarkan doa-doa orang itu kepada saya. Yang paling menggetarkan adalah doa Sa’ad bin Abi Waqqash dan Al A’la bin Hadrami. Doa yang samalah yang dibacanya jika dia berjalan di atas air.” Kata Malewa kepada Istrinya.

“Siapa Lelaki itu sesungguhnya, Bang?” tanya perempuan itu kepada Malewa.

“Dia sulit ditebak. Dia hidup sesuka hatinya. Dia bepergian kemana pun dia mau. Dia tak terikat pada dunia. Dia bisa saja menjadi tampak tua atau tampak menjadi muda. Doanya sangat mustajab. Perawakannya berubah-ubah sesuai keinginannya.”

Malewa mengisahkan sambil menyeruput kopi buatan istrinya itu.

Sebagai sepasang pengantin baru, mereka sangat bahagia. Sesekali mereka tampak seperti sepasang angsa yang berenang di tengah kolam yang dipenuhi bunga teratai yang bermekaran.

“Dia mengajarkan saya doa mustajab. Berjalan di atas air rupanya hanyalah bagian yang paling sepele dan tidak penting bagi seorang pengamal kebaikan.”

“Maksud Abang?”

“Iya. Kesaktian hanyalah bagian tidak penting dari mencari ilmu. Kesaktian hanyalah soal kemustajaban doa dan kegigihan untuk belajar. Kesaktian menjadi tidak berguna jika tidak menambah ketebalan iman. Malah, dia bisa menjadi jalan kesombongan, jika merasa lebih hebat atau mulia dari manusia lain. Seperti iblis yang merasa lebih mulia dari Nabi Adam.”

“Apakah lelaki itu masih hidup?”

“Dia manusia yang tidak lagi memikirkan tentang kematian dan kehidupan. Dia terus berjalan dan menyerahkan dirinya kepada Tuhan. Dia menyembah sebagai hamba. Dia kemana saja menebarkan kebaikan. Dia tak lagi terbebani dengan ibadah wajib. Dia telah selesai dengan itu. Dia telah tiba pada keteguhan hati, melakukan ibadah sunnah secara istiqamah.”

“Maksud Abang?”

“Dia tak pernah melepaskan ibadah sunnah dalam hidupnya, terlebih yang wajib. Dia melakukan salat qobliyah dan ba’diyah pada salat wajib. Dia berpuasa Senin Kamis. Dia menjaga wudhunya seperti Bilal bin Rabah. Dia menjaga salat malamnya seperti Muhammad Al Fatih, Sang Penakluk Konstantinopel. Dia bersedekah seperti Abdurrahman bin Auf dan Khalifah Utsman bin Affan. Dia pemberani seperti Khalid bin Walid. Tapi hatinya, dia seperti Khalifah Abu Bakar Asshiddiq. Dia memiliki ketajaman ingatan seperti Imam Bukhari dan Imam Syafi’i.”

Malewa berkisah sambil membelai istrinya dan sesekali mengecup keningnya.

“Lalu, apa doa yang diajarkannya kepada Abang?”

“Bukan tentang doanya yang utama. Dia mengajarkan saya untuk bisa mengikuti kebiasaan hidup Sa’ad bin Abi Waqqash, memaafkan seluruh umat manusia sebelum tidur, menjaga makanan dan pakaian yang halal. Dia juga mengajarkan kezuhudan Uwais Al Qarni yang rendah hati yang membuatnya tidak terkenal di bumi tapi terkenal di langit, serta keimanan setebal baja seperti Al A’la bin Hadrami. Merekalah orang-orang beriman teguh dan dikisahkan pernah berjalan di atas sungai atau pun lautan bersama ratusan atau ribuan orang, dengan berjalan kaki ataupun dengan ribuan pasukan berkuda.”

Malewa terus mengusap rambut istrinya yang wajahnya mirip dengan kekasihnya di masa lalu. Kekasih yang keluarganya pernah menghancurkan mimpi-mimpinya tentang cinta.

“Jika hanya terus meratapi kesedihan dan tidak menerimanya sebagai sebuah pembelajaran untuk kehidupan, saya tidak mungkin bisa seperti ini. Saya tidak akan diberi kelebihan oleh Allah dengan kemustajaban doa. Saya terus menjaga diri untuk hal itu. Ilmu ikhlas yang diajarkan oleh lelaki tua itu, telah saya amalkan dengan baik. Yang terjadi, terjadilah. Jika dalam hidup ini kita bertemu dengan hal yang tidak menambah ketebalan iman dan penyembahan diri sebagai hamba Allah, lebih baik ditinggalkan saja.”

Demikian yang sering dikatakannya saat kami bersama di masjid yang dibangun oleh pendatang Arab di Kota Nunukan.

“Siapa nama lelaki itu sesungguhnya, Bang?”

“Dia tak bisa diberi nama. Dia tak pernah menyebutkan namanya. Di setiap pulau yang pernah disinggahinya, dia selalu punya kisah asal yang berbeda. Tapi dia mengakui bahwa dialah lelaki yang pernah kau lihat di Pulau Nai.

Dia pulalah yang menyimpan banyak bendera di berbagai pulau di Nusantara yang hampir semuanya dapat saya saksikan sebelum dan setelah bertemu dengannya. Termasuk bendera di Pulau Um, Pulau Karanrang, Pulau Balang Lompo, Pulau Kabaena, Pulau Ternate, Tanjung Dewa, di tepi Pesisir Kampung Messa, Pulau Halmahera, Kepulauan Seribu Jakarta, tepi-tepi Kepulauan Riau, bahkan, di suatu hari saya melihat bendera merah serupa di Tapal Batas Indonesia dan Papua Nugini.”

“Mengapa dia melakukan itu, Bang?”

“Saya bukanlah satu-satunya yang memburu lelaki yang bisa berjalan di atas air itu. Dia pun tak lagi bisa mengingat jumlahnya. Dia telah bertemu dengan banyak orang yang mengaku sedang mencarinya dan ingin berguru kepadanya. Dan apa yang disampaikannnya selalu sama saja. Soal kisah-kisah orang yang memiliki iman sekeras baja dengan ibadah sunnah yang istiqamah. Dia menaruh bendera merah di mana-mana sebagai tanda, agar setiap yang melihatnya merasa selangkah lebih dekat dan meraka akan merasa memiliki harapan yang diperjuangkannya dalam kehidupan. Bendera itu disebutnya dapat menumbuhkan gairah pencarian ilmu, seperti yang juga saya alami.”

Malewa kembali menyeruput kopi yang disajikan istrinya.

“Perbanyaklah membaca selawat siang malam dan beristigfar dalam segala keadaan. Bersedekahlah dengan sedekah terbaik. Pujilah Allah pada permulaan doamu. Lalu memintalah kepada Allah untuk semua harapan, meski itu terasa tak mungkin terwujud menurut pikiran manusia. Buka dan bacalah Alquran sesering kau bisa. Insya Allah Allah akan mengabulkan doa-doamu.”

Itulah salah satu pesan di antara banyak pesan yang tak bisa dilupakan Malewa, hingga di suatu malam lelaki itu pergi dengan perahu kayu meninggalkannya duduk tak jauh dari tepi Pelabuhan Liem Hie Djung Nunukan.

“Air mata saya tumpah tak bisa menahankan kesedihan. Bagi saya, dia bukan hanya sekadar guru. Dia lebih dari itu. Misteri-misteri yang melingkupi dirinya, terlalu dalam untuk bisa saya singkap.” Malewa menerawang sesaat lalu kembali bercerita.

“Dialah lelaki tua, sahabat saya yang kerap menemani di saat-saat hancur dalam hidup karena dihinakan oleh cinta. Dihinakan oleh orang tua Atikah, kekasih yang pernah menjadi tujuan dari keseluruhan harapanku. Perempuan yang menghancurkan seluruh impian, yang pernah mengubah seluruh bahasa yang keluar dari mulutku menjadi puisi-puisi yang penuh kegetiran. Dialah lelaki tua yang menghuni gubuk di Kampung Batu Tottok. Yang pernah mengibarkan bendera merah di gubuknya saat saya pertama kali berlayar dengan KM Wasior Indah. Dia menyelimuti dirinya dengan banyak rahasia. Dia tak pernah bisa ditebak.” Mata Malewa berkaca-kaca.

“Janji Allah dan Rasulullah adalah Janji sebaik-baiknya janji. Mereka tidak pernah mengingkarinya. Lalu mengapa kau tak belajar memenuhi perintahnya untuk menjemput penunaian janjinya? Salat Duhalah, bertafakkurlah, Allah akan merahmatimu. Berselawatlah dan rezekimu akan dicukupkan. Di akhirat kelak, syafaat Rasulullah menanti dirimu di depan pintu surga. Yakinilah itu sebagai janji.”

Begitulah suara lelaki tua itu pernah menggema dalam keremangan malam di Tugu Dwikora Kota Nunukan yang sepi. Suara itu menancap di dinding hatinya.

Dia sangat senang mendengar Malewa mengisahkan perjalannya setelah berpisah di Pulau Nai, negeri kecilnya yang indah. Dibayangkannya kembali ketika dia melepas Malewa pergi dengan memberinya bungkusan ubi yang dimasaknya sendiri. Dia mengenang kembali saat dia menuliskan surat penuh penghayatan hati yang diberikannya kepada Malewa.

Diraihnya buku catatan Malewa yang tergelak di ranjang lalu membuka catatan-catatan itu. dia terperangah takjub, membaca catatan perjalanan suaminya.

********
Catatan Dari Masjidil Haram

dingin.
entah berapa derajat tercatat di termometer ketika angin
yang berembus perlahan di dini hari ini di bandara king
abdul azis menyambut langkahku, saat turun dari pesawat.
pesawat yang membawaku selama berjam-jam dari
indonesia, negeri lumpur sawah, ikan asin dan hiruk pikuk
demonstrasi.

setelah melewati pemeriksaan yang ketat dengan segala
bahasa yang tak kupahami, akhirnya, mobil bis kafilah
yang kutumpangi merambat perlahan membawaku ke
hotel grand zam-zam.

di lantai sembilan, aku merebahkan
tubuhku yang sejak lama berlari menjauh, sembunyi dari
kesedihan. namun kesedihan bagai menjelma matahari,
selalu menemukanku.

di negeri yang disucikan ini, berharap kesedihan dapat
berdamai sejenak. maka kurapalkan banyak zikir dan diam.
lalu, dalam diam itulah ada wajah kekasih yang selalu
datang menyapa, mengajak entah kemana.

di makam nabi ibrahim yang kuning keemasan, zikir-zikir
kulantunkan, walau hajratul aswad belum sempat aku
dekati untuk menciumnya. di dalam zikir inilah, negeriku
yang bau lumpur sawah dan amis batu karang sesekali
terkenang. aku ingat semuanya. termasuk masa kecilku,
saat bermain perahu dari sabuk kelapa dan sandal bekas
yang berserakan di tepi pantai. bermain dengan bebas
tanpa harus tahu apakah itu penjajahan atau apakah itu
kemerdekaan?

di negeri yang bau lumpur sawahdan amis karang itu
terkenang di sisi makam nabi ibrahim, sambil mengamati
telapak kaki yang tergeletak rapi dalam sulaman logam
keemasan, aku ingat berita-berita yang tak pernah
usai di indonesia.

korupsi, gate-gate dan semacamnya,
membuyarkan doa-doaku di makam ini. makam yang telah
disaksikan berjuta-juta manusia sejak berabad-abad silam.
aku usaikan segalanya, meninggalkan masjidil haram,
kembali ke hotel. merenung, siapalah aku ini, orang desa
lumpur sawah dan amis karang di indonesia tiba-tiba harus
memikul indonesia di pundakku.

di hari yang kesekian di tanah makkah ini, di padang
arafah yang membentang, duduk merenung menyaksikan
wajah-wajah manusia yang entah siapa mereka, ingatanku
kembali ke desaku yang bau lumpur sawah dan amis karang
di indonesia,

jika saja konser-konser musik selalu bisa seramai
ini, bermunajat, bertakbir, duh, semesta akan teduh
menggemakan keteduhan jiwa. tapi, ini hanya renungan,
tuhanlah yang tahu rahasia yang diciptakannya.

mengapa dia tak menggerakkan seluruh hati manusia untuk
melakukannya. sebab, aku menyaksikan khatib dan dai telah
kehabisan akal menggemakan sayap-sayap syiar kebajikan.
sebagiannya pun ikut menyanyikan lagu dunia.

padang arafah, lautan manusia, aku jadi debu. Lembar-lembar
sajak yang kutulis tak akan pernah cukup
menuntaskan tulisan tentang ini semua.

makkah, manisnya kurma, susu unta, daging yang lezat dan
kisah cinta yang tak bisa dihapuskan waktu. nabi adam as
dan sitti hawa di jabal rahmah. dalam kerinduan berjalan
bagai dalam kegelapan. memanggil, saling memanggil
dalam ketidakpastian. menjadikan kita bermilyar dan
bermilyar pula kisah dalam percintaan yang selalu berujung
tragedi.

rasulullah dan khadijah dalam kisah cintanya mengajarkan
kita pengorbanan dan kesetiaan. dukungan dan perjuangan
ketulusan yang membawa rasulullah dalam kubang
kesedihan dalam kematian khadijah.

lalu ingatanku tertuju
pada sajak-sajak tentang manusia yang melarang orang
menikmati kesedihan. mereka ingin melampaui kelembutan
hati rasulullah yang membuktikan cintanya dalam
genggaman kesedihan.

khadijahlah yang memantik api cinta yang semakin besar
di dalam hati rasulullah membuat rasulullah bisa memiliki
cinta yang besar dan tak habis terbagi bagi kekasih-kekasih
rasulullah setelah kepergiannya.

lalu yang ditinggalkannya,
mestinya menjadi ruang untuk mengingatkan kita tentang
rumah sederhana yang menyimpan cinta yang besar di
dalam rumahnya.

dan pagi ini, aku terjaga. kusibak tirai jendela kamar hotel
grand zam-zam di lantai 9. aku menyaksikan sekumpulan
manusia dengan segala mesin raksasa meratakan rumah
rasulullah dan khadijah dengan tanah.

ingatanku tiba-tiba tertuju pada eropa. bangsa belanda dan
bangsa eropa lainnya, begitu menjaga setiap bangunan
bersejarah miliknya padahal kebanyakan di antaranya
bukanlah seorang yang tahu tentang nikmatnya salat di
masjidil haram di samping makam nabi ibrahim as.

dan di negeri kelahiran para nabi ini. rumah manusia yang paling
banyak menebarkan inspirasi cinta, diratakan dengan
tanah.

jika memang benar, hanya satu negeri yang suka meratakan
dengan tanah setiap kenangan cintanya, indonesia, negeri
lumpur sawah dan amis karang. mirip dengan pemerintah di
tempatku kini berpijak. seperti dia pura-pura tak mengenal
rasulullah, wallahu a’lam.

aku menutup tirai hotel grand zam-zam. duduk merenung.
mengapa aku dituntun melihat rumah rasulullah dan
khadijah dihancurkan. hanya allah yang maha tahu.

wajah kekasihku terbayang di atas sebuah bukit, duduk di
beranda sebuah rumah putih yang dikelilingi bunga-bunga.
apakah bukit itu juga akan diratakan dengan tanah untuk
menghapus jejak cintaku?

Hotel Grand Zam-Zam Mekkah
*********
Catatan di Penghujung Malam di Thailand

jelang awal malam
di halaman nasa vegas hotel di jantung kota bangkok
cahaya hijau dan kuning yang memantul di dinding hotel
membawaku mengembara ke negeriku; indonesia, di
sebuah desa yang penuh lumpur sawah dan amis karang
kesetiaan petani dan gembala berduyun-duyun di subuh
buta menjemput takdirnya.

sudah seperti itu sejak lama.
dan tak ada riuh musik, rel kereta listrik bagai yang
melintang di jalanan depan hotel. tapi, tak seperti di depan
hotel ini. kupu-kupu malam yang di sini entah namanya,
sibuk menjaja mewakilkan diri mereka pada germo yang
komunikatif. tapi aku memang tak pernah tergoda
dingin.

mataku tertuju ke sebuah swalayan kecil yang
bersebelahan dengan sebuah panti pijat. yang entah
memang hanya sekadar memijat. atau saling pijat entahlah.
di swalayan itu, kuraih sebotol air karbonat, berharap
mengusir dingin dengan uap. namun setelah
menenggaknya, justru aku kehilangan moment di kota ini.
lalu kembali ke naza vegas hotel sembunyi dari malam di
lantai 17, dengan nomor kamar yang tak ingin kusebutkan.
tak ada mimpi.
pada pagi yang tak jauh lebih indah dari
pagi di desaku, di indonesia, bis putih merah membawa
tubuhku menjelajahi kota bangkok. di beberapa candi aku
tak menemukan kisah yang harus kucatatkan. tetap saja
ingatanku menuju indonesia, kampung pesisir batu tottok.

matahari hampir tepat di atas kepala, peluh mengucur saat
aku tiba di damnoen saduak floating market, thailand. aku
terkenang dengan pasar-pasar yang mengapung di sebuah
sungai di kalimantan.

aku tak kaget dengan ini. seandainya
bukan karena seorang penjual pakaian dan kain di salah
satu sudut pasar itu yang mencuri perhatianku, aku akan
lekas saja berlalu.

aku tak tahu siapa namanya. cantik. rambutnya yang
hitam lurus dan panjang, tersenyum kepada siapa saja
yang datang. semua turis tampak berhasrat untuk berfoto
dengannya. aku memilih tidak. hanya menikmati saja
cantiknya dengan mencuri pandang.

saat aku begitu dekat
dengannya, dia mengajakku bicara. aku sungguh tak tahu
apa yang dibicarakannya. aku senyum saja. lalu kebodohan
menghampiriku. membayangkan kengerian, bagaimana jika
tiba-tiba kami saling jatuh cinta, menikah dan punya anak.
duh, bagaimana kami bicara.

bahasa kami tak sama. saya
sedang tak siap, otakku membodoh. pikiranku dikalahkan
hasrat seksual saat berada lebih dekat. aku memilih pergi.
meninggalkan pasar dan gadis yang cantik itu. aku takut
semakin mendekat dan tiba-tiba aku ditakdirkan menjadi
orang thailand. aku terlalu mencintai desaku. cinta pada
tahi sapi, amis karang lumpur sawah, ikan asin dan kepurapuraan
kekuasaan.

tak banyak catatan di sini, siang dan malam pun hanya
kuhabiskan dengan menyantap ayam goreng. tarung
bebas sampai tewas yang acap kutonton di televisi juga tak
kutemukan.

kau tahu mengapa aku di kota ini? aku sedang sembunyi
dari kesedihan. tapi, kesedihan itu terus menemukanku.
sambil merenungi ini, di jendela hotel, aku mengintip,
seorang perempuan “kupu-kupu” muda nampak sendirian,
di samar gelap, duduk menunggu entah siapa. cukup lama
aku menyikmaknya.

di penghujung malam, aku merahasiakan peristiwa.
peristiwaku dan peristiwa perempuan itu!
dan namaku tetap malewa, aku tak mencoret dinding hotel
untuk sekadar menulis namaku.

Kota Bangkok Thailand, 26 Januari
********
Catatan di Masjidil Aqhsa Palestina

suara patriark sophonius menggema di pintu gereja
makam kudus, umar binkhattab memilih berdiri di luarnya
dan mengangkat takbir, muslim mengikut dan disaksikan
pendeta-pendeta dan jamaah gereja, demikian kumeraba
sejarah yang entah.

kekuasaan datang berganti. batu-batu dibangun dan
dihancurkan. darah bersimbah. pedang gemerincing di
masa lalu, menggema ke masa kini. ini adalah istana
kehormatan dan harga diri.

al aqsha, istana tentara salib dan markas ksatria templar.
kandang kuda dan sampah penghinaan.
suara shalahuddin al ayyubi menggema, merobek dinding
kota, pedangnya menjadi pilar-pilar penyangga sejarah.
yahudi, nasrani dan muslim berlalulalang di sana,
menggemakan suara tuhan dalam doa-doa panjang.

gempa bumi dan kebakaran mengubah segalanya, jiwa
yang terbakar ambisi dan dosa sejarah yang kafir. masjidil
aqsha al mubarak sebagai rumah besar yang suci, di
dalamnya qubbatu shakhrakh, al jami al qibli (inti) dan
musholla al-mawarni. pernah kukeliru memahami ini.

di luar, yahudi meratap menghadap temboknya yang tua.
menyembunyi belati di balik jubah dan topi panjang.
terima kasih tuhan memanjangkan kaki dan tanganku,
menjamah pandang pada batu tempat nabi muhammad
bertolak ke langit ketujuh.

negeri tujuan manusia berjalan di hari kebangkitan. aku
ingin ke sana, aku ingin ke sana. berkali-kali, berkali-kali.
allahumma shalli ‘ala sayyidina muhammad wa ‘ala ali
sayyidina muhammad

Palestina, sebuah Sore
********

Helai demi helai terus dibukanya. Perempuan itu sesekali menghela napas panjang. Malewa yang duduk menghadap keluar jendela membiarkannya. Sebuah buku tebal sedang dibacanya. Pada sampulnya tertera, Siti Nurbaya, Kasih Tak Sampai, Marah Rusli.

Waktu terus berlalu. Kamar apartemen itu dirambati kesunyian. Jam dinding dan TV menjadi saksi, lampu dimatikan dan dihidupkan lagi berkali-kali.

Selesai.....

Diambil dari salah satu bab dalam novel "Malewa, Lelaki yang Berjalan di Atas Air", karya Andhika Mappasomba Daeng Mammangka.

Penulis Buku dan Penjual Produk Online serta Seorang Tukang Laundry

Penulis Buku dan Penjual Produk Online serta Seorang Tukang Laundry
Penulis Buku dan Penjual Produk Online serta Seorang Tukang Laundry

Bayangkan, beranda media sosial kita dipenuhi status penawaran berbagai macam produk kendaraan, kecantikan, kesehatan, coutank, cawat, anti bau badan, sepatu, sandal, bio seven, minyak kutus-kutus, berbagai merek baju dan celana, berbagai macam jenis dan pola reseller, peninggi dan penurun berat badan dan sebagainya.

Produk dan pola dagang yang demikian tentunya kita mesti apresiasi dengan baik dan jika perlu membantu mereka berdagang halal. Impossible jika jualan itu melintas di beranda kita, lalu kita meminta satu dengan gratis.

Tentu ini menarik ditelisik lebih jauh. Tidak enak hati jika meminta gratis produk mereka kan? Banyak di antara mereka menjadikan berdagang OL ini sebagai pekerjaan utama untuk jalan rezekinya.

Bayangkanlah seorang penulis, sebagai macam rupa penulis yang memang hanya hidup dari menulis dan menjual bukunya sebagai jalan rezekinya, jika dia bertandang ke sebuah cafe atau restaurant, percayalah, kita merasa tidak enak jika tidak membayarnya, malah wajib membayarnya. Penulis wajib membayar dan sebagai teman, biasanya, pemilik cafe akan meminta buku gratis dari penulis. (Semoga analogi ini dipahami, bukan mendiskreditkan kawan saya yang pengusaha).

Anda akan ditawari beragam produk di beranda media sosial. Tapi, biasanya pedagang online-nya akan meminta buku secara gratis. Tapi tidak gratis untuk produk mereka. (Adil kan?)

Begitu banyak penulis yang mengeluh kepada saya terkait situasi yang sesungguhnya saya mengalaminya juga. Tapi, tidak melulu demikian. Saya juga harus mengakui bahwa dalam situasi tertentu, saya menghadiahkan (sunnah) buku tersebut kepada orang tertentu. Tapi, sebagai gambaran nasib dan pembelaan terhadap penulis, saya mencoba menuliskan ini.

Dua hari silam, saya mengantarkan buku pesanan ke sebuah perusahaan laundry milik @Ilham Daeng Tutu, Pohon Laundry, Jalan Daeng Tata 1 Makassar. Seingatku, sejak lama, dia kerap mengapresiasi karya sastra. Saat memberikan buku itu, dia menjabat tangan saya dan berkata; "Bang, saya membeli buku abang sebagai warisan untuk anak saya di rumah. Bahwa, jika kelak telah dewasa, cari penulis buku ini."

Ilham, sahabat saya itu menjelaskan usahanya, bahwa dia mengawali usaha Laundry dari 1 mesin pencuci dan 1 mesin pengering saja. Kini dia memiliki banyak dan mempekerjakan beberapa karyawan.

Terima kasih bung Ilham atas apresiasinya. Semoga Allah selalu merahmati usahanya. Semoga tidak ada pelanggan yang meminta laundry gratis.

(Hidupkanlah penulis dengan mengapresiasi perjuangannya menulis. Menemukan inspirasi. Mereka berjuang membeli banyak buku untuk menulis 1 buku. Hidup mereka mahal).

Ditulis oleh: Andhika Mappasomba Daeng Mammangka

PUISI: Puisi Cinta Kita dan Kenyataan Sosial yang Sakit

PUISI: Puisi Cinta Kita dan Kenyataan Sosial yang Sakit
Puisi-Cinta-Kita-dan-Kenyataan-Sosial-yang-Sakit

Ditulis oleh Andhika Mappasomba Daeng Mammangka

kita adalah batu panas sayang.
tahukah kau batu panas itu? itu ibarat kain yang kering yang tergeletak di sebuat sudut yang tak penting bagi siapapun. jika terkena tetesan air, tetesan itu tak menggenang. tetesan itu terserap dengan sangat cepat, masuk ke dalam kain atau batu. kain dan batu itu adalah pikiran kita sayang. yang dipaksa menikmati suguhan kenyataan sosial kita yang sakit.

sayang, tahukah kau kenyataan sosial yang sakit itu? itu adalah apa yang kita simak setiap detak jam dinding saat bergerak. dia adalah segala hal ingkar sosial. kemiskinan, kesakitan massal, pendidikan yang dungu, dan pemuda pemudi seperti kita; tak memiliki kesempatan memberi arti pada bangsa kita, Indonesia; bekerja. dan sejuta genangan-genangan air mata yang tiada pernah terserap dan terdengar di ruang mewah kursi kekuasaan.

menonton televisi, seperti bercermin pada derita sendiri. mendengarkan orasi politik, seperti ejekan-ejekan yang menusuk jantung sendiri. mereka bilang Indonesia kaya raya, utang luar negeri kita tiada tara. Indonesia kaya raya, sebarisan perempuan baru saja bersalin tak bisa keluar meninggalkan rumah sakit karena tidak memiliki uang tambahan pembelian obat dan sewa bangsal sialan.

berjalan-jalan di sepanjang lorong pasar, kita diperhadapkan dengan peminta-minta yang menengadahkan tangan. sampah-sampah busuk, liter-liter yang curang dan timbangan-timbangan kekurangan berat, daging-daging busuk berformalin dipaksa masuk ke dalam hidung dan mulut kita. menulis dan membaca ini semua, seolah tiada habisnya; sekarat mata dan telinga kita menjadi penyaksi.

kita adalah batu panas sayang.
tahukah kau batu panas itu? dia mengandung panas pastinya. dengan panas itulah, kita tak bisa menyimpannya dengan melekatkan pada bagian tubuh kita. kulit akan melepuh. batu panas itu seperti rindu, sayang. jika terlalu lama terpendam panasnya, batu itu akan pecah menjadi debu. seperti hati kita, jika dia terlalu lama dihempas rindu, dia akan memanas, menggelora dan akan menghadirkan amuk badai di dalam kesadaran. butuh tetesan-tetesan air yang akan menunda kepecahannya. butuh tetesan air untuk tetap membuatnya tetap menjadi hangat. kehangatan itulah salah satu tujuan kita di dalam lingkaran cinta ini, sayang.

malam-malam yang sunyi dan mencekam, mengajarkan kita pada kisah hidup helen keller. dari kesunyian yang mencekam ia belajar mengenal dunia dan menebarkan cinta. dari kesadaran J. J. Rosseau tentang sosialitasnya mengajarkan kita tentang hidup yang berjuang memerdekakan bangsanya yang sakit dan menjadi budak di zamannya. malam-malam sunyi yang mencekam, membuat kita mengenang tertangkapnya seorang komunis muda, semaoen oleh belanda karena menyerukan kesadaran dan perlawanan di zaman keterjajahan. penangkapan pejuang sosial itu yang mengobarkan seruan-seruan pemogokan massal di zamannya.

malam-malam yang sunyi dan mencekam, melemparkan ingatan kita tentang maipa deapati dan datu museng yang sehidup semati. malam yang begini pula mengajarkan kita kisah haddara dan tongguru mattatta yang terpisah diujung badik demi harga dirinya di tanah mandar.

kita pernah memiliki kisah hariman siregar yang belakangan ditantang oleh emha ainun najib kembali turun ke jalan menyerukan revolusi. kita pernah memiliki amuk benteng dan tirani yang disebarkan di hari demonstrasi oleh taufiq ismail yang kini telah tua.

sayang, sosial kita sedang sakit. orang-orang dibayar uang dan sekotak makanan dan air kemasan untuk beramai-ramai ke lapangan terbuka mendengarkan pidato-pidato tanpa filosofi. pidato-pidato yang tak memiliki puisi. pidato yang tidak memiliki angka-angka yang pasti, mereka tak pernah belajar pada kehidupan buya hamka dan soekarno tentang pidato yang teduh dan nyala.

entah sampai kapan ini akan selesai.

sayang, kita tiba disini. pada sebongkah batu yang panas. sebongkah batu itu kita beri nama; CINTA. dalam situasi sosial kita yang sakit. kita membaca sajak-sajak yang tertulis di ruang-ruang sosial itu, membuat kita kehilangan gairah. sajak-sajak yang tertulis bagai tanpa harapan dan keinginan. film-film porno menjadi pelajaran yang paling ujung dari pertempuran perasaannya. kalimat-kalimat filsafat bersatu dalam tubuh psikopat. sajak dan filsafat kehilangan tubuhnya. terjebak pada seks pada ujungnya. begitu rumit memilah kalimat filsafat dan sajak serta rayuan mengadu kelamin dengan paksa. semua masih tubuh, akhirnya seni kehilangan kemanusiaan dan kebijaksanaan

Monolog Andhika Mappasomba mengenang 30 tahun Phinisi Nusantara
Monolog Andhika Mappasomba mengenang 30 tahun Phinisi Nusantara

sayang. itulah mereka. mungkin juga kita
tapi, cinta kita adalah kisah dalam perjalanan yang mencari bentuk. sambil membuka-buka semua kisah sejarah cinta yang ada, kita membuka helai buku sejarah cinta dengan ketulusan jiwa. membuka halaman sejarah cinta dengan kesejatian, kesetiaan dan kesadaran akan semua kisah sampirannya.

dalam perjalanan ini, waktu kita tak banyak. tapi kita tidak boleh egois pada semesta dengan tak menghiraukannya. sebab bumi ini bukan miliki kita berdua dan hanya mengandung kisah cinta kita saja. ada kisah-kisah sosial lain yang menunggu kita.

sambil saling rindu dan saling memeluk mesra dari jarak paling jauhnya cinta kita, batu yang panas itu kita raih, kita lempari penjahat-penjahat sosial itu sambil berseru;

wahai dunia
aku menangisi kenyataan sosialku
tapi air mata ini aku tumpahkan bukan hanya untuk kenyataan itu
sebab dunia bukan hanya tentang kemiskinan, derita dan pidato politik

aku menumpahkan air mataku ini
sebab rindu pada kekasihku
rindu itu tak tertahankan lagi
aku ingin bertemu dengannya, kapan saja, dimana saja,
lalu kami ingin menyepi
menyalakan televisi dengan suara gaduh
tai kami tidak sedang menonton
tergeletak, di sebuah sudut tak penting bagi siapa pun

Bulukumba, 17 Juni 2014
Diposting 17 Juni 2014 pukul 20.29
Link asli baca di SINI.

Andhika Mappasomba Daeng Mammangka: Fosil Sastra Saurus, Sebuah Anu

Andhika Mappasomba Daeng Mammangka: Fosil Sastra Saurus, Sebuah Anu
Andhika Mappasomba Daeng Mammangka
Andhika Mappasomba Daeng Mammangka

Sulsel sedang sangat membutuhkan kritikus sastra yang mumpuni dan mampu mengapresiasi karya sastra yang lahir di Sulsel, terlebih belakangan ini (2017) di mana jumlah buku sastra yang terbit cukup banyak.

Tanpa kritikus, karya-karya yang terbit hanya akan menjadi warna bianglala di langit, dikenali namun tidak dipahami apa gunanya secara mendalam.

Kritik bukanlah pembantaian, namun sebagai jembatan antara penulis dan pembaca dan antara buku dan zamannya. Tanpa kritik sastra, dikhawatirkan bahwa zaman hanya akan melahirkan lebih banyak manusia krisis identitas. Tak ada cara mudah menemukan identitas selain melabeli diri dengan jargon tertentu. Persis sama dengan laku politikus yang gemar membuat label diri pada jargon-jargon eufimistik untuk menambah kepalsuannya. Tepat bagai penulis puisi yang rindu/ingin disebut penyair dengan mati-matian mempromosikan diri sebagai penyair dengan menerbitkan puisi-puisi pada berbagai media demi mendapatkan pengakuan sosial, tanpa pernah peduli apakah karyanya layak disebut puisi atau hanyalah tulisan patah-patah yang mirip puisi.

Saya mengenal seorang penulis puisi dan menerbitkannya menjadi buku. Namanya Aprinus Salam, Kepala Pusat Study Kebudayaan UGM Jogjakarta. Walau menulis puisi di jelang usia 50-an dan memiliki ilmu sastra yang luas dan dalam, dia tidak berani menyebut dirinya sebagai penyair. Menurut saya, Aprinus mestinya menjadi potret bahwa seorang penulis puisi dan menerbitkannya menjadi buku sastra, dia belum tentu adalah penyair.

Kritikus sangat dibutuhkan republik ini. Kritikus sejati dan paham soal kesusasteraan kita. Jika tidak paham ilmu sastra dan menjadi kritikus sastra, kita akan selalu menemukan kenyataan lain dari seorang pakar Batu (cincin) tapi bukan ahli geologi (batulogi?). Ilmunya dangkal penuh cocologi.

Kritik bukanlah pembantaian. Dia adalah kelakuan yang mesti dihadapi semua umat (sastra) manusia, demi meningkatkan kualitas jiwa dan karya.
Kapan terakhir kali Anda dikritik?

Jika tak ada lagi yang mengkritik Anda, jangan sampai ilmuwan sastra/kritikus sudah punah menjadi Fosil Sastra Saurus.


Salam hormat saya;
Andhika Mappasomba Daeng Mammangka

Video Puisi: Homo Indonesia Homo (Andhika Mappasomba)

Video Puisi: Homo Indonesia Homo (Andhika Mappasomba)
Video Puisi: Homo Indonesia Homo (Andhika Mappasomba)

Pembacaan puisi berjudul "Homo Indonesia Homo"oleh penulisnya sendiri, Andhika Mappasomba Daeng Mammangka di Lapangan Sinjai Bersatu. Puisi ini dibacakan pada kegiatan Kemah Literasi Jurnalistik, Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) kabupaten Sinjai, Jumat, 11 Oktober 2018 lalu. Kegiatan ini bertemakan “Perwujudan Generasi Milenial Melek Media” yang berlangsung dari hari Kamis-Sabtu (11-13/10/2018).

Peserta diharapkan memiliki pengetahuan tentang ilm ujurnalist dan melek media agar tidak ikut menjadi penyebar hoax.

Praktisi literasi Indonesia yang hadir selain Andika Mappasomba adalah Zainal Abidin dan beberapa praktisi media di kabupaten Sinjai.

Silakan nonton videonya. Eh, jika ingin teks puisinya, bisa dilihat pada postingan sebelumnya. Klik saja di Homo Indonesia Homo (Sebuah Puisi).

Homo Indonesia Homo (Sebuah Puisi)

Homo Indonesia Homo (Sebuah Puisi)
Oleh: Andhika Mappasomba Daeng Mammangka

Andhika Mappasomba Daeng Mammangka
Foto by Lina Langit. Festival Rapang Bulang, Roemah Langit, Gowa - Sulsel

aku menyaksikan tanah dan air berlari-lari kecil pergi tak kembali
dua lembah dan perbukitan menjelma lubang-lubang kematian

aku menyeru pada tanah; "Diamlah!"
aku manusia khalifah mulia
hanya mahkluk iblis yang tak mau tunduk padaku

tanah membangkang
membuka liang lebar menganga
maka masuklah ke sana dua pasang kaum luth menjadi penyangga, menjadi mangsa

ini belumlah kiamat qubro

aku bertanya, kenapa bisa bumi bergoncang dan
kenapa air laut bisa tumpah ke daratan?

bumi menjawab;
"kitab suci telah menjabar jelas, kaum luth, suara musik merobek langit, perkenduan terang di bawah lampu warna-warni, pemimpin yang loba untuk pajak bumi."

bumi menjawab;
"bumi Allah kau pajaki, mahluk Allah kau rendahkan, adzan kau abaikan, anak-anak perempuan melahirkan anak bapaknya, ibu-ibu menjadi budak anaknya."
sepasang homo berciuman di pintu bandara
sepasang homo berpelukan di tepi pantai
sepasang homo terciduk di kamar hotel
sepasang homo bercumbu mesra di angkutan umum
sepasang homo bergelayutan di dalam rimba perkotaan
sepasang homo melucuti pakaian dalam di salon plus
sebaris ayat kitab suci menggambarkan ummat luth, tapi kau abaikan

lalu, kau undang mereka dalam sepasukan baris-berbaris, lalu kau girang melihat mereka berdandan melenggok dengan betis berbulu, cobalah terpingkal sebagaimana terpingkalnya dirimu ketika bumi berguncang, tanah bergerak dan air laut tumpah ke daratan

saya tak pernah kaget
sudah jamak itu terjadi

sudah biasa itu terjadi
seperti seperti itu dari hari ke hari
tak ada lagi Tuhan di dalam Cinta manusia homo Indonesia homo

Politik sialan
membenarkan anus disebut vagina
demi APBD tulang rebutan anjing kemaksiatan

Astagfirullahaladzim

Allahumma Shalli Ala Muhammad Wa Ala Ali Muhammad
aku terbayang tangan mulia Rasulullah memerintahkan diam kepada tanah berguncang dan Umar Bin Khattab menancapkan tongkatnya ke tanah

tangan mulia dan tongkat itu hilang dalam ingatan ummat manusia

musik mengalun
diskotik dan cafe mesum tak mau tahu itu

maka menarilah sampai badai


Gowa 4.10.18

Puisi: Surat Luka untuk Mantan Kekasihku

Puisi: Surat Luka untuk Mantan Kekasihku
.
.
ini adalah serpihan kenangan yang enggan beranjak
bukan kutulis untuk melembabkan luka lama
bukan juga tentang cinta yang memaksa keadaan
apalagi sebuah raungan rindu yang memaksamu meneteskan air mata
.
ini hanyalah sebuah janji yang kutunaikan
saat bunga-bunga matahari masih mekar di antara kesepian kita di musim-musim kesendirian silam, bertahun-tahun silam
Andhika Daeng Mammangka
Andhika Daeng Mammangka
kau dan kenangan kita memang tak mungkin bisa hilang
aku pernah menukar waktuku dengan sajak-sajak yang kutuliskan untukmu
sajak-sajak yang selalu menyerbakkan wewangian kenangan
sajak-sajak yang selalu kubacakan pada beberapa pengelana cinta yang kutemukan di perjalanan
dia tak mengenalmu
tapi kukisahkan dirimu padanya
dirimu, kekasihku yang telah pergi dengan pertanyaan-pertanyaan cinta yang tak pernah bisa terjawabkan
.
malam larut selalu saja menjelma alarm
membuatku selalu setia membuka sajak-sajak yang pernah kutulis dan kubacakan untukmu
tentang kegilaan perjalanan kabut
ataupun kenekatan mendaki malam kelam yang terjal
demi menemuimu di sudut penuh rindu
menuntaskannya dengan bergelas-gelas teh dari cangkir putih ukuran besar
kadang aku ingin melawan norma sosial dan agama
datang ke rumahmu dan mengajakmu berpetualang
sebuah mimpi yang tak mungkin kudoakan menjadi nyata
itu melukai kenyataan hidupmu hari ini
jadi aku menyimpan saja harapan itu
bukan untuk menumbuhkan harapan hidup bersama
hanya ingin menguji nama dan kisahmu pada waktu serta janji yang kau hembuskan pada angin malam di tahun-tahun silam
.
jangan biarkan jantungmu berdegup keras membaca surat ini
jangan pula membuat napasmu terengah-engah
apalagi garus meneteskan air mata
itu tidaklah berguna di usia tua ini
.
aku hanya ingin memastikan
bahwa sajak itu masih ada di dalam ingatanmu
sebab aku setia menghidupkannya untuk diriku
sebagai kenangan masa silam yang selalu punya ceritanya sendiri di hari ini
.
surat ini memang mengisahkan luka
tapi bukan untuk menghiba agar kau kembali
ini hanyalah sebuah kunci kenangan yang terlipat rapi dalam laci ingatanku
.
aku tak akan bergeming untuk selalu setia mencintaimu
seperti sajak-sajakku yang melakukan pengakuan kala itu
hanya saja
cinta ini telah menjadi kabut
hanya dirasa dan dilihat
tapi, tak bisa lagi dilipat dan digenggam lalu dibawa pulang
.
apa kabarmu kekasihku?
aku masih di sini
membuka lembaran sajak-sajak itu
dan terus mencintaimu
begitu saja
.
.
.
Makassar/6/6/17
---------------------------------
Selamat berpuasa, kawan-kawan revolusioner sekalian, semoga puisi ini mewakili kata hati anda yang mungkin takut dinyatakan. dan tetap setia di garis kesadaran bahwa cinta janganlah dibuang, karena jika itu terjadi, keadilan tak akan pernah datang dan kesedihan hanyalah menjadi tontonan (bongkar).

Bergeraklah Para Mujahid

Bergeraklah Para Mujahid
Oleh: Andhika Mappasomba Daeng Mammangka
.
saudaraku para mujahid
yang bersimpuh di subuh hari
yang bertebaran di siang hari
mencari keridhaan ilahi
menegakkan kalimat tauhid
menebarkan benih cinta ke islaman
mendengungkan kalimat-kalimat allah
di dalam sajadku kuuntaikan kata kagumku
meski kutaksanggup memekikkannya ke langit
turut bersamamu masuk ke medan juang
turut bersamamu menyusuri jalan panjang pulau jawa
turut bersamamu menyerukan keadilan di bandar bandar nusantara
turut bersamamu melintasi gurun-gurun di timur tengah
engkaulah itu kekasih allah
cahaya surgawi
yang mengokohkan kebenaran agama di semesta raya
.
saudaraku para mujahid
melepuh pundakmu dipanggang matahari dan hujan
melepuh kakimu menyusuri jalan raya perjuangan
dan aku terlalu pengecut untuk turut
dunia masih mengikatku dengan indah tipuannya
dan kaulah itu guru akhirat yang nyata
menyongsong daun-daun sorga dalam langkahmu
.
saudaraku para mujahid
dalam wajahmu aku bercermin
betapa munafiqnya aku
tak turut berjuang di jalan sorgawi
namun mengolok-olokmu dengan kalimat neraka
.
maafkanlah aku mujahid wahai para mujahid
dunia melenakanku seolah kekal abadi
dunia menggodaku seolah abadi sajak-sajaku
maafkan aku mujahid
tak turut berdiri di tepi jalan memberimu segelas air
tak bisa turut memberimu sepotong roti
di tepi jalan yang jauh dan sunyi
kumohonkan doa untukmu para mujahid
semoga allah menguatkan langkah-langkahmu
membela agama, membela kitab langit dan membela kalimat allah
.
allahu akbar
allahu akbar
berjalanlah para mujahid
semoga panas matahari menjadi saksi niat jihadmu
semoga tetesan hujan menjadi saksi jalanmu ke sorga
doaku menyertai langkah-langkah kecilmu yang letih
.
wahai para mujahid
engkaulah itu tentara allah
yang berjuang menegakkan kalimat allah
aku bangga kepadamu
aku mencintaimu
tetes peluh dan darahmu adalah pesan yang terus menyala
takkan padam di siram hinaan dan caci maki kaum fasik
akan terus menyala hingga akhir masa
.
allahu akbar
allahu akbar
.
wahai para mujahid
dengan sunnah dan kata-kata rasulullah
kau sonsong matahari dengan keberanian di dada
kau penuhi jalan-jalan kota jakarta
seperti wukuf di arafah, seperti lautan putih di makkah
berjuta kalian di sana
satu warna satu hadapan
kiblatmu ka’bah yang suci
satu gemuruh yang penuhi dada dan angkasa nusantara
takbir
allahu akbar
takbir allahu akbar
.
bergeraklah para mujahid
berjalanlah para mujahid
kau takkan pernah sendiri
berjuta saudaramu melihat dari sini
berjuta saudaramu mengirimu langkahmu dengan doa-doa
.
dunia sementara
akhirat selamanya
dua kalimat yang menawan hatiku
mengikis ego dan kemunafikan jalan-jalanku
.
yaa mujahid
yaa kekasih allah
salam dari kami
sebab kutahu kau berjuang bukan untuk membunuh dan melukai
kau hanya ingin hukum ditegakkan di republik ini
bergeraklah para mujahid
di tangan dan mulutmu kutitipkan kalimat seruanku
tegakkan hukum di nusantara


Selatan Nusantara, 1 Desember 2016

Andhika Mappasomba
Andhika Mappasomba Daeng Mammangka

Sebuah Catatan: Roemah Langit, Gowa Sulawesi Selatan

Sebuah Catatan: Roemah Langit, Gowa Sulawesi Selatan
Roemah Langit, Gowa Sulawesi Selatan adalah sebuah komunitas yang terletak di Dusun Bonto Kura, Desa Bonto Tanga, Kecamatan Bonto Lempangan, Gowa Sulawesi Selatan. Desa yang sangat indah. Bukit-bukit berjejer rapi dan hamparan persawahan yang tertata rapi menyelimuti perbukitannya.

Di sanalah sebuah Komunitas berdiri, membangunkan rumah bagi anak-anak untuk belajar alternatif selain sekolah formal. Uniknya, desa ini tidak banyak dikenali oleh orang di Gowa apalagi sulawesi selatan.

Saat berkunjung untuk melakukan "kelas menulis" bersama Ian Konjo, 27-28 Agustus 2016, kami melihat bahwa jarak desa itu ke Malakaji adalah 20-an KM dan ke arah Makassar sekitar 90-an KM.

Roemah Menulis yang dikelola oleh seorang gadis bernama Bunda Lina, alumni FEIS UNM Makassar ini seolah menjadi malaikat yang membawa cahaya di tangannya. Kegelisahan Lina dengan Roemah Langitnya berawal dari kegelisahannya atas fenomena putus sekolah anak di sana, menikah dini, dan hal-hal lain yang berkenaan dengan pengembangan diri anak pedalaman.

Roemah Langit memiliki anggota tetap sebanyak 118 orang yang bisanya diajar menari, berpuisi, dan bermusik di rumahnya atau di perbukitan sekitar kampungnya.

Kampung yang indah. Dari sana akan terlihat Gunung Lompo Battang yang tinggi dan hijau menjulang. Awan berarak bagaikan bunga-bunga ragam warna yang harum. Saat ini Bunda Lina sedang merintis Pustaka Rumah Langit untuk membuka wawasan anak-anak di desanya agar dapat membaca buku dan mengenali dunia lebih luas.....

Mereka sangat membutuhkan sumbangan buku bacaan untuk semua usia...... mereka ingin membaca tapi, mereka tidak memiliki buku. mari membantu mereka.


Add FB: Roemah Langit
No Telp. 085 2421 86106

Sebuah catatan Andhika Daeng Mammangka

Di bawah in ada dua video yag kami buat sewaktu berkunjung ke Roemah Langit.

Ini judulnya Puisi Roemah Langit yang dibacakan oleh Sitti Noer Awaliyah.


Yang kedua ini, judulnya Surat Cinta dari Rumah Langit yang dibacakan oleh Rezki. Video ini juga sedang diikutkan lomba. Semoga menang. Amin ya Rabb!

Tersebutlah Namamu Sayang

Tersebutlah Namamu Sayang
Tersebutlah-Namamu-Sayang
Seperti cericit burung pagi
Seperti gemericik air sungai
Seperti gemuruh air terjun
Seperti lantunan doa musafir
Seperti alunan suara angin
Seperti rengek tangis bayi malam hari
Seperti namamu sayang
Terselip di antara semua suara semesta
Menyebut namamu pada telinga jiwaku mendesah-desah
.
Bagaimana aku bisa melupakan namamu dan menghapusnya utuh dalam ingatanku, namamu telah menjadi karat dan akar cinta dalam napasku
.
Tanpa dirimu kini
.
Waktu menjelma jurang kesedihan
Pada matahari pagi adalah lukisan air mataku
Pada matahari tepat senja adalah lukisan hatiku yang menderita
Dan pada malam adalah kesunyian jiwa yang membawa belati
.
Tanpa dirimu kini
.
Bunga cinta yang sama kita tanam di tepian danau saat gerimis itu, tak bisa mati. Kabut dan air mata musafir menyuburkannya.
.
Sajak-sajakku memang tumbuh tanpamu
Tapi bukan lagi tentang sajak tentang kau dan aku yang berlari dalam gerimis, bermain sampan, mendaki gunung dan menjelajahi hutan belantara buku-buku.
.
Sajak-sajakku memang tumbuh bersama lagu, dan lukisan-lukisan yang merah jambu. Tapi kesunyian abadi.
.
Di depan cermin, aku takut tersenyum
Sebab lengkungan senyumku selalu saja dibayangi kemiripan dengan senyummu yang dulu selalu merekah dalam persembunyiian kita.
.
Tanpa dirimu kini
Dan entah di bumi manakah kini kau bernaung di bawah langitnya.
.
Jika saja di sebuah senja, kau menyaksikan seorang lelaki lusuh, kumal dan berantakan, duduk menghadap laut dengan tatapan yang kosong, sapalah.
Mungkin itu aku yang sedang duduk mencarimu dalam keajaiban, mengaharap ketiba-tibaan waktu yang mengantarkan dirimu kepadaku.
.
Jika kau menemukan sebuah makam tanpa nama dengan bebatuan berserakan, nisan tumbang dihempas rayap, duduklah simpuh mengirimkan doa untukku. Mungkin itu makamku. Lelaki yang tak letih menyebut namamu.
.
Jika pula esok kau menemukan buku puisi yang di sampulnya tertera namaku atau namamu. Yakinlah. Itu untukmu!



BK12915. Sajak ke 93. Andhika DM Pin BB 54C6F98D

Puisi Ning karya Andhika Mappasomba

Puisi Ning karya Andhika Mappasomba
Pagi tadi, seorang junior di kampus meminta sebuah puisi untuk dia pelajari dan ingin dia baca. Saya merekomendasikan sebuah puisi yang juga pernah saya pentaskan bersama seorang siswa SMA beberapa tahun lalu.

Bukan hanya itu, junior saya ini termasuk orang yang cerewet. Banyak pertanyaan yang dia ajukan tentang puisi. Dan tiba-tiba saya ingat beberapa puisi yang judulnya seperti berseri. Puisi ini ditulis seorang penyair yang berasal dari Butta Panrita Lopi, Bulukumba. Namanya ANDHIKA MAPPASOMBA. Saya paling suka puisinya yang berjudul Ning, Menangislah Ning. Saya juga suka menontonnya membaca puisi-puisinya. :)

Kanda Andhika Mappasomba ini telah menerbitkan puisi ini dalam bukunya berjudul "Mawar dan Penjara". Bukunya yang lain kalau tidak salah ingat berjudul "Ingin Kukencingi Mulut Monalisa yang Tersenyum". Ini adalah buku Kumpulan puisi dan Cerita Pendek. Kalau ada yang penasaran seperti apa puisinya, ini dia... Hihi... :D

Sampul Mawar dan Penjara

Puisi yang pertama judulnya "Ning, Menangislah Ning"
menangislah Ning, menangislah
malam ini aku ikhlaskan ragaku untuk kau sandari
kain di lengan bajuku aku ikhlaskan menjadi penyeka air matamu yang perih

menangislah.....
tumpahkan....
curahkan air matamu
biarkan kaki langit menjadi saksi
tentang air matamu yang perih

menangislah Ning.... menangislah....
tumpahkan
curahkan air matamu
sebab aku percaya
hanya dengan menangis
bahasa kejujuran manusia dapat berdenting bening bagai putihnya salju

menangislah Ning.... menangislah....
tumpahkan....
curahkan air matamu
jika kau tak mau menangis
aku akan buat kau menangis


Nah, untuk puisi yang kedua judulnya "Ning, Tidurlah Ning"
aku telah mengusir nyamuk pemangsamu
pun jua telah kusiapkan beberapa cerita dan puisi
yang akan kubacakan sebagai pengantar tidurmu
Ning, tidurlah
di sini, di pangkuangku
katupkan matamu
bukankah rindu yang bertahta kemarin telah terbayar malam ini
Ning, tidurlah
izinkan aku mengecup kening dan bibirmu jika kau telah lelap
Ning, tidurlah
aku malu mengecupmu jika kau masih terjaga
tapi,
jika kau tak mau tertidur dan aku telah sangat ingin mengecupmu
aku akan menutup kedua matamu dengan cinta

makassar, 10/02/09
Di bawah ini adalah videonya...

UPDATE: Untuk versi pembacaan puisi Ning yang bisa tonton yang ini
Older Posts
Home