Penulis Buku dan Penjual Produk Online serta Seorang Tukang Laundry

Penulis Buku dan Penjual Produk Online serta Seorang Tukang Laundry
Penulis Buku dan Penjual Produk Online serta Seorang Tukang Laundry

Bayangkan, beranda media sosial kita dipenuhi status penawaran berbagai macam produk kendaraan, kecantikan, kesehatan, coutank, cawat, anti bau badan, sepatu, sandal, bio seven, minyak kutus-kutus, berbagai merek baju dan celana, berbagai macam jenis dan pola reseller, peninggi dan penurun berat badan dan sebagainya.

Produk dan pola dagang yang demikian tentunya kita mesti apresiasi dengan baik dan jika perlu membantu mereka berdagang halal. Impossible jika jualan itu melintas di beranda kita, lalu kita meminta satu dengan gratis.

Tentu ini menarik ditelisik lebih jauh. Tidak enak hati jika meminta gratis produk mereka kan? Banyak di antara mereka menjadikan berdagang OL ini sebagai pekerjaan utama untuk jalan rezekinya.

Bayangkanlah seorang penulis, sebagai macam rupa penulis yang memang hanya hidup dari menulis dan menjual bukunya sebagai jalan rezekinya, jika dia bertandang ke sebuah cafe atau restaurant, percayalah, kita merasa tidak enak jika tidak membayarnya, malah wajib membayarnya. Penulis wajib membayar dan sebagai teman, biasanya, pemilik cafe akan meminta buku gratis dari penulis. (Semoga analogi ini dipahami, bukan mendiskreditkan kawan saya yang pengusaha).

Anda akan ditawari beragam produk di beranda media sosial. Tapi, biasanya pedagang online-nya akan meminta buku secara gratis. Tapi tidak gratis untuk produk mereka. (Adil kan?)

Begitu banyak penulis yang mengeluh kepada saya terkait situasi yang sesungguhnya saya mengalaminya juga. Tapi, tidak melulu demikian. Saya juga harus mengakui bahwa dalam situasi tertentu, saya menghadiahkan (sunnah) buku tersebut kepada orang tertentu. Tapi, sebagai gambaran nasib dan pembelaan terhadap penulis, saya mencoba menuliskan ini.

Dua hari silam, saya mengantarkan buku pesanan ke sebuah perusahaan laundry milik @Ilham Daeng Tutu, Pohon Laundry, Jalan Daeng Tata 1 Makassar. Seingatku, sejak lama, dia kerap mengapresiasi karya sastra. Saat memberikan buku itu, dia menjabat tangan saya dan berkata; "Bang, saya membeli buku abang sebagai warisan untuk anak saya di rumah. Bahwa, jika kelak telah dewasa, cari penulis buku ini."

Ilham, sahabat saya itu menjelaskan usahanya, bahwa dia mengawali usaha Laundry dari 1 mesin pencuci dan 1 mesin pengering saja. Kini dia memiliki banyak dan mempekerjakan beberapa karyawan.

Terima kasih bung Ilham atas apresiasinya. Semoga Allah selalu merahmati usahanya. Semoga tidak ada pelanggan yang meminta laundry gratis.

(Hidupkanlah penulis dengan mengapresiasi perjuangannya menulis. Menemukan inspirasi. Mereka berjuang membeli banyak buku untuk menulis 1 buku. Hidup mereka mahal).

Ditulis oleh: Andhika Mappasomba Daeng Mammangka

PUISI: Puisi Cinta Kita dan Kenyataan Sosial yang Sakit

PUISI: Puisi Cinta Kita dan Kenyataan Sosial yang Sakit
Puisi-Cinta-Kita-dan-Kenyataan-Sosial-yang-Sakit

Ditulis oleh Andhika Mappasomba Daeng Mammangka

kita adalah batu panas sayang.
tahukah kau batu panas itu? itu ibarat kain yang kering yang tergeletak di sebuat sudut yang tak penting bagi siapapun. jika terkena tetesan air, tetesan itu tak menggenang. tetesan itu terserap dengan sangat cepat, masuk ke dalam kain atau batu. kain dan batu itu adalah pikiran kita sayang. yang dipaksa menikmati suguhan kenyataan sosial kita yang sakit.

sayang, tahukah kau kenyataan sosial yang sakit itu? itu adalah apa yang kita simak setiap detak jam dinding saat bergerak. dia adalah segala hal ingkar sosial. kemiskinan, kesakitan massal, pendidikan yang dungu, dan pemuda pemudi seperti kita; tak memiliki kesempatan memberi arti pada bangsa kita, Indonesia; bekerja. dan sejuta genangan-genangan air mata yang tiada pernah terserap dan terdengar di ruang mewah kursi kekuasaan.

menonton televisi, seperti bercermin pada derita sendiri. mendengarkan orasi politik, seperti ejekan-ejekan yang menusuk jantung sendiri. mereka bilang Indonesia kaya raya, utang luar negeri kita tiada tara. Indonesia kaya raya, sebarisan perempuan baru saja bersalin tak bisa keluar meninggalkan rumah sakit karena tidak memiliki uang tambahan pembelian obat dan sewa bangsal sialan.

berjalan-jalan di sepanjang lorong pasar, kita diperhadapkan dengan peminta-minta yang menengadahkan tangan. sampah-sampah busuk, liter-liter yang curang dan timbangan-timbangan kekurangan berat, daging-daging busuk berformalin dipaksa masuk ke dalam hidung dan mulut kita. menulis dan membaca ini semua, seolah tiada habisnya; sekarat mata dan telinga kita menjadi penyaksi.

kita adalah batu panas sayang.
tahukah kau batu panas itu? dia mengandung panas pastinya. dengan panas itulah, kita tak bisa menyimpannya dengan melekatkan pada bagian tubuh kita. kulit akan melepuh. batu panas itu seperti rindu, sayang. jika terlalu lama terpendam panasnya, batu itu akan pecah menjadi debu. seperti hati kita, jika dia terlalu lama dihempas rindu, dia akan memanas, menggelora dan akan menghadirkan amuk badai di dalam kesadaran. butuh tetesan-tetesan air yang akan menunda kepecahannya. butuh tetesan air untuk tetap membuatnya tetap menjadi hangat. kehangatan itulah salah satu tujuan kita di dalam lingkaran cinta ini, sayang.

malam-malam yang sunyi dan mencekam, mengajarkan kita pada kisah hidup helen keller. dari kesunyian yang mencekam ia belajar mengenal dunia dan menebarkan cinta. dari kesadaran J. J. Rosseau tentang sosialitasnya mengajarkan kita tentang hidup yang berjuang memerdekakan bangsanya yang sakit dan menjadi budak di zamannya. malam-malam sunyi yang mencekam, membuat kita mengenang tertangkapnya seorang komunis muda, semaoen oleh belanda karena menyerukan kesadaran dan perlawanan di zaman keterjajahan. penangkapan pejuang sosial itu yang mengobarkan seruan-seruan pemogokan massal di zamannya.

malam-malam yang sunyi dan mencekam, melemparkan ingatan kita tentang maipa deapati dan datu museng yang sehidup semati. malam yang begini pula mengajarkan kita kisah haddara dan tongguru mattatta yang terpisah diujung badik demi harga dirinya di tanah mandar.

kita pernah memiliki kisah hariman siregar yang belakangan ditantang oleh emha ainun najib kembali turun ke jalan menyerukan revolusi. kita pernah memiliki amuk benteng dan tirani yang disebarkan di hari demonstrasi oleh taufiq ismail yang kini telah tua.

sayang, sosial kita sedang sakit. orang-orang dibayar uang dan sekotak makanan dan air kemasan untuk beramai-ramai ke lapangan terbuka mendengarkan pidato-pidato tanpa filosofi. pidato-pidato yang tak memiliki puisi. pidato yang tidak memiliki angka-angka yang pasti, mereka tak pernah belajar pada kehidupan buya hamka dan soekarno tentang pidato yang teduh dan nyala.

entah sampai kapan ini akan selesai.

sayang, kita tiba disini. pada sebongkah batu yang panas. sebongkah batu itu kita beri nama; CINTA. dalam situasi sosial kita yang sakit. kita membaca sajak-sajak yang tertulis di ruang-ruang sosial itu, membuat kita kehilangan gairah. sajak-sajak yang tertulis bagai tanpa harapan dan keinginan. film-film porno menjadi pelajaran yang paling ujung dari pertempuran perasaannya. kalimat-kalimat filsafat bersatu dalam tubuh psikopat. sajak dan filsafat kehilangan tubuhnya. terjebak pada seks pada ujungnya. begitu rumit memilah kalimat filsafat dan sajak serta rayuan mengadu kelamin dengan paksa. semua masih tubuh, akhirnya seni kehilangan kemanusiaan dan kebijaksanaan

Monolog Andhika Mappasomba mengenang 30 tahun Phinisi Nusantara
Monolog Andhika Mappasomba mengenang 30 tahun Phinisi Nusantara

sayang. itulah mereka. mungkin juga kita
tapi, cinta kita adalah kisah dalam perjalanan yang mencari bentuk. sambil membuka-buka semua kisah sejarah cinta yang ada, kita membuka helai buku sejarah cinta dengan ketulusan jiwa. membuka halaman sejarah cinta dengan kesejatian, kesetiaan dan kesadaran akan semua kisah sampirannya.

dalam perjalanan ini, waktu kita tak banyak. tapi kita tidak boleh egois pada semesta dengan tak menghiraukannya. sebab bumi ini bukan miliki kita berdua dan hanya mengandung kisah cinta kita saja. ada kisah-kisah sosial lain yang menunggu kita.

sambil saling rindu dan saling memeluk mesra dari jarak paling jauhnya cinta kita, batu yang panas itu kita raih, kita lempari penjahat-penjahat sosial itu sambil berseru;

wahai dunia
aku menangisi kenyataan sosialku
tapi air mata ini aku tumpahkan bukan hanya untuk kenyataan itu
sebab dunia bukan hanya tentang kemiskinan, derita dan pidato politik

aku menumpahkan air mataku ini
sebab rindu pada kekasihku
rindu itu tak tertahankan lagi
aku ingin bertemu dengannya, kapan saja, dimana saja,
lalu kami ingin menyepi
menyalakan televisi dengan suara gaduh
tai kami tidak sedang menonton
tergeletak, di sebuah sudut tak penting bagi siapa pun

Bulukumba, 17 Juni 2014
Diposting 17 Juni 2014 pukul 20.29
Link asli baca di SINI.

Andhika Mappasomba Daeng Mammangka: Fosil Sastra Saurus, Sebuah Anu

Andhika Mappasomba Daeng Mammangka: Fosil Sastra Saurus, Sebuah Anu
Andhika Mappasomba Daeng Mammangka
Andhika Mappasomba Daeng Mammangka

Sulsel sedang sangat membutuhkan kritikus sastra yang mumpuni dan mampu mengapresiasi karya sastra yang lahir di Sulsel, terlebih belakangan ini (2017) di mana jumlah buku sastra yang terbit cukup banyak.

Tanpa kritikus, karya-karya yang terbit hanya akan menjadi warna bianglala di langit, dikenali namun tidak dipahami apa gunanya secara mendalam.

Kritik bukanlah pembantaian, namun sebagai jembatan antara penulis dan pembaca dan antara buku dan zamannya. Tanpa kritik sastra, dikhawatirkan bahwa zaman hanya akan melahirkan lebih banyak manusia krisis identitas. Tak ada cara mudah menemukan identitas selain melabeli diri dengan jargon tertentu. Persis sama dengan laku politikus yang gemar membuat label diri pada jargon-jargon eufimistik untuk menambah kepalsuannya. Tepat bagai penulis puisi yang rindu/ingin disebut penyair dengan mati-matian mempromosikan diri sebagai penyair dengan menerbitkan puisi-puisi pada berbagai media demi mendapatkan pengakuan sosial, tanpa pernah peduli apakah karyanya layak disebut puisi atau hanyalah tulisan patah-patah yang mirip puisi.

Saya mengenal seorang penulis puisi dan menerbitkannya menjadi buku. Namanya Aprinus Salam, Kepala Pusat Study Kebudayaan UGM Jogjakarta. Walau menulis puisi di jelang usia 50-an dan memiliki ilmu sastra yang luas dan dalam, dia tidak berani menyebut dirinya sebagai penyair. Menurut saya, Aprinus mestinya menjadi potret bahwa seorang penulis puisi dan menerbitkannya menjadi buku sastra, dia belum tentu adalah penyair.

Kritikus sangat dibutuhkan republik ini. Kritikus sejati dan paham soal kesusasteraan kita. Jika tidak paham ilmu sastra dan menjadi kritikus sastra, kita akan selalu menemukan kenyataan lain dari seorang pakar Batu (cincin) tapi bukan ahli geologi (batulogi?). Ilmunya dangkal penuh cocologi.

Kritik bukanlah pembantaian. Dia adalah kelakuan yang mesti dihadapi semua umat (sastra) manusia, demi meningkatkan kualitas jiwa dan karya.
Kapan terakhir kali Anda dikritik?

Jika tak ada lagi yang mengkritik Anda, jangan sampai ilmuwan sastra/kritikus sudah punah menjadi Fosil Sastra Saurus.


Salam hormat saya;
Andhika Mappasomba Daeng Mammangka

Video Puisi: Homo Indonesia Homo (Andhika Mappasomba)

Video Puisi: Homo Indonesia Homo (Andhika Mappasomba)
Video Puisi: Homo Indonesia Homo (Andhika Mappasomba)

Pembacaan puisi berjudul "Homo Indonesia Homo"oleh penulisnya sendiri, Andhika Mappasomba Daeng Mammangka di Lapangan Sinjai Bersatu. Puisi ini dibacakan pada kegiatan Kemah Literasi Jurnalistik, Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) kabupaten Sinjai, Jumat, 11 Oktober 2018 lalu. Kegiatan ini bertemakan “Perwujudan Generasi Milenial Melek Media” yang berlangsung dari hari Kamis-Sabtu (11-13/10/2018).

Peserta diharapkan memiliki pengetahuan tentang ilm ujurnalist dan melek media agar tidak ikut menjadi penyebar hoax.

Praktisi literasi Indonesia yang hadir selain Andika Mappasomba adalah Zainal Abidin dan beberapa praktisi media di kabupaten Sinjai.

Silakan nonton videonya. Eh, jika ingin teks puisinya, bisa dilihat pada postingan sebelumnya. Klik saja di Homo Indonesia Homo (Sebuah Puisi).

Homo Indonesia Homo (Sebuah Puisi)

Homo Indonesia Homo (Sebuah Puisi)
Oleh: Andhika Mappasomba Daeng Mammangka

Andhika Mappasomba Daeng Mammangka
Foto by Lina Langit. Festival Rapang Bulang, Roemah Langit, Gowa - Sulsel

aku menyaksikan tanah dan air berlari-lari kecil pergi tak kembali
dua lembah dan perbukitan menjelma lubang-lubang kematian

aku menyeru pada tanah; "Diamlah!"
aku manusia khalifah mulia
hanya mahkluk iblis yang tak mau tunduk padaku

tanah membangkang
membuka liang lebar menganga
maka masuklah ke sana dua pasang kaum luth menjadi penyangga, menjadi mangsa

ini belumlah kiamat qubro

aku bertanya, kenapa bisa bumi bergoncang dan
kenapa air laut bisa tumpah ke daratan?

bumi menjawab;
"kitab suci telah menjabar jelas, kaum luth, suara musik merobek langit, perkenduan terang di bawah lampu warna-warni, pemimpin yang loba untuk pajak bumi."

bumi menjawab;
"bumi Allah kau pajaki, mahluk Allah kau rendahkan, adzan kau abaikan, anak-anak perempuan melahirkan anak bapaknya, ibu-ibu menjadi budak anaknya."
sepasang homo berciuman di pintu bandara
sepasang homo berpelukan di tepi pantai
sepasang homo terciduk di kamar hotel
sepasang homo bercumbu mesra di angkutan umum
sepasang homo bergelayutan di dalam rimba perkotaan
sepasang homo melucuti pakaian dalam di salon plus
sebaris ayat kitab suci menggambarkan ummat luth, tapi kau abaikan

lalu, kau undang mereka dalam sepasukan baris-berbaris, lalu kau girang melihat mereka berdandan melenggok dengan betis berbulu, cobalah terpingkal sebagaimana terpingkalnya dirimu ketika bumi berguncang, tanah bergerak dan air laut tumpah ke daratan

saya tak pernah kaget
sudah jamak itu terjadi

sudah biasa itu terjadi
seperti seperti itu dari hari ke hari
tak ada lagi Tuhan di dalam Cinta manusia homo Indonesia homo

Politik sialan
membenarkan anus disebut vagina
demi APBD tulang rebutan anjing kemaksiatan

Astagfirullahaladzim

Allahumma Shalli Ala Muhammad Wa Ala Ali Muhammad
aku terbayang tangan mulia Rasulullah memerintahkan diam kepada tanah berguncang dan Umar Bin Khattab menancapkan tongkatnya ke tanah

tangan mulia dan tongkat itu hilang dalam ingatan ummat manusia

musik mengalun
diskotik dan cafe mesum tak mau tahu itu

maka menarilah sampai badai


Gowa 4.10.18

Puisi: Surat Luka untuk Mantan Kekasihku

Puisi: Surat Luka untuk Mantan Kekasihku
.
.
ini adalah serpihan kenangan yang enggan beranjak
bukan kutulis untuk melembabkan luka lama
bukan juga tentang cinta yang memaksa keadaan
apalagi sebuah raungan rindu yang memaksamu meneteskan air mata
.
ini hanyalah sebuah janji yang kutunaikan
saat bunga-bunga matahari masih mekar di antara kesepian kita di musim-musim kesendirian silam, bertahun-tahun silam
Andhika Daeng Mammangka
Andhika Daeng Mammangka
kau dan kenangan kita memang tak mungkin bisa hilang
aku pernah menukar waktuku dengan sajak-sajak yang kutuliskan untukmu
sajak-sajak yang selalu menyerbakkan wewangian kenangan
sajak-sajak yang selalu kubacakan pada beberapa pengelana cinta yang kutemukan di perjalanan
dia tak mengenalmu
tapi kukisahkan dirimu padanya
dirimu, kekasihku yang telah pergi dengan pertanyaan-pertanyaan cinta yang tak pernah bisa terjawabkan
.
malam larut selalu saja menjelma alarm
membuatku selalu setia membuka sajak-sajak yang pernah kutulis dan kubacakan untukmu
tentang kegilaan perjalanan kabut
ataupun kenekatan mendaki malam kelam yang terjal
demi menemuimu di sudut penuh rindu
menuntaskannya dengan bergelas-gelas teh dari cangkir putih ukuran besar
kadang aku ingin melawan norma sosial dan agama
datang ke rumahmu dan mengajakmu berpetualang
sebuah mimpi yang tak mungkin kudoakan menjadi nyata
itu melukai kenyataan hidupmu hari ini
jadi aku menyimpan saja harapan itu
bukan untuk menumbuhkan harapan hidup bersama
hanya ingin menguji nama dan kisahmu pada waktu serta janji yang kau hembuskan pada angin malam di tahun-tahun silam
.
jangan biarkan jantungmu berdegup keras membaca surat ini
jangan pula membuat napasmu terengah-engah
apalagi garus meneteskan air mata
itu tidaklah berguna di usia tua ini
.
aku hanya ingin memastikan
bahwa sajak itu masih ada di dalam ingatanmu
sebab aku setia menghidupkannya untuk diriku
sebagai kenangan masa silam yang selalu punya ceritanya sendiri di hari ini
.
surat ini memang mengisahkan luka
tapi bukan untuk menghiba agar kau kembali
ini hanyalah sebuah kunci kenangan yang terlipat rapi dalam laci ingatanku
.
aku tak akan bergeming untuk selalu setia mencintaimu
seperti sajak-sajakku yang melakukan pengakuan kala itu
hanya saja
cinta ini telah menjadi kabut
hanya dirasa dan dilihat
tapi, tak bisa lagi dilipat dan digenggam lalu dibawa pulang
.
apa kabarmu kekasihku?
aku masih di sini
membuka lembaran sajak-sajak itu
dan terus mencintaimu
begitu saja
.
.
.
Makassar/6/6/17
---------------------------------
Selamat berpuasa, kawan-kawan revolusioner sekalian, semoga puisi ini mewakili kata hati anda yang mungkin takut dinyatakan. dan tetap setia di garis kesadaran bahwa cinta janganlah dibuang, karena jika itu terjadi, keadilan tak akan pernah datang dan kesedihan hanyalah menjadi tontonan (bongkar).

Bergeraklah Para Mujahid

Bergeraklah Para Mujahid
Oleh: Andhika Mappasomba Daeng Mammangka
.
saudaraku para mujahid
yang bersimpuh di subuh hari
yang bertebaran di siang hari
mencari keridhaan ilahi
menegakkan kalimat tauhid
menebarkan benih cinta ke islaman
mendengungkan kalimat-kalimat allah
di dalam sajadku kuuntaikan kata kagumku
meski kutaksanggup memekikkannya ke langit
turut bersamamu masuk ke medan juang
turut bersamamu menyusuri jalan panjang pulau jawa
turut bersamamu menyerukan keadilan di bandar bandar nusantara
turut bersamamu melintasi gurun-gurun di timur tengah
engkaulah itu kekasih allah
cahaya surgawi
yang mengokohkan kebenaran agama di semesta raya
.
saudaraku para mujahid
melepuh pundakmu dipanggang matahari dan hujan
melepuh kakimu menyusuri jalan raya perjuangan
dan aku terlalu pengecut untuk turut
dunia masih mengikatku dengan indah tipuannya
dan kaulah itu guru akhirat yang nyata
menyongsong daun-daun sorga dalam langkahmu
.
saudaraku para mujahid
dalam wajahmu aku bercermin
betapa munafiqnya aku
tak turut berjuang di jalan sorgawi
namun mengolok-olokmu dengan kalimat neraka
.
maafkanlah aku mujahid wahai para mujahid
dunia melenakanku seolah kekal abadi
dunia menggodaku seolah abadi sajak-sajaku
maafkan aku mujahid
tak turut berdiri di tepi jalan memberimu segelas air
tak bisa turut memberimu sepotong roti
di tepi jalan yang jauh dan sunyi
kumohonkan doa untukmu para mujahid
semoga allah menguatkan langkah-langkahmu
membela agama, membela kitab langit dan membela kalimat allah
.
allahu akbar
allahu akbar
berjalanlah para mujahid
semoga panas matahari menjadi saksi niat jihadmu
semoga tetesan hujan menjadi saksi jalanmu ke sorga
doaku menyertai langkah-langkah kecilmu yang letih
.
wahai para mujahid
engkaulah itu tentara allah
yang berjuang menegakkan kalimat allah
aku bangga kepadamu
aku mencintaimu
tetes peluh dan darahmu adalah pesan yang terus menyala
takkan padam di siram hinaan dan caci maki kaum fasik
akan terus menyala hingga akhir masa
.
allahu akbar
allahu akbar
.
wahai para mujahid
dengan sunnah dan kata-kata rasulullah
kau sonsong matahari dengan keberanian di dada
kau penuhi jalan-jalan kota jakarta
seperti wukuf di arafah, seperti lautan putih di makkah
berjuta kalian di sana
satu warna satu hadapan
kiblatmu ka’bah yang suci
satu gemuruh yang penuhi dada dan angkasa nusantara
takbir
allahu akbar
takbir allahu akbar
.
bergeraklah para mujahid
berjalanlah para mujahid
kau takkan pernah sendiri
berjuta saudaramu melihat dari sini
berjuta saudaramu mengirimu langkahmu dengan doa-doa
.
dunia sementara
akhirat selamanya
dua kalimat yang menawan hatiku
mengikis ego dan kemunafikan jalan-jalanku
.
yaa mujahid
yaa kekasih allah
salam dari kami
sebab kutahu kau berjuang bukan untuk membunuh dan melukai
kau hanya ingin hukum ditegakkan di republik ini
bergeraklah para mujahid
di tangan dan mulutmu kutitipkan kalimat seruanku
tegakkan hukum di nusantara


Selatan Nusantara, 1 Desember 2016

Andhika Mappasomba
Andhika Mappasomba Daeng Mammangka

Sebuah Catatan: Roemah Langit, Gowa Sulawesi Selatan

Sebuah Catatan: Roemah Langit, Gowa Sulawesi Selatan
Roemah Langit, Gowa Sulawesi Selatan adalah sebuah komunitas yang terletak di Dusun Bonto Kura, Desa Bonto Tanga, Kecamatan Bonto Lempangan, Gowa Sulawesi Selatan. Desa yang sangat indah. Bukit-bukit berjejer rapi dan hamparan persawahan yang tertata rapi menyelimuti perbukitannya.

Di sanalah sebuah Komunitas berdiri, membangunkan rumah bagi anak-anak untuk belajar alternatif selain sekolah formal. Uniknya, desa ini tidak banyak dikenali oleh orang di Gowa apalagi sulawesi selatan.

Saat berkunjung untuk melakukan "kelas menulis" bersama Ian Konjo, 27-28 Agustus 2016, kami melihat bahwa jarak desa itu ke Malakaji adalah 20-an KM dan ke arah Makassar sekitar 90-an KM.

Roemah Menulis yang dikelola oleh seorang gadis bernama Bunda Lina, alumni FEIS UNM Makassar ini seolah menjadi malaikat yang membawa cahaya di tangannya. Kegelisahan Lina dengan Roemah Langitnya berawal dari kegelisahannya atas fenomena putus sekolah anak di sana, menikah dini, dan hal-hal lain yang berkenaan dengan pengembangan diri anak pedalaman.

Roemah Langit memiliki anggota tetap sebanyak 118 orang yang bisanya diajar menari, berpuisi, dan bermusik di rumahnya atau di perbukitan sekitar kampungnya.

Kampung yang indah. Dari sana akan terlihat Gunung Lompo Battang yang tinggi dan hijau menjulang. Awan berarak bagaikan bunga-bunga ragam warna yang harum. Saat ini Bunda Lina sedang merintis Pustaka Rumah Langit untuk membuka wawasan anak-anak di desanya agar dapat membaca buku dan mengenali dunia lebih luas.....

Mereka sangat membutuhkan sumbangan buku bacaan untuk semua usia...... mereka ingin membaca tapi, mereka tidak memiliki buku. mari membantu mereka.


Add FB: Roemah Langit
No Telp. 085 2421 86106

Sebuah catatan Andhika Daeng Mammangka

Di bawah in ada dua video yag kami buat sewaktu berkunjung ke Roemah Langit.

Ini judulnya Puisi Roemah Langit yang dibacakan oleh Sitti Noer Awaliyah.


Yang kedua ini, judulnya Surat Cinta dari Rumah Langit yang dibacakan oleh Rezki. Video ini juga sedang diikutkan lomba. Semoga menang. Amin ya Rabb!

Tersebutlah Namamu Sayang

Tersebutlah Namamu Sayang
Tersebutlah-Namamu-Sayang
Seperti cericit burung pagi
Seperti gemericik air sungai
Seperti gemuruh air terjun
Seperti lantunan doa musafir
Seperti alunan suara angin
Seperti rengek tangis bayi malam hari
Seperti namamu sayang
Terselip di antara semua suara semesta
Menyebut namamu pada telinga jiwaku mendesah-desah
.
Bagaimana aku bisa melupakan namamu dan menghapusnya utuh dalam ingatanku, namamu telah menjadi karat dan akar cinta dalam napasku
.
Tanpa dirimu kini
.
Waktu menjelma jurang kesedihan
Pada matahari pagi adalah lukisan air mataku
Pada matahari tepat senja adalah lukisan hatiku yang menderita
Dan pada malam adalah kesunyian jiwa yang membawa belati
.
Tanpa dirimu kini
.
Bunga cinta yang sama kita tanam di tepian danau saat gerimis itu, tak bisa mati. Kabut dan air mata musafir menyuburkannya.
.
Sajak-sajakku memang tumbuh tanpamu
Tapi bukan lagi tentang sajak tentang kau dan aku yang berlari dalam gerimis, bermain sampan, mendaki gunung dan menjelajahi hutan belantara buku-buku.
.
Sajak-sajakku memang tumbuh bersama lagu, dan lukisan-lukisan yang merah jambu. Tapi kesunyian abadi.
.
Di depan cermin, aku takut tersenyum
Sebab lengkungan senyumku selalu saja dibayangi kemiripan dengan senyummu yang dulu selalu merekah dalam persembunyiian kita.
.
Tanpa dirimu kini
Dan entah di bumi manakah kini kau bernaung di bawah langitnya.
.
Jika saja di sebuah senja, kau menyaksikan seorang lelaki lusuh, kumal dan berantakan, duduk menghadap laut dengan tatapan yang kosong, sapalah.
Mungkin itu aku yang sedang duduk mencarimu dalam keajaiban, mengaharap ketiba-tibaan waktu yang mengantarkan dirimu kepadaku.
.
Jika kau menemukan sebuah makam tanpa nama dengan bebatuan berserakan, nisan tumbang dihempas rayap, duduklah simpuh mengirimkan doa untukku. Mungkin itu makamku. Lelaki yang tak letih menyebut namamu.
.
Jika pula esok kau menemukan buku puisi yang di sampulnya tertera namaku atau namamu. Yakinlah. Itu untukmu!



BK12915. Sajak ke 93. Andhika DM Pin BB 54C6F98D

Puisi Ning karya Andhika Mappasomba

Puisi Ning karya Andhika Mappasomba
Pagi tadi, seorang junior di kampus meminta sebuah puisi untuk dia pelajari dan ingin dia baca. Saya merekomendasikan sebuah puisi yang juga pernah saya pentaskan bersama seorang siswa SMA beberapa tahun lalu.

Bukan hanya itu, junior saya ini termasuk orang yang cerewet. Banyak pertanyaan yang dia ajukan tentang puisi. Dan tiba-tiba saya ingat beberapa puisi yang judulnya seperti berseri. Puisi ini ditulis seorang penyair yang berasal dari Butta Panrita Lopi, Bulukumba. Namanya ANDHIKA MAPPASOMBA. Saya paling suka puisinya yang berjudul Ning, Menangislah Ning. Saya juga suka menontonnya membaca puisi-puisinya. :)

Kanda Andhika Mappasomba ini telah menerbitkan puisi ini dalam bukunya berjudul "Mawar dan Penjara". Bukunya yang lain kalau tidak salah ingat berjudul "Ingin Kukencingi Mulut Monalisa yang Tersenyum". Ini adalah buku Kumpulan puisi dan Cerita Pendek. Kalau ada yang penasaran seperti apa puisinya, ini dia... Hihi... :D

Sampul Mawar dan Penjara

Puisi yang pertama judulnya "Ning, Menangislah Ning"
menangislah Ning, menangislah
malam ini aku ikhlaskan ragaku untuk kau sandari
kain di lengan bajuku aku ikhlaskan menjadi penyeka air matamu yang perih

menangislah.....
tumpahkan....
curahkan air matamu
biarkan kaki langit menjadi saksi
tentang air matamu yang perih

menangislah Ning.... menangislah....
tumpahkan
curahkan air matamu
sebab aku percaya
hanya dengan menangis
bahasa kejujuran manusia dapat berdenting bening bagai putihnya salju

menangislah Ning.... menangislah....
tumpahkan....
curahkan air matamu
jika kau tak mau menangis
aku akan buat kau menangis


Nah, untuk puisi yang kedua judulnya "Ning, Tidurlah Ning"
aku telah mengusir nyamuk pemangsamu
pun jua telah kusiapkan beberapa cerita dan puisi
yang akan kubacakan sebagai pengantar tidurmu
Ning, tidurlah
di sini, di pangkuangku
katupkan matamu
bukankah rindu yang bertahta kemarin telah terbayar malam ini
Ning, tidurlah
izinkan aku mengecup kening dan bibirmu jika kau telah lelap
Ning, tidurlah
aku malu mengecupmu jika kau masih terjaga
tapi,
jika kau tak mau tertidur dan aku telah sangat ingin mengecupmu
aku akan menutup kedua matamu dengan cinta

makassar, 10/02/09
Di bawah ini adalah videonya...

UPDATE: Untuk versi pembacaan puisi Ning yang bisa tonton yang ini
Older Posts
Home