IAN KONJO: Kusuma Jaya Bulu

Puisi: Fatimah Karya Kusuma Jaya Bulu

Puisi: Fatimah Karya Kusuma Jaya Bulu

Sebuah puisi dari Kusuma Jaya Bulu.

Puisi: Fatimah Karya Kusuma Jaya Bulu

Fatimah,
Berlarilah, Nak
Temui air mata yang menangis
diguratan wajah rinduku
pada perempuan
yang melahirkanmu

Bacalah aksara
Pada setiap bait
Luka yang sudah tua
Di sana, ada jejak ombak
Serta prasasti masa lalu menggelantung
di tiap ruas imajinasi yang patah

Jika,
Aku sudah dipenghujung jalan
Biarkan tanya mengantarkan matamu
Menghitung sembilan puluh sembilan kata
Di dalam lipatan ingatanmu

Dan kupastikan,
Nama Ibumu kutaruh di setiap baitnya

Fatimah,
Tetaplah berlari, Nak
Jangan biarkan senyummu retak
Serta lelah yang genit merayu lelahmu

Maaf,
Maafkan ayah,
Aku tak kuasa
Menahan kata kata beranak pinak
Dan mengisi rongga rongga puisi

Fatimah,
Saat aku tak lagi kau temui di gelas kopi hitam
Seperti sebelumnya
Maka ceritakanlah pada adik adikmu
Bahwa,
Ayah adalah matahari
Ibumu purnama ke tujuh di bulan berdarah

Bila mereka bertanya
tentang apa yang kuajarkan kepadamu?
Jawab dengan sederhana
CAHAYA
Selebihnya adalah ketiadaan dan kematian


Kusuma Jaya Bulu
13/06/2019



Di bawah adalah video dari puisi ini....


Puisi: Kemarin karya Kusuma Jaya Bulu

Puisi: Kemarin karya Kusuma Jaya Bulu
Kemarin karya Kusuma Jaya Bulu

Di suatu malam, aku ditemui oleh perempuan
Rambutnya sebahu, bersepatu hitam dengan kelopak mata yang indah
Ia duduk manis di dekatku. Tertunduk, sesekali wajahnya mencuri pandang

Aku suguhkan senyum
Tapi ia melotot padaku
Ku letakkan salam di telinganya
Lalu perempuan itu menampar wajahku
Setelah itu ia entah kemana?

Di malam ke dua
Ia kembali menemuiku, tapi tidak dengan sepatu
Apalagi dengan wajah yang kaku
Aku mengulurkan tanganku, lalu perempuan itu dengan lembut mematahkan jari-jariku

Di setiap malam
Perempuan berparas cantik itu mengunjungiku
Bibir mungil miliknya mendekati telingaku
Tidak berbisik, apalagi mengucapkan kata-kata

Tapi,
Telinga kananku di gigitnya
Tangannya gemulai mencekik leherku
Kakinya begitu cepat menghantam dadaku
Kuku tajam miliknya mencakar-cakar wajahku
Lalu hilang, entah ke mana?

Sudah sepekan aku tidak bertemu padanya
Aku sudah menitip surat di kanton celana anak awan yang kutemui bermain-main dengan pagi
Aku menitip pesan pada setiap sepi yang kutemui
Aku sudah menyampaikan
Galau ini disembilan puluh sembilan sudut kehidupan
Katakan itu adalah bagian caraku
Untuk mencari tahu tentang dirinya

“Apakah kau ingin menemuiku?”
Aku balikkan pandangan ke arah perempuan yang memisahkan aku dengan iamajiku
“siapa kau?”
Aku adalah Kerinduan
Yang tak ingin kau akui
Aku adalah kerinduan
Yang tidak pernah kau ingin mempertemukan dengan Dzat yang menciptakanku
Kerinduan dari Maha Perindu

Aku kerinduan, yang selalu kau tumpuki dengan dosa-dosa
Aku kerinduan yang menyaksikan
Kau berorasi panjang menyampaikan kebenaran
Seraya ayam tetangga murung dalam laci rumahmu
Aku kerinduan yang selalu mengikutimu menggunakan gaun putih dengan kain batik kau lilit di kepalamu
Sedangkan, jutaan anak-anak bangsa yang hidupnya lebih buruk dari binatang yang binasa
Maaf, Ucapnya!
Aku hanya ingin
Memperkenalkan namaku, kerinduan!

Puisi: Aksara Lentera Cinta

Puisi: Aksara Lentera Cinta
Karya: Kusuma Jaya Bulu

bila kau bertanya
mengapa kicau hadir saat anak hujan bersiarah pada pagi
maka coba sisipkan namaku di celah sepi
ketika malam bernyanyi tanpa syair
hanya dengan kesungguhan hati

bila kau bertanya
mengapa ombak bergelombang di setiap tepi
maka letakkan galaumu
biarkan sampan merayu bayang-bayang sang camar
tuntun tawa menyapa karang-karang kerinduan
bila kau bertanya



mengapa aku hilang di kelopak matamu tanpa pamit
maka tolong jangan bilang siapa-siapa
jika aku diam-diam menaruh rasa cemburu
pada nafas yang merangkak di nadimu

bila kau bertanya
mengapa aku menjelma dalam seribu syair
melekat pada selaput hatimu
dan mengapa aku jatuh cinta?
maka tanyalah pada senyum manismu
berapa kali ia menyapaku hari ini
Older Posts
Home