IAN KONJO: Kisah

Sebuah Kisah: Selalu Ada Jodoh Terbaik yang Menerimamu Apa Adanya

Sebuah Kisah: Selalu Ada Jodoh Terbaik yang Menerimamu Apa Adanya
Tulisan ini saya temukan di Fimela.com, yang dipublikasikan oleh Endah Wijayanti (30 Jul 2019). Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Fimela Juli: My Wedding Matters.

***

Penulis: J – Bogor
Selalu Ada Jodoh Terbaik yang Menerimamu Apa Adanya
Aku orang yang biasa saja dengan nilai yang pas-pasan di sekolah. Aku orang yang biasa saja dalam arti aku bukan anak famous, bukan anak kutu buku, bukan anak yang suka mencari masalah, juga bukan anak yang rajin. Ya, karena aku adalah anak yang suka sekali bercanda, berlari-lari, serta bermain-main seperti anak kecil.

Lingkup pertemananku di sekolah adalah sekumpulan orang yang suka bercanda, namun kami tetap bisa serius dalam hal belajar. Namun, aku memiliki kekurangan yaitu, pendengaran dan caraku berbicara sedikit kurang. Aku dilahirkan di keluarga yang lengkap, aku memiliki ayah, ibu, dan 3 saudara perempuan.

Ibuku adalah seorang yang pendengaran dan cara berbicaranya juga kurang, sama sepertiku, begitu pun dengan ketiga saudaraku. Aku senang bergaul, tetapi aku sangat malu apabila harus berkenalan dengan orang baru, dikarenakan tidak semua orang bisa menerimaku apa adanya.

Bulan itu, Februari 2010, aku melihatnya untuk pertama kali. Lelaki bertubuh tinggi, hitam manis, berkacamata, serta berambut sedikit ikal yang berada di kelas VIII F, Kevin namanya. Sesuatu menarikku kepada kepribadiannya. Ia terlihat humble, friendly, juga menyenangkan.

Sejak hari itu hingga seterusnya, aku selalu memperhatikannya dalam diam. Setelah lama memperhatikan, Kevin menyadari dirinya sering diperhatikan olehku. Ia lalu melihatku balik, tetapi hanya sebatas melihat. Sampai pada hari di mana id card-ku tersangkut di tangan Kevin saat kami sedang berpapasan di selasar kantin.

Aku langsung berusaha mengeluarkan tali yang tersangkut di tangannya, lalu secepat mungkin meminta maaf. Ia pun tersenyum kecil sambil mengatakan, “Tidak apa-apa." Sejak saat itulah Kevin mulai mengajakku berbicara terlebih dahulu. Ia juga mengetahui bahwa aku memiliki kekurangan dalam hal mendengar dan berbicara.

Kevin sangat baik, peduli, sopan, suka bercanda, juga sedikit tertutup. Namun, teman-teman sepermainannya sering mengejek Kevin setiap dia akan berbicara denganku. Kevin mulai menjauh dan tidak mengobrol denganku lagi karena terpengaruh oleh ledekan teman-temannya. Aku sangat kecewa dan memutuskan untuk menjauh juga dari Kevin. Setelah pentas seni kelas IX selesai, aku langsung melanjutkan SMA di Jogja dan Kevin juga hilang kabar dari telingaku.

Kembali bertemu

Sampai pada waktunya kuliah, aku memutuskan untuk mengambil jurusan Hukum di salah satu universitas di Jogja. Aku menjalani hari-hari kuliah pada umumnya seperti orang-orang kebanyakan. Organisasi, kelompok belajar, sampai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) aku ikuti. Terkadang tidak semua kegiatan bisa aku hadiri karena ada saatnya aku lelah, juga bertabrakan dengan jadwal kuliah.

Tidak terlalu sulit bagiku, yang memiliki kekurangan dalam hal mendengar dan berbicara untuk beradaptasi dengan lingkungan kuliah, karena anak kuliah kebanyakan sudah bisa mengerti dan menerima satu sama lain.

Hari itu, memasuki semester 2 perkuliahan, aku mengikuti UKM di kampus utama, dikarenakan pertemuan UKM selalu di kampus utama. Saat sedang latihan, aku kaget, sekilas aku melihat orang seperti Kevin sedang berjalan di selasar luar kampus, kebetulan aku latihannya di kebun kampus yang dekat dengan selasar luar kampus.

Aku langsung berpikir, sudah lama sekali aku tidak melihat bahkan memikirkan Kevin, kenapa bisa ada orang yang mirip Kevin? Ya sudahlah aku langsung positive thinking, mungkin itu orang lain. Sampai di kos kok terpikir terus? Aku terus memikirkan apakah itu Kevin atau bukan.

Beberapa hari kemudian di hari yang sama, aku mau memastikan apakah orang kemarin Kevin atau bukan, aku sengaja melihat ke arah selasar luar kampus lagi, ternyata pada saat aku sedang mencari sosok ‘Kevin’ tersebut, muncullah orang tersebut dan secara tidak sengaja dia juga melihatku. Sial! Aku langsung memalingkan mukaku, dalam hatiku rasanya memang seperti Kevin?

Sekitar pukul 9 malam selesai mengikuti UKM, aku langsung bergegas ke motorku untuk segera pulang ke kos, karena hari itu aku capek sekali kuliah dari pagi sampai sore, dilanjutkan dengan mengikuti UKM. Saat sedang menyalakan mesin motor, tiba-tiba ada orang yang menepuk pundakku, “Bocah id card!” panggilnya. Dengan perasaan kaget bercampur senang, aku segera memalingkan mukaku ke belakang, “Kevin!”

Ya, itu memang dia. Penglihatanku masih normal ternyata. Aku bahkan masih mengenali wajah Kevin, meskipun kami sudah lama sekali tidak bertemu. Sejak hari itu, kami sering bertemu juga berbincang bersama. Kevin sering ke kosku, menjemputku untuk sekadar mencari teman makan atau mengerjakan tugas bersama di luar.

Hingga pada suatu hari, Kevin menyatakan perasaannya padaku. Ia mengatakannya di kafe saat kami sedang mengerjakan tugas. Dengan tertawa yang sangat geli, diikuti senyum malu, aku langsung menjawab, “Iya." Hal ini dikarenakan aku sudah tertarik dengan Kevin sejak lama, namun tidak berani mengungkapkan karena keterbatasanku.
......................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................

***

Kisah dalam cerita ini masih panjang. Jika ingin membacanya sampai selesai, BACA SAJA DI SINI!

Saya membagikan tulisan ini karena ada satu kalimat yang paling saya suka didalamnya:
“Janganlah kita memiliki ketakutan berlebihan sebelum menjalani sesuatu terlebih dahulu.”


Sumber: fimela.com

Dingin di Yogyakarta dan Rindu

Dingin di Yogyakarta dan Rindu
Dingin di Yogyakarta dan Rindu
Foto by Me. Lokasi Desa Donokerto, Kec. Turi, Kab. Sleman - Yogyakarta

Alhamdulillah. Sekian lama tidak menjenguk blog kesayangan ini. Saya lupa kapan terakhir saya menulis dengan niat mempublish di sini.

Kali ini saya sedang dalam perjalanan kerja. Kedatangan ke kota ini bersamaan dengan cuaca dingin. Seraya menikmati kopi susu, saya menuliskan ini:

Di sini, sendiri menikmati kopi. Saya sedang tidak menunggu siapa-siapa. Seorang perempuan duduk sendiri pula, yang tak jauh dari tempat dudukku terlihat sedang gelisah. Mungkin telah lama menunggu seseorang yang sangat dirindukannya. Sesekali ia memandang ke arah kanan dan arah kirinya, lalu kembali menatap handphone di tangan kanannya. Kegelisahannya terlihat jelas. Kadang sesekali ia memandangku. Atau mungkin saja sedang ingin berkenalan denganku. 😁 Anggaplah demikian.
.
.
Kopiku tinggal setengah. Suara perempuan lain dari sebelah kamar terdengar samar. Aku tak peduli lagu apapun yang ia nyanyikan. Aku sedang mengingatmu. Berusaha menangguhkan rindu yang entah akan terbayar atau tidak. Beberapa pesan singkat yang masuk ke handphone juga tak kupedulikan. Rindu semakin dalam menusuk mengalahkan dinginnya malam di kota Yogyakarta ini. Aku mengingat segala tentang senyummu. Raut wajahmu ketika sedang tertawa atau suaramu. Rokok sebatang yang baru saja kubakar, kuisap dalam-dalam. Asap tebalnya mengepul menggambarkan bayanganmu yang kini memenuhi segala ruang di kepalaku.
.
.
Waktu berjalan lambat. Deru kendaraan di jembatan fly over dekat hotel tempatku menginap masih terdengar ramai. Aku ingat kalimat pramugari pesawat yang kutumpangi dari Makassar ke bandara Adisucipto Yogyakarta.
"Kalau ada sumur di ladang, boleh kita menumpang mandi. Kalau ada umur yang panjang, bolehlah naik Citylink kembali"
.
.
Aku tersenyum sendiri dan berharap kau juga tersenyum membaca ini.
.
.
Yogyakarta, 6/7/2018-21.55 PM
Ian Konjo

Sebuah Rahasia

Sebuah Rahasia
Akhir-akhir ini, sepertinya aku kembali jatuh cinta padamu. Aku lupa ini yang keberapa kalinya. Kau telah mencuri separuh hatiku sejak saat pertama kali aku melihat kau tertawa dengan sangat bahagia. Dan senyummu yang kadang membuatku tak mampu menatapmu lama. Senyum yang begitu anggun. Tentu saja aku paling menyukai senyummu.

Waktu seolah berjalan lebih cepat. Aku ingin mengucapkan banyak kalimat kepadamu. Tetapi, aku sangat tahu jika semua kalimat-kalimat itu sudah sangat terbiasa kau dengar. Aku juga tahu kalau kata-kata indah tidak akan mudah membuatmu luluh. Dan itu yang menjadi salah satu alasan aku tak pernah mengutarakan apa yang selalu aku rasakan setiap memandangmu tersenyum. Karena alasan itu pula, aku kadang hanya mengungkapkannya dengan candaan saja. Hanya dengan itu aku mengatakan apa yang seharusnya kukatakan dan itu benar-benar dari apa yang terasa dalam hatiku.

Aku tak pernah berharap kau tahu itu. Aku hanya berharap bisa melihatmu setiap saat ketika aku sedang dikerumuni rindu. Tentu saja rindu padamu. Meskipun yang bisa kulihat hanyalah fotomu. Bagiku itu sudah lebih dari cukup.

Aku memang telah cukup lama memendam perasaan ini. Tak perlu kau tahu berapa lama itu. Yang pasti, aku selalu memperhatikanmu. Kau sedang dimana. Kau sedang apa. Atau juga kau sedang bersama siapa.

Aku mungkin tak tahu segala tentangmu meski semua itu aku lakukan. Tetapi aku selalu sangat bahagia ketika melihatmu meski itu hanya lewat sebuah gambar yang tidak bisa kuajak bicara. Aku selalu menitipkan tanda kerinduanku yang rahasia. Dan aku ingin itu tetap menjadi sebuah rahasia yang tak perlu kuungkapkan padamu.

Apa kau masih ingat pertemuan kita di sebuah halte di pinggiran kota ini? Kita sama-sama menunggu matahari yang terik menjadi senja tanpa sebuah rencana pertemuan. Kita tak banyak bicara. Aku hanya menanyakan kabarmu dan kaupun demikian.
"Kau dari mana?". Tanyaku membuka percakapan kita ketika itu.
"Dari rumah". Jawabmu dengan sedikit tersenyum.
Aku kembali kikuk melihat senyummu itu. Aku berdebar. Semua bisu. Aku hanya membalasnya dengan senyum pula.

Taman Cekkeng Bulukumba
Sore di Sebuah Pantai di Bulukumba

Matahari kian mendekati sore. Sebentar lagi langit akan dipenuhi warna jingga. Ini menjadi sore paling indah yang pernah kulalui. Bukan hanya karena warna jingga itu yang membuatku tak bisa lupa. Tetapi karena kau juga ada di sana menyaksikannya. Dan rona matahari sore yang menerpa wajahmu kian mendebarkan hatiku. Kau bak bidadari yang sengaja datang menemaniku senja itu.

Ah, kata-kataku biasa-biasa saja bukan? Atau mungkin juga kalimat-kalimat itu terlalu menyanjung? Kalau iya, maka kau telah menemukan jawaban mengapa aku tetap menjaga rahasia hatiku yang diam-diam kau curi.

Sejak pertemuan kita hari itu, aku memutuskan menempatkan namamu pada sebuah ruang di hatiku. Ruang yang tak boleh siapapun membukanya selain dirimu. Ruang yang selalu kupinta kepada tuhan, agar selalu hanya namamu di sana.

Kelak, jika air matamu merayu untuk tumpah, datanglah kepadaku. Aku bersedia menjadi penyeka untukmu. Jika saat itu tiba, kau akan melihat tumpukan kerinduan-kerinduanku padamu. Lalu, akan kuceritakan kepadamu semua rasa yang diam-diam aku simpan untukmu.


Gowa, 18/07/2016

Edisi Tulisan Lama

Edisi Tulisan Lama
Aku menulis ini karena ada rindu yang menjarah dalam hatiku. Rindu yang semakin hari semakin mengajakku untuk selalu mengingatmu. Aku percaya jika dalam hidup selalu banyak kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi. Kemungkinan-kemungkinan yang kadang tak pernah terpikirkan oleh orang lain dan bahkan diri kita sendiri. Aku juga percaya, jika yang terjadi dalam hidup ini adalah salah satu dari sekian banyak kemungkinan-kemungkinan itu dan itu bukanlah sebuah kebetulan.

Lalu sekarang, aku ingin berkata jika separuh hatiku ada padamu. Yah, aku ingin mengatakan jika aku mencintaimu. Mungkin dalam pikiranmu, ini terdengar agak konyol ataupun tak masuk akal. Pertemuanku denganmu sudah cukup lama. Bahkan sangat lama.

Aku telah memikirkan beberapa kemungkinan dari apa yang kuucapkan ini. Termasuk pertanyaan-pertanyaan yang akan terlontar setelahnya. Jadi, tak perlu lagi kau bertanya mengapa rasa itu bisa hadir? Atau seperti pertanyaan yang lainnya; kenapa bisa? Sebab untuk pertanyaan-pertanyaan itu, aku tak punya jawabannya. Yang aku tahu bahwa aku ingin mengatakan jika ada hatiku yang berteduh padamu. Setidaknya itu sudah kukatakan.

Setelah ini, aku tak tahu kapan lagi aku memiliki kesempatan untuk mengatakannya. Aku takut jika kerinduan-kerinduan atas dirimu menenggelamkanku dalam kesepian malam. Aku takut jika kerinduanku padamu meleburkanku dalam teriknya matahari.

Bagiku, mengatakan hal ini padamu adalah sebuah jalan bagi rinduku setidaknya agak tidak menjadi benalu yang bisa saja membuatku terpuruk. Rindu yang tak pernah kutahu bermula dimana. Sebab tak pernah ada yang menduga datangnya rindu….


Gowa, 1 Mei 2015

Gadis Tarailu, Srikandi, dan Sang Penari

Gadis Tarailu, Srikandi, dan Sang Penari
Tiar Djimbe
Namanya LISA. Aku mengenalnya tahun 2010. Perempuan yang kunamai “malaikat kecilku” itu menjadi warga (anggota) di sebuah organisasi seni angkatan keenam. Sebuah organisasi yang bukan hanya sekedar organisasi, tetapi sudah menjadi rumah bagiku. Kami yang bergabung di dalamnya memberinnya nama “nirwana kecil” karena tiga pilarnya. Organisasi yang membuatku merasakan hidup lebih berwarna.

Seperti biasanya, calon warga baru sebelum dikukuhkan harus melewati beberapa tahap. Salah satunya adalah mengikuti masa magang selama kurang lebih enam bulan. Pada masa magang itulah aku mengenalnya. Namun, entah mengapa aku begitu mengaguminya? Mungkin itulah kodrat sebagai perempuan yang selalu dikagumi oleh laki-laki.

Aku ingat betul ketika aku mulai mendekatinya. Malam dimana dia lagi menjalani magangnya (sesi latihan tari) untuk persiapan pengukuhannya menjadi warga. Disaat itu dia selalu mengeluh tentang jam pulangnya setelah latihan.
"Daeng, tidak bisaka terlalu larut malam baru pulang ke kostku, karena tutupmi kalau jam 10 baru jauh bela." Keluhnya dengan logat Makassar. Aku pun menawarkan diri saat itu.

"Begini pale Andi, kalau masalah itu ji, siapja antarki pulang ke kost ta tiap malam sehabis latihan. Jadi janganmeki khawatirkan soal itu! Dari pada terganggu lagi latihan ta gara-gara begituji." Kataku yang ingin berbaik hati. Dia pun meng-iyakan tawaranku.

Sejak saat itu, aku pun selalu mengantarnya pulang setiap malam seusai latihan. Dan begitu seterusnya. Hingga pada suatu malam, teman-teman Lisa yang mengambil bidang teater di lembaga seni yang kugeluti sedang latihan. Mereka latihan di sekitaran taman Pertamina dekat kampus kami. Kebetulan Lisa ada di sana sedang nonton mereka yang sedang latihan. Aku pun ke sana dan langsung menyapanya.
"Belumpeki pulang ke kost ta, Andi? Sudah jam berapa mi inie? Nanti tutupki lagi."
"Iye, mauma pulang ini daeng. Tapi tidak ada kutemani bela." Begitu katanya.
"Ayomi pale Andi! Kuantarki." Tawaranku.

Aku pun mengantarnya pulang dengan mengendarai sepeda motor Jupiter MX milikku. Hampir tiap malam aku mengantarnya pulang. Bahkan kalau sudah sampai di kost-annya, dia selalu menawariku makan. Mungkin karena dia sangat menerti kalau mahasiswa itu kebanyakan puasa tanpa sahur alias kelaparan di masa-masa itu hehehe... (makan lagi kite).

Saat itu kami pun sering jalan bareng dan sepertinya aku harus memastikan statusku ke Lisa itu kaya gimana sekarang. Aku pun mengatakan kalau aku suka dan sayang sama dia. Dan dia pun menerimaku sebagai cowoknya. Alhamdulillah. Dan mulai saat itu, tiap sore aku mengantarnya ke Taman Perpustakaan Umum Multimedia untuk latihan tari. Latihannya pun masih sampai malam.

Sebagai cowok, aku harus menunjukkan perhatianku ke dia dengan mengantarnya pulang sehabis latihan. Sungguh, aku menyayanginya kala itu. Bahkan aku tidak pernah ada niat untuk mengecewakan apalagi menduakannya.

Lisa orangnya perhatian. Buktinya, saat kuliahku lagi hancur-hancurnya, dialah yang selalu memberiku semangat untuk cepat menyelesaikan studiku. Dia jugalah yang selalu siap menanggung dosa ketika dia menjadi makmumku saat shalat lima waktu. Sebab dari dialah aku begitu yakin kalau aku akan menjadi imamnya kelak.

Suka duka pun kami jalani berdua. Aku sering menyisihkan uang kuliahku untuk dia, meskipun dia tidak meminta. Begitu pun sebaliknya. Dan disaat aku benar-benar membutuhkan bantuan, dia selalu ada untuk menolongku.

Untuk mengisi waktu kosongnya di luar latihan dan kuliahnya, Lisa juga menjadi Guru Les. Biasanya sehabis gajian, kami selalu belanja di pasar ikan yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Yah, sekedar membeli ikan dan rempah-rempah lainnya. Makan pun kami selalu berdua. Entah itu di kosannya ataukah di asrama tempat tinggalku.

Kadang aku terharu bila mengingat masa-masa sulit yang telah kami lalui berdua. Makan sepiring berdua dan seadanya, cuma nasi putih dan mie instan sebagai lauknya. Sangat romantis bagiku saat itu. Susah senang kami selalu bersama. Karena bagiku, keromantisan tidak selamanya identik dengan kemewahan ataukah kelezatan makanan saat berdua, tapi dengan ketulusan dan keikhlasan menerima keadaan pasangan kita serta selalu siap mendampingi kita sampai benar-benar mapan. Bukan yang mendampingi kita setelah kita mapan.

Nurlisa Said, dulu aku hampir menjadi bagian keluarga besarmu. Aku mengenal keluargamu dan kau mengenal keluargaku. Aku bersyukur akan itu. Dan aku yakin jika Allah SWT punya rencana yang terbaik untukku. Perpisahan itu tak pernah aku inginkan. Namun, keinginan seorang lelaki yang amat mengharapkan dirimu. Dialah yang selalu memujamu dan menyanjungmu dengan syair-syair indahnya. Aku tahu dan kuakui itu.

Mungkin saat ini dirimu begitu membanggakannya seperti dulu aku membanggakanmu. Kesadaran akan hal itu selalu melekat pada diriku. Kekuranganku melebihi kekurangannya. Kini dirimu telah bersamanya, menjalani kisah-kisah yang mungkin saja seperti kisahku kala bersamamu dulu.

Nurlisa Said, separuh kisah hidupku yang indah bersamamu akan selalu ada di sini. Ya, di hati ini. Yang akan terukir indah sebagai syair-syair sanjungan untukmu dalam diamku. Kisah-kisah cinta nan indah ala seniman jalananan yang pernah kita lalui bersama, akan abadi di hati ini.

Kebaikan dan keburukanmu selama bersamaku, biarlah aku dan Allah SWT yang tahu.


Dalam_Kenangan_
Gowa, 1 Maret 2015
Tiar_Djimbe

Wisata Toraja Utara (Edisi Jalan-Jalan)

Wisata Toraja Utara (Edisi Jalan-Jalan)
Baru-baru ini, saya bersama seorang teman kembali mengunjungi sebuah tempat yang paling eksotik di Sulawesi Selatan. Toraja Utara, yah inilah sebuah kabupaten yang menurut saya adalah sebuah tempat yang lain dari yang lain.

Ini sebenarnya adalah postingan kedua di blog ini. Sebelumnya saya pernah menulis tentang Objek Wisata Toraja. Kali ini saya hanya ingin memposting foto-foto selama di sana. Kalau ingin penjelasan lengkapnya, silahkan kunjungi di sini!

Ini adalah tengkorak sepasang kekasih yang bunuh diri. Konon sepasang kekasih ini memutuskan bunuh diri karena cintanya tak direstui oleh keluarga mereka.









Panorama. Batutumonga di atas ketinggian...



Masih banyak lagi tempat yang belum sempat saya kunjungi....

Pertanyaan Untuk Kenangan

Pertanyaan Untuk Kenangan
Pertanyaan Untuk Kenangan
Sebuah pesan dari seorang teman mengingatkanku pada sebuah film pendek yang pernah saya buat beberapa waktu yang lalu. Judulnya "Sebuah Pertanyaan Untuk Kenangan". Salah satu kalimat dalam film itu mempertanyakan tentang kenangan.
"Dengan cara apa kau akan mengenang kekasihmu setelah kematiannya?"
Pertanyaan itu mungkin akan membuat kaget. KEMATIAN?. Kematian saya artikan bukan hanya ketika kekasih yang kita cintai kepali kepada-Nya. Saya mengartikan kematian itu juga ketika perpisahan harus menjadi satu jalan yang harus dilalui. Lalu, dengan cara apa kau akan mengenangnya?

Dengan cara membacakan Al-Fatihah tiap malam Jum'at. Menyimpan fotonya. Mengunjungi makamnya.

Namun, aku kini mengenang kekasihku dengan belajar mencintai dari kejauhan dan sesekali mendatangi tempat yang sering kukunjungi berdua... :D :D :D...

Ini hanya sebuah catatan yang konyol.

Surat Cinta Sholat

Surat Cinta Sholat
SURAT CINTA. Pagi kemarin, salah seorang teman di Blackberry Messenger mengirim pesan. Lumayan panjang juga untuk sebuah pesan di BBM. Saya ingin berbagi karena percaya bahwa jika kita berbuat kebaikan, maka kita akan mendapat sesuatu yang baik pula. Apalagi sebagai manusia dan umat Islam, kita harus selalu saling mengingatkan satu sama lain.... :)

Mengingat pesan ini adalah tentang kewajiban bagi setiap orang Muslim, saya ingin mengingatkan saja. :) Ini dia isi pesannya:

"Surat Cinta Tentang Sholat"
(Refleksi Makna Sholat Kita)

Sahabat:
✏Bila engkau anggap sholat itu hanya penggugur kewajiban, maka kau akan terburu-buru mengerjakannya.
✏Bila kau anggap sholat hanya sebuah kewajiban, maka kau tak akan menikmati hadirnya Allah saat kau mengerjakannya.
✏Anggaplah sholat itu pertemuan yang kau nanti dengan Tuhanmu.
✏Anggaplah sholat itu sebagai cara terbaik kau bercerita dengan Allah.
✏Anggaplah sholat itu sebagai kondisi terbaik untuk kau berkeluh kesah dengan Allah.
✏Anggaplah sholat itu sebagai seriusnya kamu dalam bermimpi.
✏Bayangkan ketika "adzan berkumandang", tangan Allah melambai ke hadapanmu untuk mengajak kau lebih dekat dengan-NYA.
✏Bayangkan ketika kau "takbir", Allah melihatmu, Allah senyum untukmu dan Allah bangga terhadapmu.
✏Bayangkanlah ketika "rukuk", Allah menopang badanmu hingga kau tak terjatuh, hingga kau rasakan damai dalam sentuhan-NYA.
✏Bayangkan ketika "sujud", Allah mengelus kepalamu. Lalu Dia berbisik lembut di kedua telingamu: "AKU mencintaimu hamba-KU".
✏Bayangkan ketika kau "duduk diantara dua sujud", Allah berdiri gagah di depanmu, lalu mengatakan : "AKU tak akan diam bila ada yang mengusikmu".
✏Bayangkan ketika kau "salam", Allah menjawabnya, lalu kau seperti manusia berhati bersih setelah itu.
Shalat adalah tiang agama.
Sungguh nikmat shalat yang kita lakukan. Semoga bisa menginspirasi dan silahkan di SHARE seluas-luasnya. Semoga BISA "Mengetuk" pintu hati sahabat kita yg belum mendirikan sholat". Amin ya Rabb!

Mari mendirikan shalat

Lelaki Pilihan Orang Tuaku Itu Bukan Dirimu

Lelaki Pilihan Orang Tuaku Itu Bukan Dirimu
Perjalanan hidup ini memang tak ada yang mulus. Lika liku gelombang yang datang terkadang sangat dahsyat hingga membuat orang putus asa untuk melaluinya. Menyesal di kemudian hari. Ini yang paling banyak terjadi. Sebuah kepastian yang berbeda cara mengekspresikannya. Yang paling mengerikan dan tak kalah sering juga terjadi. Kematian. Inipun akan menjadi satu dari sekian juta jalan yang ada. Dan tidak sedikit yang memilih jalan ini untuk lari dari terpaan ombak kehidupan yang bengis.

Ini hanyalah sebuah cerita fiksi. Mungkin kisah ini juga adalah satu dari sekian banyak orang yang mengalaminya. Sebuah akhir yang begitu merongrong ketenangan jiwa. Kisah dengan sebuah sesal yang akan melekat dalam kehidupan ini. Sekali lagi, ini hanyalah cerita yang lahir dari keheningan malam yang dingin.
***

Diyah telah lama menaruh hati pada seorang lelaki. Lelaki yang menurutnya mempunyai sesuatu yang tidak dimiliki orang lain. Sahaja dan sikap dewasanya membuat Diyah jatuh hati padanya. Lelaki itu satu organisasi dengannya.

Telah lama sejak pertama bibit-bibit cinta itu tumbuh. Tapi Diyah tak pernah berani mengatakannya. Kepada lelaki itu atau kepada siapapun. Meski kadang cinta dan kerinduan ini selalu memaksa untuk jujur tentang apa yang ada dalam hatinya, kini. Namun, lagi-lagi kesadaran akan posisinya sebagai seorang perempuan. Sangat tidak mungkin dan pasti akan sangat memalukan jika mengungkapkan perasaan kepada lelaki itu. Apa kata orang-orang nanti? Diyah hanya bisa memendam kerinduan itu yang mungkin suatu saat kelak akan memuncak dan meluap.

Segala harap yang ia genggam jika suatu saat nanti, pujaan hatinya akan datang dan membawa obat atas segala kerinduannya. Membawakan segenggam cinta yang telah lama berakar dalam ruang hatinya. Cinta yang Diyah yakini juga ada dalam hati lelaki itu. “Jika ada cinta di hatimu, maka yakinlah ada cinta di hati yang lain”.

Diyah dan hari-harinya dilalui dengan begitu banyak mimpi tentang dirinya dan lelaki itu. Mimpi tentang kebersamaannya suatu hari nanti. Mimpi dimana waktu akan membawa dirinya dan lelaki itu pada satu senja yang indah.
***

Kini tibalah saat yang Diyah rindukan.......
Sungguh, tak ada yang lebih menyakitkan dari kekosongan hidup dan kegalauan hati dalam sepi tanpa cahaya di kegelapan. Setidaknya itu yang dirasakan ketika sang lelaki idamannya mengucap kata cinta dengan sebait puisi kepadanya. Kalimat yang sudah bertahun-tahun dia tunggu datangnya. Dan hari ini, kalimat itu telah menghampirinya di antara bengisnya terpaan dan aral kehidupan yang seolah enggan menjauh darinya.

Dia terdiam dengan perasaan yang tak pernah menetap dalam hatinya. Apa yang pernah ingin terucapkan ketika saat itu tiba, raib begitu saja. “Ah, betapa tersiksanya aku mendengar sebait puisi yang diucapkannya sebagai ungkapan isi hatinya. Bukan karena aku tak lagi berharap bisa mendengar dia mengucapkan kata cinta itu padaku. Tapi saat ini persoalannya berbeda. Sangat berbeda. Kini, aku telah menjadi calon istri lelaki lain. Lelaki yang dipilih orang tuaku.”

Angan dan mimpi yang selalu hadir dalam tidurnya bagai terhempas dan terbawa angin. Tak ada lagi yang tersisa. Walau sekuat tenaga dia mencoba memunguti serakan-serakan mimpi yang tersisa. Tapi, tetap saja tak membuatnya lega.

Hanya doa dan usaha yang harus tetap dipegang. Keyakinan yang bersemayam dalam diri Diyah akan membawanya ke telaga kebahagiaan sebagai permulaan hidup yang baru. Semoga!!!


Talasalapang II, 30 Oktober 2011
Menghabiskan secangkir kopi untuk menyelesaikan yang tertunda
Bermimpilah, maka tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu


Launching KAREBA PMII

Membudayakan Panggilan Daeng dan Andi’

Membudayakan Panggilan Daeng dan Andi’
*Tulisan ini pernah dimuat di KOMIK IPASS edisi 8/2009
 
Sampul Buletin KOMIK IPASS
Sore itu di kantin kampus Unismuh Makassar, Ian menghampiriku meminta tulisan untuk dimuat di Buletin ini (Buletin KOMIK IPASS). Dia adalah pimpinan umum buletin KOMIK IPASS. “Daeng ada tulisanta untuk dimuat di buletin KOMIK,ujarnya dengan sedikit bercanda, budaya yang sudah mendarah daging di IPASS bahkan mungkin di beberapa komunitas. Mungkin mereka memakai istilah prustasi (Pura-pura santai tapi serius). Saya harus menggaruk kepala yang tidak gatal. “Apa yang harus saya tulis, toh saya bukan penulis?” tanyaku pada diri sendiri. Tapi saya iyakan saja, jadinya saya repot sendiri. Inilah budaya yang harus kita anut, budaya optimisme yang menganggap segala sesuatu mampu kita lakukan, meski kita tidak punya kemampuan untuk melakukannya. “Tapi setidaknya ada usaha, jangan menyerah sebelum bertanding” kira-kira begitulah yang ada di batok kepala kita khususnya yang mengalir darah Bugis Makassar di tubuhnya. Namun dibalik itu kenapa saya mengiyakan untuk menulis? Jujur ada kata yang hampir punah dan merupakan budaya yang telah membumi di Bugis-Makassar yaitu panggilan Daengyang dilontarkan oleh pimpinan umum buletin KOMIK bahkan kota Makassar sendiri digelar Kota Daeng. Panggilan daeng adalah cermin yang membuat kita beda dengan daerah lain. Panggilan daeng sama dengan panggilan kakak. Daeng adalah panggilan penghormatan kepada yang lebih tua. Budaya Bugis Makassar yang memanggil orang dengan namanya dianggap kurang sopan apalagi orang yang lebih tua. Panggilan daeng merupakan panggilan yang kedengarannya lebih akrab dan nuansa kekeluargaannya lebih tinggi dari pada kakak atau senior.

Saya teringat seorang teman waktu pelaksanaan temu TEMAN VI (Teater Mahasiswa Nusantara)  di surabaya 2008 silam seorang panitia yang bernama Innas dipanggil dengan nama Daeng Sugi (kaya) dan ia sangat senang dengan panggilan itu, dan hampir seluruh peserta temu TEMAN VI memanggilnya Daeng Sugi, Tika dari Teater Sanggul Jakarta yang diberi nama Daeng Manisi (manis). Entah ini sebuah keusilan atau untuk memperkenalkan budaya Bugis-Makassar. Bagi saya pribadi ini adalah bagian  untuk memperkenalkan budaya kita khususnya panggilan Daeng dan menunjukkan kepada mereka bahwa orang Bugis-Makassar (Sul-Sel pada umumnya) juga mempunyai panggilan yang menonjolkan rasa kekeluargaandan lebih merdu dari panggilan masuntuk orang jawa. Panggilan daeng kepada orang yang lebih tua merupakan cerminan sipakatau, sipakalabbi dan sipakainga bahwa ternyata semua orang itu butuh dihormati dan dihargai. Panggilan daeng seharusnya bukan hanya ditujukan kepada mereka yang mandi keringat tiap hari mengayuh becak dengan memanggilnya daeng becak (memang becak punya daeng, atau tukang becak  punya adik becak) kenapa panggilan kakak becak tidak ada. Betapa budaya kita kurang diperhatikan seakan panggilan daeng hanya bagi mereka yang terpinggirkan, ekonominya lemah. Padahal panggilan daeng kedengaran lebih indah dan mengandung nilai-nilai kekeluargaan yang erat. Kita patut bersyukur masih ada beberapa daerah yang menjadikan pa’daengan sebagai panggilan kepada orang tua yang kemudian diwariskan kepada anaknya, diantaranya kabupaten Gowa, Takalar dan Jeneponto di daerah ini masih kental pa’daengan yang disandang oleh masyarkata setempat.

Selain panggilan daeng ada jaga panggilan Andi “Ndi’” yang berarti adik, panggilan khusus kepada yang dianggap lebih muda. Budaya ini juga telah turun temurun. Budaya yang seharusnya menjadikan kita jauh lebih akrab, penuh kekeluargaan. Tentu dengan budaya seperti ini diharapkan mampu menciptakan nuansa kekeluargaan yang akan membawa kita jauh kedalam rahim kedamian dan kesejukan tanpa perlu saling sikut dan saling curiga khususnya pada pilpres mendatang. Dengan menghormati yang lebih tua dan menghargai yang lebih mudah dengan membudayakan panggilan daeng dan Ndi’diharaparkan budaya siri na paceyang tertanam jauh hari sebelum kita temui warna dunia telah tertanam di nurani leluhur kita bisa dipertahankan.

Jujur saya bangga terhadap waga IPASS yang membudayakan panggilan daeng kepada seniornya dan panggilan Andi “Ndi’ kepada yang lebih muda atau yang dianggap junior seakan membawa siliran dalam tiap jejak langkah kita.

Ketika kurangkai kata ini tiba-tiba nada dering hapeku mengagetkanku sebuah pesan singkat masuk (SMS), “Daeng sudah tidurmaq, atau begadangq lagi, jaga kesahanta y. dri Ndi’ta. Aku tersenyum membaca sms itu, ternyata di ujung sana pada pertengahan malam yang kian sunyi masih ada yang terjaga dan mengeja kata daeng yang hampir punah itu. Lalu kemudian aku merangkai kata membalasnya “Belum Ndi’ saya masih merangkai kata untuk dimuat dibuletin KOMIK karena ta’kala kujanji pimpinan umumnya, qta kenapa belum tidur” dri daengta.

Malam semakin tenggelam dalam pekatnya, dan nada sms yang bertandang ke hapeku kian jadi…….. Aku bersyukur karena kata iya yang kulontarkan sore itudi kantin kampus mampu kutuntaskan. Olehnya itu, budaya optimisme memang harus dibudayakan dan panggilan Daeng dan Ndi’ adalah spirit kekeluargaan yang harus tetap dipelihara khususnya di kampus biru (Unismuh) ini untuk menjadikan Unismuh sebagai kampus yang menjunjung nilai-nilai budaya lokal.

Muhajirin, dini hari 23 Mei 2009
Ketika sepi jadi jawaban dan SMSnya jadi hiburan.

Sepuluh Tahun IPASS

Sepuluh Tahun IPASS
Beberapa hari saya sangat sibuk mengurusi persiapan acara "Malam Perayaan Puisi Jilid 2 dan Tanggal Lahir IPASS". Tidak seperti kegiatan sebelumnya. Kali ini saya sepertinya menjadi tokoh utama dalam persiapan acara tersebut.

Selama empat hari bekerja ekstra karena mengingat waktu yang sepertinya sangat menghimpit. Saya dan dua teman membuat sebuah film dokumenter tentang perjalanan "Nirwana Kecil" kami. Dalam proses pembuatan film ini, banyak juga kendala dan rintangannya. Itu pasti sebagai jalan yang manusiawi sebagai manusia yang hanya bisa merencakanan, sedangkan yang menentukan adalah Allah Swt.

Kembali ke pembuatan filmnya. Karena beberapa pendiri lembaga (IPASS) sudah kembali mengabdi ke daerah masing-masing membuat saya dan teman-teman sedikit kesulitan dalam proses pengambilan gambar. Untunglah masih ada salah satu dari duabelas pendiri yang masih berada di Makassar.

Setelah beberapa kali berdiskusi, akhirnya dapat jalan keluarnya yaitu, mengambil beberapa orang saja sebagai perawkilan dari pembina, pendiri, dan warga luar biasa. Beberapa hari pengambilan gambar sangat melelahkan. Tapi alhamdulillah semalam kegiatan itu berhasil dan sukses terlaksana. Pemutaran film dokumenter juga berlangsung hikmat.

Moment ini juga menjadi tempat reunian untuk dewan-dewan senior yang tinggal di daerah yang jauh. Kembali berkumpul dan berbagia kisah atau juga kenangan.

Selamat Milad Satu dekade IPASS. Jayalah dan tetap kibarkan benderamu. Amiin Ya Rabb!!

Selamat Harimu; Guruku!

Untuk orang-orang yang pernah memberikan sesuatu yang paling berharga, “ILMU”.

Aku tak bisa memberikan apa-apa selain ucapan terima kasih dan sebait doa untukmu. Atas segala yang telah kau berikan padaku. Atas kesabaranmu membimbing, membina, dan mengajariku banyak hal. Aku tak kan pernah melupakan jasa-jasamu.

Aku mash ingat beberapa kisah sewaktu aku masih duduk di bangku sekolah. Aku pernah melakukan hal-hal yang kadang membuatmu marah, kecewa, sakit hati, bahkan sampai menangis. Aku benar-benar tak sekalipun bermaksud untuk itu. Aku ingin memohon maaf atas semuanya.

Terima kasih karena meski begitu, kau tetap menjadi teladan dan panutan untukku. Kau tetap sabar membimbingku. Kau punya jasa yang sangat besar. Terima kasih guru-guruku. Kau bagai pelita dalam kegelapan.

Untuk guru dan ayah terbaik buatku, Abd. Azis Madung. Maaf jika aku masih belum memenuhi keinginanmu. Untuk guru-guruku di SDN 128 Liang-Liang Kec. Herlang: , Ibu Darwiah, Ibu Masnawati, Pak Ahmad, Pak Rusman, Pak Yunus (Kepala Sekolah), dan guru-guruku di SDN 130 Bontobeang: Pak Jufri, Pak Halide’, Ibu Syamsiah, dan Ibu Hj. Kati. Kalian terima kasih, aku beruntung punya guru seperti kalian.

Untuk guru-guruku di SLTP Neg. 1 Herlang: Pak Tare, Pak Kaimuddin, Pak Alimuddin, Pak Hakim, Pak Takdir, Pak Majid. Kalian mengajari banyak ilmu untukku.

Untuk guru-guru di SMU Neg. 1 Herlang: Ibu Arni, Pak Madalle, Pak Mappisabbi, Pak Yasin, Pak Said, Pak Safruddin, Ibu Agustina, Pak Andi Syukri Abbas, Pak Syarifuddin, Pak Faisal, Pak Basri. Kalian mengajari kami sangat banyak tentang kehidupan.

Untuk guru-guru yang tidak saya sebutkan namanya, terima kasih atas ilmu yang kalian berikan. Untuk almarhum guru-guruku, Al Fatihah buatmu. Semoga kau tenang di alam sana. Amin ya Rabb!

SELAMAT HARI GURU!

Rindu Menulis Sastra

Rindu Menulis Sastra
Saya ingin menceritakan sedikit tentangku.

Dulu. Di waktu yang sangat lampau. Saya sering dan paling suka menulis sastra. Menulis apa saja. Puisi, cerpen, naskah, dan banyak lagi. Namun, saya tidak ingat persis kapan aktivitas menulis itu mulai menurun. Bisa dikatakan hampir tidak ada aktivitas itu lagi.

Menulis puisi sangatlah mudah bagiku karena ide-ide itu selalu saja muncul bahkan kadang berdesak-desakan. Saya biasanya bisa menulis tiga sampai empat puisi perhari. Tapi lagi-lagi itu dulu. Di waktu yang sudah sangat lama. Jika sekarang ada yang meminta untuk dibuatkan puisi, pasti saya minta jeda dua  sampai tiga hari. Padahal, dulu bisa sampai beberapa menit saja sudah jadi. "Itu dulu". ^_^

Semalam, entah karena apa atau dapat petunjuk dari mana. Ditambah lagi dengan suasana yang sangat bising. Naluri menulis itu kembali bergolak. Hehehe.

Ceritanya begini. Semalam seorang teman meminta saya mendesain pamflet untuk persiapan kegiatan "Malam Perayaan Puisi & Tanggal Lahir IPASS". IPASS itu adalah nama organisasi seni dan sastra yang saya geluti. IPASS itu singkatan dari Ikatan Pemerhati Seni dan Sastra yang biasa juga kami sebut "Nirwana Kecil".

Kembali ke desain pamflet. Nah, selesai membuat desain yang super simple, teman saya itu kembali meminta saya untuk menambahkan puisi dalam desain pamflet itu. Wah, awalnya pusing juga tiba-tiba diminta buat puisinya. Hhmmm.... Lalu tiba-tiba... Hahahhaa... :D

Saya coba saja berkonsentrasi dan akhirnya jadilah puisinya. Meskipun pendek tapi kata teman, maknanya dalam. Hehe.

Ni dia puisinya:
Sayang, Kemarilah!
Bacakan puisimu untukku sekali lagi
Tak perlu panjang,
Cukup namamu dan namaku saja.
Itu saja yang ingin saya kisahkan... :)
Aku ingin kembali menulis!


Malam perayaan puisi
Desain Pamflet

Atas Nama Siapa?

Atas Nama Siapa?
Saya hanya ingin mengemukakan apa yang ada di kepalaku. Seperti yang kita saksikan di media-media baru-baru ini, terjadi banyak unjuk rasa yang dilakukan oleh mahasiswa menolak rencana pemerintah yang akan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM). Ini tentu saja membuat kemacetan yang sangat parah. Apalagi, Makassar juga dikenal sebagai kota macet. Ditambah lagi pengrusakan rambu-rambu di jalan raya. Saya sering bertanya dalam hati, “Apa yang sebenarnya mereka perjuangkan? Nasib rakyat ataukah keegoisan mereka sendiri yang cenderung ingin dianggap pembela hak-hak rakyat?”

Dalam tiap orasinya, selalu saja mengatas-namakan rakyat. Padahal sadar atau tidak, rakyatlah yang secara langsung dirugikan. Banyak masyarakat yang menggerutu, mengumpat, menyumpahi, mencaci maki bahkan bentrok jika ada unjuk rasa. Bagaimana tidak, jalan-jalan ditutup. Ban dibakar di tengah jalan hingga membuat arus kendaraan yang memang sudah macet menjadi tambah parah. Ditambah lagi jika terjadi kerusuhan. Rakyat semakin dirugikan. Tukan becak tidak bisa mengayuh becaknya karena takut terkena lemparan batu atau juga gas air mata. Pedangang pun terpaksa menutup kiosnya karena takut barang dagangannya hancur. Pertanyaan tadi kembali muncul, “Nasib siapa yang mereka perjuangkan?” Menuntut pemerintah untuk berpihak kepada rakyat sementara fasilitas umum banyak yang dirusak sehingga menyebabkan kerugian bagi Negara. Mereka tidak sadar jika para tukang becak dan para pedangan telah mereka rugikan.

Unjuk Rasa
Sumber gambar: www.tribunnews.com

Saya semakin yakin menyimpulkan jika banyak mahasiswa sekarang ini yang hanya bisa membuat kekacauan, namun dari segi ilmu pengetahuan sangatlah minim. Mahasiswa tak lagi identik dengan orang yang memiliki pengetahuan intelektual tinggi. Mengapa tidak melakukan protes dengan cara intelektual?

Sudah bertahun-tahun ketika pemerintah berencana menaikkan harga BBM, mahasiswa selalu melakukan unjuk rasa secara anarkis, tetapi tidak menghasilkan apa-apa. Semuanya hanya omong kosong belaka. Bahkan lebih banyak menyusahkan dan meresahkan masyarakat.

Dari beberapa tahun yang saya ingat, tidak pernah sekalipun ada unjuk rasa menuntut harga BBM tidak dinaikkan yang terealisasi. Harga BBM tetap saja naik. Lalu, pernahkan kita berpikir untuk itu? Untuk apa melakukan sesuatu yang lebih banyak merugikan? Ataukah para mahasiswa itu sudah tidak bisa berpikir kreatif lagi selain melakukan unjuk rasa yang ujung-ujungnya terlibat bentrok dengan pihak kepolisian? Sudah banyak yang dirugikan dari aksi mereka yang katanya membela rakyat. Sudah banyak pula mahasiswa yang menjadi korban dari kerusuhan saat berunjuk rasa. Ada yang luka-luka dan bahkan ada yang sampai meninggal Lalu, apa yang sebenarnya mereka perjuangkan?

Berunjuk rasa bukan hanya merugikan mahasiswa itu sendiri, tetapi juga merugikan masyarakaat dan negara ini. "Apakah kita lebih senang melihat kota ini tidak aman dan berantakan?" Apakah kita tidak miris melihat kota kita yang diidentikkan dengan kota paling rusuh jika berunjuk rasa?

Dua tahun lalu dengan kasus yang sama ketika presiden Susilo Bambang Yudhoyono berencana menaikkan harga BBM, terjadi unjuk rasa besar-besaran. Bahkan di salah satu perguruan tinggi swasta, “berperang” dengan polisi karena satu jalur utama jalan mereka tutup selama beberapa hari. Kekacauan pun tak bisa dielakkan. Kejadian itu terjadi dari pagi sampai dini hari. Beberapa teman dari luar Sulawesi banyak yang mengirimi saya pesan singkat yang melihat betapa kacaunya Sulsel karena unjuk rasa itu. Lalu, untuk apa berjuang jika yang dihasilkan hanyalah kerugian? Pertanyaan yang kembali muncul adalah “Apa dan siapa yang mereka perjuangkan?”


Gowa, 11 November 2014

Dari Sini!

Dari Sini!
Hanya ini yang kutahu saat ini.

Semuanya bermula di sini!
Termasuk aku dan segala yang tertuliskan....
Aku ingin memberinya nama
Tapi aku tak tahu apa atau siapa...

Entahlah!!!!
Yang aku tahu adalah semua berawal dari sini!


Sebuah Doa Cinta di Al Multazam

Sebuah Doa Cinta di Al Multazam
Oleh: Ahyar Anwar
2 September 2011 pukul 13:20

Kekasih itu memandikan wajahnya dengan sinar lampu yang menyala. Ia berjalan dengan jiwa yang rapuh dari kerumunan orang-orang yang bersesak disekeliling Ka’bah. Ia merasa sendiri dan kehilangan dirinya. Ia mencari doa yang paling tepat untuk ia panjatkan kepada Tuhan. Ia mencari sisi yang paling sunyi dari dirinya sendiri untuk bisa menemukan sebuah permata harapan yang paling bercahaya bagi hidupnya. Ini adalah kesempatan pertama ia menyentuhkan dirinya di tanah suci tetapi bukan harapan yang pertama baginya untuk menemukan sebuah doa.

Semua orang pernah berdoa pikirnya. Semua orang pasti punya doa. Tetapi tidak semua orang dapat menemukan doa yang tersembunyi dibalik kesunyiannya. “Aku ingin belajar pada kesunyian malam”, bisiknya pada dirinya sendiri. Kekasih itu begitu percaya bahwa malam menyembunyikan doa dari balik kelamnya yang gelap dan dari selimut kesunyiannya yang dingin. Ia tak ingin menaburkan harapan-harapan pada doa-doanya yang tidak ia mengerti.

Baginya, orang yang berdoa untuk harapannya yang tidak ia mengerti adalah orang yang tidak melihat wajah misteri dalam kehidupannya. Ada rahasia yang bersembunyi dari setiap waktu yang telah berlalu dan akan tiba dalam seluruh hidupnya. Itulah sebabnya ia ingin menemukan wajah dari harapan yang tersembunyi itu. Sesuatu yang bercahaya kemilau seperti matahari yang menyala terik.Kekasih itu masih terus berjalan dalam pencariannya sebelum ia mendengar bisikan dari dalam dirinya sendiri.
“Pada setiap jiwa ia terselip diantara tumpukan jiwa-jiwa yang saling tersentuhkan. Seperti tumpukan kartu-kartu remi yang dikocok dengan tangan takdirnya masing-masing”
Kekasih itu tiba-tiba merasakan dirinya seperti sebuah kartu yang terselip diantara begitu banyak orang. Ia lalu membayangkan semua orang yang pernah ia temui dalam hidupnya. Semua menyadarkannya bahwa setiap pertemuan menitipkan sebuah misteri dari lipatan rahasia yang bersembunyi dibalik semua pertemuan itu. Ia menelisik satu persatu orang-orang yang berjejalan bersesakan disekeliling Ka’bah. Ia ingin menemukan sebuah doa yang paling misterius bagi dalam hidupnya sebelum ia mencapai sisi Multazam di Ka’bah. Ini malam Ramadhan. Tepat berada diantara sepuluh Ramadhan terakhir. Bisa saja ini adalah waktu yang mulia yang dijanjikan sebagai Lailatul Qadr itu pikirnya.

Jika itu benar, ia tak punya banyak waktu. Ia harus menemukan misteri dari dirinya secepatnya dan merangkainya menjadi sebuah wajah harapan dan menyusunnya menjadi sebuah permintaan doa. Tapi terlalu banyak pertemuan dan terlalu banyak kemungkinkan misterius yang harus ia pilah untuk bisa menemukan satu cahaya harapannya.

Ia membayangkan sedang menyelipkan dirinya pada satu tumpukan kartu remi dan mencoba mengacaknya untuk menentukan pada bagian mana dari dirinya itu tersembunyi. Ia tercenung dan mencoba tetap senyap diantara senggolan-senggolan manusia yang bersesakan. Sesekali ia bertanya: “Apakah mereka semua yang berada ditempat suci ini tahu apa yang ia ingin panjatkan sebagai sebuah doa yang paling ia butuhkan dan harapkan dalam hidupnya?”. Tentu saja ia tak yakin.

Setiap kartu remi disusun dalam urutannya masing-masing. Lalu dikemas dalam sebuah bungkusan yang rapih. Tetapi kartu yang tersusun rapih itu bukanlah kehidupan karena tidak ada permainan yang bisa dimainkan dalam kartu yang tersusun rapih. Hidup ini adalah sebuah permainan Tuhan. Maka Tuhanlah yang mengocok kartu itu untuk mengacaukan semua susunan takdir dan nasib masing-masing manusia menjadi sebuah misteri dan rahasia yang terburai dan tercerai berai.

Kekasih itu lalu merasakan sebuah lorong kecil untuk memahami dirinya sebagai sebuah kartu misterius. Rahasia dirinya ada disebuah tanda pada kartu yang lain yang juga misterius. Ia lalu merasakan sebuah desakan yang pasti bahwa setiap manusia akan menemukan titik misterius dari dirinya untuk menemukan titik rahasia pada diri manusia yang lain. Sebelum ia menemukan sebuah kesimpulan “Tugas besar seorang manusia adalah menemukan urutan takdir penciptaannya dengan pasangan misterinya, rahasia diantara mereka adalah sebuah perjalanan pencarian cinta terbesar untuk menyatukan diri kembali pada urutan penciptaannya”.

Karena kekacauan nasib dan takdir itulah! Seseorang harus menemukan jalan untuk keluar dari permainan nasib. Harus bisa keluar dari kocokan Tuhan untuk menemukan pasangan misterinya. Tentu saja bagi siapapun manusia yang mencoba keluar dari permainan takdir itu harus berhadapan dengan kemungkinan-kemungkinan. Kemungkinan untuk salah menemukan pasangan, kemungkinan untuk merasa kecewa dan patah hati, kemungkinan untuk tenggelam dalam telaga kesedihan jiwa, kemungkinan tersesat pada kehidupan seseorang, atau kemungkinan hilang arah dan berada dalam waktu yang berlalu ambigu. Tapi semua hanya bisa berlalu dengan cara melaluinya! Tuhan memberikan masing-masing manusia sebuah jalan untuk cintanya. Manusia itu harus melalui rintangan dari misteri cinta itu. Tak ada jalan lain selain mencari jalan itu!

Dari kesimpulan itulah ia merasa telah menemukan sebuah jalan untuk sebuah doa. Mengapa seseorang perlu sebuah doa? Tentu karena tidak semua orang percaya dan merasa yakin dengan jalan yang ia sedang tempuh dalam pencarian misterinya. Bahkan banyak orang yang menjalani hidupnya dengan rasa yang penuh tidak percaya pada jalan yang ia jalani itu. Lebih buruk dari itu banyak orang yang lebih memilih selamanya berada dalam permainan misterius dirinya dengan menghancurkan jalan yang memungkinkan ia menemukan pasangan misterinya. Ia memilih untuk terus menjalani jalan yang sesungguhnya ia sadari sebagai jalan yang tak ingin ia jalani.

Kekasih itu ingin menyusuri satu jalan yang bisa membuat dirinya sungguh-sungguh berada dalam sebuah jalan yang akan membawanya pada sebuah titik misterius, titik misteri yang didalamnya tersembunyi rahasianya sendiri. Rahasia mengapa dirinya diciptakan. Pencarian jalan itulah yang terlalu banyak tipuan dan muslihat. Ilusi-ilusi yang harus dihadapi. Ilusi dan muslihat itulah yang sering memerangkap hidup seseorang dalam “sihir hitam” cinta. Tiba-tiba saja antara hidup bersama dan berada dalam cinta adalah dua hal yang berbeda.

Sama halnya dengan internet, katakanlah seperti facebook, twitter, kaskus, dan semacamnya yang tiba-tiba saja membuat pertemuan menjadi berbeda dengan persentuhan. Banyak orang yang setiap hari berkomunikasi dengan banyak orang lainnya melalui facebook. Mereka saling bertemu tetapi tidak saling bersentuhan. Hal yang berbeda yang dirasakan kekasih itu ditengah-tengah sesaknya jejalan manusia di pelataran tanah suci. Mereka bersentuhan tetapi tidak saling bertemu.

Soal pertemuan kadang dianggap oleh sebagian orang sebagai sebuah peristiwa praktis. Terutama pada orang-orang yang pernah merasakan penderitaan dari rasa sakit atas kegagalan cintanya. Untuk menemukan jalan cinta, rasa sakit dan kesedihan adalah kerikil yang harus dipijaki. Satu-satunya cara untuk terhindar dari tajamnya kerikil itu adalah dengan berhenti berjalan. Tetapi dengan cara seperti itu, mereka harusnya membuang semua jalan impian yang ada dalam pikirannya. Atau mungkin membuang hatinya dari dalam dadanya.

Meski demikian, kekasih itu percaya, bahwa tidak ada yang pernah bisa menemukan kebenaran selain Al Mustafa yang dikirim Tuhan sebagai kebenaran itu sendiri. Hidup ini adalah meraba-raba diantara kekeliruan-kekeliruan. Salah satu dari kekeliruan itu, yang paling bisa diterima oleh pikiran dan perasaan kita, pasti kita anggap sebagai yang paling benar.

Dari semua yang telah ia sadari itu, setidaknya, ia telah menemukan sebuah doa. Doa untuk menemukan yang misterius dari pasangan rahasianya. Sebuah kepingan jiwanya yang terserak dalam kehilangan takdir. Ia akan meminta pada Tuhan untuk memberikan padanya jalan kembali pada penciptaannya. Karena pada titik penciptaan itulah, Tuhan meniupkan rahasia jiwa yang lain pada jiwanya!

Tapi bagaimana cara untuk berdoa? Tentu itu bukan soal tata cara berdoa, tetapi lebih pada menemukan tempat pada diri sendiri untuk berdoa. Sesuatu berbisik pada bathinnya.
“Engkau harus masuk pada jiwamu yang paling hening dan bening. Karena pada keheningan dan kebeningan jiwamu itulah kau bisa mendengarkan suara dirimu yang selama ini tersembunyi. Jika kau bisa menemukan suara dirimu yang tersembunyi dari kedalaman jiwamu! Maka dengan suara itulah seharusnya engkau berbicara dengan Tuhanmu”
Dari situlah ia percaya kalau sebuah doa cinta dipanjatkan, ia akan memancarkan cahaya keindahan pada semesta. Air matanya menetes, seluruh dirinya tertunduk. Tiba-tiba ia telah berada di sisi Multazam Ka’bah yang mulia itu. Seluruh jiwanya menengadah, seluruh dirinya menjadi sunyi, seluruh semesta menjadi hening, dan seluruh harapannya menjadi bening. Seluruh dirinya berdoa dalam cinta.

Setelah doa itu selesai, sebuah cahaya pengertian, tiba-tiba menjadi begitu jelas pada diri kekasih itu. Tentang cinta, tentang sebuah taman hidup yang berbuah keindahan. Kekasih itu lalu teringat, sehari sebelum ia kembali ke tanah suci, ia sempat berkunjung ke kebun kurma di Medinah di Muslih Al Aufi. Perjalanan dari Mekkah menuju Madinah hanyalah menyusuri kekeringan dari padang pasir yang tandus. Membayangkan sebuah padang pasir yang tandus ditumbuhi oleh pepohonan kurma yang tegar dan membuat padang pasir yang tandus itu terasa sejuk ditengah matahari yang terik membakar.

Baginya itulah pertemuan dan persentuhan. Padang pasir yang tandus kering dan sunyi bertemu dan disentuh oleh bibit kurma yang menyimpan rahasia keindahannya. Dan ketika pertemuan dan persentuhan itu menumbuhkan cinta diantara mereka, maka mereka berada dalam satu kebun hidup yang menciptakan keindahan dan buah bagi semesta. Maka cinta adalah sebuah pertemuan dan persentuhan yang saling menerima misteri dan saling menyingkap rahasia. Ia masih merasakan nikmat dan segarnya buah kurma segar . begitulah seharusnya kenikmatan buah cinta. Dari padang tandus yang hening bertemu dan bersentuhan dengan bibit kurma yang setia dan tulus lalu terciptalah sebuah kearifan hidup yang indah. Terciptalah sebuah taman kehidupan yang indah.

Tugas manusia adalah menemukan jalan untuk menumbuhkan taman itu dalam hidupnya. Jangan pernah bertanya soal rintangan dan resiko dalam mencari jalan menuju taman itu! Seperti halnya, janganlah pernah bertanya berapa lama padang pasir yang tandus dan hening itu menunggu kedatangan bibit kurma yang misterius itu. Atau jangan pernah bertanya seberapa tulus dan setianya kurma itu menumbuhkan akar-akar hidupnya pada padang pasir yang tak punya banyak air untuk meneduhkannya. Semua itu adalah misteri! Dan rahasianya ada pada cinta!

“Pada sebuah kisah tertentu dalam hidupmu, sesungguhnya engkau telah menemukan kekasihmu, dan engkau harus mencarinya lagi untuk bersentuhan yang terakhir kalinya dengannya dalam sebuah taman kehidupan yang indah”

(Untuk seorang kekasih yang berdoa untuk cintanya di Ka’bah)

Ahyar Anwar

Lagi; Tentangnya

Lagi; Tentangnya
Masih seperti biasanya dan selalu saja seperti itu. Aku selalu saja terbangun sebelum alarm handphone-ku berdering. Aku pernah berkata dalam hati jika percuma saja memasang alarm jika seperti itu. Tapi, jika alarmnya tidak saya aktifkan, saya malah terlambat bangun. Aku benar-benar tidak mengerti, mengapa? Namun, bukan itu yang ingin aku tuliskan sebenarnya. Hanya saja saya tidak tahu harus memulainya dari mana.

Semalam sekitar pukul 01.30, sebelum tidur aku menyempatkan membuka internet mencari tahu soal kebenaran berita tentang kematian seorang budayawan, sastrawan, dan pembaca essai Sulsel Asdar Muis RMS yang dikabarkan meninggal. Berita itu ternyata benar. Beliau meninggal sekitar pukul 24.00 wita di rumah sakit Pelamonia Makassar. Saya tidak tahu persis beliau sakit apa. Pagi tadi, saya membuka akun facebook dan melihat tulisan dari salah seorang kenalan yang akrab dengan beliau. Katanya kemarin masih sempat telpon-telponan dengan beliau. Sungguh ini berita yang mengagetkan. Namun, lagi-lagi bukan ini yang ingin aku tuliskan.
***

Sebelum tidur, saya membaca doa seperti biasanya. Aku berkonsentrasi penuh untuk tidur malam ini karena esoknya harus pagi-pagi berangkat ke tempat kerja. Tak ada apapun yang kupikirkan selain tidur dan aku akhirnya tertidur. Aku tidak mengerti mengapa dia kembali hadir dalam mimpiku malam ini. Padahal, aku sama sekali tak pernah membicarakan tentangnya akhir-akhir ini. Menyebut-nyebut namanya atau juga memandangi fotonya. Mimpi itu datang lagi mengingatkan begitu banyak kenangan saat kau masih bersamanya.

Senyumannya. Itu yang selalu membuatku tenang saat melihatnya. Dengan lesung pipinya. Dia terlihat sangat menawan. Aku kembali memimpikan itu. Dia datang dengan senyumnya. Aku memeluknya seolah dalam hatiku hanya ada kerinduan-kerinduan yang menyelimutinya. Aku benar-benar merindukannya. Sangat.

Aku sadar, ini sudah sangat lama. Yang paling tidak aku mengerti adalah mimpi yang datang nyaris saja selalu sama. Dia masih selalu hadir dalam mimpi-mimpiku. Aku bingung. Apa yang harus kujawab jika sampai saat ini, dia masih selalu datang dalam mimpi-mimpiku? Aku berharap dia tahu jika aku berkali-kali berusaha mewujudkan permintaannya untuk melabuhkan hati pada dermaga lain. Tapi aku tetap saja belum bisa. Bagaimana caraku menjelaskan kepada orang tuaku tentang semua itu ketika dia bertanya lagi tentang pernikahan dan menyebut namanya? Mengapa mimpi-mimpi itu masih selalu datang? Padahal ini sudah tiga tahun lamanya. Sudah sangat lama bukan? Mengapa aku belum bisa melepas semuanya? Mengapa perasaan-perasaan itu selalu datang dan menumpukkan begitu banyak kerinduan? Hingga saat inipun tak ada yang bisa aku jawab.
***
Pernahkah kalian mendengar sebuah kisah tentang seseorang yang rela dan setia menunggu orang yang begitu berarti baginya hingga waktu yang begitu lama? Meski pada akhirnya, dia tak juga dapat bersama orang yang dicintainya. Lalu, sia-siakah penantiannya?

Gowa, 27 Oktober 2014
Aku memimpikanmu kembali.



Kisah: Sahabat Yang Unik

Kisah: Sahabat Yang Unik
Sedikit catatan tentang awal dari sebuah lembaga bernama "AKSARA"...... Tulisan ini ditulis salah seorang dari angkatan pertama lembaga tersebut.
Masih terngiang di telinga celutuk canda tawa sahabat di saat duduk beralaskan rumput yang menghijau tidak pagi ataupun sore. Pohon beringin yang menghijau ikut tersenyum menyambut kehadiran Anda di kampus orange. Begitu indah persahabatan ini. Ibarat bunga matahari, dia telah menaburkan bijinya di lahan yang kosong yang kau harap esok atau lusa, biji bunga matahari ini akan tumbuh menghiasi taman.

Kehadiran Kusuma Jaya Bulu di tengah-tengah kami begitu berarti yang bagi kami sendiri tidak akan melupakanya. Pribadinya memiliki seribu karakter. Diantara lelucon dan keseriusanya, tersirat ilmu ataupun pengetahuan. Kalimat-kalimat sederhana yang dia ucapkan tapi menyimpan seribu makna. Beberapa kalimat yang tersimpan rapi dalam memoriku yang pernah dikatakan: “Jadilah manusia yang senatiasa selalu merindukan pencipta-Nya, janganlah kalian memper-tuhan-kan perasaan atau memper-tuhan-kan yang bukan Tuhan. Di samping menggunakan logika, gunakan hati dalam mengambil keputusan. Mengapa mutiara itu mahal?" Dan masih banyak yang lain. Mungkin saja menurut orang-orang kalimat itu biasa-biasa saja dan bahkan sudah sering kali didengarkan, tapi bagiku kalimat-kalimat yang diucapkan daeng Bulu sedikit banyak mengubah persepsiku.

Anda telah mempertemukan kami dengan teman-teman Anda dan menjadikan mereka sebagai teman saya juga. Ada Eka, Ulfa, K’ Sewang, K’ Cullank, K’ Irhyl, K’ Ridho, K' Ian, serta teman-teman IPASS yang lain. Meski aku belum memahami pribadi mereka satu persatu tapi yang paling jelas saya tahu kalau mereka adalah sahabat yang mau meluangkan waktu dan berbagi ilmu dengan kami. Anda adalah pribadi-pribadi yang lucu, humoris dan selalu membuat kami tertawa. Kehadiran Anda di tengah-tengah kami memberi warna di hari-hariku. Anda semua adalah sahabat yang unik. Yakinlah kalau kami selalu merindukan kehadiran kalian, merindukan puisi-puisi Anda, petikan gitar serta canda tawa Anda. Meski saya dan teman-teman tidak memiliki kelebihan yang bisa kami perlihatkan kepada Anda, tapi aku berharap kita bisa saling merindukan meski waktu tidak selamanya mempertemukan kita semua.

Semoga pandangan kami tidak akan berubah… Anda telah membuat saya kagum pada kelebihan yang Anda miliki dan saya berharap Anda bisa membantu kami mempertahankan rasa kagum itu. Tunjukan kalau yang benar adalah sesuatu yang benar dan jangan sekali-kali mencoba membenarkan sesuatu yang salah atau memunculkan duri yang bisa merugikan orang lain, karena itu sama saja perlahan Anda menghapus warna dari rasa kagum yang ada selama ini.

Thanks for sahabat-sahabat IPASS. Sukses dan terus berkarya. Mungkin 1 tahun, 7 tahun atau 10 tahun ke depan, saya sudah melupakan raut wajahnya kita, tapi satu hal, kehadiran Anda di tengah-tengah kami tidak akan pernah terlupakan.


By: Psychology Education
Jumriana, 16 Desember 2008
Malam pentas perdana AKSARA FIF UNM
 

Pernah: Jujur: Merindukanmu

Pernah: Jujur: Merindukanmu
Pernah. Aku menulis status. Ada percakapan dengan salah seorang teman di akun sosial milikku....
Aku:
Aku ingin berkata jujur. Aku merindukanmu entah sejak kapan.
Apa itu salah?

Teman:
Aku merindukanmu sejak setelah aku mengenalmu. Entah mengapa aku selalu merindumu semenjak pertemuan yang singkat itu. Aku juga tak tahu... :)

Aku:
Hhmmmm... Aku tahu, rindu tak pernah salah. Tak peduli pertemuan sesingkat apapun atau telah berulang kali sejak pertemuan yang pertama. Aku hanya ingin berkata jujur.

Teman:
Rindu memang tak pernah salah, ia menghadirkan kenangan-kenangan yang mungkin sudah usang dan juga sedikit menyiksa jiwa!

Aku:
Rindu. Aku tak tahu harus diapakan. Atau kubiarkan saja menjadi rimbung seperti sebatang pohon agar yang bernaung di bawahnya merasakan sejuk hingga pertemuan sekalipun tak akan mampu membendungnya. Atau mungkin lebih baik membiarkannya kering dan punah....
Sungguh menyiksa.

Teman:
Biarkan saja ia tumbuh laksana bebungaan di taman surgawi, menyebarkan harum semerbak ke seluruh panorama jiwa....

Aku:
Aku takut.
Bukan karena adanya rindu itu, tetapi karena lain hal.
Aku takut. Benar-benar takut.

Teman:
Tak ada yang perlu ditakutkan, karena ketakutan hanya akan menimbulkan kerisauan dan kegelisahan dalam hati yang juga begitu menyiksa...

Aku:
Entahlah.
Sepertinya saya sedang tersesat dan menikmati kerisauan dan kegelisahan itu...
Hanya itu saja. Lalu semua berlalu dan tak ada bekas sama sekali. Aku hanya sekedar ingin berkata jujur. Aku merindukanmu entah sejak kapan.


Makassar, 6 Agustus 2014


Jangan Menyisakan Apapun Tentangku

Jangan Menyisakan Apapun Tentangku
Ijinkan aku menceritakan satu kisah bersama seseorang yang begitu berarti untukku. Lewat kata-kata yang tak sempurna karena ini hanya sebuah rangkaian kalimat yang sangat sederhana. Kisah yang meskipun dengan hati tersayat dan perih untuk mengenang semuanya, tapi aku yakin jika aku adalah satu dari sekian banyak orang yang mengalaminya. Aku sadar, tuhan selalu punya rencana terbaik untuk hamba-Nya……

Mungkin sangat tidak menarik memulai menuliskan kisah ini dengan kata-kata seperti ini. Entahlah! Aku tidak terlalu memikirkannya. Aku hanya ingin menuliskannya. Jika aku mampu, aku akan menuliskannya hingga akhir.
***
Salam untuk seseorang di sana yang begitu aku cintai dan sayangi…

Aku takkan menuliskan apapun tentangnya, karena mungkin akan membutuhkan berjuta-juta kata hanya untuk mendeskripsikan betapa beruntungnya aku pernah mengenalnya, pernah mencintainya dan pernah menjadi sesuatu dalam kehidupannya. Bahkan juga butuh berjuta-juta kata untuk mengungkapkan betapa berharga dan berartinya dia. Semoga melalui barisan kata-kata yang mungkin saja tak tersusun indah ini, itupun jika tulisan ini sampai akhir, maka akupun telah menghapus ingatanku tentangmu. Segalanya.

Kisah cinta memang selalu mendebarkan. Kata sederhana inilah yang membuat semua awal dari kisah yang hingga kini masih menyisakan luka dengan jejak-jejaknya yang masih sangat jelas. Aku tahu jika kita takkan pernah merasa memiliki sesuatu sampai kita kehilangannya. Aku juga tahu bahwa sesuatu itu baru akan sangat terasa berarti jika sesuatu itu tidak ada lagi. Begitulah mungkin sedikit gambaran sederhana tentang perjalanan kisah yang kutulis.

Memang benar bahwa malam akan selalu menawarkan sepi yang kadang tak pernah mampu untuk diakhiri. Lalu, kita hanya punya dua pilihan. Melewatinya atau tenggelam dalam perih yang amat melukai. Dan pilihan-pilihan itu tak pernah punya jalan lain. Kita hanya mempunyai dan harus memilih satu dari jalan-jalan yang ada.
***
Masih dengan aku yang mengenang rindu yang telah menjelma menjadi pedih. Aku tak mampu lagi mengeja bait-bait puisi ataupun kenangan indah itu. Semuanya terasa mencekik dan membuatku tak bisa bernafas. Jejak-jejaknya hingga kini tak mampu kuhapus bahkan dengan lukaku sendiri. Luka yang tak pernah kutahu bermuara dimana. Atau mungkin juga tak akan pernah menemui telaganya. Hingga mati.

Aku ingat sebuah kalimat, bahwa kehilangan dan perpisahan itu adalah suatu kepastian. Tinggal bagaimana kita membuat semuanya terasa bermakna. Semuanya kembali kepada kita yang kehilangan dan mengalami perpisahan itu. Semua fana dan tak ada yang abadi. Semua ada awal dan akhirnya. Kehilangan dan perpisahan itu hanya menjadi satu dari sekian masalah yang harus kita hadapi. Bukan kita tinggalkkan dan lari dari masalah yang ada. Pernahkah kalian mendengar sebuah kisah tentang seseorang yang rela dan setia menunggu orang yang begitu berarti baginya hingga waktu yang begitu lama? Meski pada akhirnya, dia tak juga dapat bersama orang yang dicintainya. Lalu, sia-siakah penantiannya?

Beberapa pertanyaan itu harus dijawab dengan kata “tidak!”. Melalui penantian dan sakitnya kehilangan itulah kau dapat meresapi dan merasakan arti cinta yang sesungguhnya. Penantian itu yang akan mengajarkan kita bahwa kita telah menjadi orang yang tak pernah bosan karena sesungguhnya menunggu itu adalah sebuah keindahan dari satu sisi cinta.

Menangislah jika mau, resapilah, dan ceritakanlah pada seseorang untuk berbagi saat merasakan betapa sakitnya “kehilangan”. Apalagi kehilangan seseorang yang begitu berharga dan sangat berarti. Walau pada kenyataannya, itu takkan dapat merubah kenyataan apapun bahwa kita telah benar-benar kehilangan. Tapi setidaknya, ada banyak waktu untuk menemukan arti sebuah kesungguhan menyayangi. Selagi kita bisa……

Kita hanya harus memahami bahwa sebaiknya jangan pernah jenuh dengan kehidupan karena apapun jalannya, bahagia dan derita, itu telah teratur. Berusahalah agar menjadi indah. Jadikan hidup berbeda setiap waktu dan sebaiknya lebih baik dari sebelumnya.

Suatu saat. Entah itu esok atau lusa. Jika aku tak lagi ada kabar dan tak ada lagi senyum yang menjadi khas saat menatap senja di pantai, maka itu tanda jika aku telah jauh. Jangan menyisakan apapun tentangku. Atau tentang pahatan nama di dinding kamar. Akan kuhapus juga jika aku bisa, sebab terlalu banyak bagiku untuk mengingat semuanya.



Older Posts
Home