PUISI

CERPEN

TULISAN TERBARU

Penulis Buku dan Penjual Produk Online serta Seorang Tukang Laundry

Penulis Buku dan Penjual Produk Online serta Seorang Tukang Laundry
Penulis Buku dan Penjual Produk Online serta Seorang Tukang Laundry

Bayangkan, beranda media sosial kita dipenuhi status penawaran berbagai macam produk kendaraan, kecantikan, kesehatan, coutank, cawat, anti bau badan, sepatu, sandal, bio seven, minyak kutus-kutus, berbagai merek baju dan celana, berbagai macam jenis dan pola reseller, peninggi dan penurun berat badan dan sebagainya.

Produk dan pola dagang yang demikian tentunya kita mesti apresiasi dengan baik dan jika perlu membantu mereka berdagang halal. Impossible jika jualan itu melintas di beranda kita, lalu kita meminta satu dengan gratis.

Tentu ini menarik ditelisik lebih jauh. Tidak enak hati jika meminta gratis produk mereka kan? Banyak di antara mereka menjadikan berdagang OL ini sebagai pekerjaan utama untuk jalan rezekinya.

Bayangkanlah seorang penulis, sebagai macam rupa penulis yang memang hanya hidup dari menulis dan menjual bukunya sebagai jalan rezekinya, jika dia bertandang ke sebuah cafe atau restaurant, percayalah, kita merasa tidak enak jika tidak membayarnya, malah wajib membayarnya. Penulis wajib membayar dan sebagai teman, biasanya, pemilik cafe akan meminta buku gratis dari penulis. (Semoga analogi ini dipahami, bukan mendiskreditkan kawan saya yang pengusaha).

Anda akan ditawari beragam produk di beranda media sosial. Tapi, biasanya pedagang online-nya akan meminta buku secara gratis. Tapi tidak gratis untuk produk mereka. (Adil kan?)

Begitu banyak penulis yang mengeluh kepada saya terkait situasi yang sesungguhnya saya mengalaminya juga. Tapi, tidak melulu demikian. Saya juga harus mengakui bahwa dalam situasi tertentu, saya menghadiahkan (sunnah) buku tersebut kepada orang tertentu. Tapi, sebagai gambaran nasib dan pembelaan terhadap penulis, saya mencoba menuliskan ini.

Dua hari silam, saya mengantarkan buku pesanan ke sebuah perusahaan laundry milik @Ilham Daeng Tutu, Pohon Laundry, Jalan Daeng Tata 1 Makassar. Seingatku, sejak lama, dia kerap mengapresiasi karya sastra. Saat memberikan buku itu, dia menjabat tangan saya dan berkata; "Bang, saya membeli buku abang sebagai warisan untuk anak saya di rumah. Bahwa, jika kelak telah dewasa, cari penulis buku ini."

Ilham, sahabat saya itu menjelaskan usahanya, bahwa dia mengawali usaha Laundry dari 1 mesin pencuci dan 1 mesin pengering saja. Kini dia memiliki banyak dan mempekerjakan beberapa karyawan.

Terima kasih bung Ilham atas apresiasinya. Semoga Allah selalu merahmati usahanya. Semoga tidak ada pelanggan yang meminta laundry gratis.

(Hidupkanlah penulis dengan mengapresiasi perjuangannya menulis. Menemukan inspirasi. Mereka berjuang membeli banyak buku untuk menulis 1 buku. Hidup mereka mahal).

Ditulis oleh: Andhika Mappasomba Daeng Mammangka

Yang Terlupakan

Yang Terlupakan
Yang Terlupakan
Ketika itu mengabdikan diri untuk berbagi ilmu di sekolah


"Hormati gurumu sayangi teman, itulah tandanya kau murid budiman"

Nyanyian ini telah lama dilupakan
Benar-benar terlupakan
Apakah kita masih ingat?
Aku yakin kita tak pernah tahu
Atau mungkin memang tak pernah mau tahu
Atau mungkin juga kita tak tahu apa-apa lagi

"Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku"

Kurasa kita tak lagi mengenal lagu ini
Sebab tradisi itu benar-benar telah raib dari hati
Dan nyanyian itu telah lama dikubur
Nyanyian itu telah lama dibuang ke tong-tong sampah
Disembunyikan dalam lipatan kertas-kertas yang hampir habis termakan waktu.
Kusam dan sobek, lalu perlahan hilang.

Lihat!
Lihatlah mereka;
Mereka tak pernah mengeluh mengalirkan ilmunya
Tak pernah pula mereka marah jika kita tak salah
Lalu apa yang kita berikan padanya?

Tak ada....
Mereka banyak yang diadukan hanya karena menegur kesalahan yang kita buat sendiri
Mereka banyak yang dizalimi karena dianggap bukan siapa-siapa.

Padahal, kita tak menyadari satu hal;
Tidak sedikit orang sukses berkat mereka; guru kita.
Berkat guru; tidak sedikit orang menjadi professor, insinyur, arsitektur, dosen, dokter, ahli matematika, ahli fisika, ahli kimia, bupati, gubernur, menteri, presiden dan banyak lagi.
Lalu kita melupakan semuanya....

"Namamu akan selalu hidup,
Dalam sanubariku......"

Benarkah namamu akan tetap hidup?

Esok nanti kau akan tahu betapa berharganya mereka
Dan nyanyian itu tak akan lagi dianggap pelengkap saja.

Makassar, 6 Mei 2010

PUISI: Puisi Cinta Kita dan Kenyataan Sosial yang Sakit

PUISI: Puisi Cinta Kita dan Kenyataan Sosial yang Sakit
Puisi-Cinta-Kita-dan-Kenyataan-Sosial-yang-Sakit

Ditulis oleh Andhika Mappasomba Daeng Mammangka

kita adalah batu panas sayang.
tahukah kau batu panas itu? itu ibarat kain yang kering yang tergeletak di sebuat sudut yang tak penting bagi siapapun. jika terkena tetesan air, tetesan itu tak menggenang. tetesan itu terserap dengan sangat cepat, masuk ke dalam kain atau batu. kain dan batu itu adalah pikiran kita sayang. yang dipaksa menikmati suguhan kenyataan sosial kita yang sakit.

sayang, tahukah kau kenyataan sosial yang sakit itu? itu adalah apa yang kita simak setiap detak jam dinding saat bergerak. dia adalah segala hal ingkar sosial. kemiskinan, kesakitan massal, pendidikan yang dungu, dan pemuda pemudi seperti kita; tak memiliki kesempatan memberi arti pada bangsa kita, Indonesia; bekerja. dan sejuta genangan-genangan air mata yang tiada pernah terserap dan terdengar di ruang mewah kursi kekuasaan.

menonton televisi, seperti bercermin pada derita sendiri. mendengarkan orasi politik, seperti ejekan-ejekan yang menusuk jantung sendiri. mereka bilang Indonesia kaya raya, utang luar negeri kita tiada tara. Indonesia kaya raya, sebarisan perempuan baru saja bersalin tak bisa keluar meninggalkan rumah sakit karena tidak memiliki uang tambahan pembelian obat dan sewa bangsal sialan.

berjalan-jalan di sepanjang lorong pasar, kita diperhadapkan dengan peminta-minta yang menengadahkan tangan. sampah-sampah busuk, liter-liter yang curang dan timbangan-timbangan kekurangan berat, daging-daging busuk berformalin dipaksa masuk ke dalam hidung dan mulut kita. menulis dan membaca ini semua, seolah tiada habisnya; sekarat mata dan telinga kita menjadi penyaksi.

kita adalah batu panas sayang.
tahukah kau batu panas itu? dia mengandung panas pastinya. dengan panas itulah, kita tak bisa menyimpannya dengan melekatkan pada bagian tubuh kita. kulit akan melepuh. batu panas itu seperti rindu, sayang. jika terlalu lama terpendam panasnya, batu itu akan pecah menjadi debu. seperti hati kita, jika dia terlalu lama dihempas rindu, dia akan memanas, menggelora dan akan menghadirkan amuk badai di dalam kesadaran. butuh tetesan-tetesan air yang akan menunda kepecahannya. butuh tetesan air untuk tetap membuatnya tetap menjadi hangat. kehangatan itulah salah satu tujuan kita di dalam lingkaran cinta ini, sayang.

malam-malam yang sunyi dan mencekam, mengajarkan kita pada kisah hidup helen keller. dari kesunyian yang mencekam ia belajar mengenal dunia dan menebarkan cinta. dari kesadaran J. J. Rosseau tentang sosialitasnya mengajarkan kita tentang hidup yang berjuang memerdekakan bangsanya yang sakit dan menjadi budak di zamannya. malam-malam sunyi yang mencekam, membuat kita mengenang tertangkapnya seorang komunis muda, semaoen oleh belanda karena menyerukan kesadaran dan perlawanan di zaman keterjajahan. penangkapan pejuang sosial itu yang mengobarkan seruan-seruan pemogokan massal di zamannya.

malam-malam yang sunyi dan mencekam, melemparkan ingatan kita tentang maipa deapati dan datu museng yang sehidup semati. malam yang begini pula mengajarkan kita kisah haddara dan tongguru mattatta yang terpisah diujung badik demi harga dirinya di tanah mandar.

kita pernah memiliki kisah hariman siregar yang belakangan ditantang oleh emha ainun najib kembali turun ke jalan menyerukan revolusi. kita pernah memiliki amuk benteng dan tirani yang disebarkan di hari demonstrasi oleh taufiq ismail yang kini telah tua.

sayang, sosial kita sedang sakit. orang-orang dibayar uang dan sekotak makanan dan air kemasan untuk beramai-ramai ke lapangan terbuka mendengarkan pidato-pidato tanpa filosofi. pidato-pidato yang tak memiliki puisi. pidato yang tidak memiliki angka-angka yang pasti, mereka tak pernah belajar pada kehidupan buya hamka dan soekarno tentang pidato yang teduh dan nyala.

entah sampai kapan ini akan selesai.

sayang, kita tiba disini. pada sebongkah batu yang panas. sebongkah batu itu kita beri nama; CINTA. dalam situasi sosial kita yang sakit. kita membaca sajak-sajak yang tertulis di ruang-ruang sosial itu, membuat kita kehilangan gairah. sajak-sajak yang tertulis bagai tanpa harapan dan keinginan. film-film porno menjadi pelajaran yang paling ujung dari pertempuran perasaannya. kalimat-kalimat filsafat bersatu dalam tubuh psikopat. sajak dan filsafat kehilangan tubuhnya. terjebak pada seks pada ujungnya. begitu rumit memilah kalimat filsafat dan sajak serta rayuan mengadu kelamin dengan paksa. semua masih tubuh, akhirnya seni kehilangan kemanusiaan dan kebijaksanaan

Monolog Andhika Mappasomba mengenang 30 tahun Phinisi Nusantara
Monolog Andhika Mappasomba mengenang 30 tahun Phinisi Nusantara

sayang. itulah mereka. mungkin juga kita
tapi, cinta kita adalah kisah dalam perjalanan yang mencari bentuk. sambil membuka-buka semua kisah sejarah cinta yang ada, kita membuka helai buku sejarah cinta dengan ketulusan jiwa. membuka halaman sejarah cinta dengan kesejatian, kesetiaan dan kesadaran akan semua kisah sampirannya.

dalam perjalanan ini, waktu kita tak banyak. tapi kita tidak boleh egois pada semesta dengan tak menghiraukannya. sebab bumi ini bukan miliki kita berdua dan hanya mengandung kisah cinta kita saja. ada kisah-kisah sosial lain yang menunggu kita.

sambil saling rindu dan saling memeluk mesra dari jarak paling jauhnya cinta kita, batu yang panas itu kita raih, kita lempari penjahat-penjahat sosial itu sambil berseru;

wahai dunia
aku menangisi kenyataan sosialku
tapi air mata ini aku tumpahkan bukan hanya untuk kenyataan itu
sebab dunia bukan hanya tentang kemiskinan, derita dan pidato politik

aku menumpahkan air mataku ini
sebab rindu pada kekasihku
rindu itu tak tertahankan lagi
aku ingin bertemu dengannya, kapan saja, dimana saja,
lalu kami ingin menyepi
menyalakan televisi dengan suara gaduh
tai kami tidak sedang menonton
tergeletak, di sebuah sudut tak penting bagi siapa pun

Bulukumba, 17 Juni 2014
Diposting 17 Juni 2014 pukul 20.29
Link asli baca di SINI.
Older Posts
Home