CERPEN

PUISI

FILM PENDEK

LATEST POSTS

Andhika Mappasomba Daeng Mammangka: Fosil Sastra Saurus, Sebuah Anu

item-thumbnail
Andhika Mappasomba Daeng Mammangka

Sulsel sedang sangat membutuhkan kritikus sastra yang mumpuni dan mampu mengapresiasi karya sastra yang lahir di Sulsel, terlebih belakangan ini (2017) di mana jumlah buku sastra yang terbit cukup banyak.

Tanpa kritikus, karya-karya yang terbit hanya akan menjadi warna bianglala di langit, dikenali namun tidak dipahami apa gunanya secara mendalam.

Kritik bukanlah pembantaian, namun sebagai jembatan antara penulis dan pembaca dan antara buku dan zamannya. Tanpa kritik sastra, dikhawatirkan bahwa zaman hanya akan melahirkan lebih banyak manusia krisis identitas. Tak ada cara mudah menemukan identitas selain melabeli diri dengan jargon tertentu. Persis sama dengan laku politikus yang gemar membuat label diri pada jargon-jargon eufimistik untuk menambah kepalsuannya. Tepat bagai penulis puisi yang rindu/ingin disebut penyair dengan mati-matian mempromosikan diri sebagai penyair dengan menerbitkan puisi-puisi pada berbagai media demi mendapatkan pengakuan sosial, tanpa pernah peduli apakah karyanya layak disebut puisi atau hanyalah tulisan patah-patah yang mirip puisi.

Saya mengenal seorang penulis puisi dan menerbitkannya menjadi buku. Namanya Aprinus Salam, Kepala Pusat Study Kebudayaan UGM Jogjakarta. Walau menulis puisi di jelang usia 50-an dan memiliki ilmu sastra yang luas dan dalam, dia tidak berani menyebut dirinya sebagai penyair. Menurut saya, Aprinus mestinya menjadi potret bahwa seorang penulis puisi dan menerbitkannya menjadi buku sastra, dia belum tentu adalah penyair.

Kritikus sangat dibutuhkan republik ini. Kritikus sejati dan paham soal kesusasteraan kita. Jika tidak paham ilmu sastra dan menjadi kritikus sastra, kita akan selalu menemukan kenyataan lain dari seorang pakar Batu (cincin) tapi bukan ahli geologi (batulogi?). Ilmunya dangkal penuh cocologi.

Kritik bukanlah pembantaian. Dia adalah kelakuan yang mesti dihadapi semua umat (sastra) manusia, demi meningkatkan kualitas jiwa dan karya.
Kapan terakhir kali Anda dikritik?

Jika tak ada lagi yang mengkritik Anda, jangan sampai ilmuwan sastra/kritikus sudah punah menjadi Fosil Sastra Saurus.


Salam hormat saya;
Andhika Mappasomba Daeng Mammangka
Baca Lengkap »

Kutulis Lagi Sebuah Puisi

item-thumbnail
Karya: Ahda Imran

Kutulis Lagi Sebuah Puisi

Kutulis lagi sebuah puisi
mungkin untukmu, mungkin juga bukan
kata-kata selalu punya banyak kemungkinan,
seperti waktu, seperti tubuhmu. Banyak hari
yang tak bisa lagi kuingat padahal aku mesti
segera berangkat. Kupastikan aku akan sampai
di pulau berikutnya, tepat ketika kau
sampai di seberang sungai

Kupastikan juga ada sebuah kesedihan
yang aneh menempel di setiap helai rambutku
tapi entah apa. Mungkin ingatan pada mereka
yang meninggalkanku karena
kebencian atau kematian

Kutulis lagi sebuah puisi
mungkin untukmu, mungkin juga bukan
dalam tubuhmu kata-kata adalah waktu, irama
yang cemas dan bimbang, janji yang tak beranjak
pergi. Tidak bersama siapa pun, aku telah berada
di lubuk malam. Ingatan padamu menjadi air
yang menetes dari jemari tangan. Banyak hari
yang tak bisa lagi kuingat sebagai apa pun
tapi telah lama kupastikan, aku akan sampai
di sebuah pulau berikutnya, kampung halaman
dari seluruh ingatan. Tepat setelah
kau membaca puisi ini

dari seberang sungai

2007
Baca Lengkap »

Video Puisi: Homo Indonesia Homo (Andhika Mappasomba)

item-thumbnail
Pembacaan puisi berjudul "Homo Indonesia Homo"oleh penulisnya sendiri, Andhika Mappasomba Daeng Mammangka di Lapangan Sinjai Bersatu. Puisi ini dibacakan pada kegiatan Kemah Literasi Jurnalistik, Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) kabupaten Sinjai, Jumat, 11 Oktober 2018 lalu. Kegiatan ini bertemakan “Perwujudan Generasi Milenial Melek Media” yang berlangsung dari hari Kamis-Sabtu (11-13/10/2018).

Peserta diharapkan memiliki pengetahuan tentang ilm ujurnalist dan melek media agar tidak ikut menjadi penyebar hoax.

Praktisi literasi Indonesia yang hadir selain Andika Mappasomba adalah Zainal Abidin dan beberapa praktisi media di kabupaten Sinjai.

Silakan nonton videonya. Eh, jika ingin teks puisinya, bisa dilihat pada postingan sebelumnya. Klik saja di Homo Indonesia Homo (Sebuah Puisi).
Baca Lengkap »

Homo Indonesia Homo (Sebuah Puisi)

item-thumbnail
Oleh: Andhika Mappasomba Daeng Mammangka

Andhika Mappasomba Daeng Mammangka
Foto by Lina Langit. Festival Rapang Bulang, Roemah Langit, Gowa - Sulsel

aku menyaksikan tanah dan air berlari-lari kecil pergi tak kembali
dua lembah dan perbukitan menjelma lubang-lubang kematian

aku menyeru pada tanah; "Diamlah!"
aku manusia khalifah mulia
hanya mahkluk iblis yang tak mau tunduk padaku

tanah membangkang
membuka liang lebar menganga
maka masuklah ke sana dua pasang kaum luth menjadi penyangga, menjadi mangsa

ini belumlah kiamat qubro

aku bertanya, kenapa bisa bumi bergoncang dan
kenapa air laut bisa tumpah ke daratan?

bumi menjawab;
"kitab suci telah menjabar jelas, kaum luth, suara musik merobek langit, perkenduan terang di bawah lampu warna-warni, pemimpin yang loba untuk pajak bumi."

bumi menjawab;
"bumi Allah kau pajaki, mahluk Allah kau rendahkan, adzan kau abaikan, anak-anak perempuan melahirkan anak bapaknya, ibu-ibu menjadi budak anaknya."
sepasang homo berciuman di pintu bandara
sepasang homo berpelukan di tepi pantai
sepasang homo terciduk di kamar hotel
sepasang homo bercumbu mesra di angkutan umum
sepasang homo bergelayutan di dalam rimba perkotaan
sepasang homo melucuti pakaian dalam di salon plus
sebaris ayat kitab suci menggambarkan ummat luth, tapi kau abaikan

lalu, kau undang mereka dalam sepasukan baris-berbaris, lalu kau girang melihat mereka berdandan melenggok dengan betis berbulu, cobalah terpingkal sebagaimana terpingkalnya dirimu ketika bumi berguncang, tanah bergerak dan air laut tumpah ke daratan

saya tak pernah kaget
sudah jamak itu terjadi

sudah biasa itu terjadi
seperti seperti itu dari hari ke hari
tak ada lagi Tuhan di dalam Cinta manusia homo Indonesia homo

Politik sialan
membenarkan anus disebut vagina
demi APBD tulang rebutan anjing kemaksiatan

Astagfirullahaladzim

Allahumma Shalli Ala Muhammad Wa Ala Ali Muhammad
aku terbayang tangan mulia Rasulullah memerintahkan diam kepada tanah berguncang dan Umar Bin Khattab menancapkan tongkatnya ke tanah

tangan mulia dan tongkat itu hilang dalam ingatan ummat manusia

musik mengalun
diskotik dan cafe mesum tak mau tahu itu

maka menarilah sampai badai


Gowa 4.10.18
Baca Lengkap »
Older Posts
Home