Luruh Dalam Jarak yang Panjang karya Ahyar Anwar

Surat ini akan menjadi tanda kesedihanku yang meluruh dalam jarak yang panjang denganmu. Aku dalam perjalanan saat ini sayangku. Aku tentu tidak sedang meninggalkanmu. Hampir seluruh jiwaku tetap ada dalam jiwamu.

Perjalanan ini seperti sebuah petualangan kesunyian bagiku. Aku merasa seperti berjalan di gugusan dedaunan yang gugur. Menggugurkan semua kerinduanku padamu. Aku merasa jiwaku seperti tersaput embun kesedihan yang dingin dan membekukan hidupku.

Aku tak ingin mengingkari kesedihanku atas perpisahan ini. Aku tak ingin menghibur diriku dengan kesedihan yang mengabut ini. Aku juga tak ingin menghiburmu dengan kata-kata yang indah, aku ingin kesedihan ini menjadi bagian yang membuat cinta kita tumbuh dan berbunga di musim yang berbeda. Ini seperti musim dingin yang sedang turun dalam waktu yang tak kita minta. Tapi aku ingin engkau menjadi kekasih yang merajut rindu-rinduku menjadi baju hangat cinta yang indah. Aku ingin engkau memberikanku warna yang buram dari cinta ini. Biar aku bisa membedakan cahaya yang akan tiba dari kerinduan-kerinduanmu padaku. Karena aku akan memelihara semua cahaya senyumanmu di mataku. Agar dalam kemuraman perpisahan ini, mataku penuh dengan cahaya senyummu dan bibir jiwaku selalu penuh dengan cahaya ciumanmu yang penuh cinta yang berbinar.

Kekasihku sayang!
Setiap perpisahan harusnya tak memisahkan kita, tetapi mempertemukan diri kita kembali melalui kenangan-kenangan cinta yang yang mengikat kita dalam semua pertemuan-pertemuan yang menyatukan jiwa kita.

Aku merasa sedang berjalan jauh menemui kenangan-kenangan kita bersama. Aku menyusuri kembali semua bayangan kisah kita yang membuatku merasa menemukan diriku dalam cinta bersamamu.

Aku ingin menjadikan cinta ini sebagai sebuah perjalanan jiwaku yang menyusup dalam jiwamu dan membuatmu menjadi ladang yang subur bagi kehidupanku dan jiwaku menemukan titik tumbuh terbaik dalam kehidupan ini. Bagai hujan yang tumpah pada tanah yang membuat tunas-tunas menjadi tumbuh dalam harapan yang berbunga. Meski mungkin akan ada gelisah yang akan menerjang kita dengan kerinduan yang meluka. Aku tak ingin mengelabuimu dengan kesediahan perpisahan ini. Aku hanya ingin membuat kita berpelukan dengan kesedihan ini, agar jarak terasa sesak pada waktu-waktuku yang menjauh darimu.
Aku mencintaimu sayang!
Jangan bertanya tentang godaan ini, karena aku ingin engkau menjadi sekelopak bunga anggur dalam jalan hidupku. Aku ingin menanam cinta ini dalam sejarah hidupku yang membuatku bisa menjadi sebuah kisah yang lengkap dan tumbuh dalam satu impianku yang paling menyesakkan. Berada dalam malam dan pagi dengan kekasihku, dan menutup jalan hidupku pada kebersamaan hidupnya.

Ahyar Anwar

Puisi Soe Hok Gie - Sebuah Tanya

“akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
apakah kau masih berbicara selembut dahulu?
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku”

(kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih,lembah mendala wangi
kau dan aku tegak berdiri, melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)

“apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
ketika ku dekap kau,
dekaplah lebih mesra,
lebih dekat”
(lampu-lampu berkelipan di jakarta yang sepi,
kota kita berdua,
yang tua dan terlena dalam mimpinya.
kau dan aku berbicara.
tanpa kata,
tanpa suara ketika malam yang basah menyelimuti Jakarta kita)

“apakah kau masih akan berkata,
kudengar derap jantungmu.
kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta?”

(haripun menjadi malam,
kulihat semuanya menjadi muram.
wajah-wajah yang tidak kita kenal berbicara dalam bahasa yang tidak kita mengerti.
seperti kabut pagi itu)
soe-hok-gie-puisi
“manisku, aku akan jalan terus
membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan
bersama hidup yang begitu biru”


Selasa, 1 April 1969

Surat Untuk Cut Nyak Dien dan Kartini Muda

.
sebelum memulainya, dingin memenuhi ruangan ketika surat ini kutulis untukmu
Cut Nyak Dien;
namamu kuyakin tak ada yang tak mengenalmu
dulu kita diperkenalkan oleh guru-guru tentangmu sejak masih duduk di bangku merah putih
kau selalu disebut-sebut sebagai perempuan pemberani
semangatmu adalah kobaran api di padang ilalang yg akan terus bergejolak
sekarang; entahlah
.
Cut, kau tahu;
generasi-generasi penerusmu kini mungkin banyak yang tak lagi mengabarkan semangatmu itu
semangat berjuangmu; dan kebijaksanaanmu yang harusnya tetap ada hingga kini
kobaran-kobaran itu mestinya menjadi cahaya dalam gelap seperti yang disorakkan R. A Kartini semasa hidupnya:
"habis gelap terbitlah terang"
.
masih banyak yang ingin kutulis dalam surat ini
bukan hanya untuk Cut Nyak Dien yang hingga ujung nafasnya masih tetap berperang meski kakinya tak mampu lagi menopang tubuhnya yang renta
dan matanya yang tak lagi melihat dengan jelas
atau hanya untuk kartini yang harus merasakan kepedihan dan kebimbangan dalam berjuang agar bisa mencapai pendidikan tinggi bukan hanya mereka; tetapi untukmu
untukmu;
untukmu;
dan untuk kita semua
.
Cut;
aku sering bertanya tentang generasimu kini; para perempuan
masihkah mereka memancang tiang-tiang keteguhanmu dalam berjuang?
dan Kartini;
aku selalu ingin kaum perempuan meneruskan cita-citamu seperti yang kau tulis dalam banyak surat-suratmu itu; kritis dan berani
meski berat; meski dengan perjuangan yang amat sulit
.
sebagai penutup dari suratku ini
kepadaku dan kepada para perempuan
kemarilah;
perjuangan Cut Nyak Dien belumlah usai
dan padacita-cita R. A Kartini masihlahterbentang dinding
kitalah perempuan-perempuan yang harus meneruskannya!
.
.
Gowa, 21/09/2017

Puisi: Surat Luka untuk Mantan Kekasihku

.
.
ini adalah serpihan kenangan yang enggan beranjak
bukan kutulis untuk melembabkan luka lama
bukan juga tentang cinta yang memaksa keadaan
apalagi sebuah raungan rindu yang memaksamu meneteskan air mata
.
ini hanyalah sebuah janji yang kutunaikan
saat bunga-bunga matahari masih mekar di antara kesepian kita di musim-musim kesendirian silam, bertahun-tahun silam
Andhika Daeng Mammangka
Andhika Daeng Mammangka
kau dan kenangan kita memang tak mungkin bisa hilang
aku pernah menukar waktuku dengan sajak-sajak yang kutuliskan untukmu
sajak-sajak yang selalu menyerbakkan wewangian kenangan
sajak-sajak yang selalu kubacakan pada beberapa pengelana cinta yang kutemukan di perjalanan
dia tak mengenalmu
tapi kukisahkan dirimu padanya
dirimu, kekasihku yang telah pergi dengan pertanyaan-pertanyaan cinta yang tak pernah bisa terjawabkan
.
malam larut selalu saja menjelma alarm
membuatku selalu setia membuka sajak-sajak yang pernah kutulis dan kubacakan untukmu
tentang kegilaan perjalanan kabut
ataupun kenekatan mendaki malam kelam yang terjal
demi menemuimu di sudut penuh rindu
menuntaskannya dengan bergelas-gelas teh dari cangkir putih ukuran besar
kadang aku ingin melawan norma sosial dan agama
datang ke rumahmu dan mengajakmu berpetualang
sebuah mimpi yang tak mungkin kudoakan menjadi nyata
itu melukai kenyataan hidupmu hari ini
jadi aku menyimpan saja harapan itu
bukan untuk menumbuhkan harapan hidup bersama
hanya ingin menguji nama dan kisahmu pada waktu serta janji yang kau hembuskan pada angin malam di tahun-tahun silam
.
jangan biarkan jantungmu berdegup keras membaca surat ini
jangan pula membuat napasmu terengah-engah
apalagi garus meneteskan air mata
itu tidaklah berguna di usia tua ini
.
aku hanya ingin memastikan
bahwa sajak itu masih ada di dalam ingatanmu
sebab aku setia menghidupkannya untuk diriku
sebagai kenangan masa silam yang selalu punya ceritanya sendiri di hari ini
.
surat ini memang mengisahkan luka
tapi bukan untuk menghiba agar kau kembali
ini hanyalah sebuah kunci kenangan yang terlipat rapi dalam laci ingatanku
.
aku tak akan bergeming untuk selalu setia mencintaimu
seperti sajak-sajakku yang melakukan pengakuan kala itu
hanya saja
cinta ini telah menjadi kabut
hanya dirasa dan dilihat
tapi, tak bisa lagi dilipat dan digenggam lalu dibawa pulang
.
apa kabarmu kekasihku?
aku masih di sini
membuka lembaran sajak-sajak itu
dan terus mencintaimu
begitu saja
.
.
.
Makassar/6/6/17
---------------------------------
Selamat berpuasa, kawan-kawan revolusioner sekalian, semoga puisi ini mewakili kata hati anda yang mungkin takut dinyatakan. dan tetap setia di garis kesadaran bahwa cinta janganlah dibuang, karena jika itu terjadi, keadilan tak akan pernah datang dan kesedihan hanyalah menjadi tontonan (bongkar).

Catatan: Pengakuan

Memulai menulis ini, aku akan sedikit tertawa mengingat kata-kata yang diucapkan seorang teman malam tadi. Meski harusnya itu adalah doa. Tetapi entah mengapa, ada yang menggelitik dari kalimatnya itu. Aku tak perlu memberitahu kalimatnya. Tidak apa-apa kan? Kita anggap saja itu adalah sebuah lelucon menjelang pergantian tahun masehi ini. Atau anggap saja sebuah kalimat penyemangat menuju tahun yang baru untuk sebuah awal yang baru. Aku rasa ini akan lebih menarik untuk kukatakan.

Catatan: Pengakuan

Aku ingin sedikit mengingat perjalananku dalam hidup ini dari beberapa tahun yang lalu. Mungkin tahunnya akan sedikit jauh ke belakang. Dan di tahun masehi ini adalah kali pertama kulakukan itu. Mungkin karena aku tak terbiasa memperingatinya seperti kebanyakan orang. Bagiku, memperingati pergantian tahun seperti ini hanyalah sebuah kesia-siaan jika yang kita lakukan bukan hal mendekatkan diri kepada sang pemilik kuasa dan bersyukur atas roh yang masih belum diambil-Nya. Memperingati pergantian tahun dengan menghamburkan uang lalu menghiasi langit dengan cahaya yang berwarna warni. Suara motor yang sengaja dimodifikasi hingga memekakkan telinga, setelah itu balap-balapan tak jelas. Berteriak sekencang-kencangnya. Atau membakar kembang api di tengah jalan dan mengganggu penguna jalan yang melintas.

Ini bukanlah sebuah ceramah. Hanya sekedar mengingatkan saja. Pergantian dari waktu ke waktu adalah sebuah tanda bahwa dunia semakin renta. Kita tak akan pernah bisa kembali ke hari kemarin dan kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi esok.

Tahun-tahun yang berlalu adalah sebagian dari kenangan-kenangan yang mengisi perjalan hidup ini. Aku bersyukur satu hal hari ini. Bahwa tak ada yang lebih membahagiakan dari keceriaan yang masih melekat erat. Senyum yang tulus dan orang-orang yang peduli padaku. Meski kadang ada yang melukai perasaan dan juga melukai hati. Tapi bukankah sesungguhnya kehidupan ini memang seperti itu? Bukankah indahnya kehidupan itu ketika kita masih bisa merasakan luka, duka, perih, suka, air mata dan tawa? Bukankah hidup itu memang penuh gelombang dan lika liku?

Tahun-tahun berlalu itu adalah sketsa dari sekian banyak kenangan yang berjejak. Yang pahit, perih dan duka telah kujadikan salah satu guru terbaik untuk belajar menjadi lebih baik. Menjadi orang yang menghargai kebahagiaan yang ada. Menjadi orang yang tetap menjaga apa yang telah kumiliki.

Selalulah bersyukur. Milikilah hati yang selalu merasa cukup karena sesunguhnya itulah orang yang paling kaya dan bahagia.

Selalulah memiliki cinta. Kau bisa mempelajari semua hal tentang apa yang kau kerjakan dari buku-buku. Tetapi saat kau menjalaninya tanpa cinta, ia akan mengadukmu seperti dunia yang terus berputar. Cinta akan tetap menjaganya menjadi penyemangat saat dia akan terjatuh.

Selalulah tetap menjadi baik.


Gowa, 1.1.2017
Cat. tidak diedit