IAN KONJO

PUISI

CERPEN

TULISAN TERBARU

Sebuah Cerpen: Menghargai Pemberian (III)

Sebuah Cerpen: Menghargai Pemberian (III)
Lucunya, ia langsung memberikan begitu saja dan mengetikkan nomornya di ponselku. Yang lebih tidak kusangka, begitu sampai rumah dan mulai mengontaknya, aku baru sadar ternyata diberikan nomor sedot WC. Jamban! Rani mengerjaiku. Kenapa enggak sekalian nomor telepon badut sulap?

Ini adalah bagian terakhir cerpen “Menghargai Pemberian”. Kalimat di atas adalah salah satu isinya. Jika belum membacanya, baca saja di SINI (bagian awal) dan di SINI (bagian tengahnya).

=======================================

Sebuah Cerpen: Menghargai Pemberian (III)

“Lantas, kenapa kamu tadi malah menyuruhku menjualnya kalau aku sudah punya buku itu? Apakah nanti aku sama saja tidak menghargai pemberianmu itu? Seperti yang pernah dikatakan mantan pacarku?”

“Aku tidak berpikir sejauh itu, Dit,” kata Rani, lalu meminum machiatto-nya. Setelah itu, ia terdiam dan mengetukkan jarinya ke meja seperti sedang berpikir. Aku masih menunggu jawabannya.

“Aku cuma ingin memberikanmu hadiah,” kata Rani. “Kalau ada orang yang bilang, menjual barang pemberian orang lain itu salah dan bisa membuat orang itu kecewa, rasanya bukan urusanku. Lagian, aku yang menyuruhmu untuk menjualnya, kan? Daripada kamu membuangnya?”

“Aku enggak akan pernah membuang buku. Tapi nanti pemberianmu sia-sia dong kalau kujual?”

“Tidak ada yang sia-sia menurutku. Menerima pemberian, menurutku juga sudah bentuk menghargai. Bukannya kalau dijual nanti kamu jadi dapat uang?”

Rani memang kurang ajar! Entah kenapa, anak ini sering sekali menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.

“Hmm, kalau kamu bingung jawabnya, begini deh,” ucap Rani, kemudian menghela napas dan mendengus. “Kamu ketika jatuh cinta dan menjalin hubungan pasti menitipkan atau memberi hatimu untuk orang lain, kan?”

“Lalu apa hubungannya?”

“Untuk urusan hati saja, manusia banyak yang tidak menghargainya. Saat aku memberikan hati kepada seorang cowok yang aku sayang, tapi suatu hari dia merusak seenaknya. Membohongiku dan memilih perempuan lain. Meninggalkan luka. Itu jauh lebih keji daripada menjual barang pemberian.”

“Kayaknya sekarang kamu mulai berpikir terlalu jauh, Ran.”

“Eh ... iya juga, ya? Jadi curhat pula.”

Kami tertawa bersamaan.

Begitu tawa kami reda, aku memprotes kalau hati enggak bisa disamakan dengan buku atau barang pemberian lainnya. Rani lagi-lagi menyangkal kalau bukan itu poin yang dia maksud. Kami pun terus berdebat soal menghargai pemberian itu baiknya harus bagaimana. Mungkin kami punya pandangan yang berbeda tentang itu. Makanya enggak akan pernah ketemu jalan tengah.

“Intinya gini deh,” ujar Rani, memotong pembicaraanku yang ngotot enggak mau menjual buku pemberiannya. “Kamu pokoknya udah aku kasih hadiah tiga buku itu. Selanjutnya itu urusanmu. Kamu mau simpan, buang, atau jual, terserahlah. Semua keputusan itu ada padamu.”

“Yang aku belum punya, udah pasti dibaca terus simpan. Karena suatu hari bisa kubaca ulang.”

“Ya udah, baguslah kalau gitu.”

“Buku yang lain gimana?”

“Dih, ini anak nyebelin! Aku, kan, tadi udah bilang terserah!”

Aku lagi-lagi cekikikan.

“Kalau boleh memberikanmu saran, kamu mungkin bisa menjual buku itu, lalu nanti dibelikan buku lagi yang belum kamu punya. Buku yang bakalan kamu simpan dan enggak akan pernah dijual. Mungkin buku itu bisa untuk mengenang. Maka, nanti carilah buku yang betul-betul mengingatkanmu padaku. Carilah buku yang bagus. Jadi ingatanmu padaku pun sama bagusnya.”

“Hah?” aku terkejut sama perkataannya barusan. Perempuan ini memang enggak bisa ditebak. Idenya ada-ada saja. Aku spontan bilang, “Tanpa buku pun, kamu akan selalu kuingat.”

“Semoga kamu sedang tidak membual.”

Aku tersenyum dengan sangat terpaksa. Kalimatnya terasa getir. Pertemuan itu pun malah berakhir kurang baik. Kami belum berjumpa lagi sampai saat ini, sebab Rani tidak sekali pun pulang ke Jakarta, atau aku yang belum bisa berkunjung ke Yogyakarta.

Ternyata, ucapanku pada waktu itu adalah sebuah bualan. Aku sempat lupa mempunyai teman sepertinya. Kalau bukan karena buku Murjangkung itu, mungkin aku betulan lupa, bahwa ada seseorang bernama Tirani Meliyana. Seorang teman yang membeli buku panduan menulis fiksi, tapi sampai sekarang aku enggak pernah membaca tulisannya. Aku bahkan enggak tahu apakah dirinya mempunyai blog.

Tahun ini, kami juga sudah jarang sekali bertukar kabar. Sibuk dengan kehidupan masing-masing. Aku enggak tahu bagaimana keadaannya di sana. Aku rada sungkan untuk mengontaknya. Aku enggak bisa mengintip aktivitasnya di media sosial. Sedari pertama berteman, kami memang cuma kontakan lewat WhatsApp. Tidak ada saling mengikuti akun medsos. Katanya, ia tidak suka bersenang-senang di kehidupan maya.

Jadi, ia tidak membuat satu pun akun seperti Facebook, Twitter, atau Instagram. Aku baru sadar, rupanya di era digital seperti ini, masih ada orang yang betul-betul tidak bisa diakses ketika mengetikkan namanya di pencarian Google. Wajahnya pun mulai samar-samar di ingatanku.

Tiba-tiba mataku berkaca-kaca. Rani ini betul-betul sialan. Sambil tetap memegang buku pemberiannya itu, aku masih berusaha untuk terus mengenangnya. Namun, aku sudah tidak banyak mengingat hari-hari bersamanya. Cuma kisah tadi yang bisa kuceritakan.

Pilihanku selama ini untuk terus menyimpan buku yang ia hadiahkan itu, ternyata dapat berguna saat ini. Sayangnya, pemikiran bisa berubah seiring waktu bergerak. Mungkin apa yang Rani bilang kala itu benar. Menerima pemberian juga sudah bentuk menghargai. Aku sudah menghargainya dengan menerima buku itu dan menyimpannya sampai saat ini. Sekarang, aku ingin menjual beberapa buku-buku lama yang sudah jarang dibaca. Uang hasil penjualannya nanti akan aku belikan buku baru. Buku yang selalu mengingatkanku kepada Rani.

***
END.

Oh iya, ini adalah cerpen yang saya copy dari SINI!. Cerpen ini ditulis oleh Yoga Akbar Sholihin dan dipublish pada 24 April 2019.

Sebuah Cerpen: Menghargai Pemberian (II)

Sebuah Cerpen: Menghargai Pemberian (II)
Nah, kira-kira begitulah yang terjadi denganku. Buku yang saat ini kupegang ialah buku kumpulan cerita A. S. Laksana, Murjangkung. Aku memiliki dua buku itu. Yang satu sudah kubeli sejak lama, satunya lagi adalah pemberian temanku, Rani.

Ini adalah lanjutan cerpen “Menghargai Pemberian” bagian. Kalimat di atas adalah salah satu isi di bagian satunya. Jika belum membacanya, baca saja di Menghargai Pemberian 1.

=======================================

Sebuah Cerpen: Menghargai Pemberian (II)

Alih-alih memilih kedua pilihan tersebut, aku malah bilang, “Lebih enak memanggilmu Rani.”

“Kok?”

Alasanku memanggilnya “Rani” dan kejadian setelahnya, aku betul-betul lupa. Yang aku ingat justru sebelum kami berpisah, aku mengatakan untuk bertukar kontak. Mungkin kalau besok-besok ada bazar lagi, nanti bisa janjian datang dan mencari buku bersama. Begitulah caraku meminta nomornya. Lucunya, ia langsung memberikan begitu saja dan mengetikkan nomornya di ponselku. Yang lebih tidak kusangka, begitu sampai rumah dan mulai mengontaknya, aku baru sadar ternyata diberikan nomor sedot WC. Jamban! Rani mengerjaiku. Kenapa enggak sekalian nomor telepon badut sulap?

“Udah bengongnya? Enggak usah segitunya kali mengenang pertemuan kita,” kata Rani, membuyarkan kenangan yang sedang kunikmati pelan-pelan itu. “Mau pesen apa? Udah laper nih.”

Aku pun protes kepadanya karena mengganggu hobi aneh sekaligus favoritku: melamun. Begitu Rani mengeluh lapar lagi, barulah aku memanggil pramusaji. Rani memesan machiatto dingin dan, karena kurang suka kopi, aku memilih es teh leci. Makanan yang kami pesan sama: roti panggang telur kornet.

Soal bagaimana kami bisa berteman, karena beberapa hari setelah pertemuan itu, Rani ternyata menemukan blogku dan mengirimkan surel. Surat yang berupa permintaan maaf dan nomornya yang asli. Sejak itu, kami jadi sering berburu buku bersama dan mendiskusikan buku-buku yang habis dibeli dan dibaca itu.

“O iya, soal buku yang kamu kasih ini, sebetulnya aku udah punya,” aku membuka obrolan sembari menunggu pesanan.

“Serius?” tanya Rani, yang tiba-tiba cemberut.

Aku mengangguk.

“Yah, telat ngasih berarti aku. Padahal lumayan susah tuh dapetin A. S. Laksana yang Murjangkung. Kamu, kan, kayaknya suka banget sama cerpen-cerpennya beliau. Makanya, waktu itu aku sengaja beli dua pas ada bazar. Kebetulan juga sisa segitu, sih. Pas kubaca, ternyata emang seru bukunya. Humornya Pak Sulak (panggilan akrab A. S. Laksana) keterlaluan kerennya.”

“Terus gimana nih?” tanyaku, kebingungan karena dikasih buku yang sudah kumiliki.

“Emang udah punya semua?”

“Cuma Kolam Darah yang belum pernah baca. Baru tahu juga soal penulisnya.”

“Baca deh tulisan Abdullah Harahap itu. Meskipun horor, menurutku ada sisi lucunya.”

“Oke, Ran. Dua buku yang lain berarti kukembaliin nih?”

“Yeh, enggak usah. Aku, kan, juga udah punya.”

“Terus?”

“Jual aja,” ujar Rani, lalu cekikikan sendiri.

Selagi bingung menanggapi perkataannya barusan, syukurnya pramusaji datang untuk mengantarkan pesanan kami. Aroma roti panggang itu menggodaku untuk segera menggasaknya. Suasana pun mendadak hening, sebab Rani tidak suka berbicara sambil makan. Baguslah. Aku pun bisa memikirkan kalimat ketidaksetujuanku akan pernyataannya tadi. Begitu makanan yang di meja sudah dilahap habis, barulah aku tahu untuk merespons apa.

Aku kemudian protes kalau menjual pemberian orang lain itu berarti enggak menghargai perasaan orang yang sudah memberikan hadiah.

“Kok kamu bisa bilang begitu?”

Aku mengaduk-aduk es teh leci, lalu memperhatikan dua buah leci yang berputar itu seraya mengingat sesuatu. Setelah ingat akan suatu hal, aku pun bercerita kalau pernah diberikan pacarku—yang kini sudah jadi mantan—sebuah jam tangan.

Karena setiap melihat jam tangan pemberian dari mantanku itu dadaku rasanya sesak, aku pun menyimpannya di kardus bersama benda-benda yang sudah jarang dan tidak terpakai. Sampailah ketika aku dan mantan pacarku itu tidak sengaja bertemu di lorong kampus. Awalnya kami bertukar kabar dan mengobrol baik-baik. Nah, begitu ia melihat pergelangan tangan kananku yang tidak mengenakan jam yang dihadiahkannya, ia bertanya kepadaku, kenapa jam yang ia berikan itu enggak dipakai?

Aku mengatakan kepadanya kalau jam itu hilang. Ia langsung marah-marah. Aku pun menirukan perkataan mantanku saat itu, “Bohong! Kamu jual pasti, kan? Sumpah, kamu jahat ya, Dit. Jahat banget! Kamu tuh enggak bisa apa sedikit aja menghargai pemberianku? Aku benci sama kamu, Dit!”

“Sehabis ngamuk kayak gitu, ia pergi begitu saja,” kataku.

“Drama banget,” ujar Rani, lalu tertawa terbahak-bahak sampai lupa tempat kalau suaranya itu bisa mengganggu pengunjung lain. Namun, aku pun jadi ikutan tertawa mengingat hal bodoh itu. Menertawakan diri sendiri seperti ini, kupikir asyik juga.

“Tapi bukannya dia yang ninggalin kamu untuk laki-laki lain, ya? Kok masih peduli gitu?”

Aku menjawab entahlah dan mencoba untuk mengalihkan topik. Sungguh, aku mulai malas mengingatnya lagi. Apalagi membicarakannya. Sialnya, Rani malah terus meledekku. Hingga ia pun bertanya, “Lantas, bagaimana denganmu yang kehilangan dia, ya? Apa dia enggak memikirkan perasaanmu?”

“Mungkin aku juga tidak memikirkan perasaannya.”

“Kok?”

“Ya, dengan menjawab seenaknya kalau jam itu hilang. Mungkin aku bisa bilang kalau ada di rumah dan lupa memakainya. Kupikir, responsnya pasti berbeda. Akhirnya, jam yang ia kasih itu pun belum lama ini hilang betulan ketika aku sedang merapikan kardus-kardus itu. Aku jadi menyesal sudah bilang begitu dan benar-benar menghilangkan jam pemberiannya.”

“Kenapa kamu mendadak jadi merasa bersalah?” Rani bertanya dengan suara yang tidak biasa. Seperti ikut bersedih dan memberikan simpati kepadaku.

“Seperti katamu, mungkin bisa dijual. Lumayan, kan, uangnya?”

“Dih, sialan! Adit ternyata emang berengsek!”

Aku gantian cengengesan melihat wajahnya yang berubah masam. Tak lama, ia pun ikut tertawa. Mungkin menertawakan dirinya sendiri yang sudah memasang tampang serius, ketika berharap akan mendengar curhatanku yang menyedihkan, tapi aku malah meledeknya dengan pernyataan dia sendiri.

***

To be continue....


Oh iya, ini adalah cerpen yang saya copy dari SINI!. Cerpen ini ditulis oleh Yoga Akbar Sholihin dan dipublish pada 24 April 2019.

Sebuah Cerpen: Menghargai Pemberian (I)

Sebuah Cerpen: Menghargai Pemberian (I)
Dari sebuah buku pemberian seorang teman, kamu dibawa ke suatu memori yang mengubah cara pandangmu dalam menghargai sesuatu.


Sebuah Cerpen: Menghargai Pemberian (I)

Selagi aku beres-beres lemari dan rak buku, ada salah satu buku yang saat kusentuh tiba-tiba memberikan sebuah cerita. Kau tahu, kenangan mudah sekali datang. Bisa lewat lagu, benda, ataupun tempat. Lagi pula, banyak cara untuk mulai mengenang. Mungkin cara mudahnya bisa dimulai dengan membuka tumpukan kardus berisi barang-barang lama. Pilih salah satu benda secara acak, setelah itu pandangi, dan biarkan ia berkisah.

Nah, kira-kira begitulah yang terjadi denganku. Buku yang saat ini kupegang ialah buku kumpulan cerita A. S. Laksana, Murjangkung. Aku memiliki dua buku itu. Yang satu sudah kubeli sejak lama, satunya lagi adalah pemberian temanku, Rani.

Aku sebetulnya memegang buku yang milikku sendiri. Namun, buku itu otomatis mengingatkanku kepada Rani. Mataku pun segera mencari buku yang satunya lagi. Setelah melihatnya berada di rak sebelah kanan dan baris nomor dua dari bawah, aku mengambil buku yang masih terbungkus plastik itu. Berikut beberapa buku lainnya yang juga masih tersampul plastik dan belum sempat terbaca. Kupandangi buku-buku itu, hingga aku dibawa ke sebuah cerita sekitar setahun silam.

Sehari sebelum Rani berangkat ke Yogyakarta untuk meneruskan kuliah S2-nya, kami sepakat bertemu di Kafe Wirdy, Jakarta Barat. Rani lah yang tiba-tiba mengajakku berjumpa. Katanya, sebagai salam perpisahan, sebab ia mungkin tidak akan kembali lagi dalam 2 atau 3 tahun. Selain urusan kuliah, ia mungkin juga ingin merasakan tinggal di Jogja.

Seperti biasa, aku sampai lebih dulu di kafe itu. Selain karena tidak suka membuat orang menunggu, lokasinya memang lebih dekat dari rumahku. Sepuluh menit berselang, barulah Rani sampai ketika dari kejauhan tercium aroma parfumnya. Tidak menyengat, begitu segar, dan sudah kukenali.

“Bisa enggak, sih, kamu sekali-sekali datang terlambat, Dit?”

Aku awalnya cuma tersenyum untuk memberi respons. Sampai melihat ia membawa tas punggung, barulah aku bertanya, “Bukannya masih besok berangkatnya, Ran?”

Sejauh yang kutahu, anak ini enggak pernah membawa tas punggung setiap pergi keluyuran denganku. Ia tidak mau ribet menggendong tas.

Biasanya ia hanya memegang dompet, yang setelah itu dititipkan ke dalam tasku. Sekalinya bawa tas, paling cuma membawa tas selempang kecil. Yang berisi dompet dan alat rias favoritnya: bedak bayi dan lipstik.

“Oh, ini,” ujarnya sambil membuka ritsleting tas. “Ada yang mau aku kasih ke kamu.”

Ia pun memberikanku tiga buah buku; Murjangkung—yang kusebutkan di awal cerita, Baju Bulan (Joko Pinurbo), dan Kolam Darah (Abdullah Harahap).

“Maksudmu ngasih aku buku kayak gini apa?”

“Kita, kan, kenalan awalnya dari buku. Aku entah kenapa merasa berutang buku kepadamu. Masih ingat hari itu, kan?”

Tahun 2015 pada bulan Mei dan bertepatan dengan Hari Pendidikan, aku masih ingat betul hari itu. Kami bertemu dengan tidak sengaja di sebuah bazar buku. Awalnya aku dari jauh memperhatikan sebuah buku yang sebelumnya kukenali. Aku pernah ikut kuis yang hadiahnya buku itu, tapi sayangnya belum bernasib baik. Lalu begitu menemukan buku itu lagi di tumpukan buku yang diobral di sebuah bazar, mendadak muncul hasrat untuk membelinya.

Bodohnya, aku tidak menyadari keadaan di sekitarku. Begitu sudah dekat dengan buku itu, ternyata ada seorang perempuan yang sudah terlebih dahulu mengambil bukunya. Rupanya, kami melihat satu buku yang sama: Draf 1 Taktik Menulis Fiksi Pertamamu.

Aku pun berdiri mematung, masih tidak percaya kalau gagal Iagi memperoleh buku itu. Ia tiba-tiba menoleh ke arahku. Aku pun salah tingkah, refleks garuk-garuk belakang kepala dan tersenyum. Ia kemudian membalas senyumku. Manis sekali. Seperti melihat kue brownies. Brownies yang memiliki bibir, mata agak sipit, dan rambut sebahu. Tak lama, ia malah berjalan menghampiriku. Baiklah, sekarang ia brownies yang dapat berjalan. Aku membalikkan badan, pergi ke arah tumpukan buku yang lain.

“Kamu tadi mau ngambil buku ini juga?” katanya.

Aku menoleh, lalu menunjuk diriku sendiri.

“Iya, kamu barusan sepertinya mau ngambil buku ini,” ujarnya sambil memperlihatkan buku itu kepadaku. “Tapi malah aku yang ambil duluan.”

“Oh, enggak apa. Itu buat kamu aja. Nanti aku cari yang lainnya. Mungkin masih ada stoknya.”

“Aku bantuin cari kalau gitu.”

Aku udah bilang kalau hal itu akan merepotkannya, tapi ia tetap membantuku mencari buku itu. Ya, enggak ada salahnya juga sih, pikirku. Setelah 20 menit berusaha mencari-cari buku yang sama dan tidak juga membuahkan hasil, Rani pun menyerah.

“Sepertinya tinggal satu yang kuambil ini. Maaf, ya, enggak ketemu lagi bukunya,” katanya begitu pasrah.

Mungkin ia mulai lelah mencari dan ada urusan lain yang lebih penting. Jadilah, aku mengatakan untuk tidak perlu membantuku lagi dalam menemukan bukunya. Aku juga bilang kalau telah memiliki buku panduan menulis lain, yakni Creative Writing (A.S. Laksana).

“O iya, namaku Akbar Aditya,” ujarku menyodorkan tangan kanan untuk bersalaman. “Panggil aja ‘Adit’, karena kalau ‘Akbar’ enggak cocok sama badanku yang kurus.”

Ia tertawa kecil mendengarku berkelakar semacam itu. Ia menjabat tanganku. Melihat tangannya, aku merasa agak aneh. Jarang sekali warna kulit tanganku lebih putih dari seorang perempuan. Jarang memakai sarung tangan setiap mengendarai motor membuat kulit tanganku belang. Namun, aku baru menyadari kalau kulit perempuan ini sawo matang. Karena saat melihat parasnya tadi, ia tampak cerah. Mungkin wajahnya sering dibasuh air wudu.

“Tirani Meliyana. Boleh panggil apa saja.”

Aku membatin, panggil “perempuan sialan yang tiba-tiba merebut buku dariku”, boleh?
Lalu aku tertawa sendiri dengan lelucon itu.

“Kenapa? Namaku ada yang aneh?”

“Di kamus, Tirani kalau enggak salah artinya: kekuasaan yang seenaknya sendiri,” aku sengaja memberi jawaban yang berbeda dari yang aku tertawakan sebelumnya.

“Wah, egois sekali. Aku bahkan enggak tahu sebelumnya.”

“Semoga kamu bukan orang seperti itu.”

Ia tertawa lagi. “Soal nama panggilan tadi, sebenarnya temen-temenku, sih, biasa memanggil ‘Tira’ atau ‘Meli’. Kamu boleh memilih salah satunya.”

***

To be continue....

Lanjtannya bisa dibaca di "Menerima Pemberian (II)".

Oh iya, ini adalah cerpen yang saya copy dari SINI!. Cerpen ini ditulis oleh Yoga Akbar Sholihin dan dipublish pada 24 April 2019.

Mengenang Lelaki yang Berjalan di Atas Air

Mengenang Lelaki yang Berjalan di Atas Air
Mengenang Lelaki yang Berjalan di Atas Air

“Dia mengisahkan padaku tentang orang-orang yang dicatat sejarah dan pernah berjalan di atas air. Dia mengajarkan doa-doa orang itu kepada saya. Yang paling menggetarkan adalah doa Sa’ad bin Abi Waqqash dan Al A’la bin Hadrami. Doa yang samalah yang dibacanya jika dia berjalan di atas air.” Kata Malewa kepada Istrinya.

“Siapa Lelaki itu sesungguhnya, Bang?” tanya perempuan itu kepada Malewa.

“Dia sulit ditebak. Dia hidup sesuka hatinya. Dia bepergian kemana pun dia mau. Dia tak terikat pada dunia. Dia bisa saja menjadi tampak tua atau tampak menjadi muda. Doanya sangat mustajab. Perawakannya berubah-ubah sesuai keinginannya.”

Malewa mengisahkan sambil menyeruput kopi buatan istrinya itu.

Sebagai sepasang pengantin baru, mereka sangat bahagia. Sesekali mereka tampak seperti sepasang angsa yang berenang di tengah kolam yang dipenuhi bunga teratai yang bermekaran.

“Dia mengajarkan saya doa mustajab. Berjalan di atas air rupanya hanyalah bagian yang paling sepele dan tidak penting bagi seorang pengamal kebaikan.”

“Maksud Abang?”

“Iya. Kesaktian hanyalah bagian tidak penting dari mencari ilmu. Kesaktian hanyalah soal kemustajaban doa dan kegigihan untuk belajar. Kesaktian menjadi tidak berguna jika tidak menambah ketebalan iman. Malah, dia bisa menjadi jalan kesombongan, jika merasa lebih hebat atau mulia dari manusia lain. Seperti iblis yang merasa lebih mulia dari Nabi Adam.”

“Apakah lelaki itu masih hidup?”

“Dia manusia yang tidak lagi memikirkan tentang kematian dan kehidupan. Dia terus berjalan dan menyerahkan dirinya kepada Tuhan. Dia menyembah sebagai hamba. Dia kemana saja menebarkan kebaikan. Dia tak lagi terbebani dengan ibadah wajib. Dia telah selesai dengan itu. Dia telah tiba pada keteguhan hati, melakukan ibadah sunnah secara istiqamah.”

“Maksud Abang?”

“Dia tak pernah melepaskan ibadah sunnah dalam hidupnya, terlebih yang wajib. Dia melakukan salat qobliyah dan ba’diyah pada salat wajib. Dia berpuasa Senin Kamis. Dia menjaga wudhunya seperti Bilal bin Rabah. Dia menjaga salat malamnya seperti Muhammad Al Fatih, Sang Penakluk Konstantinopel. Dia bersedekah seperti Abdurrahman bin Auf dan Khalifah Utsman bin Affan. Dia pemberani seperti Khalid bin Walid. Tapi hatinya, dia seperti Khalifah Abu Bakar Asshiddiq. Dia memiliki ketajaman ingatan seperti Imam Bukhari dan Imam Syafi’i.”

Malewa berkisah sambil membelai istrinya dan sesekali mengecup keningnya.

“Lalu, apa doa yang diajarkannya kepada Abang?”

“Bukan tentang doanya yang utama. Dia mengajarkan saya untuk bisa mengikuti kebiasaan hidup Sa’ad bin Abi Waqqash, memaafkan seluruh umat manusia sebelum tidur, menjaga makanan dan pakaian yang halal. Dia juga mengajarkan kezuhudan Uwais Al Qarni yang rendah hati yang membuatnya tidak terkenal di bumi tapi terkenal di langit, serta keimanan setebal baja seperti Al A’la bin Hadrami. Merekalah orang-orang beriman teguh dan dikisahkan pernah berjalan di atas sungai atau pun lautan bersama ratusan atau ribuan orang, dengan berjalan kaki ataupun dengan ribuan pasukan berkuda.”

Malewa terus mengusap rambut istrinya yang wajahnya mirip dengan kekasihnya di masa lalu. Kekasih yang keluarganya pernah menghancurkan mimpi-mimpinya tentang cinta.

“Jika hanya terus meratapi kesedihan dan tidak menerimanya sebagai sebuah pembelajaran untuk kehidupan, saya tidak mungkin bisa seperti ini. Saya tidak akan diberi kelebihan oleh Allah dengan kemustajaban doa. Saya terus menjaga diri untuk hal itu. Ilmu ikhlas yang diajarkan oleh lelaki tua itu, telah saya amalkan dengan baik. Yang terjadi, terjadilah. Jika dalam hidup ini kita bertemu dengan hal yang tidak menambah ketebalan iman dan penyembahan diri sebagai hamba Allah, lebih baik ditinggalkan saja.”

Demikian yang sering dikatakannya saat kami bersama di masjid yang dibangun oleh pendatang Arab di Kota Nunukan.

“Siapa nama lelaki itu sesungguhnya, Bang?”

“Dia tak bisa diberi nama. Dia tak pernah menyebutkan namanya. Di setiap pulau yang pernah disinggahinya, dia selalu punya kisah asal yang berbeda. Tapi dia mengakui bahwa dialah lelaki yang pernah kau lihat di Pulau Nai.

Dia pulalah yang menyimpan banyak bendera di berbagai pulau di Nusantara yang hampir semuanya dapat saya saksikan sebelum dan setelah bertemu dengannya. Termasuk bendera di Pulau Um, Pulau Karanrang, Pulau Balang Lompo, Pulau Kabaena, Pulau Ternate, Tanjung Dewa, di tepi Pesisir Kampung Messa, Pulau Halmahera, Kepulauan Seribu Jakarta, tepi-tepi Kepulauan Riau, bahkan, di suatu hari saya melihat bendera merah serupa di Tapal Batas Indonesia dan Papua Nugini.”

“Mengapa dia melakukan itu, Bang?”

“Saya bukanlah satu-satunya yang memburu lelaki yang bisa berjalan di atas air itu. Dia pun tak lagi bisa mengingat jumlahnya. Dia telah bertemu dengan banyak orang yang mengaku sedang mencarinya dan ingin berguru kepadanya. Dan apa yang disampaikannnya selalu sama saja. Soal kisah-kisah orang yang memiliki iman sekeras baja dengan ibadah sunnah yang istiqamah. Dia menaruh bendera merah di mana-mana sebagai tanda, agar setiap yang melihatnya merasa selangkah lebih dekat dan meraka akan merasa memiliki harapan yang diperjuangkannya dalam kehidupan. Bendera itu disebutnya dapat menumbuhkan gairah pencarian ilmu, seperti yang juga saya alami.”

Malewa kembali menyeruput kopi yang disajikan istrinya.

“Perbanyaklah membaca selawat siang malam dan beristigfar dalam segala keadaan. Bersedekahlah dengan sedekah terbaik. Pujilah Allah pada permulaan doamu. Lalu memintalah kepada Allah untuk semua harapan, meski itu terasa tak mungkin terwujud menurut pikiran manusia. Buka dan bacalah Alquran sesering kau bisa. Insya Allah Allah akan mengabulkan doa-doamu.”

Itulah salah satu pesan di antara banyak pesan yang tak bisa dilupakan Malewa, hingga di suatu malam lelaki itu pergi dengan perahu kayu meninggalkannya duduk tak jauh dari tepi Pelabuhan Liem Hie Djung Nunukan.

“Air mata saya tumpah tak bisa menahankan kesedihan. Bagi saya, dia bukan hanya sekadar guru. Dia lebih dari itu. Misteri-misteri yang melingkupi dirinya, terlalu dalam untuk bisa saya singkap.” Malewa menerawang sesaat lalu kembali bercerita.

“Dialah lelaki tua, sahabat saya yang kerap menemani di saat-saat hancur dalam hidup karena dihinakan oleh cinta. Dihinakan oleh orang tua Atikah, kekasih yang pernah menjadi tujuan dari keseluruhan harapanku. Perempuan yang menghancurkan seluruh impian, yang pernah mengubah seluruh bahasa yang keluar dari mulutku menjadi puisi-puisi yang penuh kegetiran. Dialah lelaki tua yang menghuni gubuk di Kampung Batu Tottok. Yang pernah mengibarkan bendera merah di gubuknya saat saya pertama kali berlayar dengan KM Wasior Indah. Dia menyelimuti dirinya dengan banyak rahasia. Dia tak pernah bisa ditebak.” Mata Malewa berkaca-kaca.

“Janji Allah dan Rasulullah adalah Janji sebaik-baiknya janji. Mereka tidak pernah mengingkarinya. Lalu mengapa kau tak belajar memenuhi perintahnya untuk menjemput penunaian janjinya? Salat Duhalah, bertafakkurlah, Allah akan merahmatimu. Berselawatlah dan rezekimu akan dicukupkan. Di akhirat kelak, syafaat Rasulullah menanti dirimu di depan pintu surga. Yakinilah itu sebagai janji.”

Begitulah suara lelaki tua itu pernah menggema dalam keremangan malam di Tugu Dwikora Kota Nunukan yang sepi. Suara itu menancap di dinding hatinya.

Dia sangat senang mendengar Malewa mengisahkan perjalannya setelah berpisah di Pulau Nai, negeri kecilnya yang indah. Dibayangkannya kembali ketika dia melepas Malewa pergi dengan memberinya bungkusan ubi yang dimasaknya sendiri. Dia mengenang kembali saat dia menuliskan surat penuh penghayatan hati yang diberikannya kepada Malewa.

Diraihnya buku catatan Malewa yang tergelak di ranjang lalu membuka catatan-catatan itu. dia terperangah takjub, membaca catatan perjalanan suaminya.

********
Catatan Dari Masjidil Haram

dingin.
entah berapa derajat tercatat di termometer ketika angin
yang berembus perlahan di dini hari ini di bandara king
abdul azis menyambut langkahku, saat turun dari pesawat.
pesawat yang membawaku selama berjam-jam dari
indonesia, negeri lumpur sawah, ikan asin dan hiruk pikuk
demonstrasi.

setelah melewati pemeriksaan yang ketat dengan segala
bahasa yang tak kupahami, akhirnya, mobil bis kafilah
yang kutumpangi merambat perlahan membawaku ke
hotel grand zam-zam.

di lantai sembilan, aku merebahkan
tubuhku yang sejak lama berlari menjauh, sembunyi dari
kesedihan. namun kesedihan bagai menjelma matahari,
selalu menemukanku.

di negeri yang disucikan ini, berharap kesedihan dapat
berdamai sejenak. maka kurapalkan banyak zikir dan diam.
lalu, dalam diam itulah ada wajah kekasih yang selalu
datang menyapa, mengajak entah kemana.

di makam nabi ibrahim yang kuning keemasan, zikir-zikir
kulantunkan, walau hajratul aswad belum sempat aku
dekati untuk menciumnya. di dalam zikir inilah, negeriku
yang bau lumpur sawah dan amis batu karang sesekali
terkenang. aku ingat semuanya. termasuk masa kecilku,
saat bermain perahu dari sabuk kelapa dan sandal bekas
yang berserakan di tepi pantai. bermain dengan bebas
tanpa harus tahu apakah itu penjajahan atau apakah itu
kemerdekaan?

di negeri yang bau lumpur sawahdan amis karang itu
terkenang di sisi makam nabi ibrahim, sambil mengamati
telapak kaki yang tergeletak rapi dalam sulaman logam
keemasan, aku ingat berita-berita yang tak pernah
usai di indonesia.

korupsi, gate-gate dan semacamnya,
membuyarkan doa-doaku di makam ini. makam yang telah
disaksikan berjuta-juta manusia sejak berabad-abad silam.
aku usaikan segalanya, meninggalkan masjidil haram,
kembali ke hotel. merenung, siapalah aku ini, orang desa
lumpur sawah dan amis karang di indonesia tiba-tiba harus
memikul indonesia di pundakku.

di hari yang kesekian di tanah makkah ini, di padang
arafah yang membentang, duduk merenung menyaksikan
wajah-wajah manusia yang entah siapa mereka, ingatanku
kembali ke desaku yang bau lumpur sawah dan amis karang
di indonesia,

jika saja konser-konser musik selalu bisa seramai
ini, bermunajat, bertakbir, duh, semesta akan teduh
menggemakan keteduhan jiwa. tapi, ini hanya renungan,
tuhanlah yang tahu rahasia yang diciptakannya.

mengapa dia tak menggerakkan seluruh hati manusia untuk
melakukannya. sebab, aku menyaksikan khatib dan dai telah
kehabisan akal menggemakan sayap-sayap syiar kebajikan.
sebagiannya pun ikut menyanyikan lagu dunia.

padang arafah, lautan manusia, aku jadi debu. Lembar-lembar
sajak yang kutulis tak akan pernah cukup
menuntaskan tulisan tentang ini semua.

makkah, manisnya kurma, susu unta, daging yang lezat dan
kisah cinta yang tak bisa dihapuskan waktu. nabi adam as
dan sitti hawa di jabal rahmah. dalam kerinduan berjalan
bagai dalam kegelapan. memanggil, saling memanggil
dalam ketidakpastian. menjadikan kita bermilyar dan
bermilyar pula kisah dalam percintaan yang selalu berujung
tragedi.

rasulullah dan khadijah dalam kisah cintanya mengajarkan
kita pengorbanan dan kesetiaan. dukungan dan perjuangan
ketulusan yang membawa rasulullah dalam kubang
kesedihan dalam kematian khadijah.

lalu ingatanku tertuju
pada sajak-sajak tentang manusia yang melarang orang
menikmati kesedihan. mereka ingin melampaui kelembutan
hati rasulullah yang membuktikan cintanya dalam
genggaman kesedihan.

khadijahlah yang memantik api cinta yang semakin besar
di dalam hati rasulullah membuat rasulullah bisa memiliki
cinta yang besar dan tak habis terbagi bagi kekasih-kekasih
rasulullah setelah kepergiannya.

lalu yang ditinggalkannya,
mestinya menjadi ruang untuk mengingatkan kita tentang
rumah sederhana yang menyimpan cinta yang besar di
dalam rumahnya.

dan pagi ini, aku terjaga. kusibak tirai jendela kamar hotel
grand zam-zam di lantai 9. aku menyaksikan sekumpulan
manusia dengan segala mesin raksasa meratakan rumah
rasulullah dan khadijah dengan tanah.

ingatanku tiba-tiba tertuju pada eropa. bangsa belanda dan
bangsa eropa lainnya, begitu menjaga setiap bangunan
bersejarah miliknya padahal kebanyakan di antaranya
bukanlah seorang yang tahu tentang nikmatnya salat di
masjidil haram di samping makam nabi ibrahim as.

dan di negeri kelahiran para nabi ini. rumah manusia yang paling
banyak menebarkan inspirasi cinta, diratakan dengan
tanah.

jika memang benar, hanya satu negeri yang suka meratakan
dengan tanah setiap kenangan cintanya, indonesia, negeri
lumpur sawah dan amis karang. mirip dengan pemerintah di
tempatku kini berpijak. seperti dia pura-pura tak mengenal
rasulullah, wallahu a’lam.

aku menutup tirai hotel grand zam-zam. duduk merenung.
mengapa aku dituntun melihat rumah rasulullah dan
khadijah dihancurkan. hanya allah yang maha tahu.

wajah kekasihku terbayang di atas sebuah bukit, duduk di
beranda sebuah rumah putih yang dikelilingi bunga-bunga.
apakah bukit itu juga akan diratakan dengan tanah untuk
menghapus jejak cintaku?

Hotel Grand Zam-Zam Mekkah
*********
Catatan di Penghujung Malam di Thailand

jelang awal malam
di halaman nasa vegas hotel di jantung kota bangkok
cahaya hijau dan kuning yang memantul di dinding hotel
membawaku mengembara ke negeriku; indonesia, di
sebuah desa yang penuh lumpur sawah dan amis karang
kesetiaan petani dan gembala berduyun-duyun di subuh
buta menjemput takdirnya.

sudah seperti itu sejak lama.
dan tak ada riuh musik, rel kereta listrik bagai yang
melintang di jalanan depan hotel. tapi, tak seperti di depan
hotel ini. kupu-kupu malam yang di sini entah namanya,
sibuk menjaja mewakilkan diri mereka pada germo yang
komunikatif. tapi aku memang tak pernah tergoda
dingin.

mataku tertuju ke sebuah swalayan kecil yang
bersebelahan dengan sebuah panti pijat. yang entah
memang hanya sekadar memijat. atau saling pijat entahlah.
di swalayan itu, kuraih sebotol air karbonat, berharap
mengusir dingin dengan uap. namun setelah
menenggaknya, justru aku kehilangan moment di kota ini.
lalu kembali ke naza vegas hotel sembunyi dari malam di
lantai 17, dengan nomor kamar yang tak ingin kusebutkan.
tak ada mimpi.
pada pagi yang tak jauh lebih indah dari
pagi di desaku, di indonesia, bis putih merah membawa
tubuhku menjelajahi kota bangkok. di beberapa candi aku
tak menemukan kisah yang harus kucatatkan. tetap saja
ingatanku menuju indonesia, kampung pesisir batu tottok.

matahari hampir tepat di atas kepala, peluh mengucur saat
aku tiba di damnoen saduak floating market, thailand. aku
terkenang dengan pasar-pasar yang mengapung di sebuah
sungai di kalimantan.

aku tak kaget dengan ini. seandainya
bukan karena seorang penjual pakaian dan kain di salah
satu sudut pasar itu yang mencuri perhatianku, aku akan
lekas saja berlalu.

aku tak tahu siapa namanya. cantik. rambutnya yang
hitam lurus dan panjang, tersenyum kepada siapa saja
yang datang. semua turis tampak berhasrat untuk berfoto
dengannya. aku memilih tidak. hanya menikmati saja
cantiknya dengan mencuri pandang.

saat aku begitu dekat
dengannya, dia mengajakku bicara. aku sungguh tak tahu
apa yang dibicarakannya. aku senyum saja. lalu kebodohan
menghampiriku. membayangkan kengerian, bagaimana jika
tiba-tiba kami saling jatuh cinta, menikah dan punya anak.
duh, bagaimana kami bicara.

bahasa kami tak sama. saya
sedang tak siap, otakku membodoh. pikiranku dikalahkan
hasrat seksual saat berada lebih dekat. aku memilih pergi.
meninggalkan pasar dan gadis yang cantik itu. aku takut
semakin mendekat dan tiba-tiba aku ditakdirkan menjadi
orang thailand. aku terlalu mencintai desaku. cinta pada
tahi sapi, amis karang lumpur sawah, ikan asin dan kepurapuraan
kekuasaan.

tak banyak catatan di sini, siang dan malam pun hanya
kuhabiskan dengan menyantap ayam goreng. tarung
bebas sampai tewas yang acap kutonton di televisi juga tak
kutemukan.

kau tahu mengapa aku di kota ini? aku sedang sembunyi
dari kesedihan. tapi, kesedihan itu terus menemukanku.
sambil merenungi ini, di jendela hotel, aku mengintip,
seorang perempuan “kupu-kupu” muda nampak sendirian,
di samar gelap, duduk menunggu entah siapa. cukup lama
aku menyikmaknya.

di penghujung malam, aku merahasiakan peristiwa.
peristiwaku dan peristiwa perempuan itu!
dan namaku tetap malewa, aku tak mencoret dinding hotel
untuk sekadar menulis namaku.

Kota Bangkok Thailand, 26 Januari
********
Catatan di Masjidil Aqhsa Palestina

suara patriark sophonius menggema di pintu gereja
makam kudus, umar binkhattab memilih berdiri di luarnya
dan mengangkat takbir, muslim mengikut dan disaksikan
pendeta-pendeta dan jamaah gereja, demikian kumeraba
sejarah yang entah.

kekuasaan datang berganti. batu-batu dibangun dan
dihancurkan. darah bersimbah. pedang gemerincing di
masa lalu, menggema ke masa kini. ini adalah istana
kehormatan dan harga diri.

al aqsha, istana tentara salib dan markas ksatria templar.
kandang kuda dan sampah penghinaan.
suara shalahuddin al ayyubi menggema, merobek dinding
kota, pedangnya menjadi pilar-pilar penyangga sejarah.
yahudi, nasrani dan muslim berlalulalang di sana,
menggemakan suara tuhan dalam doa-doa panjang.

gempa bumi dan kebakaran mengubah segalanya, jiwa
yang terbakar ambisi dan dosa sejarah yang kafir. masjidil
aqsha al mubarak sebagai rumah besar yang suci, di
dalamnya qubbatu shakhrakh, al jami al qibli (inti) dan
musholla al-mawarni. pernah kukeliru memahami ini.

di luar, yahudi meratap menghadap temboknya yang tua.
menyembunyi belati di balik jubah dan topi panjang.
terima kasih tuhan memanjangkan kaki dan tanganku,
menjamah pandang pada batu tempat nabi muhammad
bertolak ke langit ketujuh.

negeri tujuan manusia berjalan di hari kebangkitan. aku
ingin ke sana, aku ingin ke sana. berkali-kali, berkali-kali.
allahumma shalli ‘ala sayyidina muhammad wa ‘ala ali
sayyidina muhammad

Palestina, sebuah Sore
********

Helai demi helai terus dibukanya. Perempuan itu sesekali menghela napas panjang. Malewa yang duduk menghadap keluar jendela membiarkannya. Sebuah buku tebal sedang dibacanya. Pada sampulnya tertera, Siti Nurbaya, Kasih Tak Sampai, Marah Rusli.

Waktu terus berlalu. Kamar apartemen itu dirambati kesunyian. Jam dinding dan TV menjadi saksi, lampu dimatikan dan dihidupkan lagi berkali-kali.

Selesai.....

Diambil dari salah satu bab dalam novel "Malewa, Lelaki yang Berjalan di Atas Air", karya Andhika Mappasomba Daeng Mammangka.
Older Posts
Home