IAN KONJO: Karya Lain

Puisi Mangkasara'ku karya Black Mappaenteng

Puisi Mangkasara'ku karya Black Mappaenteng
Puisi Mangkasara'ku karya Black Mappaenteng

Apalagi ini
Mengapa sinrili Tuanta Salamaka diganti dengan alunan rock and roll
Mengapa ganrang bulo diubah menjadi tabuhan ibanez
Mengapa aru tubarania berubah kata sundala, kongkong, tampilo yang menyedihkan

Lalu, mengapa baju bodo gadis Makassar dipermak hingga pusar dan belahan dadanya nampak dengan jelas
Lalu, adakah sosok I Mallombassi Daeng Mattawang
Lalu, adakah sosok I Lo'mo' ri Antang
Adakah figur Karaeng Pattingalloang
Lalu dimanakah kan kutemui Mangkasara'ku yang dulu lagi

Hilanglah semua sebab gemulai gadisku tenggelam oleh tarian erotis
Tunrung pakanjara hanyut di tangan budayawan
Siri' na pacce diganti dengan mantra anti hamil
Perawan desa ditelanjangi di tengah kota
Pemuda-pemuda kerjanya mabuk dan berzina
Lalu pantaskah Mangkasara'ku menyandang gelar Kota Daeng?

Tak lagi terdengar alunan ayat suci
Tak kutemui lagi makna pasang tau toa
A'bulo sibatang hanyalah dongen kaum kafir
Kota budaya kini menjadi kota setan
Zamanku tak tau esok kan jadi apa

Oo... Bangkitlah Tuanta Salamaka
Bangkitlah Tubarania
Bangkitlah tupaccea
Paentengngi siri'nu ri kampong tanga niaka siri'na

 
Jika ingin mendengar dan menonton videonya yang dibacakan langsung oleh penulis bisa liat video di bawah.

 

Desah Terakhir (Sebuah Cerpen) karya Sitti Aida Azis

Desah  Terakhir (Sebuah Cerpen) karya Sitti Aida Azis
Desah  Terakhir (Sebuah Cerpen)

Dengarkan apa yang kukatakan “Kamu jangan mengikuti pengangkatan itu, berhenti jadi pegawai negeri kalau mau selamat!!! Ingat ! bukan pemerintah yang menentukan masa depan tapi Allah taala, paham, kamu!!! Kembalikan SK pengangkatan itu dan jangan pernah membicarakannya lagi”.

Suara itu tidak pernah hilang, makin aku berusaha untuk melupakannya makin terasa segar dalam ingatan dan pendengaranku.

Kulakukan pendaftaran calon guru SDLB karena panggilan nuraniku, dan sengaja kupilih daerah terpencil sehingga terasa benar pengabdianku pada Negara dan bangsaku. Aku mendaftar calon PNS tidak kusampaikan kedua orang tuaku karena khawatir tidak dibolehkan, namun kenyataannya memang demikian. SK pengangkatan tidak dibolehkan bahkan diperintahkan untuk mengembalikan. Semua keluarga, teman-teman pada heran mengapa Ettaku ( sapaan kami kepada ayah) berkeras melarang mengikuti pengangkatan PNS. Hal ini didasarkan pada kekhawatiran karena lokasi tempat mengajar rawan akan keselamatan apatahlagi aku anak perempuan satu-satunya dari tiga orang bersaudara. Mengapa pula aku memilih daerah terpencil pun aku punya alasan, semoga ditempat mengajar yang baru segala kekecewaanku lambat-lambat terkubur dan tergantikan dengan bahagia.

Tidak berlebihan seandainya aku mengatakan, bahwa ternyata mencintai dan dicintai, sayang dan menyayangi akan berakhir dengan fatal. Tiga tahun aku berkenalan dengan pemuda tingkat akhir di tempat kuliahku, yang berbeda dengan aku dan kawan-kawan karena dia sudah PNS pada Departemen Sosial Provinsi Sulawesi Selatan. Dia kusapa Kak Adit, nama lengkapnya Andi Baso Aditya Mappangara. Tiga tahun bukan waktu yang singkat, banyak suka dan duka kami lalui bersama, tapi memang aneh karena selama aku bersama pikiran dan asaku menganggap Kak Adit bukan kekasihku tapi saudaraku, mungkin karena perhatiannya sama perhatian yang kurasakan dari kakak pertamaku.

“Adik, kalau tertawa jangan kelewat batas, apa kata orang yang mendengarkan, untung tidak mengatakan “guru, katanya. Mengapa tertawanya sama dengan orang yang tidak punya sekolah” Apa saja yang kulakukan menurutnya dan menurut orang tidak baik, pasti menegurnya dengan bijak. Sama halnya dengan busana yang aku kenakan, spontan menegur kalau memang tidak enak dipandang oleh orang banyak.

“Adik, baju itu tidak layak dipakai karena jelas bentuk tubuh, lebih baik disedekahkan ke orang yang memang cocok, buat amal. Kalau menegur, kemudian tidak terlalu ekstrim, yah aku turuti, tetapi kalau bertentangan dengan kata hatiku, pastikan aku membantah dan aku marah berat kalau dibantah pula. Tapi itu jarang terjadi.

Suatu sore aku dijemput di tempat mengajar (waktu itu masih honor), karena lama, entah apalah yang membut terlambat.

“Ayo Adik, naiklah ke motor, maaf terlambat”.
Aku tetap jalan dan tidak mau naik ke motornya.

“Lihat ke langit mendung makin tebal, ayo adik, jangan seperti itu, ayolah maafkan kakakmu”. Aku tidak menghiraukan panggilannya.

Rintik mulai dan sebentar lagi akan deras, kak Adit berhenti untuk memasang baju hujan, tetapi tidak sempat dia kenakan karena aku berteriak “Tidaaaak, tidaak, jangan pakai baju itu, aku tidak mau melihat baju itu. Akhirnya baju hujan disimpan tidak jadi dikenakan. Maka berbasah-basahlah kami sambil jalan dan tidak bernaung karena takut, aku akan berteriak lagi. Setelah kejadian tersebut, Kak Adit tidak pernah lagi terlambat menjemputku.

Yang Kak Adit perhatikan, mulai dari penampilan, karakter, pergaulan, makanan yang dilarang karena memang aku mengidap penyakit, jadwal belajar, jadwal tidur dan yang paling keseringan dipantau adalah waktu sholat.

Adalah kesalahan dibuat oleh Kak Adit yang menyebakan orang tuaku tidak memaafkan. Orang tuaku murka dari kata-kata yang dilontarkan sore itu. Kak Adit mengunjungiku kebetulan aku tidak ditempat dan yang meladeni adalah ibuku (Puang Nurung). Ibuku bertanya “Kenapa mencari Ari” (Andi Tenri Batari Masagena), jawabnya “Saya rindu, Puang”. Kata rindu itu membuat ibuku murka. Kata itu masih tabu buat beliau. Itulah awal tragedy kami. Hal ini dimaklumi karena kami dalam keluarga masih menganut paham kolot, terkhusus kedua orang tuaku. Sejak itu Kak Adit memaklumi keadaan, jarang menjumpaiku di rumah. Pertemuan kami, sangat dibatasi oleh ruang dan waktu. Hari-hariku kujalani dengan kemurungan, seakan-akan dunia hancur dan hancurannya menimpaku sehingga badanku remuk, tulang-tulangku rasanya patah-patah, pandangku nanar, tawaku hambar. Seandainya Allah pernah menciptakan manusia cuma sepotong, seperti itupun tidak ada keluarga yang membantuku merasakan pahitnya kehidupanku. Aku jalani sendiri. Di rumah aku disuruh berpisah dengan Kak Adit, ketemu Kak Adit aku disuruh bertanggung jawab. Seperti apa pertanggung-jawabanku ke orang tua, sementara tidak ada lagi alasan buat beliau.

“Percaya Adik, cinta tidak bisa dibuat sandiwara, tolong pertahankan hubungan kita di depan Puang”. Aku tidak bisa menjawab, hanya air mataku yang dapat menjawab atas penderitaanku.

Aneh memang, kenapa di saat kami disuruh berpisaha, kemesraan mulai terasa sehingga makin perih hidupku, mulai aku merasakan rindu, takut akan kehilangan, takut ditinggal, ingin rasanya selalu bersama. Maka dari itu, aku dan Kak Adit merencanakan pertemuan dan mencari alasan sehingga selalu bersama.

Suatu sore, terpaksa aku dijemput Kak Adit membesuk kawanku yang sementara dirawat di rumah sakit Bayangkara. Ibuku berkata dengan sinisnya “Itu penjual boroncong, beli saja boroncong satu gerobak buat kamu bawa membesuk”. Rasanya nafasku sesak, penglihatanku gelap, syukur masih bisa kuatasi, sehingga tidak pingsan. Sepanjang jalan aku menangis, Kak Adit pun bingung mesti dengan apa membuat aku diam.

“Adik minta tolong berhentilah menangis, malu dilihat orang,. Apa kata orang-orang yang melihat adik dengan tangis yang memilukan, berhenti adikku”.

“Biarkan aku menangis Kak, biarkan aku meraungi nasibku yang sadis ini” , kataku.

Setiba di Bayangkara, kami bertemu dengan beberapa kawan ngajar, tapi sebelumnya kami mampir membeli bingkisan di toko depan. Kak Adit menegurku dan berkata “Adik, air mata di pipi kiri”. Artinya kak Adit menyuruhku menghapus air mataku yang tertinggal di pipi kiri. Tidak kuhiraukan dan hatiku memberontak, inginnya kak Adit yang menghapusnya, bukan aku. Karena aku tidak menghiraukan akhirnya dia menghapus dengan telunjuknya. Kurasakan telunjuk Kak Adit menyentuh pipi kiriku inginya berlama-lama, namun cuma sekejap, begitu terhapus titik air itu lepas pula telunjuk Kak Adit, itupun dilakukan dengan tergesah-gesah karena malu dilihat orang.

Lonceng berdering, tanda selesainya tamu pasien berkunjung, kami berserta kawan-kawan dan keluarga si sakit meninggalkan Bayangkara. Hatiku memberontak, inginnya berlama-lama dengan Kak Adit.

Aku menengok kiri-kanan mencari tempat duduk buat istrahat, karena perintahku, maka Kak Adit pun ikut duduk. Namun ada keganjilan karena begitu kami duduk, badanku spontan kubenamkan ke badan Kak Adit, saat itu belum ada bahasa, yang ada, aku menikmati hangatnya badanku bersandar ke badan kekasihku. Karena merasa kami akan berpisah dan perpisahan itu amat sangat pedih, maka kumohon aku mau dirangkul.

“Kak, tolong dekap badanku”. Kak Adit, bengong, “Kak, tolong aku dipeluk”, masih bengong.

“Kak, aku sakit, tolong rangkul badanku” “Kalau Kakak tidak melakukan aku akan berteriak meminta dipeluk” kataku.

“La haulawala, kuata illah billah, mengapa demikian, Adik” jawab Kak Adit.

“Tolong dekap badanku” kuulangi kalimat itu.

Akhirnya, Kak Adit merangkul badanku, kubenamkan wajahku dalam badannya, ada perasaan damai saat itu, kukatakan, rangkul erat-erat, jangan dilepaskan rangkulanmu Kak, sebelum rohku menyatu dengan rohmu. Dalam rangkulannya, hatiku menjerit, aku tidak mau berpisah, aku sakit ya Allah kalau Engkau memisahkanku. Mendengar suara azan magrib, lengan Kak Adit pelan-pelan dilepaskan lalu berkata, Adik, kita ke mesjid, aku lunglai, kutapak jalan yang kulalui seakan jalan di atas onak dan duri.

Dalam boncengan aku merangkul badannya. Itupun baru aku lakukan, kedua tanganku kudekap badannya dan hatiku menjerit, “Aku tidak mau berpisah”, “Aku sakit kalau berpisah”.

Kusangka suasana rumah masih biasa-biasa, ternyata tiba di rumah aku kena rudal dari kedua orang tuaku. Belum selesai sakit hatiku karena Kak Adit menurunkan aku di sudut jalan atas perintahku.

“ Tidak usah diantar sampai ke rumah, Kak” Takut Kakak dapat marah, aku diturunkan di pojok jalan sana”. Dengan terpaksa Kak Adit lakukan, “Adik, tidak enaknya yang begini, masa diturunkan di jalan persis saja barang curian, Kakak tadi menjemput di rumah, yah harusnya dikembalikan di mana dijemput” kata Kak Adit.

“Jangan! Bahaya kalau Ettaku lihat, pasti lebih murka dari kemarin-kemarin”. “Sadari-lah Kak, kita tidak direstui, kita disuruh berpisah”.

Begitu pintu aku buka, langsung Ettaku dengan penampilannya yang membuat isi perutku keluar semua sampai terasa pahit. Tapi apakah Beliau iba? Oooh tidaaak!!! Malah tambah murka. “HEE! Mulai besok kamu tidak bisa lagi ketemu dengan si setan itu”. Kata Ettaku.

Bayangkan saja orang segagah, dan sebaik Kak Adit dikatakan setan, aku tidak terima, dan kalimat itu tidak mungkin kusampaikan ke Kak Adit, tidak mungkin, biar aku saja yang mendengar dan merasakan sakit yang kelewat batas.

“Dengarkan, buka telingamu, tanam di hatimu, cerna di otakmu, kalau kamu sama si setan, jangan tulis nama Etta di belakang namamu, paham!!!”.

Dengan kalimat itu, aku sempat merenung, berarti kalau aku sama Kak Adit, orang tuaku membuangku, mengingkariku. AHHH, si malakama, makan mati ibu, tidak dimakan mati ayah.

Pagi hari aku temui temanku, sahabatku meminta tolong dihubungi Kak Adit, aku bertemu di rumah sahabatku itu. Kutumpahkan isi hatiku ke Kak Adit, tapi…

“Insyallah, minggu depan keluargaku akan melamar, aku akan bertanggung jawab, apa pun yang terjadi kami akan memintamu dengan adat” kata Kak Adit.

“Akan kubuktikan di hadapan kedua orang tuamu dan keluargamu kalau saya dan keluargaku bukan penghianat, dengan ku-melamarmu, itu bukti autentik keluargaku bukan pengecut, atau penghianat” lanjut Kak Adit.

Layak-kah keluarga aku dikatakan keluarga ber-adat?, keluarga baik-baik?, keluarga darah biru? Sementara utusan keluarga Kak Adit datang dengan adat, tapi disambut dengan makian, dan yang paling banter, Ettaku membalik meja di depan tamunya. Kiamat…. Ya Allah turunkan pertolongan-Mu, sadarkan orang tuaku ya Allah!

Setelah kejadian tersebut, lambat-lambat pertemuanku dengan Kak Adit, sekali-kali, kemesraan seakan berubah jadi saling membenci. Siapakah yang salah, aku-kah atau Kak Adit-kah? Solusi tidak kami temukan, walau Kak Adit pernah mengusulkan.

“Adik, sayang tidak sama Kakakmu ini”. “Ya, sayang banyak”, kataku.

“Kalau sayang, bagaimana kalau kita silariang”. “APA” kataku, silariang?” “Iya”. “Kita tinggalkan Makassar, kita pergi ke Palu, di sana kawanku pimpinan (Kepala Dinas Sosial) pasti mau menerimaku sebagai pindahan”.

“Kak, sadar. Kalau kita silariang, besok biar kita jaya semua yang mengenal kita pasti mengatakan hubungannya tidak direstui, jadi mereka silariang”. Bagaimana dengan turunan kita, mereka tidak bersalah tapi juga menanggung aib yang kita gores bersama, sadar, Kak”.

Keluarga Kak Adit merasa terhina atas perlakuan orang tuaku, maka dilamarkan-lah gadis pilihan orang tuanya. Aku menerima takdir Allah, kekasihku disuntingkan gadis pilihan orang tuanya, dari keluarga terhormat, aku tinggal sendiri menonton kebahagian orang lain.

Aku, selalu duduk berlama-lama di pantai losari, pun seakan aku sendiri yang menikmati ombak silih berganti.

Kulayari air mataku
Kupanggul luka jiwa
Kutatap tamparan laut ke cadas
Nyata seteguh asaku yang terkoyak

Kadang aku naik turun petek-petek sampai malam. Entah pula batasnya, rabun.

Setelah kejadian itu, maka aku mencoba mendaftar PNS di daerah terpencil Sulsel dengan harapan dukaku terhapus dengan kesibukanku mendidik dan mengasuh anak berkebutuhan khusus. Tapi lagi-lagi aku dilarang, dan kembali orang tuaku murka dengan kedatangan SK PNS.

Untuk kali ini, murka tetap murka, kujalani PNS tersebut di kaki gunung Lompo Battang, pun aku bersumpah, yang satu ini pasti akan kujalani, sekalipun lautan api akan kudobrak, kuyakin di sana ada bahagia yang menantiku, yaitu anak bangsa yang membutuhkanku.

Kuberusaha menghapus semua kenanganku dengan Kak Adit, tapi makin aku kubur makin tampak kenangan duka itu. Sampai akhirnya setahun aku mengabdi, derita belum akhir. Kanker di rahimku makin melela, terpaksa barang berharga itu pun dimusnahkan.

Pertanyaannya, mampukah aku mencintai setelah Kak Adit? Sementara aku tidak sempurna lagi?

Barang yang kubanggakan tidak ada padaku. Akan menjadi penipu ulung-kah aku, mencintai lalu khianat yang kuberi? Apa yang dibanggakan seorang istri ke suaminya tidak kumiliki. Seandainya ada orang yang mencitaiku, percaya buntutnya pasti ada lagi tangis, dan tangis itu tidak akan pernah reda. Kata orang sederas-deras hujan pasti akan reda. Tapi air mataku tidak akan pernah reda.

Aku senasib dengan anak-anak didikku, mereka tidak normal. Aku pun demikian, tidak normal!!!


Bumi Permata Hijau 10 Mei 2016, Pukul 8.45.

Seniman "Gayanaji", Pemikiran dan Penemuan

Seniman "Gayanaji", Pemikiran dan Penemuan
Seniman "Gayanaji", Pemikiran dan Penemuan

Di tengah badai pandemi Covid 19, seniman pun mengalami shock. Seperti seorang lelaki yang duduk pada sebuah bangku di tepi pantai dan tiba-tiba dia melihat seorang gadis kecil sedang tenggelam di tepi laut.

Dia melihat tangan gadis kecil itu menggapai-gapai lemah. Tapi, lelaki yang seniman itu tak bisa melakukan apa-apa selain berteriak sekencangnya meminta pertolongan. Dia ingin menolong, tapi dia tak pandai berenang. Dia tak bisa melakukan sesuatu yang lebih baik untuk menyelamatkan keadaan.

Berteriak adalah pilihan pertama dan terakhir. Tak ada siapa-siapa di sana. Gadis kecil itu mati tenggelam dan seniman itu, mungkin juga akan mati dalam penyesalan sebab tak bisa melakukan apa pun.

Demikianlah yang akan terjadi jika tak ada yang bisa dilakukan


Seniman adalah pemikir dan dan penemu. Dia harusnya berpikir cepat memeras otak, lalu menemukan sesuatu yang dapat membuatnya mengapung dan berjuang mendekati si anak.

Demikianlah yang seharusnya dipikirkan. Seniman yang kehilangan panggung dan ruang berkreasi, seharusnya tidak boleh mati. Keterbatasan sebaiknya membuat dia lebih kreatif dengan potensi yang ada.

Jika panggung dan ruang fisik tak ada lagi, seniman pun akan kehilangan mata pencahariannya, jika dia menggantungkan ember beras dan galon airnya pada amplop jasa pentas. Amplop atau kwitansi honor setelah jasanya digunakan, itu tak akan lagi ada. Saat semua orang tinggal di rumah dan membatasi diri, artinya: ember dan beras takkan lagi dapat terisi.

Di sinilah seniman harus menunjukkan diri dan mengolah kreatifitas. Sebagaimana Leonardo Da Vinci yang membuat Prototipe senjata raksasa untuk menakuti lawannya, dalam sebuah film yang saya lupa judulnya. Kreatifitas dan keterbatasan membuat Leonardo menemukan gagasan baru soal prototipe tadi.

Bagaimana dengan seniman sekarang?


Masih sulit. Seniman yang memiliki cadangan devisa sumber daya masih bisa berkreasi secara virtual, menjadi konten kreator dan mendapatkan bayaran dari YouTube misalnya.

Tapi, tidak semua seniman memiliki ponsel android dan paket data. Seniman masih harus berkontemplasi untuk menunjukkan temuan karya-karya barunya.

Karya seni seharusnya menjadi semangat dalam melakukan perubahan. Temuannya harus menginspirasi umat dalam menyongsong kebaruan. Seniman selalu terbukti menjadi penemu-penemu baru dalam menjalani kehidupan.

Sebagaimana puisi Rendra menjadi jalan baru menunjukkan protes melalui metafora-metafora barunya pun sebagaimana Chairil menemukan gagasan baru puisi sebentuk jauh dari wajah mantra dan syair. Sebagaimana perkembangan fashion yang berubah dari masa ke masa sesuai musim.

Karena banyak seniman yang hanya bisa meniru hasil karya seniman lain. Dia gagal menjadi pemikir dan penemu.

Menjadi penemu adalah impian siapa pun. Termasuk dokter atas penyakit, fisikawan, Alchemistry, Tenaga ahli teknologi tepat guna atau pun yang lainnya. Penemuan mereka dihargai dan dibayar mahal saat dikembangkan.

Lalu, seniman menemukan apa?


Tentu, tidak sekedar menemukan harinya terluka parah saat melihat pujaan hatinya berjalan dengan lelaki lain di sebuah pantai, tepat saat ada seorang gadis kecil yang mati tenggelam.

Seniman tanpa penemuan "karya" baru adalah pembeda tegas antara seniman sejati dan seniman sekedar seniman. Seniman gaya-gayaan. Orang Makassar menyebutnya "GAYANAJI"


Makassar_Gowa, 6 Juni 2020

Puisi Sesudah Itu (Karya Mahrus Andis)

Puisi Sesudah Itu (Karya Mahrus Andis)
Puisi Sesudah Itu (Karya Mahrus Andis)

Engkau melihat sehamparan langit pagi
matahari menggelinding di atas kepalamu
sesudah itu
senja mengantarnya ke punggung bukit

Engkau melihat segaris langit malam
bulan mengirim senyum ke dinding kamarmu
sesudah itu
mimpimu lelap mendengkur

Engkau melihat burung melintas di cakrawala
berkelepak menapak arahnya
sesudah itu
menghilang ditelan awan

Engkau melihat orang mati
terlentang di ruang tengah rumahmu
sesudah diberi dupa
sesudah dimandikan
sesudah dikafani
sesudah disembahyangi
ramai-ramai diusung menuju kuburan

sesudah itu,
dikeluarkan dari keranda

sesudah itu,
disurukkan ke dalam liang
sesudah itu,
ditimbuni dengan tanah
sesudah itu,
dibungai rupa-rupa
sesudah itu,
dibacakan doa-doa
sesudah itu
giliranmu
barangkali!

Makassar, 1984

Sebuah Kisah: Selalu Ada Jodoh Terbaik yang Menerimamu Apa Adanya

Sebuah Kisah: Selalu Ada Jodoh Terbaik yang Menerimamu Apa Adanya
Tulisan ini saya temukan di Fimela.com, yang dipublikasikan oleh Endah Wijayanti (30 Jul 2019). Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Fimela Juli: My Wedding Matters.

***

Penulis: J – Bogor
Selalu Ada Jodoh Terbaik yang Menerimamu Apa Adanya
Aku orang yang biasa saja dengan nilai yang pas-pasan di sekolah. Aku orang yang biasa saja dalam arti aku bukan anak famous, bukan anak kutu buku, bukan anak yang suka mencari masalah, juga bukan anak yang rajin. Ya, karena aku adalah anak yang suka sekali bercanda, berlari-lari, serta bermain-main seperti anak kecil.

Lingkup pertemananku di sekolah adalah sekumpulan orang yang suka bercanda, namun kami tetap bisa serius dalam hal belajar. Namun, aku memiliki kekurangan yaitu, pendengaran dan caraku berbicara sedikit kurang. Aku dilahirkan di keluarga yang lengkap, aku memiliki ayah, ibu, dan 3 saudara perempuan.

Ibuku adalah seorang yang pendengaran dan cara berbicaranya juga kurang, sama sepertiku, begitu pun dengan ketiga saudaraku. Aku senang bergaul, tetapi aku sangat malu apabila harus berkenalan dengan orang baru, dikarenakan tidak semua orang bisa menerimaku apa adanya.

Bulan itu, Februari 2010, aku melihatnya untuk pertama kali. Lelaki bertubuh tinggi, hitam manis, berkacamata, serta berambut sedikit ikal yang berada di kelas VIII F, Kevin namanya. Sesuatu menarikku kepada kepribadiannya. Ia terlihat humble, friendly, juga menyenangkan.

Sejak hari itu hingga seterusnya, aku selalu memperhatikannya dalam diam. Setelah lama memperhatikan, Kevin menyadari dirinya sering diperhatikan olehku. Ia lalu melihatku balik, tetapi hanya sebatas melihat. Sampai pada hari di mana id card-ku tersangkut di tangan Kevin saat kami sedang berpapasan di selasar kantin.

Aku langsung berusaha mengeluarkan tali yang tersangkut di tangannya, lalu secepat mungkin meminta maaf. Ia pun tersenyum kecil sambil mengatakan, “Tidak apa-apa." Sejak saat itulah Kevin mulai mengajakku berbicara terlebih dahulu. Ia juga mengetahui bahwa aku memiliki kekurangan dalam hal mendengar dan berbicara.

Kevin sangat baik, peduli, sopan, suka bercanda, juga sedikit tertutup. Namun, teman-teman sepermainannya sering mengejek Kevin setiap dia akan berbicara denganku. Kevin mulai menjauh dan tidak mengobrol denganku lagi karena terpengaruh oleh ledekan teman-temannya. Aku sangat kecewa dan memutuskan untuk menjauh juga dari Kevin. Setelah pentas seni kelas IX selesai, aku langsung melanjutkan SMA di Jogja dan Kevin juga hilang kabar dari telingaku.

Kembali bertemu

Sampai pada waktunya kuliah, aku memutuskan untuk mengambil jurusan Hukum di salah satu universitas di Jogja. Aku menjalani hari-hari kuliah pada umumnya seperti orang-orang kebanyakan. Organisasi, kelompok belajar, sampai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) aku ikuti. Terkadang tidak semua kegiatan bisa aku hadiri karena ada saatnya aku lelah, juga bertabrakan dengan jadwal kuliah.

Tidak terlalu sulit bagiku, yang memiliki kekurangan dalam hal mendengar dan berbicara untuk beradaptasi dengan lingkungan kuliah, karena anak kuliah kebanyakan sudah bisa mengerti dan menerima satu sama lain.

Hari itu, memasuki semester 2 perkuliahan, aku mengikuti UKM di kampus utama, dikarenakan pertemuan UKM selalu di kampus utama. Saat sedang latihan, aku kaget, sekilas aku melihat orang seperti Kevin sedang berjalan di selasar luar kampus, kebetulan aku latihannya di kebun kampus yang dekat dengan selasar luar kampus.

Aku langsung berpikir, sudah lama sekali aku tidak melihat bahkan memikirkan Kevin, kenapa bisa ada orang yang mirip Kevin? Ya sudahlah aku langsung positive thinking, mungkin itu orang lain. Sampai di kos kok terpikir terus? Aku terus memikirkan apakah itu Kevin atau bukan.

Beberapa hari kemudian di hari yang sama, aku mau memastikan apakah orang kemarin Kevin atau bukan, aku sengaja melihat ke arah selasar luar kampus lagi, ternyata pada saat aku sedang mencari sosok ‘Kevin’ tersebut, muncullah orang tersebut dan secara tidak sengaja dia juga melihatku. Sial! Aku langsung memalingkan mukaku, dalam hatiku rasanya memang seperti Kevin?

Sekitar pukul 9 malam selesai mengikuti UKM, aku langsung bergegas ke motorku untuk segera pulang ke kos, karena hari itu aku capek sekali kuliah dari pagi sampai sore, dilanjutkan dengan mengikuti UKM. Saat sedang menyalakan mesin motor, tiba-tiba ada orang yang menepuk pundakku, “Bocah id card!” panggilnya. Dengan perasaan kaget bercampur senang, aku segera memalingkan mukaku ke belakang, “Kevin!”

Ya, itu memang dia. Penglihatanku masih normal ternyata. Aku bahkan masih mengenali wajah Kevin, meskipun kami sudah lama sekali tidak bertemu. Sejak hari itu, kami sering bertemu juga berbincang bersama. Kevin sering ke kosku, menjemputku untuk sekadar mencari teman makan atau mengerjakan tugas bersama di luar.

Hingga pada suatu hari, Kevin menyatakan perasaannya padaku. Ia mengatakannya di kafe saat kami sedang mengerjakan tugas. Dengan tertawa yang sangat geli, diikuti senyum malu, aku langsung menjawab, “Iya." Hal ini dikarenakan aku sudah tertarik dengan Kevin sejak lama, namun tidak berani mengungkapkan karena keterbatasanku.
......................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................

***

Kisah dalam cerita ini masih panjang. Jika ingin membacanya sampai selesai, BACA SAJA DI SINI!

Saya membagikan tulisan ini karena ada satu kalimat yang paling saya suka didalamnya:
“Janganlah kita memiliki ketakutan berlebihan sebelum menjalani sesuatu terlebih dahulu.”


Sumber: fimela.com

Puisi: Laki-Laki dan Perempuan

Puisi: Laki-Laki dan Perempuan
Laki-Laki dan Perempuan
Ilustrasi gambar by pixabay.com

Dulu, semasa masih kuliah suka mendengarkan puisi ini dibacakan. Apalagi yang membacakan itu adalah penulisnya sendiri. Abidin Wakur, itulah nama lelaki yang menulis puisi ini.

Kak Abi, begitu sapaan saya ke padanya. Dia memberikan banyak ilmunya. Suka berdiskusi dan tidak sombong. Hehehe.

Sekarang, kak Abi masih terus menggeluti dunia kesenian, meski memilih pulang ke kampung halaman di Sinjai. Lalu di sana, beliau ini mendirikan sebuah komunitas bernama Tobonga.

Pernah suatu ketika (saya lupa tahun berapa), puisi ini dibacakan di auditorium Al Amien Unismuh Makassar. Ini moment yang paling saya ingat meski waktu dan acara apa saya tidak ingat.

Kira-kira begini puisinya.
Laki-Laki dan Perempuan

perempuan adalah pasir dan LAKI-LAKI ombaknya
perempuan adalah mutiara
raih DAN jadikan permata cincin yang bertengger pada jari manis
PEREMPUAN untuk diselami dengan rasa PEREMPUAN untuk DIMILIKI bukan untuk DICICIPI
laki-laki bila berkubang di rawa perempuanlah santapannya dagingnya dilahap DENGAN PELUH dan darah tulangnya dicampakkan
untuk diperebutkan anjing penjaga kemaksiatan
hati-hatilah laki-laki
jika perempuan angin sepoi kamu hancur oleh tiupan kelembutannya
tenaga dan keberingasanmu akan remuk di hadapannya lalu ambruk ke tanah yang enggan MENETESkan air matanya UNTUKMU
jadilah laki-laki jadilah perempuan

Makassar, 2000

PUISI: Puisi Cinta Kita dan Kenyataan Sosial yang Sakit

PUISI: Puisi Cinta Kita dan Kenyataan Sosial yang Sakit
Puisi-Cinta-Kita-dan-Kenyataan-Sosial-yang-Sakit

Ditulis oleh Andhika Mappasomba Daeng Mammangka

kita adalah batu panas sayang.
tahukah kau batu panas itu? itu ibarat kain yang kering yang tergeletak di sebuat sudut yang tak penting bagi siapapun. jika terkena tetesan air, tetesan itu tak menggenang. tetesan itu terserap dengan sangat cepat, masuk ke dalam kain atau batu. kain dan batu itu adalah pikiran kita sayang. yang dipaksa menikmati suguhan kenyataan sosial kita yang sakit.

sayang, tahukah kau kenyataan sosial yang sakit itu? itu adalah apa yang kita simak setiap detak jam dinding saat bergerak. dia adalah segala hal ingkar sosial. kemiskinan, kesakitan massal, pendidikan yang dungu, dan pemuda pemudi seperti kita; tak memiliki kesempatan memberi arti pada bangsa kita, Indonesia; bekerja. dan sejuta genangan-genangan air mata yang tiada pernah terserap dan terdengar di ruang mewah kursi kekuasaan.

menonton televisi, seperti bercermin pada derita sendiri. mendengarkan orasi politik, seperti ejekan-ejekan yang menusuk jantung sendiri. mereka bilang Indonesia kaya raya, utang luar negeri kita tiada tara. Indonesia kaya raya, sebarisan perempuan baru saja bersalin tak bisa keluar meninggalkan rumah sakit karena tidak memiliki uang tambahan pembelian obat dan sewa bangsal sialan.

berjalan-jalan di sepanjang lorong pasar, kita diperhadapkan dengan peminta-minta yang menengadahkan tangan. sampah-sampah busuk, liter-liter yang curang dan timbangan-timbangan kekurangan berat, daging-daging busuk berformalin dipaksa masuk ke dalam hidung dan mulut kita. menulis dan membaca ini semua, seolah tiada habisnya; sekarat mata dan telinga kita menjadi penyaksi.

kita adalah batu panas sayang.
tahukah kau batu panas itu? dia mengandung panas pastinya. dengan panas itulah, kita tak bisa menyimpannya dengan melekatkan pada bagian tubuh kita. kulit akan melepuh. batu panas itu seperti rindu, sayang. jika terlalu lama terpendam panasnya, batu itu akan pecah menjadi debu. seperti hati kita, jika dia terlalu lama dihempas rindu, dia akan memanas, menggelora dan akan menghadirkan amuk badai di dalam kesadaran. butuh tetesan-tetesan air yang akan menunda kepecahannya. butuh tetesan air untuk tetap membuatnya tetap menjadi hangat. kehangatan itulah salah satu tujuan kita di dalam lingkaran cinta ini, sayang.

malam-malam yang sunyi dan mencekam, mengajarkan kita pada kisah hidup helen keller. dari kesunyian yang mencekam ia belajar mengenal dunia dan menebarkan cinta. dari kesadaran J. J. Rosseau tentang sosialitasnya mengajarkan kita tentang hidup yang berjuang memerdekakan bangsanya yang sakit dan menjadi budak di zamannya. malam-malam sunyi yang mencekam, membuat kita mengenang tertangkapnya seorang komunis muda, semaoen oleh belanda karena menyerukan kesadaran dan perlawanan di zaman keterjajahan. penangkapan pejuang sosial itu yang mengobarkan seruan-seruan pemogokan massal di zamannya.

malam-malam yang sunyi dan mencekam, melemparkan ingatan kita tentang maipa deapati dan datu museng yang sehidup semati. malam yang begini pula mengajarkan kita kisah haddara dan tongguru mattatta yang terpisah diujung badik demi harga dirinya di tanah mandar.

kita pernah memiliki kisah hariman siregar yang belakangan ditantang oleh emha ainun najib kembali turun ke jalan menyerukan revolusi. kita pernah memiliki amuk benteng dan tirani yang disebarkan di hari demonstrasi oleh taufiq ismail yang kini telah tua.

sayang, sosial kita sedang sakit. orang-orang dibayar uang dan sekotak makanan dan air kemasan untuk beramai-ramai ke lapangan terbuka mendengarkan pidato-pidato tanpa filosofi. pidato-pidato yang tak memiliki puisi. pidato yang tidak memiliki angka-angka yang pasti, mereka tak pernah belajar pada kehidupan buya hamka dan soekarno tentang pidato yang teduh dan nyala.

entah sampai kapan ini akan selesai.

sayang, kita tiba disini. pada sebongkah batu yang panas. sebongkah batu itu kita beri nama; CINTA. dalam situasi sosial kita yang sakit. kita membaca sajak-sajak yang tertulis di ruang-ruang sosial itu, membuat kita kehilangan gairah. sajak-sajak yang tertulis bagai tanpa harapan dan keinginan. film-film porno menjadi pelajaran yang paling ujung dari pertempuran perasaannya. kalimat-kalimat filsafat bersatu dalam tubuh psikopat. sajak dan filsafat kehilangan tubuhnya. terjebak pada seks pada ujungnya. begitu rumit memilah kalimat filsafat dan sajak serta rayuan mengadu kelamin dengan paksa. semua masih tubuh, akhirnya seni kehilangan kemanusiaan dan kebijaksanaan

Monolog Andhika Mappasomba mengenang 30 tahun Phinisi Nusantara
Monolog Andhika Mappasomba mengenang 30 tahun Phinisi Nusantara

sayang. itulah mereka. mungkin juga kita
tapi, cinta kita adalah kisah dalam perjalanan yang mencari bentuk. sambil membuka-buka semua kisah sejarah cinta yang ada, kita membuka helai buku sejarah cinta dengan ketulusan jiwa. membuka halaman sejarah cinta dengan kesejatian, kesetiaan dan kesadaran akan semua kisah sampirannya.

dalam perjalanan ini, waktu kita tak banyak. tapi kita tidak boleh egois pada semesta dengan tak menghiraukannya. sebab bumi ini bukan miliki kita berdua dan hanya mengandung kisah cinta kita saja. ada kisah-kisah sosial lain yang menunggu kita.

sambil saling rindu dan saling memeluk mesra dari jarak paling jauhnya cinta kita, batu yang panas itu kita raih, kita lempari penjahat-penjahat sosial itu sambil berseru;

wahai dunia
aku menangisi kenyataan sosialku
tapi air mata ini aku tumpahkan bukan hanya untuk kenyataan itu
sebab dunia bukan hanya tentang kemiskinan, derita dan pidato politik

aku menumpahkan air mataku ini
sebab rindu pada kekasihku
rindu itu tak tertahankan lagi
aku ingin bertemu dengannya, kapan saja, dimana saja,
lalu kami ingin menyepi
menyalakan televisi dengan suara gaduh
tai kami tidak sedang menonton
tergeletak, di sebuah sudut tak penting bagi siapa pun

Bulukumba, 17 Juni 2014
Diposting 17 Juni 2014 pukul 20.29
Link asli baca di SINI.

Pernyataan (Sebuah Puisi Ahda Imran)

Pernyataan (Sebuah Puisi Ahda Imran)
Love by Ian Konjo

Ditulis oleh: Ahda Imran

Ini wajahku. Bawa ke laut,
lalu kenanglah!

Sepanjang abad perut ikan-ikan
menyimpannya. Menyerahkannya
pada nafas para nelayan.

Jangan menjemputku di pulau
dengan rindu
karena rindu telah kuserahkan
pada suara laut paling jauh

Ini tubuhku
bawa ke dalam kabut
lalu catatlah!

Burung-burung
menjeritkannya, angin mengurainya
para pemberontak menyebutnya
cahaya!

Jangan memanggilku dari keheningan
karena rumahku adalah percik api
dari ribuan kaki-kaki kuda!

Ini seluruhnya untukmu
tapi pulanglah padaku, seperti juga
aku datang padamu

Atau kita sama-sama membakar saja rumah ini!

2003

Lilyana (Sebuah Cerpen)

Lilyana (Sebuah Cerpen)
Lilyana-(Cerpen-Irhyl-R-Makkatutu)

Oleh: Irhyl R Makkatutu

Lelaki itu memulai kisahku saat derau menggebrak di malam renta. Di antara resah gelisahnya. Ia terjaga dan tidak bisa lagi tidur. Matanya menyimpan rindu menggemaskan. Ia menyingkap selimut dengan pelan, menghindari gerakan yang bisa membangunkan seorang perempuan—istrinya yang sedang pulas di sampingnya. Ia berjalan ke arah meja, menarik kursi lalu duduk, sesekali memijit kepalanya—yang peningnya disebabkan olehku. Aku sedang menari di kepalanya saat itu—sudah sangat lama sebenarnya.

Aku hidup di kepalanya. Menjadi kisah yang terus saja tumbuh memupuk dirinya sendiri. Bahkan sebelum ia menikahi perempuan yang tidak ingin diganggu tidurnya itu. Ia membuka laptopnya, namun sebelum itu, terlebih dahulu ia mengenakan kacamata hitam, tapi bukan pada kedua matanya, bukan. Ia mengenakannya di kepala—menjadikannya bando.

Setelah menyalakan laptop, ia kembali memijit kepalanya. Memejam mata sejenak. Menghadirkan aku lebih nyata dalam rindunya. Dan aku kegirangan ketika ia mulai menulis namaku; Lilyana. Aku tahu sejak saat itu, aku akan hidup lebih panjang dari usia lelaki itu. Dan sejak itu pula hingga kini—aku terus saja mencintainya.

Jemari lelaki itu lincah menekan huruf demi huruf di laptopnya. Dengan limpahan perasaan ia memberiku nyawa, memoles parasku lebih cantik, memberiku kehidupan—yang tidak pernah mati. Akan terus hidup di ribuan kepala yang membaca namaku, yang mendaras kisahku—maka tidak salahkan jika aku mencintai lelaki itu?

Tolong rahasiakan ini dari istrinya! Aku takut ia akan cemburu lalu membakarku. Ketika lelaki itu menuliskan nama lelaki lain yang bukan namanya sebagai kekasihku—lelaki yang mencintai dan aku cintai yang bukan dirinya. Aku menangis sejadi-jadinya. Ssttt, jangan menertawaiku atau menganggapku gila, meski aku tokoh fiktif dari sebuah cerita, tapi aku telah diberi air mata, disusupi perasaan. Aku memang hanya fiktif, tapi tidak mati. Fiktif dan mati beda, bukan? Yang membuat marahku meledak, bukan hanya satu lelaki yang “jodohkan” denganku, tapi ada beberapa lelaki—yang tidak mungkin aku cintai.

Baik, kuberitahukan satu sifat perempuan kepadamu. Perempuan sangat kokoh dalam mencintai lelaki yang benar-benar dicintainya. Perempuan tidak pernah bisa dimiliki seutuhnya oleh lelaki lain yang tidak dicintainya, meski lelaki itu telah menjadi suaminya. Ada kepingan hatinya yang tidak pernah bisa ia serahkan kepada suaminya—kepingan itu akan tetap menjadi miliki lelaki yang dicintainya.

Lalu kenapa banyak perempuan bertahan melawan derita itu, melawan dirinya sendiri? Berusaha terlihat lebih mencintai suaminya daripada lelaki yang dicintai sesungguhnya—itu karena perempuan lebih bertanggung jawab. Dan tanggung jawab di tempatkan melebihi cintanya, melebihi egonya sendiri. Dan ia punya senjata ampuh lari dari rasa sedih, kabur dari rasa rindunya kepada lelaki yang dicintainya; menangis.

Mimpiku sederhana, aku selalu ingin memberi kejutan di hari kelahiran lelaki itu, 14 Februari. Tapi aku tidak punya sempat, ia meninggalkanku menuju jalan yang tidak punya jalan pulang—kematian. Sementara aku berumah dalam novelnya—yang tidak akan pernah mati selama huruf-huruf masih dibaca atau selama dunia dan segala isinya masih bernapas.

“Lilyana, menangislah, jangan sungkan!” bujuk Aufa, tokoh perempuan yang pintar memainkan violin, yang membuat Dewa jatuh cinta kepadanya. Aufa lebih tegar ketimbang aku. Aufa gagal menikah dengan Dewa, ia menikah dengan paksa. Dan aku gagal menikah dengan Yusril. Dan entah bagaiman lelaki itu menyatukan Yusril dengan Aufa sebagai suami istri. Dewa dimasukkan ke dalam kehidupanku. Tapi, aku tidak mencintai Dewa, aku telah jatuh cinta kepada lelaki itu.
“Ini bulan kelahiran lelaki yang menghidupkan kita, Aufa.” Kataku. Aufa hanya mengangkat bahunya, namun aku bisa menangkap sedih di matanya. Ia perempuan penyuka musik dan aku selalu percaya, orang yang menyukai musik jauh lebih peka terhadap kesedihan, terhadap derita di sekitarnya.

Kamu tahu “pembaca”, kami para tokoh yang dilahirkan lelaki itu dalam novel yang diberi judul Infinitum, setiap bulan kelahiran dan kematiannya akan berkabung selama sebulan penuh. Jika kamu perhatikan kertas-kertas novel itu, barangkali kamu akan menemukan air mata kesedihan kami.

Aku sedih karena lelaki itu meninggalkanku, ia membiarkanku hidup di kepala banyak orang, tapi aku kesepian. Aku selalu lebih mudah menangis daripada siapa pun. Kini, aku sedang merindukan lelaki itu, dan sudah kukatakan tadi, perempuan memiliki senjata untuk lari dari rasa rindunya; menangis.

Aufa berjalan meninggalkanku, ia dijemput oleh suaminya—mantan kekasihku dalam kisah itu. Tapi, aku tidak pernah cemburu kepada Aufa, sebab aku telah jatuh cinta kepada lelaki itu, yang menulis namaku di tengah malam renta saat ia terjaga.
*****

Kopi hitam itu bertahan di tengah gelasnya. Seorang lelaki sedang membaca namaku di novel yang ditulis lelaki itu. Aku ingin teriak kepadanya. Aku ingin ia membawaku ke makam lelaki itu—membiarkan hujan datang meleburkanku lalu menyatu ke lahadnya—menemaninya bukan sebagai cerita, tapi sebagai kekasih yang terus ada untuknya.

Aku tidak tega ia kesepian, benar-benar tidak tega. Tapi aku tak punya kuasa, dan aku hanya bisa menangis. Aku suka mengunjungi rumah lelaki itu ketika sedang sepi, menatapi bingkai foto yang di dalamnya bukan foto, tapi novel yang ditulisnya. Di mana namaku ada. Aku diperlakukan baik oleh istrinya, tapi cemburuku tidak pernah bisa reda.

Jika kamu “pembaca” mengira nama yang ditulis pada sebuah kisah fiksi tidak merasa kesepian, tidak sedih ketika yang menciptakannya telah tiada, kamu keliru. Atau jika kamu berpikir tokoh fiksi tidak hidup, tidak cemburu atau ia tidak bisa jatuh cinta, itu salah besar. Kami hidup dan punya perasaan.

Begini saja, jangan paksa aku mencintai tokoh lelaki yang ditulis lelaki itu. Aku benar-benar tidak bisa. Aku telah mencintainya, dan aku akan selalu berkabung di bulan Februari dan Agustus—bulan kelahiran dan kematiannya. Begitulah caraku mengenang lelaki yang namai kekasih itu.

“Lalu kamu, dengan cara apa kamu akan mengenang kekasihmu setelah kematiannya?”
###

Rumah kekasih, 11 Februari 2017
Cat: Untuk mengenang Ahyar Anwar (Alm). Tokoh-tokoh cerpen ini adalah tokoh dalam novel Infinitum. Cerpen ini terinspirasi dari novel tersebut dan Trilogi Seokram karya Sapardi Djoko Damono. “Dengan cara apa kamu akan mengenang kekasihmu setelah kematiannya?” (Ahyar Anwar)


Cerpen ini pernah dimuat di Koran Harian Fajar

Andhika Mappasomba Daeng Mammangka: Fosil Sastra Saurus, Sebuah Anu

Andhika Mappasomba Daeng Mammangka: Fosil Sastra Saurus, Sebuah Anu
Andhika Mappasomba Daeng Mammangka
Andhika Mappasomba Daeng Mammangka

Sulsel sedang sangat membutuhkan kritikus sastra yang mumpuni dan mampu mengapresiasi karya sastra yang lahir di Sulsel, terlebih belakangan ini (2017) di mana jumlah buku sastra yang terbit cukup banyak.

Tanpa kritikus, karya-karya yang terbit hanya akan menjadi warna bianglala di langit, dikenali namun tidak dipahami apa gunanya secara mendalam.

Kritik bukanlah pembantaian, namun sebagai jembatan antara penulis dan pembaca dan antara buku dan zamannya. Tanpa kritik sastra, dikhawatirkan bahwa zaman hanya akan melahirkan lebih banyak manusia krisis identitas. Tak ada cara mudah menemukan identitas selain melabeli diri dengan jargon tertentu. Persis sama dengan laku politikus yang gemar membuat label diri pada jargon-jargon eufimistik untuk menambah kepalsuannya. Tepat bagai penulis puisi yang rindu/ingin disebut penyair dengan mati-matian mempromosikan diri sebagai penyair dengan menerbitkan puisi-puisi pada berbagai media demi mendapatkan pengakuan sosial, tanpa pernah peduli apakah karyanya layak disebut puisi atau hanyalah tulisan patah-patah yang mirip puisi.

Saya mengenal seorang penulis puisi dan menerbitkannya menjadi buku. Namanya Aprinus Salam, Kepala Pusat Study Kebudayaan UGM Jogjakarta. Walau menulis puisi di jelang usia 50-an dan memiliki ilmu sastra yang luas dan dalam, dia tidak berani menyebut dirinya sebagai penyair. Menurut saya, Aprinus mestinya menjadi potret bahwa seorang penulis puisi dan menerbitkannya menjadi buku sastra, dia belum tentu adalah penyair.

Kritikus sangat dibutuhkan republik ini. Kritikus sejati dan paham soal kesusasteraan kita. Jika tidak paham ilmu sastra dan menjadi kritikus sastra, kita akan selalu menemukan kenyataan lain dari seorang pakar Batu (cincin) tapi bukan ahli geologi (batulogi?). Ilmunya dangkal penuh cocologi.

Kritik bukanlah pembantaian. Dia adalah kelakuan yang mesti dihadapi semua umat (sastra) manusia, demi meningkatkan kualitas jiwa dan karya.
Kapan terakhir kali Anda dikritik?

Jika tak ada lagi yang mengkritik Anda, jangan sampai ilmuwan sastra/kritikus sudah punah menjadi Fosil Sastra Saurus.


Salam hormat saya;
Andhika Mappasomba Daeng Mammangka

Kutulis Lagi Sebuah Puisi

Kutulis Lagi Sebuah Puisi
Karya: Ahda Imran

Kutulis Lagi Sebuah Puisi

Kutulis lagi sebuah puisi
mungkin untukmu, mungkin juga bukan
kata-kata selalu punya banyak kemungkinan,
seperti waktu, seperti tubuhmu. Banyak hari
yang tak bisa lagi kuingat padahal aku mesti
segera berangkat. Kupastikan aku akan sampai
di pulau berikutnya, tepat ketika kau
sampai di seberang sungai

Kupastikan juga ada sebuah kesedihan
yang aneh menempel di setiap helai rambutku
tapi entah apa. Mungkin ingatan pada mereka
yang meninggalkanku karena
kebencian atau kematian

Kutulis lagi sebuah puisi
mungkin untukmu, mungkin juga bukan
dalam tubuhmu kata-kata adalah waktu, irama
yang cemas dan bimbang, janji yang tak beranjak
pergi. Tidak bersama siapa pun, aku telah berada
di lubuk malam. Ingatan padamu menjadi air
yang menetes dari jemari tangan. Banyak hari
yang tak bisa lagi kuingat sebagai apa pun
tapi telah lama kupastikan, aku akan sampai
di sebuah pulau berikutnya, kampung halaman
dari seluruh ingatan. Tepat setelah
kau membaca puisi ini

dari seberang sungai

2007

Homo Indonesia Homo (Sebuah Puisi)

Homo Indonesia Homo (Sebuah Puisi)
Oleh: Andhika Mappasomba Daeng Mammangka

Andhika Mappasomba Daeng Mammangka
Foto by Lina Langit. Festival Rapang Bulang, Roemah Langit, Gowa - Sulsel

aku menyaksikan tanah dan air berlari-lari kecil pergi tak kembali
dua lembah dan perbukitan menjelma lubang-lubang kematian

aku menyeru pada tanah; "Diamlah!"
aku manusia khalifah mulia
hanya mahkluk iblis yang tak mau tunduk padaku

tanah membangkang
membuka liang lebar menganga
maka masuklah ke sana dua pasang kaum luth menjadi penyangga, menjadi mangsa

ini belumlah kiamat qubro

aku bertanya, kenapa bisa bumi bergoncang dan
kenapa air laut bisa tumpah ke daratan?

bumi menjawab;
"kitab suci telah menjabar jelas, kaum luth, suara musik merobek langit, perkenduan terang di bawah lampu warna-warni, pemimpin yang loba untuk pajak bumi."

bumi menjawab;
"bumi Allah kau pajaki, mahluk Allah kau rendahkan, adzan kau abaikan, anak-anak perempuan melahirkan anak bapaknya, ibu-ibu menjadi budak anaknya."
sepasang homo berciuman di pintu bandara
sepasang homo berpelukan di tepi pantai
sepasang homo terciduk di kamar hotel
sepasang homo bercumbu mesra di angkutan umum
sepasang homo bergelayutan di dalam rimba perkotaan
sepasang homo melucuti pakaian dalam di salon plus
sebaris ayat kitab suci menggambarkan ummat luth, tapi kau abaikan

lalu, kau undang mereka dalam sepasukan baris-berbaris, lalu kau girang melihat mereka berdandan melenggok dengan betis berbulu, cobalah terpingkal sebagaimana terpingkalnya dirimu ketika bumi berguncang, tanah bergerak dan air laut tumpah ke daratan

saya tak pernah kaget
sudah jamak itu terjadi

sudah biasa itu terjadi
seperti seperti itu dari hari ke hari
tak ada lagi Tuhan di dalam Cinta manusia homo Indonesia homo

Politik sialan
membenarkan anus disebut vagina
demi APBD tulang rebutan anjing kemaksiatan

Astagfirullahaladzim

Allahumma Shalli Ala Muhammad Wa Ala Ali Muhammad
aku terbayang tangan mulia Rasulullah memerintahkan diam kepada tanah berguncang dan Umar Bin Khattab menancapkan tongkatnya ke tanah

tangan mulia dan tongkat itu hilang dalam ingatan ummat manusia

musik mengalun
diskotik dan cafe mesum tak mau tahu itu

maka menarilah sampai badai


Gowa 4.10.18

Luruh Dalam Jarak yang Panjang karya Ahyar Anwar

Luruh Dalam Jarak yang Panjang karya Ahyar Anwar
Surat ini akan menjadi tanda kesedihanku yang meluruh dalam jarak yang panjang denganmu. Aku dalam perjalanan saat ini sayangku. Aku tentu tidak sedang meninggalkanmu. Hampir seluruh jiwaku tetap ada dalam jiwamu.

Perjalanan ini seperti sebuah petualangan kesunyian bagiku. Aku merasa seperti berjalan di gugusan dedaunan yang gugur. Menggugurkan semua kerinduanku padamu. Aku merasa jiwaku seperti tersaput embun kesedihan yang dingin dan membekukan hidupku.

Aku tak ingin mengingkari kesedihanku atas perpisahan ini. Aku tak ingin menghibur diriku dengan kesedihan yang mengabut ini. Aku juga tak ingin menghiburmu dengan kata-kata yang indah, aku ingin kesedihan ini menjadi bagian yang membuat cinta kita tumbuh dan berbunga di musim yang berbeda. Ini seperti musim dingin yang sedang turun dalam waktu yang tak kita minta. Tapi aku ingin engkau menjadi kekasih yang merajut rindu-rinduku menjadi baju hangat cinta yang indah. Aku ingin engkau memberikanku warna yang buram dari cinta ini. Biar aku bisa membedakan cahaya yang akan tiba dari kerinduan-kerinduanmu padaku. Karena aku akan memelihara semua cahaya senyumanmu di mataku. Agar dalam kemuraman perpisahan ini, mataku penuh dengan cahaya senyummu dan bibir jiwaku selalu penuh dengan cahaya ciumanmu yang penuh cinta yang berbinar.

Kekasihku sayang!
Setiap perpisahan harusnya tak memisahkan kita, tetapi mempertemukan diri kita kembali melalui kenangan-kenangan cinta yang yang mengikat kita dalam semua pertemuan-pertemuan yang menyatukan jiwa kita.

Aku merasa sedang berjalan jauh menemui kenangan-kenangan kita bersama. Aku menyusuri kembali semua bayangan kisah kita yang membuatku merasa menemukan diriku dalam cinta bersamamu.

Aku ingin menjadikan cinta ini sebagai sebuah perjalanan jiwaku yang menyusup dalam jiwamu dan membuatmu menjadi ladang yang subur bagi kehidupanku dan jiwaku menemukan titik tumbuh terbaik dalam kehidupan ini. Bagai hujan yang tumpah pada tanah yang membuat tunas-tunas menjadi tumbuh dalam harapan yang berbunga. Meski mungkin akan ada gelisah yang akan menerjang kita dengan kerinduan yang meluka. Aku tak ingin mengelabuimu dengan kesediahan perpisahan ini. Aku hanya ingin membuat kita berpelukan dengan kesedihan ini, agar jarak terasa sesak pada waktu-waktuku yang menjauh darimu.
Aku mencintaimu sayang!
Jangan bertanya tentang godaan ini, karena aku ingin engkau menjadi sekelopak bunga anggur dalam jalan hidupku. Aku ingin menanam cinta ini dalam sejarah hidupku yang membuatku bisa menjadi sebuah kisah yang lengkap dan tumbuh dalam satu impianku yang paling menyesakkan. Berada dalam malam dan pagi dengan kekasihku, dan menutup jalan hidupku pada kebersamaan hidupnya.

Ahyar Anwar

Bergeraklah Para Mujahid

Bergeraklah Para Mujahid
Oleh: Andhika Mappasomba Daeng Mammangka
.
saudaraku para mujahid
yang bersimpuh di subuh hari
yang bertebaran di siang hari
mencari keridhaan ilahi
menegakkan kalimat tauhid
menebarkan benih cinta ke islaman
mendengungkan kalimat-kalimat allah
di dalam sajadku kuuntaikan kata kagumku
meski kutaksanggup memekikkannya ke langit
turut bersamamu masuk ke medan juang
turut bersamamu menyusuri jalan panjang pulau jawa
turut bersamamu menyerukan keadilan di bandar bandar nusantara
turut bersamamu melintasi gurun-gurun di timur tengah
engkaulah itu kekasih allah
cahaya surgawi
yang mengokohkan kebenaran agama di semesta raya
.
saudaraku para mujahid
melepuh pundakmu dipanggang matahari dan hujan
melepuh kakimu menyusuri jalan raya perjuangan
dan aku terlalu pengecut untuk turut
dunia masih mengikatku dengan indah tipuannya
dan kaulah itu guru akhirat yang nyata
menyongsong daun-daun sorga dalam langkahmu
.
saudaraku para mujahid
dalam wajahmu aku bercermin
betapa munafiqnya aku
tak turut berjuang di jalan sorgawi
namun mengolok-olokmu dengan kalimat neraka
.
maafkanlah aku mujahid wahai para mujahid
dunia melenakanku seolah kekal abadi
dunia menggodaku seolah abadi sajak-sajaku
maafkan aku mujahid
tak turut berdiri di tepi jalan memberimu segelas air
tak bisa turut memberimu sepotong roti
di tepi jalan yang jauh dan sunyi
kumohonkan doa untukmu para mujahid
semoga allah menguatkan langkah-langkahmu
membela agama, membela kitab langit dan membela kalimat allah
.
allahu akbar
allahu akbar
berjalanlah para mujahid
semoga panas matahari menjadi saksi niat jihadmu
semoga tetesan hujan menjadi saksi jalanmu ke sorga
doaku menyertai langkah-langkah kecilmu yang letih
.
wahai para mujahid
engkaulah itu tentara allah
yang berjuang menegakkan kalimat allah
aku bangga kepadamu
aku mencintaimu
tetes peluh dan darahmu adalah pesan yang terus menyala
takkan padam di siram hinaan dan caci maki kaum fasik
akan terus menyala hingga akhir masa
.
allahu akbar
allahu akbar
.
wahai para mujahid
dengan sunnah dan kata-kata rasulullah
kau sonsong matahari dengan keberanian di dada
kau penuhi jalan-jalan kota jakarta
seperti wukuf di arafah, seperti lautan putih di makkah
berjuta kalian di sana
satu warna satu hadapan
kiblatmu ka’bah yang suci
satu gemuruh yang penuhi dada dan angkasa nusantara
takbir
allahu akbar
takbir allahu akbar
.
bergeraklah para mujahid
berjalanlah para mujahid
kau takkan pernah sendiri
berjuta saudaramu melihat dari sini
berjuta saudaramu mengirimu langkahmu dengan doa-doa
.
dunia sementara
akhirat selamanya
dua kalimat yang menawan hatiku
mengikis ego dan kemunafikan jalan-jalanku
.
yaa mujahid
yaa kekasih allah
salam dari kami
sebab kutahu kau berjuang bukan untuk membunuh dan melukai
kau hanya ingin hukum ditegakkan di republik ini
bergeraklah para mujahid
di tangan dan mulutmu kutitipkan kalimat seruanku
tegakkan hukum di nusantara


Selatan Nusantara, 1 Desember 2016

Andhika Mappasomba
Andhika Mappasomba Daeng Mammangka

Gadis Tarailu, Srikandi, dan Sang Penari

Gadis Tarailu, Srikandi, dan Sang Penari
Gadis Tarailu, Srikandi, dan Sang Penari
Tiar Djimbe
Namanya LISA. Aku mengenalnya tahun 2010. Perempuan yang kunamai “malaikat kecilku” itu menjadi warga (anggota) di sebuah organisasi seni angkatan keenam. Sebuah organisasi yang bukan hanya sekedar organisasi, tetapi sudah menjadi rumah bagiku. Kami yang bergabung di dalamnya memberinnya nama “nirwana kecil” karena tiga pilarnya. Organisasi yang membuatku merasakan hidup lebih berwarna.

Seperti biasanya, calon warga baru sebelum dikukuhkan harus melewati beberapa tahap. Salah satunya adalah mengikuti masa magang selama kurang lebih enam bulan. Pada masa magang itulah aku mengenalnya. Namun, entah mengapa aku begitu mengaguminya? Mungkin itulah kodrat sebagai perempuan yang selalu dikagumi oleh laki-laki.

Aku ingat betul ketika aku mulai mendekatinya. Malam dimana dia lagi menjalani magangnya (sesi latihan tari) untuk persiapan pengukuhannya menjadi warga. Disaat itu dia selalu mengeluh tentang jam pulangnya setelah latihan.
"Daeng, tidak bisaka terlalu larut malam baru pulang ke kostku, karena tutupmi kalau jam 10 baru jauh bela." Keluhnya dengan logat Makassar. Aku pun menawarkan diri saat itu.

"Begini pale Andi, kalau masalah itu ji, siapja antarki pulang ke kost ta tiap malam sehabis latihan. Jadi janganmeki khawatirkan soal itu! Dari pada terganggu lagi latihan ta gara-gara begituji." Kataku yang ingin berbaik hati. Dia pun meng-iyakan tawaranku.

Sejak saat itu, aku pun selalu mengantarnya pulang setiap malam seusai latihan. Dan begitu seterusnya. Hingga pada suatu malam, teman-teman Lisa yang mengambil bidang teater di lembaga seni yang kugeluti sedang latihan. Mereka latihan di sekitaran taman Pertamina dekat kampus kami. Kebetulan Lisa ada di sana sedang nonton mereka yang sedang latihan. Aku pun ke sana dan langsung menyapanya.
"Belumpeki pulang ke kost ta, Andi? Sudah jam berapa mi inie? Nanti tutupki lagi."
"Iye, mauma pulang ini daeng. Tapi tidak ada kutemani bela." Begitu katanya.
"Ayomi pale Andi! Kuantarki." Tawaranku.

Aku pun mengantarnya pulang dengan mengendarai sepeda motor Jupiter MX milikku. Hampir tiap malam aku mengantarnya pulang. Bahkan kalau sudah sampai di kost-annya, dia selalu menawariku makan. Mungkin karena dia sangat menerti kalau mahasiswa itu kebanyakan puasa tanpa sahur alias kelaparan di masa-masa itu hehehe... (makan lagi kite).

Saat itu kami pun sering jalan bareng dan sepertinya aku harus memastikan statusku ke Lisa itu kaya gimana sekarang. Aku pun mengatakan kalau aku suka dan sayang sama dia. Dan dia pun menerimaku sebagai cowoknya. Alhamdulillah. Dan mulai saat itu, tiap sore aku mengantarnya ke Taman Perpustakaan Umum Multimedia untuk latihan tari. Latihannya pun masih sampai malam.

Sebagai cowok, aku harus menunjukkan perhatianku ke dia dengan mengantarnya pulang sehabis latihan. Sungguh, aku menyayanginya kala itu. Bahkan aku tidak pernah ada niat untuk mengecewakan apalagi menduakannya.

Lisa orangnya perhatian. Buktinya, saat kuliahku lagi hancur-hancurnya, dialah yang selalu memberiku semangat untuk cepat menyelesaikan studiku. Dia jugalah yang selalu siap menanggung dosa ketika dia menjadi makmumku saat shalat lima waktu. Sebab dari dialah aku begitu yakin kalau aku akan menjadi imamnya kelak.

Suka duka pun kami jalani berdua. Aku sering menyisihkan uang kuliahku untuk dia, meskipun dia tidak meminta. Begitu pun sebaliknya. Dan disaat aku benar-benar membutuhkan bantuan, dia selalu ada untuk menolongku.

Untuk mengisi waktu kosongnya di luar latihan dan kuliahnya, Lisa juga menjadi Guru Les. Biasanya sehabis gajian, kami selalu belanja di pasar ikan yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Yah, sekedar membeli ikan dan rempah-rempah lainnya. Makan pun kami selalu berdua. Entah itu di kosannya ataukah di asrama tempat tinggalku.

Kadang aku terharu bila mengingat masa-masa sulit yang telah kami lalui berdua. Makan sepiring berdua dan seadanya, cuma nasi putih dan mie instan sebagai lauknya. Sangat romantis bagiku saat itu. Susah senang kami selalu bersama. Karena bagiku, keromantisan tidak selamanya identik dengan kemewahan ataukah kelezatan makanan saat berdua, tapi dengan ketulusan dan keikhlasan menerima keadaan pasangan kita serta selalu siap mendampingi kita sampai benar-benar mapan. Bukan yang mendampingi kita setelah kita mapan.

Nurlisa Said, dulu aku hampir menjadi bagian keluarga besarmu. Aku mengenal keluargamu dan kau mengenal keluargaku. Aku bersyukur akan itu. Dan aku yakin jika Allah SWT punya rencana yang terbaik untukku. Perpisahan itu tak pernah aku inginkan. Namun, keinginan seorang lelaki yang amat mengharapkan dirimu. Dialah yang selalu memujamu dan menyanjungmu dengan syair-syair indahnya. Aku tahu dan kuakui itu.

Mungkin saat ini dirimu begitu membanggakannya seperti dulu aku membanggakanmu. Kesadaran akan hal itu selalu melekat pada diriku. Kekuranganku melebihi kekurangannya. Kini dirimu telah bersamanya, menjalani kisah-kisah yang mungkin saja seperti kisahku kala bersamamu dulu.

Nurlisa Said, separuh kisah hidupku yang indah bersamamu akan selalu ada di sini. Ya, di hati ini. Yang akan terukir indah sebagai syair-syair sanjungan untukmu dalam diamku. Kisah-kisah cinta nan indah ala seniman jalananan yang pernah kita lalui bersama, akan abadi di hati ini.

Kebaikan dan keburukanmu selama bersamaku, biarlah aku dan Allah SWT yang tahu.


Dalam_Kenangan_
Gowa, 1 Maret 2015
Tiar_Djimbe

Tersebutlah Namamu Sayang

Tersebutlah Namamu Sayang
Tersebutlah-Namamu-Sayang
Seperti cericit burung pagi
Seperti gemericik air sungai
Seperti gemuruh air terjun
Seperti lantunan doa musafir
Seperti alunan suara angin
Seperti rengek tangis bayi malam hari
Seperti namamu sayang
Terselip di antara semua suara semesta
Menyebut namamu pada telinga jiwaku mendesah-desah
.
Bagaimana aku bisa melupakan namamu dan menghapusnya utuh dalam ingatanku, namamu telah menjadi karat dan akar cinta dalam napasku
.
Tanpa dirimu kini
.
Waktu menjelma jurang kesedihan
Pada matahari pagi adalah lukisan air mataku
Pada matahari tepat senja adalah lukisan hatiku yang menderita
Dan pada malam adalah kesunyian jiwa yang membawa belati
.
Tanpa dirimu kini
.
Bunga cinta yang sama kita tanam di tepian danau saat gerimis itu, tak bisa mati. Kabut dan air mata musafir menyuburkannya.
.
Sajak-sajakku memang tumbuh tanpamu
Tapi bukan lagi tentang sajak tentang kau dan aku yang berlari dalam gerimis, bermain sampan, mendaki gunung dan menjelajahi hutan belantara buku-buku.
.
Sajak-sajakku memang tumbuh bersama lagu, dan lukisan-lukisan yang merah jambu. Tapi kesunyian abadi.
.
Di depan cermin, aku takut tersenyum
Sebab lengkungan senyumku selalu saja dibayangi kemiripan dengan senyummu yang dulu selalu merekah dalam persembunyiian kita.
.
Tanpa dirimu kini
Dan entah di bumi manakah kini kau bernaung di bawah langitnya.
.
Jika saja di sebuah senja, kau menyaksikan seorang lelaki lusuh, kumal dan berantakan, duduk menghadap laut dengan tatapan yang kosong, sapalah.
Mungkin itu aku yang sedang duduk mencarimu dalam keajaiban, mengaharap ketiba-tibaan waktu yang mengantarkan dirimu kepadaku.
.
Jika kau menemukan sebuah makam tanpa nama dengan bebatuan berserakan, nisan tumbang dihempas rayap, duduklah simpuh mengirimkan doa untukku. Mungkin itu makamku. Lelaki yang tak letih menyebut namamu.
.
Jika pula esok kau menemukan buku puisi yang di sampulnya tertera namaku atau namamu. Yakinlah. Itu untukmu!



BK12915. Sajak ke 93. Andhika DM Pin BB 54C6F98D

Sepanjang Hujan Inilah Aku Merindukanmu

Sepanjang Hujan Inilah Aku Merindukanmu
Penulis: Irhyl R Makkatutu

Setiba aku di peluk dingin. Diam-diam aku ciumi aroma napasmu berbau permen karet. Tak ada yang ingin berbagi permen setelah diolesi liur. Tidak juga kita. Aku ingin simpan permen karetmu setelah manisnya hilang. Akan kujadikan lem disurat cintaku.

Kau katakan suka hujan setelah jatuh demam. Dan igau panjangmu hadirkan namaku. Sekali waktu aku ingin pulang ke matamu yang siapkan beranda untuk nikmati hujan. Sekali waktu aku ingin lupa pulang, wajah hujan dimana pun selalu sama.

Ini berbeda dari semua yang datang. Aku menghitung detak hujan sendiri. Kau menghitung jauhnya jarak. Adakah kita pada lingkar rindu yang sama??

Jika cinta disepotong pisang goreng. Disebungkus permen karet. Jejak kita telah buram di peluk sendiri.
Di sepanjang hujan kali ini, aku hanya ingin memikirkanmu, dengan atau tanpa rindu....


Rumah kekasih, 30/12/2014

Sepanjang Hujan Inilah Aku Merindukanmu

Puisi Ning karya Andhika Mappasomba

Puisi Ning karya Andhika Mappasomba
Pagi tadi, seorang junior di kampus meminta sebuah puisi untuk dia pelajari dan ingin dia baca. Saya merekomendasikan sebuah puisi yang juga pernah saya pentaskan bersama seorang siswa SMA beberapa tahun lalu.

Bukan hanya itu, junior saya ini termasuk orang yang cerewet. Banyak pertanyaan yang dia ajukan tentang puisi. Dan tiba-tiba saya ingat beberapa puisi yang judulnya seperti berseri. Puisi ini ditulis seorang penyair yang berasal dari Butta Panrita Lopi, Bulukumba. Namanya ANDHIKA MAPPASOMBA. Saya paling suka puisinya yang berjudul Ning, Menangislah Ning. Saya juga suka menontonnya membaca puisi-puisinya. :)

Kanda Andhika Mappasomba ini telah menerbitkan puisi ini dalam bukunya berjudul "Mawar dan Penjara". Bukunya yang lain kalau tidak salah ingat berjudul "Ingin Kukencingi Mulut Monalisa yang Tersenyum". Ini adalah buku Kumpulan puisi dan Cerita Pendek. Kalau ada yang penasaran seperti apa puisinya, ini dia... Hihi... :D

Sampul Mawar dan Penjara

Puisi yang pertama judulnya "Ning, Menangislah Ning"
menangislah Ning, menangislah
malam ini aku ikhlaskan ragaku untuk kau sandari
kain di lengan bajuku aku ikhlaskan menjadi penyeka air matamu yang perih

menangislah.....
tumpahkan....
curahkan air matamu
biarkan kaki langit menjadi saksi
tentang air matamu yang perih

menangislah Ning.... menangislah....
tumpahkan
curahkan air matamu
sebab aku percaya
hanya dengan menangis
bahasa kejujuran manusia dapat berdenting bening bagai putihnya salju

menangislah Ning.... menangislah....
tumpahkan....
curahkan air matamu
jika kau tak mau menangis
aku akan buat kau menangis


Nah, untuk puisi yang kedua judulnya "Ning, Tidurlah Ning"
aku telah mengusir nyamuk pemangsamu
pun jua telah kusiapkan beberapa cerita dan puisi
yang akan kubacakan sebagai pengantar tidurmu
Ning, tidurlah
di sini, di pangkuangku
katupkan matamu
bukankah rindu yang bertahta kemarin telah terbayar malam ini
Ning, tidurlah
izinkan aku mengecup kening dan bibirmu jika kau telah lelap
Ning, tidurlah
aku malu mengecupmu jika kau masih terjaga
tapi,
jika kau tak mau tertidur dan aku telah sangat ingin mengecupmu
aku akan menutup kedua matamu dengan cinta

makassar, 10/02/09
Di bawah ini adalah videonya...

UPDATE: Untuk versi pembacaan puisi Ning yang bisa tonton yang ini

Sebuah Puisi dari Sahabat

Ditulis oleh: Hikmah Syahriar

Andai tak bisa aku ingkari, kan ku tepati dengan pasti.
Meski harus menukar purnama dengan mentari..
Namun perih, senja memanggil di tanah lahir...
Aku harus kembali....

Sudah berhari-hari...
Aku simpan dia dalam peti hati...
Ingin ragawi bernyanyi mengurai untuk membuatnya sampai..
Apa kata dari maksud hati yang tersimpan mungkin sampai mati..
Tapi Tuhan tak izinkan ini, hingga kan bertemu dengan lain hari..

Telah ku iringkan hatiku, merangkainya, seraya menunggu Sang mentari..
Menunggu kapan Sang detik berganti hari...
Tangis ini ingin berurai, tapi lekas ku tepi...
Dan sampai terhantui rasa simpati meringis oleh ingkarnya janji..

Terbayang ragawi bersua rohani berdiri sambil berpuisi...
Di hadapan diri yang telah lama dipuja puji...
Yah, engkau yang berdiri dalam garis yang tak bertepi...
Namun hanya di sini aku berani untuk bersimpati..

Kau bukan ilusi, itulah sadarnya diri.
Namun naif ketika harus ingin termiliki oleh hati yang sepi sendiri..
Biarkan saja, kau cukup di sini saja, terselip di ruang hati..
Tak akan terganti sekalipun diri telah termiliki...

Ampuni bibir yang telah berjanji..
Santunkan hati untuk tak tersakiti.
Semoga tetap ada titik bersua di lain hari...
Kan ku sambut kau dengan sejuta puja-puji...


Bumi Tuhan, 27 November 2014

Surat Untuk Kekasih

Surat Untuk Kekasih
Sebuah persembahan dari seorang teman
Yunhi Yunetwijamalebbi'e


Jika esok, tak kau temukan lagi aku disini
Usah kau tanya kemana aku pergi
Mungkin aku tlah melangkah jauh
Tertatih.....
Tanpa kusadari.....

Aku ingin menepi, kekasih.....
Merenungi sekelumit pertemuan kisah kita
Melangkah tiada arah
Mencari serakan kata tentang janji yang terucap saat kau kecup keningku dulu
Mengenang kembali syair-syair indah saat imaji kita mulai gila
Terngiang lagi bisikan mesramu diantara desah nafas kita
Kau bilang, kau akan terus berharap seprti aku mengharapkanmu.....

Jalan yang kutempuh ini semakin kabur
Bukan karena debu atau cuaca yang berkabut
Tapi air mata yang selalu mengalir memburamkan pandanganku

Aahh......
Rupanya sesakit ini mencintaimu....

Older Posts
Home