Cerpen: Lelaki yang Menangkap Rembulan

item-thumbnail
Karya: Lubis Grafura

Ia duduk di atas batu besar. Hanya dengan memakai celana pendek, bertelanjang dada, dan sehelai sarung yang diselempangkan ke bahu. Dingin angin malam, gesekan daun dengan ranting kering sama sekali tak dihiraukan. Wajahnya legam menengadah ke langit memandang bulan sebentuk perahu yang berlayar di balik awan. Tangan kanannya memegang erat sebuah jaring.
“Aku pasti bisa menangkapmu.”

Laki-laki itu meloncat dari batu besar tempat duduknya. Cahaya bulan melukis bayangan sesosok lelaki di atas tanah. Bayangannya lebih pendek dari tubuh aslinya. Ia hanya setinggi satu setengah meter. Kepala bulatnya tersangga leher tembem di atas tubuhnya yang lemu. Ia selalu membuat gerakan mematahkan leher ke arah kanan. Orang-orang desa menyebutnya pendono - kebiasaan buruk.

Sepasang kaki telanjang berlari di atas tanah. Tangan kanannya menggapai-gapai ke langit dengan jaring yang dipegang erat. Semakin kencang ia berlari, semakin cepat bulan menghidar dari jaringnya. Ketika ia menghentikan langkah sepasang kaki telanjangnya, bulan sebentuk perahu itu ikut berhenti dan memandang ke arahnya.
“Bulan,” seru lelaki pendek sambil terengah-engah “suatu hari aku pasti bisa menangkapmu.”
***

LELAKI pendek itu tinggal bersama seorang perempuan tua yang melahirkan lelaki pendek: Poyo. Tidak ada arti khusus, mengapa perempuan itu memberi nama sependek tubuh anaknya. Yang ia tahu lelaki yang tumbuh dengan air susunya itu memiliki arti yang istimewa baginya, walaupun ia memiliki kelainan fisik dan mental.

Dalam melewati hari, mereka hidup di sebuah rumah berdinding bambu. Untuk keperluan makan sehari-hari ibunya harus mengasak padi di sawah yang baru saja disiangi. Walaupun demikian perempuan itu tak pernah meratapi hidup dengan kesedihan. Dirinya selalu menterjemahkan segala penderitaan tentu akan memiliki akhir.

Beberapa hari yang lalu dirinya dipanggil oleh Marsudi untuk tanda tangan. Kata Marsudi, orang miskin seperti dirinya akan mendapatkan sepetak tegal. Tegal yang sekarang ditanami morbei oleh perhutani sesungguhnya adalah tanah milik tetua desa pada zaman Belanda. Bukti itu ada di Supiran, untuk mendapatkan hak tegal dirinya bersama beberapa orang harus menandatangani surat perjanjian, begitulah terang Marsudi kepadanya. Ia manut saja, lha wong banyak tetangganya yang ikut juga.
“Poyo pasti dapat menangkap bulan” kata lelaki pendek sambil mengangkat kedua bahunya.
“Kalau makan jangan banyak omong”
“Tapi Poyo ingin telur rebus.”
“Sudah, makan saja sambal dan nasinya itu.”
“Poyo mau tangkap bulan!”
“Bulan itu tak bisa ditangkap. Sudah, habiskan nasimu!”
“Biar!” Poyo berdiri kemudian mengambil jaring yang menyelempit di dinding bambu ”Pokoknya Poyo mau tangkap bulan.”
“Poyo, kembali!”

Lelaki pendek itu tak menghiraukan perkataan ibunya. Perempuan itu hanya bisa menggelengkan kepala sambil memandang nasi Poyo di alumunium yang tak disentuhnya sama sekali. Apabila anaknya berlaku seperti itu ia tak bisa melarangnya. Ia tahu benar bahwa tak lama lagi anaknya akan kembali dengan wajah yang murung kemudian menyusul tidur di sampingnya.
*** 

SAMBIL mengayunkan jaringnya ke atas, lelaki itu berlari mengejar bulan. Bayangan tubuhnya yang tergambar di bingkai tanah selalu menemani dirinya berlari. Semakin cepat ia berlari, maka semakin cepat pula bulan menghindar dari pandangannya. Kemudian dengan nafas terengah-engah akan menyumpahi bulan di atas sana.
“Dengarkan aku,” kata lelaki itu sambil terus menatap bulan “aku pasti bisa menangkapmu suatu saat.”

Lelaki itu meloncat dari batu berjalan menuju rumah Pak Haji Rahman. Dirinya suka menatap wajah Diyanti, putri pak haji, dari balik pohon jambu karena wajahnya memendar di kegelapan bagai rembulan sebentuk belahan semangka. Apalagi ketika ia melihat Diyanti memakai kerudung ketika pulang ngaji.

Malam ini ia harus membiarkan bulannya tetap mengapung jauh di langit kelam. Setelah menyelempitkan jaringnya di dinding bambu, ia perhatikan ibunya yang tengah tertidur di balai bambu. Di sampingnya ada sebuah meja dengan ublik yang menyala redup karena minyak tanahnya hampir kering. Ia menyusul tidur di samping ibunya.
***

SIANG itu Poyo bersama ibunya menyusuri tegal yang telah diterimanya dari Tim Sukses. Begitulah orang-orang menyebutnya. Sudikun, anggota Tim Sukses, menjelaskan kepadanya bahwa tegal itu sudah menjadi hak milik warga desa. Uang yang telah dikumpulkan dalam buntalan kain yang tersimpan di bawah bantal itu kini telah menjadi batang-batang jagung yang tumbuh di tegal miliknya.

Perempuan itu tersenyum melihat usia jagung yang telah lewat satu bulan. Ia melihat tunas-tunas daun hijau tumbuh di batangnya. Dua bulan kedepan ia pasti sudah dapat memetik jagung yang tumbuh di tanah tegal miliknya.

Perempuan itu juga masih ingat kata-kata Marsudi ketika ia menandatangani surat perjanjian sambil menyerahkan beberapa puluh rupiah, yang kata mereka untuk administrasi, bahwa apapun nanti yang akan terjadi dirinya harus tetap menanam di tegal, walaupun perhutani melarangnya. Tegal ini sudah menjadi milik warga dan untuk urusan sertifikat masih dalam proses pengadilan, tambah lelaki yang menjadi ketua Tim Sukses.

Ketika ia menatap tanah seluas puluhan hektar, ia teringat kembali penjelasan Tim Sukses bahwa dirinya bersama warga lain akan mendapatkan lagi jumlah yang lebih banyak dari sekarang. Asalkan warga mau mendukung kegiatannya, maka tak lama tegal itu akan menjadi milik mereka.

Dirinya sangat bersyukur bahwa Allah telah memberikan rejeki yang cukup baginya. Kebahagiaan ini telah menambah keyakinannya bahwa Allah menyayangi hambanya yang sabar dan berusaha. Allah akan memberikan rejeki pada saat yang tak pernah diduga.

Ia tak mempersoalkan seperti sebagian warga yang benci perhutani. Asal dia bisa menggarap tegal, baginya sudah lebih dari cukup, tak perlulah memusuhi perhutani yang kata sebagian warga adalah pemeras rakyat.

Semalam, Marsudi datang kembali ke rumahnya dan ke beberapa tetangga menjelaskan bahwa sertifikat tegal belum bisa jadi. Tim Sukses harus segera ke pengadilan pusat untuk mengalahkan pihak perhutani yang tak mau melepas tegal.

Perempuan itu sudah tahu bahwa dirinya harus menyerahkan uang lagi untuk urusan pengadilan. Kali ini Marsudi meminta sejumlah seratus limapuluh per orang, ia tak punya uang sebanyak itu. Namun, Marsudi adalah orang baik dalam pikirannya karena kekurangan itu dapat dicicil di kemudian hari.

Seorang tetangga di tegal lari ke arahnya dengan tergesa-gesa.
“Kita harus mbantu Tim Sukses demo di pengadilan.”
“Sekarang?”

Dengan sepasang kaki telanjang perempuan itu mengajak anaknya untuk segera pulang, karena dirinya harus ikut tetangga untuk ke pengadilan.
***

POYO menatap jagung yang dulu ditanamnya, kini telah dilindas-tuntas oleh sebuah mesin besi. Rata dengan tanah. Warga desa yang pernah menanam di tegal menatap haru tanaman mereka. Kebencian, kemarahan, bingung, ketakberdayaan, dan kepasrahan tampak di wajah petani-petani desa yang kini menundukkan kepala menatap tanah. Beberapa puluh polisi berada di sana, juga seseorang pemuda yang mengarahkan sebuah kamera. Anak-anak tersenyum sambil bergaya, seolah mereka akan masuk tv. Seorang polisi tengah berbicara di depan mereka.
“Bapak-bapak dan ibu-ibu apa yang telah kalian lakukan itu adalah melanggar hukum. Tegal ini adalah milik pemerintah. Sebenarnya pemerintah bersama masyarakat menggarap tegal ini dalam program PHBN. Penggarapan Hutan Bersama Negara. Masyarakat punya hak garap bukan hak jual seperti yang telah dijanjikan oleh Tim Sukses. Apalagi mau menandatangani pernyataan kalau saudara-saudara telah menggarap tegal ini selama 40 tahun. Itu namanya penipuan. Seharusnya bapak dan ibu menolak memberikan dana Tim Sukses untuk menuntut perhutani di pengadilan. Itu pelanggaran kepada negara dan hukumannya berat. Perhutani akan mengganti tanaman yang kini dibabat. Pada saatnya nanti saudara-saudara sekalian juga akan diberi hak garap tegal sesuai dengan jatah masing-masing.”
***

BULAN sebentuk perahu masih mengapung di langit malam. Bagaimana dirinya yang kecil ini bisa terbang, memetiknya, dan memasukkan ke dalam jaring. Poyo berfikir sambil memandangi bulan di atas batu besar. Kepalanya bergerak melukis wajah bulan. Ia teringat perkataan ibunya sebelum dirinya meninggalkan rumah.
“Kamu tak usah sedih seperti itu, kita musti bersyukur apa yang diberikan Allah untuk kita. Mulai minggu depan kita bisa menanam lagi di tegal. Tadi pak RT ngasih kartu garap kepada emak.”

Laki-laki itu mengangkat jaringnya dan mengarahkan ke wajah bulan, seolah-olah bulan itu benar-benar masuk ke dalam jaringnya. Ia melonjak-lonjak di atas batu dan berteriak kegirangan.
“Aku berhasil, aku berhasil. Sudah aku katakan aku pasti bisa menangkapmu.”

Ia berniat akan memberitahu ibunya tentang bulan yang baru saja masuk ke dalam jaringnya. Namun tiba-tiba ia membatalkan niatnya. Wajahnya kembali muram, dan ia duduk lagi di atas batu besar sambil memandang bulan sebentuk perahu yang berlayar di balik awan.

Malam launching KAREBA UNM
Baca Lengkap »

Aku dan Kerinduan

item-thumbnail
Karya: Kusuma Jaya Bulu

Matahari baru saja berbenah, sedangkan aku sudah menemukan kerinduanku duduk diteras yang berada pada sisi kanan rumahku. Aku dekati dan mencoba memecah kebekuan. Sikapnya acuh, aku tak bisa memaksanya tersenyum. Cemberut! Itu hal yang pasti ia beritakan dari wajahnya. Aku menangkap kegalauan dan memberiku pemaknaan sendiri. Kerinduan itu bahkan seketika beranjak, ia meninggalkan aku. Tentu aku mengejar dan kembali membujuk.
"Tunggu!"
"Aku ingin pergi sendiri"
"Tidak mungkin kamu pergi sendiri", rayuku.
"Aku harus menemuinya", katanya.
"Itu hal yang mustahil dan aku tak ingin kamu kecewa"

Ia selalu begitu, ketika aku tak menuruti keinginannya. Aku juga akui, jika sikapnya itu karena ketidakberanianku menterjemahkan perasaanku. Perempuan itu adalah Qanita, ia memang cukup dekat denganku. Tapi aku tak berani mengatakan bahwa perempuan itu ada kekasih. Aku mengenalnya sejak dulu, ketika aku duduk di semester tujuh di salah satu universitas Kota Daeng.

Di malam hari, ia menemuiku. Kerinduan itu menepuk pundakku dari belakang.
"Aku dari sana", katanya.
Aku memilih untuk diam. Kini giliranku tak bicara seperti ia ketika kutemui di teras rumah pagi tadi. Aku tak ingin katakan jikalau aku tak sepakat dengan sikapnya, karena aku akui, jika aku berharap ia bicara tentang Qanita. Perempuan cantik tersebut sudah semusim bertahta dalam ingatanku. Aku terkadang sadari, jika Qanita selalu membuka ruang untukku berterus terang. Hanya, aku tak terlalu bisa mengatakannya. Aku bukan siapa-siapa, sedangkan dirinya?

Ia anak seorang pejabat, bapaknya baru setahun menjadi seorang camat di kampungku. Aku kenal ia sebelumnya. Ia adik kelasku di perguruan tinggi. Tentu, ia pun begitu. Kerinduanku seolah tak mau peduli, ia memaksaku menghantarkan dirinya kepada Qanita. Kurasa itu bukan hal yang mudah.
"Ia merasakan hal yang sama, Qanita pun memiliki rasa yang serupa. Aku tahu, aku lama berbincang dengan detak jantungnya. Perempuan itu mencintaimu".

Kuharap demikian, tapi bagaimana aku bisa mengawalinya. Ini pilihan dengan konsekwensi yang harus kuhadapi.
"Assalamu alaikum".
Itu Qanita, saya cukup mengenali suaranya. Aku harus bagaimana? Tersenyum dan langsung menyapanya, menjawabnya dengan pandangan mataku? Atau aku langsung saja katakan, aku mencintaimu. Tak cukup romantis, aku harus bergegas mengambil bunga dengan kepala tertunduk seraya menyerahkan bunga. Tidak! Kurasa itu sinetronisme.
"Bagaimana kabarmu?"
"Aku baik-baik saja", jawabku.
"Sampai kapan?"
“Aku tak bisa menjawabnya"
"Kalau begitu, apakah kerinduanmu mengatakan hal yang salah?"
"Apakah ia menemuimu?"
"Siang tadi", singkat katanya.
Aku pergi, aku tak mau mengakuinya. Qanitapun setelah itu beranjak dan sempat menemuiku.

Kini, aku semakin terpojokkan. Sejuta kerinduan bertengger di setiap sudut dinding dan jendela kamarku. Aku tak peduli, ia bergantian mengunjungi serta memakiku. Akupun tetap saja memilih diam! Karena aku mau semua menjadi RAHASIA. Qanita tetap akan sempurna di mataku. Biarkan ia abadi dan menjadi kenangan paling indah dalam hidupku. AKU MENCINTAIMU! Itukan yang kamu ingin dengar? AKU MENCINTAIMU! Itu juga yang sebaiknya kukatakan padamu. Tapi, kurasa kamu tahu tanpa terucap bukan?



Kusuma Jaya Bulu
Baca Lengkap »

Cerpen: Yah, Itu Saja Cukup

Dimulailah kisah ini.
Pertemuan yang tak disengaja.
Lampu berwarna biru dengan sedikit redup....

Kau dan aku memang telah lama saling mengenal. Namun, yang kurasakan dengan pertemuan kali ini sangat berbeda dengan pertemuan sebelumnya. Walau perasaan lain itu telah sedikit lama bersarang di hatiku. Aku sama sekali tak tahu pasti sejak kapan munculnya. Hingga saat pertemuan kita yang tidak di sengaja malam ini, aku berusaha untuk tidak terlalu memikirkannya. Tetapi hatiku serasa terseret untuk terus mencapainya hingga kadang membuatku tak mampu untuk menepisnya. Aku takluk dalam rasa yang mungkin saja tumbuh di tempat yang kurang tepat.
***

“Ketika cinta memanggilmu maka dekatilah dia walau jalannya terjal berliku, jika cinta memelukmu maka dekaplah ia walau pedang di sela-sela sayapnya melukaimu”. Kalimat ini adalah salah satu kata-kata Kahlil Gibran dalam buku Sayap-Sayap Patahnya yang pernah kubaca. Aku tak akan memilih melakukan itu. Bukan karena aku tak punya keyakinan jika semua itu akan mampu dicapai jika dijalani. Alasan satu-satunya adalah karena aku tetap lebih memilih untuk tidak melakukannya dan lagi-lagi bukan karena aku tak punya keyakinan. Meski sesekali tumbuh bisikan untuk mendekat dengan kerinduan yang ada dan tetap berusaha melalui jalannya yang berliku. Meski pula aku tak akan mampu bertahan dengan sayatan pedangnya. Mampu bertahan pun terasa sangat berat. Luka yang melekat masih terasa sangat pedih. Masih ada luka yang tak kering.

Aku sadar jika aku bukanlah seorang Kahlil Gibran yang mampu menikmati sepi dan perih karena cintanya kepada Selma Kharimi. Aku tak ingin menjadi seperti dirinya. Aku ingin menjadi diriku sendiri dan menciptakan kisahku sendiri. Mungkin akan seperti kisah cinta Romeo dan Juliet atau kisah tentang Liu Goujiang dengan cintanya yang begitu dalam kepada Xu Chaoqin hingga rela meninggalkan desanya dan tinggal di sebuah gua di desa Jiangjin, China. Atau seperti kisah tentang Layla dan Majnun. Ketika Majnun jatuh sakit, tabib menyarankan untuk mengeluarkan sebagian darahnya, tetapi Majnun menolak dan mengatakan jika Layla berada di dalam setiap bagian tubuhnya. Atau juga seperti kisah raja Shah Jahan yang patah hati karena sang isteri (Mumtaz Mahal) meninggal ketika melahirkan puteranya, yang diabadikan dengan sebuah menara bernama Taj Mahal di India. Karena rasa cintanya yang begitu besar sehingga dibangunlah monumen itu.

Sungguh kisah cinta mereka selalu mampu menggetarkan hati. Aku berpikir tak akan mampu menyamai kisah-kisah mereka. Seperti kalimat yang dikirim seorang teman melalui pesan di media sosial: “Kau mampu menciptakan kisahmu sendiri melebihi kisah Kahlil Gibran atau kisah cinta Romeo dan Juliet ataupun kisah-kisah yang lain.”

Aku tetap ingin menciptakan kisahku sendiri. Meskipun tak akan sedahsyat kisah cinta yang melegenda itu. Aku menyadari jika tiap-tiap orang memiliki jalan untuk menuliskan kisahnya sendiri. Tentu saja bukan hanya kebahagiaan tetapi juga air mata dan luka akan ikut mengambil andil penting di dalam perjalanannya. Ah, aku ingat kalimat seorang satrawan sekaligus seorang budayawan bernama Dul Abdul Rahman yang ia tulis dalam prolog buku kumpulan cerpen “Menetak Sunyi” karya Dipta 354, Irhyl R Makkatutu, dan Damang Averroes Al-Khawarizmi. “Dan, satu yang pasti. Bilik-bilik kesunyian, batu-batu kesedihan, dan jejak-jejak kerinduan, semuanya menyuguhkan menu utama: Cinta”.
***

Malam belum begitu larut. Cahaya bulan setengah sempurna tak begitu terang karena awan. Sepertinya tidak terlalu cerah tapi sedikit terkesan romantis. Aku tahu ini bukan waktu yang tepat untuk mengatakannya, tapi aku takut jika setelah ini, aku tak lagi mampu untuk mengungkapkannya. Bukan karena aku takut orang tahu dengan apa yang kurasakan, tetapi lebih dari itu. Aku takut jika semua yang sudah terbangun lama hancur seketika.

Aku masih ingat dengan jelas dan ini yang membuatku termotivasi. Dulu, kau sering mengingatkanku untuk tidak terlalu tenggelam dengan masa lalu. Mengingatkanku bahwa perihnya luka itu adalah jalan untuk menjadi lebih baik. Mengingatkan bahwa luka, air mata, dan kepedihan adalah bagian dari cinta. Kau selalu mengingatkanku untuk mencoba membuka hati untuk orang-orang yang peduli padaku. Yah, aku memenuhinya. Aku berusaha bangun dan mencoba membuka hati untuk orang lain. Itu sudah kulakukan dan lagi-lagi cinta datang kepada orang-orang yang dipilihnya. Cinta memilihku dan aku kembali mampu berdiri tegak dari keterpurukan.

Hati kian memberontak dan beradu dengan ketakutan-ketakutanku. Aku harus mengatakannya. Setidaknya dia sudah tahu jika aku memiliki perasaan lain terhadapnya. Perasaan yang lebih dari sekedar sahabat atau sebagai kakak seperti katanya. Bagiku, sekedar mengatakannya sudah lebih dari cukup. Yah, itu saja sudah cukup. Setidaknya aku tak dihantui perasaan sesal di kemudian hari. Sesal karena aku lebih memilih menjadi seorang pengecut yang tak mampu berkata jujur.

Sepertinya waktu tak cukup memberiku kesempatan untuk mengatakannya. Walau beberapa kali aku mencoba. Aku seolah kehabisan kata-kata untuk berucap. Padahal jauh dari hati, ada banyak hal yang ingin aku katakan kepadanya. Tentang kegelisahanku. Tentang perasaanku. Tentang kerinduanku yang kian dalam tertancap pada hatiku. Tentang ketakutan-ketakutanku. Tentang kegalauanku. Tentang ketulusan dan tentang cintaku. Aku bisu. Aku menjadi orang yang sangat pendiam. Malam tentu saja tak akan pernah mampu menolak datangnya sang pagi.
***

Beberapa pagi dan senja berlalu dengan cepat. Kesibukan yang sedikit padat membuat komunikasiku dengannya menjadi sangat jarang. Lumayan lama aku tak bertatap muka dengannya. Apalagi di tempat kerjaku, ada posisi baru yang diamanahkan padaku. Aku menerimanya karena aku juga menginginkannya meskipun beban kerjanya sedikit bertambah. Tetapi itu tak masalah bagiku. Aku menjalaninya lagi-lagi karena cinta. Aku mencintai pekerjaanku.

Di sela-sela kesibukan kantor yang lumayan padat itu, aku sesekali menyapa lewat pesan via blackberry messenger atau via pesan facebook. Itupun hanya sekedar bertanya "Apa kabar?". Hanya itu saja. Aku menjadi dingin terhadap perasaanku sendiri. Apalagi ketika ketakutan-ketakutanku kembali menjadi onak yang menusuk dalam. Aku seolah terikat dengan kerinduanku sendiri. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku pasrah membiarkan segenap kerinduan itu menggerogoti hati dan pikiranku. Lalu tiba-tiba semuanya berubah. Benar-benar berubah. Kau memilih jalanmu untuk menemukan kebahagiaanmu.

Ada yang retak tentu saja. Ada yang tak biasa. Dan aku pernah mengalami hal tersebut beberapa tahun lalu walau tak terlalu parah. Tapi apapun itu, ada yang remuk sekali lagi. Aku merasakan kekosongan yang entah sampai kapan akan seperti ini. Niat dan tekad untuk mengungkapkan semuanya, mau tidak mau harus terkubur dalam-dalam. Berusaha menganggapnya tak pernah ada atau apapun untuk menghapusnya. Aku berusaha dengan banyak cara. Berdiskusi dengan diri sendiri dan menasehati diri sendiri juga pernah kucoba. Ini juga saran darimu dan aku yakin bisa melakukannya. Aku berusaha untuk tetap meyakinkan diriku bahwa semua akan baik-baik saja dan tak ada yang perlu dicemaskan. Aku pernah melewatinya sekali meski dengan terlunta-lunta. Aku jatuh. Tapi aku mampu bangkit meskipun tak sepenuhnya.

Dengan sebuah keyakinan dan support dari orang-orang yang dekat denganku membuatku bertekad untuk kembali menata kehidupanku. Setidaknya kehidupan yang dulu membuatku selalu bahagia, bisa tertawa lepas dan menikmati perihnya luka. Itu saja. Satu babak kehidupan kembali berlalu dan babak-babak kehidupan selanjutnya akan kujalani. Aku telah mempersiapkannya. Dengan banyaknya air mata, luka, pedih, dan pengalaman pahit.###


Gowa, 24 September 2014
Akhirnya mampu menuntaskannya!
Baca Lengkap »

Dua Januari

item-thumbnail
Pagi yang dingin. Jalan-jalan yang masih basah. Hari ini tetap saja seperti kemarin. Hujan. Meski hujan pagi ini tak sempat menjadi deras, tapi itu tetap saja membuatku basah ketika berangkat kerja. Aku berpikir, ini sebenarnya tidak ada hubungannya dengan apa yang ingin aku tuliskan. Aku sendiri belum tahu peris apa yang ingin aku tuliskan pagi ini. Ia hanya mengendap di kepalaku dan tak mampu aku tumpahkan. Dari semalam imajinasiku melanglang untuk menemukan sesuatu yang aku sendiri belum tahu. Aku hanya ingin menulis sesuatu. Dan yang kuingat hanyalah sebuah novel berjudul Infinitum karya Ahyar Anwar yang semalam selesai kubaca. Novel yang bercerita tentang realisme romantik untuk melawan kebenaran-kebenaran sentimental yang berkembang dalam masyarakat yang suka berpura-pura [hipokrit]. Mengisahkan kehidupan besar seseorang yang kadang berawal dari sebuah titik kecil dalam kenangannya. Inilah titik awal keinginanku untuk menulis setelah hampir setahun aku tak lagi pernah menuliskan sesuatu.
***
Seperti biasanya, di setip pagi ketika sampai di kantor aku langsung menyalakan komputer dan membiarkannya membuka jendelanya sendiri setelah dua hari kutinggalkan. Aku berjalan menuju sebuah tangga bagian belakang. Lagi-lagi seperti biasa, menghabiskan sebatang rokok sebelum memulai pekerjaan atau melanjutkan pekerjaan yang belum usai.

Hujan masih belum reda. Seraya menghisap dalam rokokku, aku menikmati genangan air di atas atap parkiran motor yang seolah memberikan isyarat tentang resahku. Agak lama hingga tak sadar jika rokokku sudah hampir habis. Rintiknya perlahan berkurang. Mungkin sebentar lagi hujan reda. Tapi aku belum juga bisa menemukan apa yang sebenarnya ingin aku tuliskan. Semakin dalam aku berpikir tentang apa yang ingin aku tuliskan itu.

Aku mengingat-ingat beberapa kalimat dalam novel yang semalam selesai kubaca. Tak banyak yang bisa kuingat. Maklum saja, saya orang yang pelupa. Apalagi banyak bahasa yang kadang tidak kumengerti maksudnya. 

“Manusia tak hanya bergerak dari satu waktu ke waktu yang lain, tetapi dari satu kisah menuju kisah yang lain. Tetapi tidak semua kisah bergerak meninggalkan waktu, kadang berputar kembali, dan melingkar kembali. Tidak semua pencarian berjalan ke depan, kadang sebuah pencarian harus berjalan ke belakang, menemukan masa depan pada kisah kenangan. Seperti sebuah musik yang mengalun mencari refrain kenangan. Seperti sebuah lagu yang bisa mengembalikan kita pada seutas kenangan yang berlalu. “

Kalimat-kalimat ini yang paling kuingat. Setidaknya, ini membawaku kembali mengingat banyaknya kenangan yang telah terlampaui dalam kehidupan. Kenangan yang tak pernah kusadari jika itu mungkin adalah jalan menuju masa depanku. Tentu saja tidak seperti yang kujalani kini. Aku seperti sedang dalam ketakutan mengakui kenangan-kenanganku sendiri. Seperti kalimat yang ditulis seniorku dalam komentar “statusku” di jejaring sosial. Katanya; aku harus berani mengatakan jika dia [seorang perempuan istimewah] adalah bagian kenangan perjalan cintaku yang memilih jalan kebebasannya.
Aku sepertinya memposisikan kenanganku dan kenangan seorang perempuan sebagai sesuatu yang kurang berharga sementara novel Infinitum telah memberikan pencerahan bahwa setiap kenangan memiliki nilai yang sama dan esensial dalam hidup manusia. Lagi-lagi ini adalah kalimat yang ditulis oleh seniorku itu. Ini yang perlu saya tanamkan dalam jiwaku karena jiwa itulah yang merasakan cinta. Dan juga kenangan-kenangan yang mengikutinya.

“Hidup sebenarnya adalah sekumpulan peristiwa yang mengantarkan dari satu pertemuan ke pertemuan lainnya, diselingi beberapa kemungkinan juga kepastian. Sebuah keputusan kecil bisa jadi mengubah takdir hidup ke arah yang benar-benar berbeda. Ada sejumlah kesedihan dan kesepian yang selalu terselip dengan bentuk yang berbeda, berserak di antara pertemuan-pertemuan, perpisahan-perpisahan, dalam kemungkinan bahkan kepastian.”

Ah, aku semakin lupa apa sebenarnya yang sejak semalam ingin aku tuliskan. Mungkin aku hanya perlu meyakinkan diriku sendiri bahwa kenangan-kenangan itu akan kembali berulang dan menikmati setiap kerinduan yang ada. Tentu saja dengan waktu yang berbeda. Seperti yang dilakukan Dewa, salah satu tokoh dalam novel itu.

Hujan, malam, kopi, dan sebuah misteri yang selalu tak tersingkap.


Graha Pena, 2 Januari 2014
Baca Lengkap »

Cerpen: "Karena Cintaku"

Oleh: Novita Sari

Aku tak pernah menyalahkan siapa-siapa atas apa yang menimpa diriku saat ini karena aku yakin, segala sesuatu yang terjadi pada diriku bukan karena siapa-siapa. Bukan karena dirimu tapi karena diriku sendiri. Seandainya aku lebih berhati-hati, ini tidak akan mungkin terjadi. Aku tidak ingin mengungkungmu dalam masalah ini, meskipun kamu yang melakukannya. Aku juga tak bisa memaksa kamu untuk mempertanggungjawabkan semuanya karena ini ulahku sendiri. Sekarang, biarkanlah aku pergi menjauh dari kehidupanmu. Membuang lara dan mengembara jauh darimu. Kuakui aku memang terluka. Namun, aku tak lagi memahami luka itu. Aku hanya bisa tersenyum dan berterima kasih. Karena kamu, aku bisa memahami luka itu dan menjadikannya indah. Semoga kau temukan bahagia setelah kepergianku”.

***
Hhmmm.... Perih yang terpatri dalam hati memang tak mudah untuk memahaminya. Namun Yuyun mampu menghadapi semua itu. Ia meninggalkan kotanya tanpa sepengetahuan kekasihnya. Ia pergi dengan segala harap jika semuanya akan menjadi lebih baik setelah kepergiaannya. Kepergiannya tanpa sepengetahuan siapa pun membuat orang-orang terdekatnya selalu mencari keberadaannya. Bahkan orang tuanya sekalipun tak pernah tahu kemana buah hatinya itu mengembara. Ini menjadi rahasia antara Tuhan dan Yuyun. Nono takjub dengan kepergian Yuyun.
***
“Aku tak ingin menjadi beban dalam hidupmu, No. Biarlah beban ini kutanggung sendiri. Jalanilah hidupmu seperti biasanya”. Setidaknya, inilah harapan Yuyun yang menjadi kalimat terakhirnya kepada Nono, orang terkasih dalam hati dan hidupnya.
Nono tidak mengerti apa yang sedang ada dalam pikiran Yuyun. Namun, Nono tetap tidak ingin melepas Yuyun begitu saja. Ia bersikeras memperjuangkan cintanya. Dan pada akhirnya, tak ada gunung yang tak hancur. Kegigihan Nono akhirnya membuat hati Yuyun luluh dalam dekapannya. Yuyun memutuskan untuk mengurungkan niatnya untuk beranjak pergi. Mereka sepakat untuk menghadapi badai nestapa yang melanda perjalanan kasih mereka bersama-sama. Meskipun mereka masih berstatus mahasiswa, namun Nono sudah cukup siap untuk mengarungi bahtera rumah tangganya bersama Yuyun. Setelah berdialog panjang mereka sepakat untuk melabuhkan cintanya di pelaminan.
Persiaan pernikahan direncanakan dengan matang. Orang tua mereka pun sudah merestui keputusan mereka. Sungguh beruntungnya Nono mendapatkan perempuan seperti Yuyun. Dan lebih beruntungnya lagi Yuyun mendapat laki-laki seperti Nono yang setia dan bertanggung jawab.
Tanggal dan hari untuk resepsi pernikahan telah ditentukan. Namun di balik semua kebahagiaan itu, Tuhan ternyata memiliki rencana yang lain. Apa boleh buat, manusia hanya berhak merencakan dan berusaha serta berdoa tetapi Tuhanlah yang mempunyai otoritas untuk menentukan segalanya. Semua sirna oleh tragedi yang menguras air mata. Dan lagi-lagi semua kembali kepada takdir. Manusia hanya bisa berencana dan yang menentukan semuanya adalah Tuhan. Baik menurut manusia belum tentu baik menurut-Nya.
Nono menganggap keputusan untuk menikahi Yuyun itulah yang terbaik. Namun ternyata Tuhan telah memilihkan mereka rencana yang lain. Tiga hari sebelum hari pernikahan mereka, Nono mengalami kecelakaan dalam perjalanan pulang ke kampung halamannya. Kecelakaan itu membuatnya tak bisa tertolong lagi. Tuhan lebih mencintainya. Yuyun kini kehilangan seseorang yang sangat dikasihinya. Semuanya kini tinggal bayangan dan harapan yang tak akan pernah terwujud.
***
Sepeninggal Nono, Yuyun mengalami pergejolakan batin yang sangat mendalam. Bayang-bayang Nono selalu saja menghampiri setiap lamunannya. Yuyun hidup bersama kenangan-kenangan indah yang mereka lalui semasa hidup Nono. Cinta dan kenangan itu membuat Nono selalu hidup di hati Yuyun dan seolah Nono selalu berada di sampingnya meskipun ia telah tiada. Yuyun tidak ingin menyakiti orang yang ingin menikahinya karena ingatan-ingatan tentang sang kekasih tidak juga padam. Meski banyak yang tidak percaya akan cinta sejati, tapi itulah kenyataannya. Yuyun tidak pernah bisa melupakan kekasih yang hampir saja menjadi imamnya. Cinta dan cinta. Itulah yang menjadi sebabnya.
Setelah kepergian Nono, tidak sedikit orang datang melamar Yuyun, namun ia tetap bersih teguh pada pendiriannya. Yuyun sudah berkomitmen dengan dirinya sendiri, ia tak akan berlabuh kepelaminan jika bukan bersama Nono. Yuyun hanya menjalani hari-harinya bersama kenangan-kenangan yang telah ia lalui bersama Nono. Ia bertekad menjalani hidupnya seperti itu hingga masa tua menghampiri dan Tuhan mengizinkannya untuk menyusul kekasihnya. Yuyun tidak mau menikah dengan laki-laki lain. Alasannya tidaklah rumit. Selain karena cintanya kepada Nono, ia juga tidak ingin laki-laki yang akan menikahinya mendapatkan gadis yang tidak suci lagi.
Jika kita tak berjodoh di dunia, kuharap Tuhan menjodohkan kita di akhirat kelak”…………

Makassar, ……. 2013
Ditulis ditanggal yang tak pernah hilang dengan segala kenangan.
Baca Lengkap »

Dari Kumpulan Cerpen (Menawar Cinta): Orang-Orang Sawah

item-thumbnail
Oleh: Muh. Nurfajrin

Di bawah kepingan senja, kebisuan dan aliran detak waktu cumbui rongga kepiluan. Resah yang telah menggema dalam titipan muara yang begitu buram, bisikan angin malam menghiasi ruang-ruang hidup. Kini sepi menggalau kegelisahan batin dan raga. Seribu malam telah terlewati mengaung dalam penderitaan, tetap kutelusuri badai topan yang terus menyapaku, kutetap menatap sang rembulan di bawah atap kesengsaraan.
Di tepi senja, mentari pagi telah menyapaku kian merona warna pelangi dan Edi mulai terbangun dalam panggilan derasnya hujan. Dengan melirik jam dingdingku yang terus bernyanyi. Kini waktu telah menyambut, tak lama kemudian Edi menyiapkan  kain dengan warna kemerah-merahan menuju meja makan yang telah disiapkan ibu tercinta. Ibu berkata,
"Nak, setelah makan kamu pergi ke sawah membawakan bekal buat ayahmu! Sampai saat ini ayahmu belum juga pulang." Kata ibunya.
"Iya bu!", ucap Edi.
Dengan asyiknya dan rasa puas dengan makanan yang begitu lesat dan bergizi Edi pun berangkat ke sawah dengan kantongan berisikan makanan buat Ayahnya.
Seiring pancaran matahari membayangi langkahnya. Edi terus berjalan menelusuri petakan-petakan sawah. Cukup melelahkan juga. Di tengah sandaran jalan ia temukan sebuah dompet berisikan uang lima puluh ribu dan beberpa surat-surat berharga lainnya. Edi pun menyerahkan dompet itu kepada ayahnya dan berkata.
"Ayah, aku menemukan dompet di jalan!" ucap Edi kepada ayahnya.
"Apa? Dompet?" Jawab ayahnya heran.
"Iya, aku temukan dompet ini di jalan."
Sang ayah pun mengambil dompet di tangan anak yang mengantarkan bekal untuknya.
"Kalau begitu, kita simpan dulu," ucap ayahnya lagi. "Siapa tahu besok ada orang yang mencari dompetnya."
"Iya ayah. Kalau begitu ayah makan dulu, biar Edi yang gantikan bekerja."
Di bawah sinar petang yang mencumbui Edi. Semangatnya begitu luar biasa serta senyuman bersama sawahnya.
Sampul Buku Kumpulan Cerpen "Menawar Cinta"
Kini malam mulai menyapa dengan taburan bintang-bintang di naungi pancaran sang rembulan yang begitu menggema, langkah kaki terus menjilati tanah menuju rumahku bersama ayah tercinta. Sang Ibu menyambut kedatangan kami dengan sebuah senyuman manis. Suara adzan pun mengalun begitu merdu dan indah.
Edi berpikir sejenak tentang keluarganya yang tiap hari meneteskan keringat demi kebutuhan hidup mereka. Ingin rasanya kudaki dunia dan mungkin sudah saatnya aku terbangun dan berusaha menjadi baik dan lebih baik lagi di mata keluargaku. Kucoba imajinasikan diri dari sudut ruang-ruang kehidupan memiliki rumah yang besar dan mobil mewah dengan halaman rumah yang cukup luas dihiasi dengan bunga-bunga yang cantik dan wangi semerbak.
Malam kian tenggelam dengan berselimut dingin, angin sepoi-sepoi seiring nada sumbang mengalun di atap rumahku. Kini saatnya kurajut impian dan menanti sang fajar yang bertahta sesat lagi.
Mentari pagi telah membasahi raut wajahku yang begitu hangat dalam penantian. Edi pun bangun dan bertasbih, berzikir serta berdoa kepada pemilik alam semesta. Tepat pukul 07.30 terdengarlah suara ketukan dari balik pintu rumahku. Tok...tok...tok...!!!
            "Siapa???" teriak Edi menanyakan siap gerangan yang mengetuk pintu.
            Dengan rasa semangatnya, Edi pun membuka pintu. Edi kaget melihat orang itu. Cara berpakaiannya sangat rapi.
            "Pasti bapak ini orang kaya," gumamnya. "Silahkan masuk pak!"
            Setelah mempersilahkan duduk, Edi pun melangkah menuju kamar ayahnya. Dengan percakapan yang begitu asyik antara si Ayah dan si tamu, padahal tak sadarkan diri kalau si tamu itu ingin menanyakan, apakah di rumah ini ada yang menemukan dompet.
            Edi yang lagi menguping, kaget mendengar penjelasan dari si bapak itu.
Pembicaran ayah dengan tamu itu sudah berlangsung beberapa lama. Dan ditambah dengan segelas air manis dan segumpal terigu kering yang telah di anyam, sang tamu pun mengutarakan maksud kedatangannya ke rumah Edi. Akhirnya ayah pun berdiri menuju ke kamar mengambil dompet itu. Dengan sebuah kejujuran dan keinginan hati, siayah pun memberikan dompet itu kepada pemiliknya tanpa ada yang kurang sepeser pun.
            "Terima kasih banyak pak atas kejujuran Anda dan keinginan hati bapak untuk mengembalikan dompet ini karena di dalam dompet ini berisikan barang-barang yang begitu banyak dan berharga. Jadi, sebagi tanda terima kasih saya terhadap keluarga ini saya akan memberikan hadiah, sepeda motor buat anak bapak  dan uang satu juta untuk kebutuhan hidup keluarga bapak. Itu sebagai jasa bapak kepada saya. Saya tidak bisa membayangkan kalau orang lain yang menemukannya, mungkin orang itu tidak mau mengembalikannya.  Ternyata di daerah ini, masih ada orang jujur dan baik seperti bapak."
             Kegembiran keluarga Edi begitu jelas terlihat di raut wajah mereka. Meski sedikit  terkejut setelah mendengar perkataan dari siBapak itu. Pagi yang begitu indah yang tidak mampu digambarkan oleh keluarga Edi dengan kata-kata. Dengan senyuman mentari pagi yang menyapa, rasa syukur pun mereka lantunkan atas reski yang mereka terima. Sebuah kejujuran dan ketulusan hati mereka dapat memberikan rahmat dan kebahagiaan yang tak pernah kita pikirkan. ###
Baca Lengkap »

Guru Bukan GURU

Karya: Kusuma Jaya Bulu

Kendatipun kabar hujan turun d ibawah awan sejak pagi lelaki berseragam GURU itu tetap saja melanjutkan perjalanannya. Ia bernama Rasyid, sesuai ejaan yang tertera di papan nama sebelah kanan dadanya.Keluarga sederhana dan hidup dalam rumah tangga yang juga sederhana. Semuanya serba sederhana, bahkan lelaki yang beranak dua itu punya cita-cita yang sangat sederhana, GURU! Tapi, bukan guru. Baju seragam berwarna hijau bermerek linmas tampak mulai pudar akibat disengat matahari, sepatu hitam yang dibersihkan dengan kain basah setiap pagi sudah akrab dengan debu dan kacamata berlensa tebal sangat cocok dengan sepeda ontel miliknya.

Rasyid sangat akrab dengan anak didiknya. Terkadang di sisa mata pelajaran,  bersalaman adalah hal yang dianggap penting baginya.
***

Rapat di hari Senin pukul sebelas, pembagian jam mata pelajaran mulai dibacakan oleh pihak yang bertugas dikurikulum. Wajah para GURU mulai pasang strategi dan raut muka seorang guru tampak was-was.
“Pak Rasyid, hati-hati piring pecah!”
“Betul pak Lukman. Sudah piring plastik, terbelah lagi” jawab Rasyid yang membalas lelucon seorang guru yang berada di dekatnya.

Perdebatan tiba-tiba mulai terjadi. Terdengar mereka saling senggol-senggolan lidah. Angka dua puluh empat! Harus dua puluh empat jangan di bawah dua puluh empat. pokoknya semua mau dua puluh empat! Padahal para guru, telah melintas piring pecah sudah bertabrakan dengan harga beras yang masih mahal. Para GURU saling memicingkan matanya. Yang duduk di bangku sebelah kanan sedang sibuk menelpon tetangga untuk dicarikan angka dua puluh empat. Paling depan sebelah kiri asyik kirim sms ke beberapa kepala sekolah untuk dicukupkan dua puluh empat.

“Kami minta maaf kepada para GURU apabila tidak mendapatkan angka dua puluh empat. Karena banyak juga guru yang ingin mengabdikan dirinya”

“Utamakan GURU, jangan dulu bahas guru dong!” Sedikit Bu Lastri membatin.

Rapat belum selesai, akan tetapi sebahagian GURU sudah berdiri meninggalkan ruangan. Sedangkan, guru masih sibuk memperbaiki piring yang sudah mulai retak.
***

Rumah tampak mulai sepi. Daun hanya bisa menggoyangkan pinggulnya dengan sisa angin senja. Rasyid terlihat paling sudut di rumahnya menghitung bintang yang setiap malam tak pernah selesai. Pantulan bulan bertengger pada ranting-ranting kayu kering yang terletak depan rumah Rasyid. Diajak khayalannya sedikit bergeser ke masa akan datang. Tapi, Rasyid belum bisa menemukan sesuatu yang pasti….
Baca Lengkap »

Cerpen: Perempuan Selain Istriku

item-thumbnail
Namaku Amran. Aku berumur 30 tahun dan telah beristri serta mempunyai seorang anak lelaki yang gagah. Aku bekerja sebagai wartawan lapangan di sebuah media surat kabar di kotaku.
Suatu hari di tengah kesibukanku. Tiba-tiba dering handphone milikku berbunyi. Sejenak kuperhatikan nomor tanpa nama yang memanggil di nomorku lalu telpon kuangkat.
“Halo!”
“Assalamualaikum. Dengan kak Amran?”, katanya.
Dari suaranya telah kukenali jika yang menelpon itu adalah seorang perempuan.Itu sudah pasti karena yang kudengar adalah suara perempuan dan telingaku tidak sedang tuli.
“Iya, betul. Ini dengan siapa?”, tanyaku penasaran.
Setelah sedikit berbasa-basi dan mengatakan maksud perempuan itu menelfonku, pembicaraan pun kami akhiri.
Tut… tut… tut……….
***
Foto anaknya orang ... Hehehe.. Maaf ya!
 
Hari ini adalah waktu yang kami sepakati bersama untuk bertemu. Kupacu sepeda motor honda Beat milikku. Aku menyusuri jalan beraspal dan begitu terik hingga kulitku terasa terbakar walau jaket yang kupakai sangat tebal. Tempatnya berada di sebelah selatan kota tempat tinggalku. Perjalanannya lumayan jauh. Hampir dua jam aku berjuang dengan keringat yang sedikit membasahi bajuku bagian dalam. Aku tiba di tempat tujuan. Seorang perempuan muda berparas cantik berseragam pegawai negeri dengan senyumnya yang juga menawan berjalan mendekatiku. Benar-benar anggun.
“Kak Amran?”, suaranya yang begitu lembut menyambut kedatanganku.
Perempuan itu mengulurkan tangannya. Kubuka sarung tangan dan menyambut salam darinya. Tangannya begitu halus. Lembut.
“Iya”, kujawab singkat saja sesuai pertanyaannya.
“Selamat datang di tempat kami. Saya Dewi yang pernah menelfon meminta kakak datang ke sini”.
Ternyata perempuan yang menelfon seminggu lalu seorang perempuan muda dan cantik. Mungkin seumuran dengan istriku. Aku lalu diajak bertemu dengan pimpinannya dan beberapa orang yang bersangkutan dengan persiapan kegiatan di tempat ini nanti.
***
Tak terasa waktu telah berlalu. Tiga minggu terakhir ini menjadi waktu yang terasa lama sejak pertemuanku dengan Dewi. Aku mungkin telah kerasukan setan. Padahal, beberapa waktu terakhir ini, aku tak pernah merasakan kesepian yang teramat. Mungkin karena aku tinggal sendiri di rumah mungil yang kubeli setahun lalu. Istri dan anakku harus tinggal di rumah mertuaku karena tuntutan tugas yang mengharuskan kami berpisah meski bukan dalam rentang waktu yang lama. Sebulan sekali dan kadang dua kali sebulan kalau sedang ada waktu kosong, aku berkunjung ke rumah orang tuanya untuk melepas rindu dengan istri dan anakku. Untuk sementara waktu harus seperti ini, sambil menunggu surat pindah tugasnya ke kotaku.
Kini aku mempunyai kesibukan baru dengan membalas semua sms dan menerima telpon dari Dewi. Ketika menelpon, waktunya kadang begitu lama hanya ingin mendengar gurauan dan omong kosong atau sekedar berbincang lepas denganku. Setidaknya begitu yang sering dia katakan ketika menelpon.
Dua bulan ini, aku tak punya cukup waktu untuk mengunjungi istriku. Liburnya hanya hari minggu saja. Itupun hanya untuk menyelesaikan persipan kegiatan di tempat kerja Dewi. Karena itu pula, aku keseringan bertemu dengannya. Apalagi Dewi adalah koordinator persiapan pelaksanaan kegiatan itu. Sesekali dia mengajak makan siang atau makan malam bersama. Dari beberapa pertemuan itu, aku tahu jika dia adalah seorang yang suka humor.
Satu minggu ini adalah hari liburnya. Dewi yang juga punya rumah di kotaku berlibur di sana. Kesempatan ini yang membuat aku dan dia setiap hari bertemu. Dewi selalu menungguku di jalan keluar tempat kerjaku. Mengajakku mengunjungi beberapa tempat rekreasi dan tempat-tempat makan yang menurut orang, tempat itu mempunyai masakan yang sangat enak. Aku semakin dekat dengannya. Beberapa hari berlalu. Dari gerak dan cara bicaranya, aku bisa menebak jika dia memiliki perasaan lain terhadapku. Mungkin cinta. Beberapa waktu, aku lupa kalau ada istri dan anakku yang sedang merindukanku.
***
Besok adalah hari terakhir liburannya. Hari itu, Dewi tidak datang dan menunggu di tempat kerjaku karena ada urusan yang harus dia selesaikan sebelum kembali ke daerah tempat kerjanya. Kami hanya janjian bertemu malamnya di sebuah tempat makan yang menjadi tempat favorit kami. Dengan wajah yang sedikit ceria, aku menuju tempat yang kami maksud. Dari luar, kulihat Dewi sedang duduk menunggu. Seorang anak perempuan duduk di sampingnya. Aku duduk di dekatnya.
“Ini anak siapa?”, aku bertanya dan ingin segera mengetahui siapa yang duduk di dekatnya. Dia tak menjawab. Aku mengerutkan keningku. Tidak biasanya dia seperti ini, kataku dalam hati.
“Anakmu?”, tanyaku lagi dengan sedikit bercanda seperti biasanya.
“Iya”, jawabnya singkat.
Kagetnya aku. Aku tak menyangka , jika anak kecil itu adalah anaknya. Aku percaya tidak percaya dengan apa yang kusaksikan malamini. Dia tidak pernah menceritakan jika telah bersuami dan memiliki seorang putri. Aku sakit hati atau kecewa? Entahlah. Aku tak sempat menyimpannya lama-lama dalam hati. Toh, aku sadar jika akupun sudah tak sendiri lagi. Ada istri dan anakku meski Dewi tak pernah kuberitahu hal ini. Kutatap anak perempuan yang tengah asyik memainkan bonekanya. Perempuan mungil itu mungkin berumur tiga atau empat tahun. Ah, anak itu begitu cantik, secantik ibunya.
Makan malam itu menjadi malam terpahit buatku minggu ini. Mungkin juga buat Dewi. Benar-benar malam yang tak pernah terduga akan seperti ini jadinya.
“Besok aku pulang”, katanya pelan.
“Iya”, hanya itu yang bisa kujawab. Tidak banyak yang kami bicarakan malam itu hingga waktu untuk berpisah mengajak kami meninggalkan tempat makan itu.
Sejak perpisahan itu, aku tak pernah lagi menghubunginya meski dia beberapa kali mencoba untuk menelfon. Aku merasa sangat berdosa kepada istri dan anakku. Hubunganku terputus dengan Dewi sejak saat itu. Aku memutuskan mengambil cuti dan menyenangkan diri di tempat mertuaku. Aku ingin menebus kesalahan yang telah kuperbuat terhadap istri dan anakku, meskipun mereka tak pernah tahu apa yang terjadi.

Makassar, 28 Agustus 2012
Kuselesaikan saat malam meninggalkan mimpiku
dalam gelapnya. Seperti biasa, aku tak bisa tidur. 
Baca Lengkap »

Cerpen: Tempat-Tempat Yang Kulalui

item-thumbnail

Sore tadi. Tanpa rencana, aku dan dua orang teman sepakat untuk berbuka puasa bareng di Pantai Losari. Tempat yang telah lama tidak kami singgahi. Sekedar untuk menikmati sunset ataukah sekedar mencari sesuatu yang mungkin saja bisa kami jadikan sebagai bekal dalam tulisan. Entah itu puisi ataupun cerpen.

Jam sudah menunjukkan pukul 17.35. Sebentar lagi waktu berbuka puasa. Tanpa membawa bekal apa-apa untuk buka puasa, kamipun berangkat melewati jalan yang seolah tak lagi muat dengan begitu banyak kendaraan yang berlalu lalang. Di sana sini terkena kemacetan. Sementara perjalanan dari tempat tinggalku menuju pantai Losari biasanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit. Itupun kalau sedikit ngebut dan tidak macet. Aku berencana mengabadikan matahari terbenam sore ini dengan handycam yang kubawa. Sudah lama aku tak melihat matahari berpamitan pada kota ini di balik samudera di Losari.

Laju motor tidak terlalu kencang karena kendaraan sore ini berdesak-desakan mengantri melewati jalan yang juga tak terlalu lebar untuk jalan dengan dua jalur. Kulirik lagi jam tanganku. Waktu begitu cepat meninggalkan kami. Aku mulai cemas memikirkan keinginanku tadi. Menikmati sunset.

Di tengah-tengah kecemasan itu, pandanganku tiba-tiba dialihkan oleh satu sosok yang sedang duduk di trotoar jalan. Entah apa yang dilakukannya. Aku tidak tahu karena dia duduk membelakangi jalan raya. Seorang lelaki dengan sebuah kamera di tangan kanannya sedang memotretnya, namun sosok itu tetap asik dengan dirinya sendiri. Aku sedikit penasaran lalu kuperhatikan dengan seksama. Ah, rupanya dia adalah orang gila yang selalu lewat depan rumahku. Aku mengenali persis pakaiannya yang lusuh dan compang camping. Aku yakin dia tak pernah menggantinya. Seingatku, pakaian yang dia gunakan hari ini masih sama seperti ketika pertama kali aku melihatnya. Tepatnya awal-awal tahun ini. Aku sering bertanya-tanya dalam hatiku sendiri. Kemana keluarganya? Mengapa dia ditelantarkan begitu saja. Meskipun gila, tapi dia kan manusia juga.

Waktu semakin bergegas berlalu. Perlahan orang gila tadi telah jauh menjarak dan tak terlihat lagi karena terhalang kendaraan yang juga sedang mengantri di belakang motor yamaha mio berwarna merah yang kukendarai. Aku kembali teringat sunset sore ini. Pasti sangat indah. Apalagi cuaca sedang cerah dan tak berkabut seperti asap kendaraan dan debu yang beterbangan di jalan ini. Kuminta kepada teman yang memboncengku untuk menambah kecepatan. Tanpa menjawab, dia langsung tancap gas melewati kendaraan-kendaraan yang terjebak macet.

Di pertengahan perjalanan, tepatnya di perempatan dengan lampu merah yang sedang menyala. Sebuah mobil avanza silver berhenti menunggu lampu berubah menjadi warna hijau. Yang tidak aku mengerti adalah, mengapa mobil ini berhenti padahal lampu weser kirinya menyala. Sementara di tiang lampu merah tersebut jelas-jelas tertulis “Belok kiri langsung”. Apakah sopir mobil ini tidak bisa membaca ataukah tidak mengerti dengan tulisan itu? Lalu, bagaimana caranya saat ambil SIM ya. Kan ada tes drive-nya. Aku semakin bingung memikirkan semua itu.

Kembali kulirik jam di tanganku. “Sial, aku pasti tidak sempat lagi melihat matahari terbenam”, kataku dalam hati. Sepuluh menit lagi jam menunjukkan pukul 18.00. Matahari sebentar lagi tak terlihat. Kembali kuingatkan kepada temanku untuk mempercepat laju motornya. Meski belum sampai ke tempat yang ingin aku tuju, aku sudah sedikit merasa kecewa karena sudah kuperkirakan tidak sempat lagi melihat dan mengabadikan sunset hari ini.

Laju motor semakin cepat dan akhirnya sampai juga di pantai Losari. Namun matahari ternyata sudah tak terlihat lagi. Aku hanya melihat pantulan-pantulan cahayanya yang kemerah-merahan. Benar-benar aku tak bisa menikmatinya. Apalagi biaya tempat parker motor yang tak wajar lagi. Aku tak menyangka kalau untuk parker motor saja bisa sampai 10 ribu rupiah, tanpa karcis pula. “Ini tempat parker resmi ataukah illegal?”, aku kembali bergumam.

Pantai Losari di sore hati.... Indah!

 Selain perasaan kecewa karena tak bisa menikmati sunset sore ini, perasaan aneh dan ganjil pun datang juga memenuhi pikiranku. Aku baru melihat kalau ternyata ada sebuah mesjid cantik yang dibangun di sana. Sebuah mesjid di atas permukaan air laut. Yang membuat ganjil karena seharusnya mesjid itu dijadikan tempat untuk beribadah, malah digunakan sebagai tempat pacaran. “Apa fungsi mesjid sudah berubah?”.

Aku hanya menebak-nebak saja, toh aku tidak pernah bertanya kepada mereka. Sedang pacaran atau tidak. Aku hanya melihat dari gerak-gerik mereka dan bisa kupastikan jika mereka sedang pacaran. Aku sedikit banyak mengenal gaya pacaran kebanyakan orang, apalagi sedang berada di sana. Di pantai itu. Bukan aku sok suci ataupun munafik, tapi tempat itu adalah tempat ibadah. Tempat suci untuk menghadap kepada sang Pencipta, bukan tempat pacaran. Apalagi sambil berpegangan tangan dan hampir berpelukan. Sungguh pemandangan yang membuatku berpikir jika tempat itu dibangun bukan sematap-mata untuk beribadah tapi juga tempat untuk berbuat maksiat. Astagfirullah. Di bulan Ramadhan ini, seharusnya kita tidak berbuat demikian. Tapi kenyataannya, masih banyak saja yang seperti itu. Entah apa yang mereka pikirkan.

Aku jadi tak betah tinggal lama-lama. Bukan karena gaya pacaran tadi, tapi karena tempat ibadah yang mereka tempati untuk melakuka aktivitas yang tak semestinya. Setelah berbuka puasa dan menghabiskan sebatang rokok. Kamipun kembali ke rumah.

Makassar, 14 Agustus 2012

Baca Lengkap »

Cerpen: Kekasih-Kekasih

item-thumbnail
Karya: Salmawati "Ndeng"


Di balik jendela rumahku yang tak berkaca. Kutemui matahari pagi tersenyum padaku seraya awan pamit terusik oleh burung kecil dengan tarian di atas tangkai-tangkai yang barusan bergaun air hujan semalaman. Aku belum beranjak dari tempatku, seseorang memanggil namaku dari balik kamar.
"lma......!"                                                             
"Ada apa?” Jawabku.
"Ima, tolong bapak nak”
Suara itu adalah suara lelaki yang telah membesarkanku. Tanpa menunggu lama aku meninggalkan pemandangan pagi itu. Aku tak mendengar lagi cerita burung pada matahari terbit pagi itu.
"Kenapa Pak?”
"Tubuhku sangat terasa dingin Nak”
Selimut yang tidak terlipat rapi di sampingnya Iangsung aku tarik dan menutupi tubuhnya. Matanya menatap sayup padaku. Seiring air rnatanya mengalir mewakili seribu bahasa yang ingin diungkapkan. Aku sentuh kesepuluh jari-jari kakinya. Dingin, ya sampai pergelangan kakinya terasa kurang bersahabat.
"Nak, tubuh Bapak terasa sakit”
"Sakit?"
"Yah, entahlah Bapak merasakan seribu rasa rnenjalar pada tiap lekuk tubuhku"
Tak lama kemudian, tuhuhnya kaku dan tak bisa digerakkan. Matanya dipejamkan mencoba melawan dingin dan rasa ngilu dil tubuhnya yang kian rnenjadi-jadi.
"Ima, tolong panggilkan Ibumu nak. Bapak tidak tahan lagi"
"Baik Pak, aku akan segera memanggil ibu”
"Jangan lama yah?”
"Baik Pak!”
Air mataku menetes mengiringi langkah menemui ibuku di depan rumah.
“Bu! Bapak bu!”
“Ada apa Nak?"
“Bapak!!!"
“Iya, kenapa bapakmu Nak?”
Belum aku jawab, tiba-tiba ibu meninggalkanku dan bergegas menemui bapakku dengan tergesa-gesa.
"Apakah kamu baik-baik saja?” Tanya ibu kepada bapakku.
Hanya tubuhnya yang kian menggigil dengan suhu tubuh yang panas. Bibirnya pucat, tak memberikan sepeserpun jawaban dari pertanyaan yang baru dilontarakan ibuku. Aku tak hanya berdiam diri. Tanganku kuletakkan pelan di atas pundak Ibuku lalu mencoba untuk merayu nuraninya yang kelam.
"Bu, sebaiknya bapak dibawa ke rumah sakit saja karena aku takut panasnya kian menjadi-jadi”
"Betul nak."
Tubuh pak Sudarso dibawanya ke rumah sakit dengan kendaraan umum yang sempat melintas di depan rumahnya. Namun sesampainya di sana, seorang suster mencoba memberikan penjelasan.
"Maaf bu, dokter tidak datang,”
"Kami rencana untuk rnengopname dan kuharap suamiku secepatnya mendapatkan pertolongan.” Ucap ibuku pada suster yang kami temui.
Tak lama kemudian dokter Kudus Paulus Al Hangus Bin Taurus bertubuh kurus dan kulit yang tak mulus datang tapi hanya memberikan resep saja. Tiga hari kemudian penyakit bapakku belum juga sembuh sedangkan, sms plus telepon dari pacarku selalu berdering dengan irama yang sama. Lelaki itu memintaku ikut dalam kegiatan lembaga yang digelutinya.
“Apakah aku harus meninggalkan bapakku yang masih terbaring? Atau haruskah aku mengekori langkah rinduku menemui kak Abe’?”
Pertanyaan itu selalu saja hadir sebelum dan sesudah air mataku berpapasan dengan kebisuan waktu. Ragu selalu datang dan akhimya kami bertekad untuk membawa bapak ke rumah sakit yang lain. Belum juga tali infus melekat di pergelangan bapakku, ucapan salam dari seseorang yang sangat dekat denganku datang melambung senja yang belum bersolek.
“Halo, apakah kamu baik-baik saja?"
“Kamu bersama siapa?”
“Ria, putri jomblo dan irma”
“Oh ya, bukankah kalian akan berangkat bersama rombongan untuk bakti sosial di Bikeru?” tanyaku pada Ria dan Irma.
"Kurasa tidak, lagian kami ingin menemani menjaga bapakmu.”
Perkataan itu disertai anggukan manis dari Ria dan Irma yang Iebih dulu menemuiku. Kebahagiaanku tak bisa aku lukiskan dengan sederet kata. Mereka memang sahabatku, saudara yang tak sempat bersamaku dalam rahim ibuku. Malam kami habiskan dengan curhat-curhatan. Pangeran yang mendampingi kami tak lupa juga diperbincangkan, tentu kak Abe' dan kanda Rian. Meski aku sadari kalau Irma harus bersain dengan empat perempuan. Yah, katakanlah Hela, Ine, Andil dan Wiwik. Sedangkan untuk Ria hanya menceritakan kisah anak-anaknya.
Akan tetapi, bumi belum juga berganti kulit ketiga, sahabatku itu pamit padaku. Aku tercengan. Rasa sedih dan kegalauan seketika datang rnenggorogoti hati kecilku yang baru memujinya. Entahlah, kini aku bersama adik dan ibuku mengapit tubuh bapakku. Namun, aku patut mensyukuri karena lelaki yang memintaku untuk ikut bersamanya memahamiku. Hingga akhirnya, beberapa hari kemudian karni sekeIuarga pulang mengikuti anjuran dokter. Walau terkadang aku tak bisa memahami bila usia kata tak terbilang seribu detik atau mungkinkah Tuhan membisikkan sesuatu pada perjaIananku musim ini? Ah, kurasa mereka adalah kekasih-kekasihku. ###

Ini dia foto penulisnya
Baca Lengkap »
Older Posts
Home