IAN KONJO: Ragam

Puisi: Orang-Orang Miskin (W. S Rendra)

Puisi: Orang-Orang Miskin (W. S Rendra)
Puisi: Orang-Orang Miskin (W. S Rendra)

Orang-orang miskin di jalan,
yang tinggal di dalam selokan,
yang kalah di dalam pergulatan,
yang diledek oleh impian,
janganlah mereka ditinggalkan.

Angin membawa bau baju mereka.
Rambut mereka melekat di bulan purnama.
Wanita-wanita bunting berbaris di cakrawala,
mengandung buah jalan raya.

Orang-orang miskin. Orang-orang berdosa.
Bayi gelap dalam batin. Rumput dan lumut jalan raya.
Tak bisa kamu abaikan.

Bila kamu remehkan mereka,
di jalan kamu akan diburu bayangan.
Tidurmu akan penuh igauan,
dan bahasa anak-anakmu sukar kamu terka.

Jangan kamu bilang negara ini kaya
karena orang-orang berkembang di kota dan di desa.
Jangan kamu bilang dirimu kaya
bila tetanggamu memakan bangkai kucingnya.
Lambang negara ini mestinya trompah dan blacu.
Dan perlu diusulkan
agar ketemu presiden tak perlu berdasi seperti Belanda.
Dan tentara di jalan jangan bebas memukul mahasiswa.

Orang-orang miskin di jalan

masuk ke dalam tidur malammu.
Perempuan-perempuan bunga raya
menyuapi putra-putramu.
Tangan-tangan kotor dari jalanan
meraba-raba kaca jendelamu.
Mereka tak bisa kamu biarkan.

Jumlah mereka tak bisa kamu mistik menjadi nol.
Mereka akan menjadi pertanyaan
yang mencegat ideologimu.
Gigi mereka yang kuning
akan meringis di muka agamamu.
Kuman-kuman sipilis dan tbc dari gang-gang gelap
akan hinggap di gorden presidenan
dan buku programma gedung kesenian.

Orang-orang miskin berbaris sepanjang sejarah,
bagai udara panas yang selalu ada,
bagai gerimis yang selalu membayang.
Orang-orang miskin mengangkat pisau-pisau
tertuju ke dada kita,
atau ke dada mereka sendiri.

O, kenangkanlah:
orang-orang miskin
juga berasal dari kemah Ibrahim


Yogya, 4 Pebruari 1978
Potret Pembangunan dalam Puisi

Video pembacaan puisi ini bisa ditonton di bawah!

Puisi-Puisi Karya Asdar Muis RMS

Puisi-Puisi Karya Asdar Muis RMS
Puisi-Puisi Karya Asdar Muis RMS

Tuhan, Aku Cari Kau

saat bumi hangus
dagingku amis terbakar
aku mengendap terkoyak
mencari Tuhan
di antara puing menganga
mencari disela potongan mayat
mencari dimana-mana
tak ada!
tak kucari, Dia datang
memandang marah padaku
aku tantang. Dia tertawa
aku panggil, Dia enggan
lalu pergi
aku terperangah ketakutan
saat bumi hancur
daging amisku dijilati anjing
aku memeluknya erat
bersama mengendap mencari Tuhan!

Makassar, 9 Juli 1987


Bejatku, Bejat-Bejat

adakah kata lebih nikmat kutelan
bila jiwaku keropos menghadapi-Mu
hanya kata bejat menari-nari di benak
pun perjalanan bergumul nanah
kehidupan
kembali bermain-main di batin
pun beragam cakaran mencengkeram diri
tak mampu lepaskan ketakutan pada-Mu
bejat ... bejat…
kata itu nikmat, kurasa belenggu putus
bejatku, nanah menetes dari pori-pori
bejat-bejat, kehidupan tak ingin akhir
bejatku, kurasa lepas dari akhir
kini, berbekal keropos
aku beranikan diri datang pada-Mu
aku pun siap Kau teriak: Bejat!

Makassar, awal Maret 1992

Penulis Buku dan Penjual Produk Online serta Seorang Tukang Laundry

Penulis Buku dan Penjual Produk Online serta Seorang Tukang Laundry
Penulis Buku dan Penjual Produk Online serta Seorang Tukang Laundry

Bayangkan, beranda media sosial kita dipenuhi status penawaran berbagai macam produk kendaraan, kecantikan, kesehatan, coutank, cawat, anti bau badan, sepatu, sandal, bio seven, minyak kutus-kutus, berbagai merek baju dan celana, berbagai macam jenis dan pola reseller, peninggi dan penurun berat badan dan sebagainya.

Produk dan pola dagang yang demikian tentunya kita mesti apresiasi dengan baik dan jika perlu membantu mereka berdagang halal. Impossible jika jualan itu melintas di beranda kita, lalu kita meminta satu dengan gratis.

Tentu ini menarik ditelisik lebih jauh. Tidak enak hati jika meminta gratis produk mereka kan? Banyak di antara mereka menjadikan berdagang OL ini sebagai pekerjaan utama untuk jalan rezekinya.

Bayangkanlah seorang penulis, sebagai macam rupa penulis yang memang hanya hidup dari menulis dan menjual bukunya sebagai jalan rezekinya, jika dia bertandang ke sebuah cafe atau restaurant, percayalah, kita merasa tidak enak jika tidak membayarnya, malah wajib membayarnya. Penulis wajib membayar dan sebagai teman, biasanya, pemilik cafe akan meminta buku gratis dari penulis. (Semoga analogi ini dipahami, bukan mendiskreditkan kawan saya yang pengusaha).

Anda akan ditawari beragam produk di beranda media sosial. Tapi, biasanya pedagang online-nya akan meminta buku secara gratis. Tapi tidak gratis untuk produk mereka. (Adil kan?)

Begitu banyak penulis yang mengeluh kepada saya terkait situasi yang sesungguhnya saya mengalaminya juga. Tapi, tidak melulu demikian. Saya juga harus mengakui bahwa dalam situasi tertentu, saya menghadiahkan (sunnah) buku tersebut kepada orang tertentu. Tapi, sebagai gambaran nasib dan pembelaan terhadap penulis, saya mencoba menuliskan ini.

Dua hari silam, saya mengantarkan buku pesanan ke sebuah perusahaan laundry milik @Ilham Daeng Tutu, Pohon Laundry, Jalan Daeng Tata 1 Makassar. Seingatku, sejak lama, dia kerap mengapresiasi karya sastra. Saat memberikan buku itu, dia menjabat tangan saya dan berkata; "Bang, saya membeli buku abang sebagai warisan untuk anak saya di rumah. Bahwa, jika kelak telah dewasa, cari penulis buku ini."

Ilham, sahabat saya itu menjelaskan usahanya, bahwa dia mengawali usaha Laundry dari 1 mesin pencuci dan 1 mesin pengering saja. Kini dia memiliki banyak dan mempekerjakan beberapa karyawan.

Terima kasih bung Ilham atas apresiasinya. Semoga Allah selalu merahmati usahanya. Semoga tidak ada pelanggan yang meminta laundry gratis.

(Hidupkanlah penulis dengan mengapresiasi perjuangannya menulis. Menemukan inspirasi. Mereka berjuang membeli banyak buku untuk menulis 1 buku. Hidup mereka mahal).

Ditulis oleh: Andhika Mappasomba Daeng Mammangka

Dingin di Yogyakarta dan Rindu

Dingin di Yogyakarta dan Rindu
Dingin di Yogyakarta dan Rindu
Foto by Me. Lokasi Desa Donokerto, Kec. Turi, Kab. Sleman - Yogyakarta

Alhamdulillah. Sekian lama tidak menjenguk blog kesayangan ini. Saya lupa kapan terakhir saya menulis dengan niat mempublish di sini.

Kali ini saya sedang dalam perjalanan kerja. Kedatangan ke kota ini bersamaan dengan cuaca dingin. Seraya menikmati kopi susu, saya menuliskan ini:

Di sini, sendiri menikmati kopi. Saya sedang tidak menunggu siapa-siapa. Seorang perempuan duduk sendiri pula, yang tak jauh dari tempat dudukku terlihat sedang gelisah. Mungkin telah lama menunggu seseorang yang sangat dirindukannya. Sesekali ia memandang ke arah kanan dan arah kirinya, lalu kembali menatap handphone di tangan kanannya. Kegelisahannya terlihat jelas. Kadang sesekali ia memandangku. Atau mungkin saja sedang ingin berkenalan denganku. 😁 Anggaplah demikian.
.
.
Kopiku tinggal setengah. Suara perempuan lain dari sebelah kamar terdengar samar. Aku tak peduli lagu apapun yang ia nyanyikan. Aku sedang mengingatmu. Berusaha menangguhkan rindu yang entah akan terbayar atau tidak. Beberapa pesan singkat yang masuk ke handphone juga tak kupedulikan. Rindu semakin dalam menusuk mengalahkan dinginnya malam di kota Yogyakarta ini. Aku mengingat segala tentang senyummu. Raut wajahmu ketika sedang tertawa atau suaramu. Rokok sebatang yang baru saja kubakar, kuisap dalam-dalam. Asap tebalnya mengepul menggambarkan bayanganmu yang kini memenuhi segala ruang di kepalaku.
.
.
Waktu berjalan lambat. Deru kendaraan di jembatan fly over dekat hotel tempatku menginap masih terdengar ramai. Aku ingat kalimat pramugari pesawat yang kutumpangi dari Makassar ke bandara Adisucipto Yogyakarta.
"Kalau ada sumur di ladang, boleh kita menumpang mandi. Kalau ada umur yang panjang, bolehlah naik Citylink kembali"
.
.
Aku tersenyum sendiri dan berharap kau juga tersenyum membaca ini.
.
.
Yogyakarta, 6/7/2018-21.55 PM
Ian Konjo

“Tuhan Masih Pidato...!”

“Tuhan Masih Pidato...!”
Sebuah esai Asdar Muis RMS dari Buku Tuhan Masih Pidato

BOCAH berusia empat tahun itu bingung melihat sebagian jamaah berdiri lalu meninggalkan tempat shalat Id. Anak semata wayang teman saya itu tak tahan menimbun pertanyaan di dalam batok kepalanya. Ia lalu bertanya pada ayahnya yang sedang asyik dan khidmat menikmati khatib menyampaikan tentang pemaknaan manusia berada di muka bumi.

“Papa, mengapa orang itu pergi, kan tuhan masih pidato?”
Ucapan anaknya yang spontan itu, membuat Salahuddin -- teman saya itu -- segera menatap tajam bola mata putranya. Terlihat sangat bening. Di kedalaman retina sang bocah, seakan berharap jawaban yang pasti. Tapi sang ayah bingung. Benaknya membatin, “Dari mana pula kalimat itu didapatkan.”

Anak-anak memang lugu. Tak ada tendensi politik. Namun sang ayah bocah itu tak mampu berkutik. Ia tak siap menjawab sebuah pertanyaan yang terasa asing dan aneh. Lalu ia memandang khatib yang tetap berbicara tanpa pedulikan pada umat yang sudah meninggalkan lapangan Karebosi yang menjadi tempat shalat Id, Selasa (25 November 2003) itu.

Matahari kian merangkak ke puncak langit. Jemaah yang seakan tidak peduli bahwa keabsahan dari shalat Id adalah dua rakaat ditambah khotbah. Makanya, teman saya itu tak peduli rengekan anaknya yang juga ingin pulang. Ia sadar bahwa urusan vertikal adalah segala-galanya. Pun jiwanya terserap oleh pernyataan anaknya tentang “tuhan masih pidato”.

Ketika anaknya kembali bertanya, sang ayah memberi jawaban sekenanya, “Orang-orang itu harus buru-buru karena ingin cepat-cepat pulang kampung...”.

Eh, si anak spontan juga berkata: “Kan kita juga harus ke Bantaeng, nenek sudah menunggu.”

Sang ayah hanya bisa menggeleng. “Kita tunggu saja. Kita harus menunggu bosnya papa untuk bisa dapat duit. Kan duitnya buat ongkos ke Bantaeng.” Dan jawaban itu membuat anaknya terdiam.

Asdar Muis RMS 001
Ketika khatib menutup khotbah, sang ayah sibuk bersalam-salaman, bocah itu menukas, “Papa, kok tuhan masih pidato lagi?” Sang ayah hanya bisa tersenyum menanggapi komentar anaknya yang mendengar pengumuman dari panitia shalat Id.

Tampaknya kita yang dewasa ini, harus selalu menengok pada keluguan cara berpikir bocah. Lugas. Murni. Bersih. Suci. Pasalnya kita sudah terlalu terkontaminasi oleh beragam kepentingan sehingga urusan vertikal pun kita sepelekan. Buktinya, khotbah Idul saja sudah tak dianggap lagi sebagai bagian penting dan terkait dalam pelaksanaan shalat Id.

Tak bisa saya bayangkan jika yang pidato itu presiden, gubernur, bupati, atau pemimpin lainnya. Tentulah orang-orang yang tak peduli pada khotbah, lebih cuek lagi. Betulkah demikian? Aha, pastilah salah! Sebab, orang-orang di kekinian lebih patuh pada pemimpinnya ketimbang pada Tuhan. Ayo, mana ada anak buah yang berani menghentikan mobil ketika bersama atasannya untuk berhenti di sebuah masjid ketika tiba waktu shalat? Mana ada yang berdiri minta izin shalat ketika pimpinannya masih memimpin rapat ataupun pidato?

Apalagi bagi mereka yang selalu menerima ajakan bupati untuk bermain domino di rumah jabatan sambil berharap hadiah pertandingan. Mereka bermain hingga dini hari. Akibatnya, tak ada yang melaksanakan shalat Tahajud. Mereka lebih suka melafalkan “wirid kartu” ketimbang mengagungkan kebesaran Ilahi.

Pemaknaan Tuhan tampaknya sudah bergeser. Bukan lagi Yang Maha dari segala Maha. Karena ada yang jauh lebih maha dari Yang Segala Maha itu. Pimpinan, uang, jabatan, dan seabrek berbau duniawi telah mengubah pola hidup dan perilaku tentang keutamaan pada sujud dan selalu melafalkan zikir, wirid, tahmid. Kita sepertinya sudah terjebak pada surga dunia. Kita tidak lagi melihat posisi kita sebagai manusia yang bisa diibaratkan hanya debu di megakosmopolitan ini.

Bila di masa Nabi Musa hanya ada satu Firaun yang mengaku tuhan, tapi kini tak perlu ada yang mengaku. Tapi nyatanya: sangat banyak Firaun. Tuhan Firaun itu berserakan di mana-mana dan bisa jadi kita pun adalah Firaun itu. Sebab, nyaris tidak ada pemimpin yang mengingatkan waktu shalat pada bawahannya. Pekerjaan yang menumpuk, jauh lebih utama walau azan sudah berkumandang dari masjid, musala, maupun surau. Anak buah pun tak peduli shalat bila pemimpinnya tidak beringsut untuk mengambil air wudu kemudian bersujud pada kebesaran Ilahi.

Tuhan memang masih pidato! Maka saat itulah, kita tidak peduli untuk bergerak seperti minimnya orang menuju musala sangat kecil itu di stadion Mattoanging ketika menanti PSM berlaga. Uh!

Kita telah menyembah banyak Firaun, dan kita juga adalah Firaun. Kita adalah tuhan! Maka marilah kita berpidato! Memberi janji berupa “sihir” pada rakyat yang merasa tak berada lagi pada surga dunia. Karena sudah sulit menemukan orang untuk melafalkan syukur kecuali selalu saja merasa kurang. Padahal, jika kita membuka mata hati sangat lebar, maka kita menemukan rahmat Ilahi bahwa kita masih jauh lebih baik dari orang lain. Namun mampukah kita? Ah!


Makassar, 6 Desember 2003

Puisi Soe Hok Gie - Sebuah Tanya

Puisi Soe Hok Gie - Sebuah Tanya
“akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
apakah kau masih berbicara selembut dahulu?
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku”

(kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih,lembah mendala wangi
kau dan aku tegak berdiri, melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)

“apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
ketika ku dekap kau,
dekaplah lebih mesra,
lebih dekat”
(lampu-lampu berkelipan di jakarta yang sepi,
kota kita berdua,
yang tua dan terlena dalam mimpinya.
kau dan aku berbicara.
tanpa kata,
tanpa suara ketika malam yang basah menyelimuti Jakarta kita)

“apakah kau masih akan berkata,
kudengar derap jantungmu.
kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta?”

(haripun menjadi malam,
kulihat semuanya menjadi muram.
wajah-wajah yang tidak kita kenal berbicara dalam bahasa yang tidak kita mengerti.
seperti kabut pagi itu)
soe-hok-gie-puisi
“manisku, aku akan jalan terus
membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan
bersama hidup yang begitu biru”


Selasa, 1 April 1969

Catatan: Pengakuan

Catatan: Pengakuan
Memulai menulis ini, aku akan sedikit tertawa mengingat kata-kata yang diucapkan seorang teman malam tadi. Meski harusnya itu adalah doa. Tetapi entah mengapa, ada yang menggelitik dari kalimatnya itu. Aku tak perlu memberitahu kalimatnya. Tidak apa-apa kan? Kita anggap saja itu adalah sebuah lelucon menjelang pergantian tahun masehi ini. Atau anggap saja sebuah kalimat penyemangat menuju tahun yang baru untuk sebuah awal yang baru. Aku rasa ini akan lebih menarik untuk kukatakan.

Catatan: Pengakuan

Aku ingin sedikit mengingat perjalananku dalam hidup ini dari beberapa tahun yang lalu. Mungkin tahunnya akan sedikit jauh ke belakang. Dan di tahun masehi ini adalah kali pertama kulakukan itu. Mungkin karena aku tak terbiasa memperingatinya seperti kebanyakan orang. Bagiku, memperingati pergantian tahun seperti ini hanyalah sebuah kesia-siaan jika yang kita lakukan bukan hal mendekatkan diri kepada sang pemilik kuasa dan bersyukur atas roh yang masih belum diambil-Nya. Memperingati pergantian tahun dengan menghamburkan uang lalu menghiasi langit dengan cahaya yang berwarna warni. Suara motor yang sengaja dimodifikasi hingga memekakkan telinga, setelah itu balap-balapan tak jelas. Berteriak sekencang-kencangnya. Atau membakar kembang api di tengah jalan dan mengganggu penguna jalan yang melintas.

Ini bukanlah sebuah ceramah. Hanya sekedar mengingatkan saja. Pergantian dari waktu ke waktu adalah sebuah tanda bahwa dunia semakin renta. Kita tak akan pernah bisa kembali ke hari kemarin dan kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi esok.

Tahun-tahun yang berlalu adalah sebagian dari kenangan-kenangan yang mengisi perjalan hidup ini. Aku bersyukur satu hal hari ini. Bahwa tak ada yang lebih membahagiakan dari keceriaan yang masih melekat erat. Senyum yang tulus dan orang-orang yang peduli padaku. Meski kadang ada yang melukai perasaan dan juga melukai hati. Tapi bukankah sesungguhnya kehidupan ini memang seperti itu? Bukankah indahnya kehidupan itu ketika kita masih bisa merasakan luka, duka, perih, suka, air mata dan tawa? Bukankah hidup itu memang penuh gelombang dan lika liku?

Tahun-tahun berlalu itu adalah sketsa dari sekian banyak kenangan yang berjejak. Yang pahit, perih dan duka telah kujadikan salah satu guru terbaik untuk belajar menjadi lebih baik. Menjadi orang yang menghargai kebahagiaan yang ada. Menjadi orang yang tetap menjaga apa yang telah kumiliki.

Selalulah bersyukur. Milikilah hati yang selalu merasa cukup karena sesunguhnya itulah orang yang paling kaya dan bahagia.

Selalulah memiliki cinta. Kau bisa mempelajari semua hal tentang apa yang kau kerjakan dari buku-buku. Tetapi saat kau menjalaninya tanpa cinta, ia akan mengadukmu seperti dunia yang terus berputar. Cinta akan tetap menjaganya menjadi penyemangat saat dia akan terjatuh.

Selalulah tetap menjadi baik.


Gowa, 1.1.2017
Cat. tidak diedit

Sebuah Rahasia

Sebuah Rahasia
Akhir-akhir ini, sepertinya aku kembali jatuh cinta padamu. Aku lupa ini yang keberapa kalinya. Kau telah mencuri separuh hatiku sejak saat pertama kali aku melihat kau tertawa dengan sangat bahagia. Dan senyummu yang kadang membuatku tak mampu menatapmu lama. Senyum yang begitu anggun. Tentu saja aku paling menyukai senyummu.

Waktu seolah berjalan lebih cepat. Aku ingin mengucapkan banyak kalimat kepadamu. Tetapi, aku sangat tahu jika semua kalimat-kalimat itu sudah sangat terbiasa kau dengar. Aku juga tahu kalau kata-kata indah tidak akan mudah membuatmu luluh. Dan itu yang menjadi salah satu alasan aku tak pernah mengutarakan apa yang selalu aku rasakan setiap memandangmu tersenyum. Karena alasan itu pula, aku kadang hanya mengungkapkannya dengan candaan saja. Hanya dengan itu aku mengatakan apa yang seharusnya kukatakan dan itu benar-benar dari apa yang terasa dalam hatiku.

Aku tak pernah berharap kau tahu itu. Aku hanya berharap bisa melihatmu setiap saat ketika aku sedang dikerumuni rindu. Tentu saja rindu padamu. Meskipun yang bisa kulihat hanyalah fotomu. Bagiku itu sudah lebih dari cukup.

Aku memang telah cukup lama memendam perasaan ini. Tak perlu kau tahu berapa lama itu. Yang pasti, aku selalu memperhatikanmu. Kau sedang dimana. Kau sedang apa. Atau juga kau sedang bersama siapa.

Aku mungkin tak tahu segala tentangmu meski semua itu aku lakukan. Tetapi aku selalu sangat bahagia ketika melihatmu meski itu hanya lewat sebuah gambar yang tidak bisa kuajak bicara. Aku selalu menitipkan tanda kerinduanku yang rahasia. Dan aku ingin itu tetap menjadi sebuah rahasia yang tak perlu kuungkapkan padamu.

Apa kau masih ingat pertemuan kita di sebuah halte di pinggiran kota ini? Kita sama-sama menunggu matahari yang terik menjadi senja tanpa sebuah rencana pertemuan. Kita tak banyak bicara. Aku hanya menanyakan kabarmu dan kaupun demikian.
"Kau dari mana?". Tanyaku membuka percakapan kita ketika itu.
"Dari rumah". Jawabmu dengan sedikit tersenyum.
Aku kembali kikuk melihat senyummu itu. Aku berdebar. Semua bisu. Aku hanya membalasnya dengan senyum pula.

Taman Cekkeng Bulukumba
Sore di Sebuah Pantai di Bulukumba

Matahari kian mendekati sore. Sebentar lagi langit akan dipenuhi warna jingga. Ini menjadi sore paling indah yang pernah kulalui. Bukan hanya karena warna jingga itu yang membuatku tak bisa lupa. Tetapi karena kau juga ada di sana menyaksikannya. Dan rona matahari sore yang menerpa wajahmu kian mendebarkan hatiku. Kau bak bidadari yang sengaja datang menemaniku senja itu.

Ah, kata-kataku biasa-biasa saja bukan? Atau mungkin juga kalimat-kalimat itu terlalu menyanjung? Kalau iya, maka kau telah menemukan jawaban mengapa aku tetap menjaga rahasia hatiku yang diam-diam kau curi.

Sejak pertemuan kita hari itu, aku memutuskan menempatkan namamu pada sebuah ruang di hatiku. Ruang yang tak boleh siapapun membukanya selain dirimu. Ruang yang selalu kupinta kepada tuhan, agar selalu hanya namamu di sana.

Kelak, jika air matamu merayu untuk tumpah, datanglah kepadaku. Aku bersedia menjadi penyeka untukmu. Jika saat itu tiba, kau akan melihat tumpukan kerinduan-kerinduanku padamu. Lalu, akan kuceritakan kepadamu semua rasa yang diam-diam aku simpan untukmu.


Gowa, 18/07/2016

Edisi Tulisan Lama

Edisi Tulisan Lama
Aku menulis ini karena ada rindu yang menjarah dalam hatiku. Rindu yang semakin hari semakin mengajakku untuk selalu mengingatmu. Aku percaya jika dalam hidup selalu banyak kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi. Kemungkinan-kemungkinan yang kadang tak pernah terpikirkan oleh orang lain dan bahkan diri kita sendiri. Aku juga percaya, jika yang terjadi dalam hidup ini adalah salah satu dari sekian banyak kemungkinan-kemungkinan itu dan itu bukanlah sebuah kebetulan.

Lalu sekarang, aku ingin berkata jika separuh hatiku ada padamu. Yah, aku ingin mengatakan jika aku mencintaimu. Mungkin dalam pikiranmu, ini terdengar agak konyol ataupun tak masuk akal. Pertemuanku denganmu sudah cukup lama. Bahkan sangat lama.

Aku telah memikirkan beberapa kemungkinan dari apa yang kuucapkan ini. Termasuk pertanyaan-pertanyaan yang akan terlontar setelahnya. Jadi, tak perlu lagi kau bertanya mengapa rasa itu bisa hadir? Atau seperti pertanyaan yang lainnya; kenapa bisa? Sebab untuk pertanyaan-pertanyaan itu, aku tak punya jawabannya. Yang aku tahu bahwa aku ingin mengatakan jika ada hatiku yang berteduh padamu. Setidaknya itu sudah kukatakan.

Setelah ini, aku tak tahu kapan lagi aku memiliki kesempatan untuk mengatakannya. Aku takut jika kerinduan-kerinduan atas dirimu menenggelamkanku dalam kesepian malam. Aku takut jika kerinduanku padamu meleburkanku dalam teriknya matahari.

Bagiku, mengatakan hal ini padamu adalah sebuah jalan bagi rinduku setidaknya agak tidak menjadi benalu yang bisa saja membuatku terpuruk. Rindu yang tak pernah kutahu bermula dimana. Sebab tak pernah ada yang menduga datangnya rindu….


Gowa, 1 Mei 2015

Wisata Toraja Utara (Edisi Jalan-Jalan)

Wisata Toraja Utara (Edisi Jalan-Jalan)
Baru-baru ini, saya bersama seorang teman kembali mengunjungi sebuah tempat yang paling eksotik di Sulawesi Selatan. Toraja Utara, yah inilah sebuah kabupaten yang menurut saya adalah sebuah tempat yang lain dari yang lain.

Ini sebenarnya adalah postingan kedua di blog ini. Sebelumnya saya pernah menulis tentang Objek Wisata Toraja. Kali ini saya hanya ingin memposting foto-foto selama di sana. Kalau ingin penjelasan lengkapnya, silahkan kunjungi di sini!

Ini adalah tengkorak sepasang kekasih yang bunuh diri. Konon sepasang kekasih ini memutuskan bunuh diri karena cintanya tak direstui oleh keluarga mereka.









Panorama. Batutumonga di atas ketinggian...



Masih banyak lagi tempat yang belum sempat saya kunjungi....

Sambut Ramadan dengan Cinta

Sambut Ramadan dengan Cinta
Marhaban Yaa Ramadan...

Sekiranya tak ada kata yang boleh kita lupakan selain mengucapkan rasa syukur kepada Sang Pemilik Kuasa. Mengapa? Pasti karena kita masih diberi nafas dan badan yang sehat untuk bertemu dengan bulan yang lebih mulia dari seribu bulan.

RAMADAN. Bulan ini adalah bulan yang paling dinanti oleh umat muslim di belahan bumi manapun. Ini adalah bulan istimewa. Dimana seluruh ibadah dinilai berlipat ganda.

Karena itu, mari saling memaafkan. Mari mensucikan diri menyambut bulan ini. Selamat menanti bulan suci penuh berkah dan penuh rahmat.

Berbahagialah.

walpaper ramadhan

Lagi (Menawar Cinta)

Lagi (Menawar Cinta)
Kemarin sempat membuka kembali sebuah buku kumpulan cerpen milikku. Buku itu berisi 30 buah cerpen. Tentu saja penulisnya bukan saya sendiri. Saya dan beberapa teman berinisiatif membuak buku kumpulan cerpen itu beberapa tahun yang lalu. Judulnya "Menawar Cita". Kebetulan judul buku ini adalah judul dari cerpen yang sanya tulis. Cerpen yang ada dalam buku itu tentunya. :)

Cerpen ini bercerita tentang cinta dan persahabatan. Seorang perempuan yang diperhadapkan pada sebuah masalah, yaitu terjebak diantara dua pilihan. Memilih orang yang dia cintai atau memilih orang yang mencintainya. Namun, pada akhirnya, perempuan tersebut kehilangan keduanya. Pokoknya intinya seperti itu. :D

Ada kata-kata yang sedikit membuat saya harus menulis tulisan ini. Beberapa kalimat yang terdapatdalam cerpen itu.
Ada sebongkah tetes air mata jatuh lumuri kerinduanku yang sia-sia. Hatiku terasa kosong dan hampa. Aku mulai mengenal air mata dalam cinta....
AIR MATA. Mengapa harus air mata? Itu pertanyaan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan tulisan saya ini. :D :D :D

Saya menuliskan ini hanya teringat dengan sebuah kalimat bahwa "Love is Tragedy". Cinta itu adalah tragedi. Benarkah cinta itu adalah sebuah tragedi????

Sepertinya itu adalah salah satu dari sekian banyak definisi tentang CINTA.

Menawar Cinta

Pertanyaan Untuk Kenangan

Pertanyaan Untuk Kenangan
Pertanyaan Untuk Kenangan
Sebuah pesan dari seorang teman mengingatkanku pada sebuah film pendek yang pernah saya buat beberapa waktu yang lalu. Judulnya "Sebuah Pertanyaan Untuk Kenangan". Salah satu kalimat dalam film itu mempertanyakan tentang kenangan.
"Dengan cara apa kau akan mengenang kekasihmu setelah kematiannya?"
Pertanyaan itu mungkin akan membuat kaget. KEMATIAN?. Kematian saya artikan bukan hanya ketika kekasih yang kita cintai kepali kepada-Nya. Saya mengartikan kematian itu juga ketika perpisahan harus menjadi satu jalan yang harus dilalui. Lalu, dengan cara apa kau akan mengenangnya?

Dengan cara membacakan Al-Fatihah tiap malam Jum'at. Menyimpan fotonya. Mengunjungi makamnya.

Namun, aku kini mengenang kekasihku dengan belajar mencintai dari kejauhan dan sesekali mendatangi tempat yang sering kukunjungi berdua... :D :D :D...

Ini hanya sebuah catatan yang konyol.

Episode Terakhir Avatar: The Legend of Korra

Episode Terakhir Avatar: The Legend of Korra
Postingan kali ini sangat berbeda dengan postingan-postingan sebelumnya. Kali ini saya ingin membicarakan sebuah film animasi berjudul "Avatar - Legend of Korra yang episodenya sudah sampai pada season terakhir, yaitu: Book 4 Episode 12 & 13. Ini adalah episode terakhir dari film Avatar Korra.

legend-of-korra

Saya ingin sedikit membicarakan film ini. Semoga saja masih ingat dari Book satu.. Hehehe. :). Avatar Korra adalah Avatar generasi setelah Avatar Aang. Namanya Korra tentu saja. Korra adalah seorang pengendali air. Karena Korra adalah seorang avatar, maka dia bisa mengenalikan empat elemen (air, udara, tanah dan api). Kelebihan ini hanya bisa dilakukan oleh seorang Avatar.

Awalnya, Korra dilatih oleh Tenzin yang merupakan anak dari Avatar Aang. Tenzin juga bertindak sebagai guru spiritualnya. Perjalanan demi perjalanan dilaluinya dengan posisinya sebagai Avatar. Korra berteman dengan beberapa orang sebagai sahabatnya. Ada Azami yang non-pengendali tapi ahli bertarung. Mako, seorang pengendali api dan pernah menjadi juara satu pada pertandingan firebender. Bolin yang juga adik Mako adalah seorang pengendali bumi. Mereka menamai diri mereka sebagai Team Avatar. Mereka selalu bekerjasama membasmi kejahatan yang terjadi di Kota Republik.

Avatar Korra 2

Ada pahlawan, tentu juga ada penjahatnya. Kan tidak seru kalau hanya pahlawan saja yang ada. :D. Musuh-musuh Korra juga banyak. Ada Amon, seorang pengendali Darah dan pengendali Air. Selain itu, Amon juga bisa menghilangkan kekuatan pengendali orang lain.... Selanjutnya, namanya Saheer. Dia juga adalah seorang pengendali udara. Satu-satunya pengendali udara yang sampai pada tingkat akhir, yaitu bisa terbang. Dan yang menjadi musuh di book terakhir (Book 4) bernama Kuvira. Kuvira adalah seorang pengendali logam.

Avatar Korra 3

Selain itu, banyak juga pemeran lainnya, seperti Toph (sahabat Avatar Aang); Katara (Isteri Aang); Pangeran Zuko (musuh Aang tapi akhirnya menjadi sahabatnya); Pema (istri Tenzin); Ikki, Milo, Jinora (anak Tenzin); Lin (anak Toph); Pangeran Zu; Ratu Bumi, Bumi (saudara Tenzin) dan masih banyak lagi yang lain.. Hehehe. Banyak yang lupa layaknya. :D

Episode terakhir ini saya belum tahu bagaimana. Ini sementara download episode terakhirnya... Hihihi...

Surat Cinta Sholat

Surat Cinta Sholat
SURAT CINTA. Pagi kemarin, salah seorang teman di Blackberry Messenger mengirim pesan. Lumayan panjang juga untuk sebuah pesan di BBM. Saya ingin berbagi karena percaya bahwa jika kita berbuat kebaikan, maka kita akan mendapat sesuatu yang baik pula. Apalagi sebagai manusia dan umat Islam, kita harus selalu saling mengingatkan satu sama lain.... :)

Mengingat pesan ini adalah tentang kewajiban bagi setiap orang Muslim, saya ingin mengingatkan saja. :) Ini dia isi pesannya:

"Surat Cinta Tentang Sholat"
(Refleksi Makna Sholat Kita)

Sahabat:
✏Bila engkau anggap sholat itu hanya penggugur kewajiban, maka kau akan terburu-buru mengerjakannya.
✏Bila kau anggap sholat hanya sebuah kewajiban, maka kau tak akan menikmati hadirnya Allah saat kau mengerjakannya.
✏Anggaplah sholat itu pertemuan yang kau nanti dengan Tuhanmu.
✏Anggaplah sholat itu sebagai cara terbaik kau bercerita dengan Allah.
✏Anggaplah sholat itu sebagai kondisi terbaik untuk kau berkeluh kesah dengan Allah.
✏Anggaplah sholat itu sebagai seriusnya kamu dalam bermimpi.
✏Bayangkan ketika "adzan berkumandang", tangan Allah melambai ke hadapanmu untuk mengajak kau lebih dekat dengan-NYA.
✏Bayangkan ketika kau "takbir", Allah melihatmu, Allah senyum untukmu dan Allah bangga terhadapmu.
✏Bayangkanlah ketika "rukuk", Allah menopang badanmu hingga kau tak terjatuh, hingga kau rasakan damai dalam sentuhan-NYA.
✏Bayangkan ketika "sujud", Allah mengelus kepalamu. Lalu Dia berbisik lembut di kedua telingamu: "AKU mencintaimu hamba-KU".
✏Bayangkan ketika kau "duduk diantara dua sujud", Allah berdiri gagah di depanmu, lalu mengatakan : "AKU tak akan diam bila ada yang mengusikmu".
✏Bayangkan ketika kau "salam", Allah menjawabnya, lalu kau seperti manusia berhati bersih setelah itu.
Shalat adalah tiang agama.
Sungguh nikmat shalat yang kita lakukan. Semoga bisa menginspirasi dan silahkan di SHARE seluas-luasnya. Semoga BISA "Mengetuk" pintu hati sahabat kita yg belum mendirikan sholat". Amin ya Rabb!

Mari mendirikan shalat

Cerpen: Lelaki yang Menangkap Rembulan

Cerpen: Lelaki yang Menangkap Rembulan
Karya: Lubis Grafura

Ia duduk di atas batu besar. Hanya dengan memakai celana pendek, bertelanjang dada, dan sehelai sarung yang diselempangkan ke bahu. Dingin angin malam, gesekan daun dengan ranting kering sama sekali tak dihiraukan. Wajahnya legam menengadah ke langit memandang bulan sebentuk perahu yang berlayar di balik awan. Tangan kanannya memegang erat sebuah jaring.
“Aku pasti bisa menangkapmu.”

Laki-laki itu meloncat dari batu besar tempat duduknya. Cahaya bulan melukis bayangan sesosok lelaki di atas tanah. Bayangannya lebih pendek dari tubuh aslinya. Ia hanya setinggi satu setengah meter. Kepala bulatnya tersangga leher tembem di atas tubuhnya yang lemu. Ia selalu membuat gerakan mematahkan leher ke arah kanan. Orang-orang desa menyebutnya pendono - kebiasaan buruk.

Sepasang kaki telanjang berlari di atas tanah. Tangan kanannya menggapai-gapai ke langit dengan jaring yang dipegang erat. Semakin kencang ia berlari, semakin cepat bulan menghidar dari jaringnya. Ketika ia menghentikan langkah sepasang kaki telanjangnya, bulan sebentuk perahu itu ikut berhenti dan memandang ke arahnya.
“Bulan,” seru lelaki pendek sambil terengah-engah “suatu hari aku pasti bisa menangkapmu.”
***

LELAKI pendek itu tinggal bersama seorang perempuan tua yang melahirkan lelaki pendek: Poyo. Tidak ada arti khusus, mengapa perempuan itu memberi nama sependek tubuh anaknya. Yang ia tahu lelaki yang tumbuh dengan air susunya itu memiliki arti yang istimewa baginya, walaupun ia memiliki kelainan fisik dan mental.

Dalam melewati hari, mereka hidup di sebuah rumah berdinding bambu. Untuk keperluan makan sehari-hari ibunya harus mengasak padi di sawah yang baru saja disiangi. Walaupun demikian perempuan itu tak pernah meratapi hidup dengan kesedihan. Dirinya selalu menterjemahkan segala penderitaan tentu akan memiliki akhir.

Beberapa hari yang lalu dirinya dipanggil oleh Marsudi untuk tanda tangan. Kata Marsudi, orang miskin seperti dirinya akan mendapatkan sepetak tegal. Tegal yang sekarang ditanami morbei oleh perhutani sesungguhnya adalah tanah milik tetua desa pada zaman Belanda. Bukti itu ada di Supiran, untuk mendapatkan hak tegal dirinya bersama beberapa orang harus menandatangani surat perjanjian, begitulah terang Marsudi kepadanya. Ia manut saja, lha wong banyak tetangganya yang ikut juga.
“Poyo pasti dapat menangkap bulan” kata lelaki pendek sambil mengangkat kedua bahunya.
“Kalau makan jangan banyak omong”
“Tapi Poyo ingin telur rebus.”
“Sudah, makan saja sambal dan nasinya itu.”
“Poyo mau tangkap bulan!”
“Bulan itu tak bisa ditangkap. Sudah, habiskan nasimu!”
“Biar!” Poyo berdiri kemudian mengambil jaring yang menyelempit di dinding bambu ”Pokoknya Poyo mau tangkap bulan.”
“Poyo, kembali!”

Lelaki pendek itu tak menghiraukan perkataan ibunya. Perempuan itu hanya bisa menggelengkan kepala sambil memandang nasi Poyo di alumunium yang tak disentuhnya sama sekali. Apabila anaknya berlaku seperti itu ia tak bisa melarangnya. Ia tahu benar bahwa tak lama lagi anaknya akan kembali dengan wajah yang murung kemudian menyusul tidur di sampingnya.
*** 

SAMBIL mengayunkan jaringnya ke atas, lelaki itu berlari mengejar bulan. Bayangan tubuhnya yang tergambar di bingkai tanah selalu menemani dirinya berlari. Semakin cepat ia berlari, maka semakin cepat pula bulan menghindar dari pandangannya. Kemudian dengan nafas terengah-engah akan menyumpahi bulan di atas sana.
“Dengarkan aku,” kata lelaki itu sambil terus menatap bulan “aku pasti bisa menangkapmu suatu saat.”

Lelaki itu meloncat dari batu berjalan menuju rumah Pak Haji Rahman. Dirinya suka menatap wajah Diyanti, putri pak haji, dari balik pohon jambu karena wajahnya memendar di kegelapan bagai rembulan sebentuk belahan semangka. Apalagi ketika ia melihat Diyanti memakai kerudung ketika pulang ngaji.

Malam ini ia harus membiarkan bulannya tetap mengapung jauh di langit kelam. Setelah menyelempitkan jaringnya di dinding bambu, ia perhatikan ibunya yang tengah tertidur di balai bambu. Di sampingnya ada sebuah meja dengan ublik yang menyala redup karena minyak tanahnya hampir kering. Ia menyusul tidur di samping ibunya.
***

SIANG itu Poyo bersama ibunya menyusuri tegal yang telah diterimanya dari Tim Sukses. Begitulah orang-orang menyebutnya. Sudikun, anggota Tim Sukses, menjelaskan kepadanya bahwa tegal itu sudah menjadi hak milik warga desa. Uang yang telah dikumpulkan dalam buntalan kain yang tersimpan di bawah bantal itu kini telah menjadi batang-batang jagung yang tumbuh di tegal miliknya.

Perempuan itu tersenyum melihat usia jagung yang telah lewat satu bulan. Ia melihat tunas-tunas daun hijau tumbuh di batangnya. Dua bulan kedepan ia pasti sudah dapat memetik jagung yang tumbuh di tanah tegal miliknya.

Perempuan itu juga masih ingat kata-kata Marsudi ketika ia menandatangani surat perjanjian sambil menyerahkan beberapa puluh rupiah, yang kata mereka untuk administrasi, bahwa apapun nanti yang akan terjadi dirinya harus tetap menanam di tegal, walaupun perhutani melarangnya. Tegal ini sudah menjadi milik warga dan untuk urusan sertifikat masih dalam proses pengadilan, tambah lelaki yang menjadi ketua Tim Sukses.

Ketika ia menatap tanah seluas puluhan hektar, ia teringat kembali penjelasan Tim Sukses bahwa dirinya bersama warga lain akan mendapatkan lagi jumlah yang lebih banyak dari sekarang. Asalkan warga mau mendukung kegiatannya, maka tak lama tegal itu akan menjadi milik mereka.

Dirinya sangat bersyukur bahwa Allah telah memberikan rejeki yang cukup baginya. Kebahagiaan ini telah menambah keyakinannya bahwa Allah menyayangi hambanya yang sabar dan berusaha. Allah akan memberikan rejeki pada saat yang tak pernah diduga.

Ia tak mempersoalkan seperti sebagian warga yang benci perhutani. Asal dia bisa menggarap tegal, baginya sudah lebih dari cukup, tak perlulah memusuhi perhutani yang kata sebagian warga adalah pemeras rakyat.

Semalam, Marsudi datang kembali ke rumahnya dan ke beberapa tetangga menjelaskan bahwa sertifikat tegal belum bisa jadi. Tim Sukses harus segera ke pengadilan pusat untuk mengalahkan pihak perhutani yang tak mau melepas tegal.

Perempuan itu sudah tahu bahwa dirinya harus menyerahkan uang lagi untuk urusan pengadilan. Kali ini Marsudi meminta sejumlah seratus limapuluh per orang, ia tak punya uang sebanyak itu. Namun, Marsudi adalah orang baik dalam pikirannya karena kekurangan itu dapat dicicil di kemudian hari.

Seorang tetangga di tegal lari ke arahnya dengan tergesa-gesa.
“Kita harus mbantu Tim Sukses demo di pengadilan.”
“Sekarang?”

Dengan sepasang kaki telanjang perempuan itu mengajak anaknya untuk segera pulang, karena dirinya harus ikut tetangga untuk ke pengadilan.
***

POYO menatap jagung yang dulu ditanamnya, kini telah dilindas-tuntas oleh sebuah mesin besi. Rata dengan tanah. Warga desa yang pernah menanam di tegal menatap haru tanaman mereka. Kebencian, kemarahan, bingung, ketakberdayaan, dan kepasrahan tampak di wajah petani-petani desa yang kini menundukkan kepala menatap tanah. Beberapa puluh polisi berada di sana, juga seseorang pemuda yang mengarahkan sebuah kamera. Anak-anak tersenyum sambil bergaya, seolah mereka akan masuk tv. Seorang polisi tengah berbicara di depan mereka.
“Bapak-bapak dan ibu-ibu apa yang telah kalian lakukan itu adalah melanggar hukum. Tegal ini adalah milik pemerintah. Sebenarnya pemerintah bersama masyarakat menggarap tegal ini dalam program PHBN. Penggarapan Hutan Bersama Negara. Masyarakat punya hak garap bukan hak jual seperti yang telah dijanjikan oleh Tim Sukses. Apalagi mau menandatangani pernyataan kalau saudara-saudara telah menggarap tegal ini selama 40 tahun. Itu namanya penipuan. Seharusnya bapak dan ibu menolak memberikan dana Tim Sukses untuk menuntut perhutani di pengadilan. Itu pelanggaran kepada negara dan hukumannya berat. Perhutani akan mengganti tanaman yang kini dibabat. Pada saatnya nanti saudara-saudara sekalian juga akan diberi hak garap tegal sesuai dengan jatah masing-masing.”
***

BULAN sebentuk perahu masih mengapung di langit malam. Bagaimana dirinya yang kecil ini bisa terbang, memetiknya, dan memasukkan ke dalam jaring. Poyo berfikir sambil memandangi bulan di atas batu besar. Kepalanya bergerak melukis wajah bulan. Ia teringat perkataan ibunya sebelum dirinya meninggalkan rumah.
“Kamu tak usah sedih seperti itu, kita musti bersyukur apa yang diberikan Allah untuk kita. Mulai minggu depan kita bisa menanam lagi di tegal. Tadi pak RT ngasih kartu garap kepada emak.”

Laki-laki itu mengangkat jaringnya dan mengarahkan ke wajah bulan, seolah-olah bulan itu benar-benar masuk ke dalam jaringnya. Ia melonjak-lonjak di atas batu dan berteriak kegirangan.
“Aku berhasil, aku berhasil. Sudah aku katakan aku pasti bisa menangkapmu.”

Ia berniat akan memberitahu ibunya tentang bulan yang baru saja masuk ke dalam jaringnya. Namun tiba-tiba ia membatalkan niatnya. Wajahnya kembali muram, dan ia duduk lagi di atas batu besar sambil memandang bulan sebentuk perahu yang berlayar di balik awan.

Malam launching KAREBA UNM

Membudayakan Panggilan Daeng dan Andi’

Membudayakan Panggilan Daeng dan Andi’
*Tulisan ini pernah dimuat di KOMIK IPASS edisi 8/2009
 
Sampul Buletin KOMIK IPASS
Sore itu di kantin kampus Unismuh Makassar, Ian menghampiriku meminta tulisan untuk dimuat di Buletin ini (Buletin KOMIK IPASS). Dia adalah pimpinan umum buletin KOMIK IPASS. “Daeng ada tulisanta untuk dimuat di buletin KOMIK,ujarnya dengan sedikit bercanda, budaya yang sudah mendarah daging di IPASS bahkan mungkin di beberapa komunitas. Mungkin mereka memakai istilah prustasi (Pura-pura santai tapi serius). Saya harus menggaruk kepala yang tidak gatal. “Apa yang harus saya tulis, toh saya bukan penulis?” tanyaku pada diri sendiri. Tapi saya iyakan saja, jadinya saya repot sendiri. Inilah budaya yang harus kita anut, budaya optimisme yang menganggap segala sesuatu mampu kita lakukan, meski kita tidak punya kemampuan untuk melakukannya. “Tapi setidaknya ada usaha, jangan menyerah sebelum bertanding” kira-kira begitulah yang ada di batok kepala kita khususnya yang mengalir darah Bugis Makassar di tubuhnya. Namun dibalik itu kenapa saya mengiyakan untuk menulis? Jujur ada kata yang hampir punah dan merupakan budaya yang telah membumi di Bugis-Makassar yaitu panggilan Daengyang dilontarkan oleh pimpinan umum buletin KOMIK bahkan kota Makassar sendiri digelar Kota Daeng. Panggilan daeng adalah cermin yang membuat kita beda dengan daerah lain. Panggilan daeng sama dengan panggilan kakak. Daeng adalah panggilan penghormatan kepada yang lebih tua. Budaya Bugis Makassar yang memanggil orang dengan namanya dianggap kurang sopan apalagi orang yang lebih tua. Panggilan daeng merupakan panggilan yang kedengarannya lebih akrab dan nuansa kekeluargaannya lebih tinggi dari pada kakak atau senior.

Saya teringat seorang teman waktu pelaksanaan temu TEMAN VI (Teater Mahasiswa Nusantara)  di surabaya 2008 silam seorang panitia yang bernama Innas dipanggil dengan nama Daeng Sugi (kaya) dan ia sangat senang dengan panggilan itu, dan hampir seluruh peserta temu TEMAN VI memanggilnya Daeng Sugi, Tika dari Teater Sanggul Jakarta yang diberi nama Daeng Manisi (manis). Entah ini sebuah keusilan atau untuk memperkenalkan budaya Bugis-Makassar. Bagi saya pribadi ini adalah bagian  untuk memperkenalkan budaya kita khususnya panggilan Daeng dan menunjukkan kepada mereka bahwa orang Bugis-Makassar (Sul-Sel pada umumnya) juga mempunyai panggilan yang menonjolkan rasa kekeluargaandan lebih merdu dari panggilan masuntuk orang jawa. Panggilan daeng kepada orang yang lebih tua merupakan cerminan sipakatau, sipakalabbi dan sipakainga bahwa ternyata semua orang itu butuh dihormati dan dihargai. Panggilan daeng seharusnya bukan hanya ditujukan kepada mereka yang mandi keringat tiap hari mengayuh becak dengan memanggilnya daeng becak (memang becak punya daeng, atau tukang becak  punya adik becak) kenapa panggilan kakak becak tidak ada. Betapa budaya kita kurang diperhatikan seakan panggilan daeng hanya bagi mereka yang terpinggirkan, ekonominya lemah. Padahal panggilan daeng kedengaran lebih indah dan mengandung nilai-nilai kekeluargaan yang erat. Kita patut bersyukur masih ada beberapa daerah yang menjadikan pa’daengan sebagai panggilan kepada orang tua yang kemudian diwariskan kepada anaknya, diantaranya kabupaten Gowa, Takalar dan Jeneponto di daerah ini masih kental pa’daengan yang disandang oleh masyarkata setempat.

Selain panggilan daeng ada jaga panggilan Andi “Ndi’” yang berarti adik, panggilan khusus kepada yang dianggap lebih muda. Budaya ini juga telah turun temurun. Budaya yang seharusnya menjadikan kita jauh lebih akrab, penuh kekeluargaan. Tentu dengan budaya seperti ini diharapkan mampu menciptakan nuansa kekeluargaan yang akan membawa kita jauh kedalam rahim kedamian dan kesejukan tanpa perlu saling sikut dan saling curiga khususnya pada pilpres mendatang. Dengan menghormati yang lebih tua dan menghargai yang lebih mudah dengan membudayakan panggilan daeng dan Ndi’diharaparkan budaya siri na paceyang tertanam jauh hari sebelum kita temui warna dunia telah tertanam di nurani leluhur kita bisa dipertahankan.

Jujur saya bangga terhadap waga IPASS yang membudayakan panggilan daeng kepada seniornya dan panggilan Andi “Ndi’ kepada yang lebih muda atau yang dianggap junior seakan membawa siliran dalam tiap jejak langkah kita.

Ketika kurangkai kata ini tiba-tiba nada dering hapeku mengagetkanku sebuah pesan singkat masuk (SMS), “Daeng sudah tidurmaq, atau begadangq lagi, jaga kesahanta y. dri Ndi’ta. Aku tersenyum membaca sms itu, ternyata di ujung sana pada pertengahan malam yang kian sunyi masih ada yang terjaga dan mengeja kata daeng yang hampir punah itu. Lalu kemudian aku merangkai kata membalasnya “Belum Ndi’ saya masih merangkai kata untuk dimuat dibuletin KOMIK karena ta’kala kujanji pimpinan umumnya, qta kenapa belum tidur” dri daengta.

Malam semakin tenggelam dalam pekatnya, dan nada sms yang bertandang ke hapeku kian jadi…….. Aku bersyukur karena kata iya yang kulontarkan sore itudi kantin kampus mampu kutuntaskan. Olehnya itu, budaya optimisme memang harus dibudayakan dan panggilan Daeng dan Ndi’ adalah spirit kekeluargaan yang harus tetap dipelihara khususnya di kampus biru (Unismuh) ini untuk menjadikan Unismuh sebagai kampus yang menjunjung nilai-nilai budaya lokal.

Muhajirin, dini hari 23 Mei 2009
Ketika sepi jadi jawaban dan SMSnya jadi hiburan.

Sepuluh Tahun IPASS

Sepuluh Tahun IPASS
Beberapa hari saya sangat sibuk mengurusi persiapan acara "Malam Perayaan Puisi Jilid 2 dan Tanggal Lahir IPASS". Tidak seperti kegiatan sebelumnya. Kali ini saya sepertinya menjadi tokoh utama dalam persiapan acara tersebut.

Selama empat hari bekerja ekstra karena mengingat waktu yang sepertinya sangat menghimpit. Saya dan dua teman membuat sebuah film dokumenter tentang perjalanan "Nirwana Kecil" kami. Dalam proses pembuatan film ini, banyak juga kendala dan rintangannya. Itu pasti sebagai jalan yang manusiawi sebagai manusia yang hanya bisa merencakanan, sedangkan yang menentukan adalah Allah Swt.

Kembali ke pembuatan filmnya. Karena beberapa pendiri lembaga (IPASS) sudah kembali mengabdi ke daerah masing-masing membuat saya dan teman-teman sedikit kesulitan dalam proses pengambilan gambar. Untunglah masih ada salah satu dari duabelas pendiri yang masih berada di Makassar.

Setelah beberapa kali berdiskusi, akhirnya dapat jalan keluarnya yaitu, mengambil beberapa orang saja sebagai perawkilan dari pembina, pendiri, dan warga luar biasa. Beberapa hari pengambilan gambar sangat melelahkan. Tapi alhamdulillah semalam kegiatan itu berhasil dan sukses terlaksana. Pemutaran film dokumenter juga berlangsung hikmat.

Moment ini juga menjadi tempat reunian untuk dewan-dewan senior yang tinggal di daerah yang jauh. Kembali berkumpul dan berbagia kisah atau juga kenangan.

Selamat Milad Satu dekade IPASS. Jayalah dan tetap kibarkan benderamu. Amiin Ya Rabb!!

Selamat Harimu; Guruku!

Untuk orang-orang yang pernah memberikan sesuatu yang paling berharga, “ILMU”.

Aku tak bisa memberikan apa-apa selain ucapan terima kasih dan sebait doa untukmu. Atas segala yang telah kau berikan padaku. Atas kesabaranmu membimbing, membina, dan mengajariku banyak hal. Aku tak kan pernah melupakan jasa-jasamu.

Aku mash ingat beberapa kisah sewaktu aku masih duduk di bangku sekolah. Aku pernah melakukan hal-hal yang kadang membuatmu marah, kecewa, sakit hati, bahkan sampai menangis. Aku benar-benar tak sekalipun bermaksud untuk itu. Aku ingin memohon maaf atas semuanya.

Terima kasih karena meski begitu, kau tetap menjadi teladan dan panutan untukku. Kau tetap sabar membimbingku. Kau punya jasa yang sangat besar. Terima kasih guru-guruku. Kau bagai pelita dalam kegelapan.

Untuk guru dan ayah terbaik buatku, Abd. Azis Madung. Maaf jika aku masih belum memenuhi keinginanmu. Untuk guru-guruku di SDN 128 Liang-Liang Kec. Herlang: , Ibu Darwiah, Ibu Masnawati, Pak Ahmad, Pak Rusman, Pak Yunus (Kepala Sekolah), dan guru-guruku di SDN 130 Bontobeang: Pak Jufri, Pak Halide’, Ibu Syamsiah, dan Ibu Hj. Kati. Kalian terima kasih, aku beruntung punya guru seperti kalian.

Untuk guru-guruku di SLTP Neg. 1 Herlang: Pak Tare, Pak Kaimuddin, Pak Alimuddin, Pak Hakim, Pak Takdir, Pak Majid. Kalian mengajari banyak ilmu untukku.

Untuk guru-guru di SMU Neg. 1 Herlang: Ibu Arni, Pak Madalle, Pak Mappisabbi, Pak Yasin, Pak Said, Pak Safruddin, Ibu Agustina, Pak Andi Syukri Abbas, Pak Syarifuddin, Pak Faisal, Pak Basri. Kalian mengajari kami sangat banyak tentang kehidupan.

Untuk guru-guru yang tidak saya sebutkan namanya, terima kasih atas ilmu yang kalian berikan. Untuk almarhum guru-guruku, Al Fatihah buatmu. Semoga kau tenang di alam sana. Amin ya Rabb!

SELAMAT HARI GURU!

Rindu Menulis Sastra

Rindu Menulis Sastra
Saya ingin menceritakan sedikit tentangku.

Dulu. Di waktu yang sangat lampau. Saya sering dan paling suka menulis sastra. Menulis apa saja. Puisi, cerpen, naskah, dan banyak lagi. Namun, saya tidak ingat persis kapan aktivitas menulis itu mulai menurun. Bisa dikatakan hampir tidak ada aktivitas itu lagi.

Menulis puisi sangatlah mudah bagiku karena ide-ide itu selalu saja muncul bahkan kadang berdesak-desakan. Saya biasanya bisa menulis tiga sampai empat puisi perhari. Tapi lagi-lagi itu dulu. Di waktu yang sudah sangat lama. Jika sekarang ada yang meminta untuk dibuatkan puisi, pasti saya minta jeda dua  sampai tiga hari. Padahal, dulu bisa sampai beberapa menit saja sudah jadi. "Itu dulu". ^_^

Semalam, entah karena apa atau dapat petunjuk dari mana. Ditambah lagi dengan suasana yang sangat bising. Naluri menulis itu kembali bergolak. Hehehe.

Ceritanya begini. Semalam seorang teman meminta saya mendesain pamflet untuk persiapan kegiatan "Malam Perayaan Puisi & Tanggal Lahir IPASS". IPASS itu adalah nama organisasi seni dan sastra yang saya geluti. IPASS itu singkatan dari Ikatan Pemerhati Seni dan Sastra yang biasa juga kami sebut "Nirwana Kecil".

Kembali ke desain pamflet. Nah, selesai membuat desain yang super simple, teman saya itu kembali meminta saya untuk menambahkan puisi dalam desain pamflet itu. Wah, awalnya pusing juga tiba-tiba diminta buat puisinya. Hhmmm.... Lalu tiba-tiba... Hahahhaa... :D

Saya coba saja berkonsentrasi dan akhirnya jadilah puisinya. Meskipun pendek tapi kata teman, maknanya dalam. Hehe.

Ni dia puisinya:
Sayang, Kemarilah!
Bacakan puisimu untukku sekali lagi
Tak perlu panjang,
Cukup namamu dan namaku saja.
Itu saja yang ingin saya kisahkan... :)
Aku ingin kembali menulis!


Malam perayaan puisi
Desain Pamflet
Older Posts
Home