warnahost.com

Penulis Buku dan Penjual Produk Online serta Seorang Tukang Laundry

Penulis Buku dan Penjual Produk Online serta Seorang Tukang Laundry

Bayangkan, beranda media sosial kita dipenuhi status penawaran berbagai macam produk kendaraan, kecantikan, kesehatan, coutank, cawat, anti bau badan, sepatu, sandal, bio seven, minyak kutus-kutus, berbagai merek baju dan celana, berbagai macam jenis dan pola reseller, peninggi dan penurun berat badan dan sebagainya.

Produk dan pola dagang yang demikian tentunya kita mesti apresiasi dengan baik dan jika perlu membantu mereka berdagang halal. Impossible jika jualan itu melintas di beranda kita, lalu kita meminta satu dengan gratis.

Tentu ini menarik ditelisik lebih jauh. Tidak enak hati jika meminta gratis produk mereka kan? Banyak di antara mereka menjadikan berdagang OL ini sebagai pekerjaan utama untuk jalan rezekinya.

Bayangkanlah seorang penulis, sebagai macam rupa penulis yang memang hanya hidup dari menulis dan menjual bukunya sebagai jalan rezekinya, jika dia bertandang ke sebuah cafe atau restaurant, percayalah, kita merasa tidak enak jika tidak membayarnya, malah wajib membayarnya. Penulis wajib membayar dan sebagai teman, biasanya, pemilik cafe akan meminta buku gratis dari penulis. (Semoga analogi ini dipahami, bukan mendiskreditkan kawan saya yang pengusaha).

Anda akan ditawari beragam produk di beranda media sosial. Tapi, biasanya pedagang online-nya akan meminta buku secara gratis. Tapi tidak gratis untuk produk mereka. (Adil kan?)

Begitu banyak penulis yang mengeluh kepada saya terkait situasi yang sesungguhnya saya mengalaminya juga. Tapi, tidak melulu demikian. Saya juga harus mengakui bahwa dalam situasi tertentu, saya menghadiahkan (sunnah) buku tersebut kepada orang tertentu. Tapi, sebagai gambaran nasib dan pembelaan terhadap penulis, saya mencoba menuliskan ini.

Dua hari silam, saya mengantarkan buku pesanan ke sebuah perusahaan laundry milik @Ilham Daeng Tutu, Pohon Laundry, Jalan Daeng Tata 1 Makassar. Seingatku, sejak lama, dia kerap mengapresiasi karya sastra. Saat memberikan buku itu, dia menjabat tangan saya dan berkata; "Bang, saya membeli buku abang sebagai warisan untuk anak saya di rumah. Bahwa, jika kelak telah dewasa, cari penulis buku ini."

Ilham, sahabat saya itu menjelaskan usahanya, bahwa dia mengawali usaha Laundry dari 1 mesin pencuci dan 1 mesin pengering saja. Kini dia memiliki banyak dan mempekerjakan beberapa karyawan.

Terima kasih bung Ilham atas apresiasinya. Semoga Allah selalu merahmati usahanya. Semoga tidak ada pelanggan yang meminta laundry gratis.

(Hidupkanlah penulis dengan mengapresiasi perjuangannya menulis. Menemukan inspirasi. Mereka berjuang membeli banyak buku untuk menulis 1 buku. Hidup mereka mahal).

Ditulis oleh: Andhika Mappasomba Daeng Mammangka

Related Posts

Komentar: