“Tuhan Masih Pidato...!”

Sebuah esai Asdar Muis RMS dari Buku Tuhan Masih Pidato

BOCAH berusia empat tahun itu bingung melihat sebagian jamaah berdiri lalu meninggalkan tempat shalat Id. Anak semata wayang teman saya itu tak tahan menimbun pertanyaan di dalam batok kepalanya. Ia lalu bertanya pada ayahnya yang sedang asyik dan khidmat menikmati khatib menyampaikan tentang pemaknaan manusia berada di muka bumi.

“Papa, mengapa orang itu pergi, kan tuhan masih pidato?”
Ucapan anaknya yang spontan itu, membuat Salahuddin -- teman saya itu -- segera menatap tajam bola mata putranya. Terlihat sangat bening. Di kedalaman retina sang bocah, seakan berharap jawaban yang pasti. Tapi sang ayah bingung. Benaknya membatin, “Dari mana pula kalimat itu didapatkan.”

Anak-anak memang lugu. Tak ada tendensi politik. Namun sang ayah bocah itu tak mampu berkutik. Ia tak siap menjawab sebuah pertanyaan yang terasa asing dan aneh. Lalu ia memandang khatib yang tetap berbicara tanpa pedulikan pada umat yang sudah meninggalkan lapangan Karebosi yang menjadi tempat shalat Id, Selasa (25 November 2003) itu.

Matahari kian merangkak ke puncak langit. Jemaah yang seakan tidak peduli bahwa keabsahan dari shalat Id adalah dua rakaat ditambah khotbah. Makanya, teman saya itu tak peduli rengekan anaknya yang juga ingin pulang. Ia sadar bahwa urusan vertikal adalah segala-galanya. Pun jiwanya terserap oleh pernyataan anaknya tentang “tuhan masih pidato”.

Ketika anaknya kembali bertanya, sang ayah memberi jawaban sekenanya, “Orang-orang itu harus buru-buru karena ingin cepat-cepat pulang kampung...”.

Eh, si anak spontan juga berkata: “Kan kita juga harus ke Bantaeng, nenek sudah menunggu.”

Sang ayah hanya bisa menggeleng. “Kita tunggu saja. Kita harus menunggu bosnya papa untuk bisa dapat duit. Kan duitnya buat ongkos ke Bantaeng.” Dan jawaban itu membuat anaknya terdiam.

Asdar Muis RMS 001
Ketika khatib menutup khotbah, sang ayah sibuk bersalam-salaman, bocah itu menukas, “Papa, kok tuhan masih pidato lagi?” Sang ayah hanya bisa tersenyum menanggapi komentar anaknya yang mendengar pengumuman dari panitia shalat Id.

Tampaknya kita yang dewasa ini, harus selalu menengok pada keluguan cara berpikir bocah. Lugas. Murni. Bersih. Suci. Pasalnya kita sudah terlalu terkontaminasi oleh beragam kepentingan sehingga urusan vertikal pun kita sepelekan. Buktinya, khotbah Idul saja sudah tak dianggap lagi sebagai bagian penting dan terkait dalam pelaksanaan shalat Id.

Tak bisa saya bayangkan jika yang pidato itu presiden, gubernur, bupati, atau pemimpin lainnya. Tentulah orang-orang yang tak peduli pada khotbah, lebih cuek lagi. Betulkah demikian? Aha, pastilah salah! Sebab, orang-orang di kekinian lebih patuh pada pemimpinnya ketimbang pada Tuhan. Ayo, mana ada anak buah yang berani menghentikan mobil ketika bersama atasannya untuk berhenti di sebuah masjid ketika tiba waktu shalat? Mana ada yang berdiri minta izin shalat ketika pimpinannya masih memimpin rapat ataupun pidato?

Apalagi bagi mereka yang selalu menerima ajakan bupati untuk bermain domino di rumah jabatan sambil berharap hadiah pertandingan. Mereka bermain hingga dini hari. Akibatnya, tak ada yang melaksanakan shalat Tahajud. Mereka lebih suka melafalkan “wirid kartu” ketimbang mengagungkan kebesaran Ilahi.

Pemaknaan Tuhan tampaknya sudah bergeser. Bukan lagi Yang Maha dari segala Maha. Karena ada yang jauh lebih maha dari Yang Segala Maha itu. Pimpinan, uang, jabatan, dan seabrek berbau duniawi telah mengubah pola hidup dan perilaku tentang keutamaan pada sujud dan selalu melafalkan zikir, wirid, tahmid. Kita sepertinya sudah terjebak pada surga dunia. Kita tidak lagi melihat posisi kita sebagai manusia yang bisa diibaratkan hanya debu di megakosmopolitan ini.

Bila di masa Nabi Musa hanya ada satu Firaun yang mengaku tuhan, tapi kini tak perlu ada yang mengaku. Tapi nyatanya: sangat banyak Firaun. Tuhan Firaun itu berserakan di mana-mana dan bisa jadi kita pun adalah Firaun itu. Sebab, nyaris tidak ada pemimpin yang mengingatkan waktu shalat pada bawahannya. Pekerjaan yang menumpuk, jauh lebih utama walau azan sudah berkumandang dari masjid, musala, maupun surau. Anak buah pun tak peduli shalat bila pemimpinnya tidak beringsut untuk mengambil air wudu kemudian bersujud pada kebesaran Ilahi.

Tuhan memang masih pidato! Maka saat itulah, kita tidak peduli untuk bergerak seperti minimnya orang menuju musala sangat kecil itu di stadion Mattoanging ketika menanti PSM berlaga. Uh!

Kita telah menyembah banyak Firaun, dan kita juga adalah Firaun. Kita adalah tuhan! Maka marilah kita berpidato! Memberi janji berupa “sihir” pada rakyat yang merasa tak berada lagi pada surga dunia. Karena sudah sulit menemukan orang untuk melafalkan syukur kecuali selalu saja merasa kurang. Padahal, jika kita membuka mata hati sangat lebar, maka kita menemukan rahmat Ilahi bahwa kita masih jauh lebih baik dari orang lain. Namun mampukah kita? Ah!


Makassar, 6 Desember 2003

2 comments

  1. Kalau masih anak-anak
    Bertanyanya sangat banyak
    Dan membuat orang tua terbelalak
    Menjawabnya perlu kata-kata tanak

    ReplyDelete
  2. Sebuah esai yang apik. Asdar Muis ini seorang yang konsisten membuat esai-esai.

    ReplyDelete

Home