Desah Terakhir (Sebuah Cerpen) karya Sitti Aida Azis | IAN KONJO -->

Desah Terakhir (Sebuah Cerpen) karya Sitti Aida Azis

Desah Terakhir (Sebuah Cerpen) karya Sitti Aida Azis | Dengarkan apa yang kukatakan “Kamu jangan mengikuti pengangkatan itu, berhenti jadi pegawai

warnahost.com
Desah  Terakhir (Sebuah Cerpen)

Dengarkan apa yang kukatakan “Kamu jangan mengikuti pengangkatan itu, berhenti jadi pegawai negeri kalau mau selamat!!! Ingat ! bukan pemerintah yang menentukan masa depan tapi Allah taala, paham, kamu!!! Kembalikan SK pengangkatan itu dan jangan pernah membicarakannya lagi”.

Suara itu tidak pernah hilang, makin aku berusaha untuk melupakannya makin terasa segar dalam ingatan dan pendengaranku.

Kulakukan pendaftaran calon guru SDLB karena panggilan nuraniku, dan sengaja kupilih daerah terpencil sehingga terasa benar pengabdianku pada Negara dan bangsaku. Aku mendaftar calon PNS tidak kusampaikan kedua orang tuaku karena khawatir tidak dibolehkan, namun kenyataannya memang demikian. SK pengangkatan tidak dibolehkan bahkan diperintahkan untuk mengembalikan. Semua keluarga, teman-teman pada heran mengapa Ettaku ( sapaan kami kepada ayah) berkeras melarang mengikuti pengangkatan PNS. Hal ini didasarkan pada kekhawatiran karena lokasi tempat mengajar rawan akan keselamatan apatahlagi aku anak perempuan satu-satunya dari tiga orang bersaudara. Mengapa pula aku memilih daerah terpencil pun aku punya alasan, semoga ditempat mengajar yang baru segala kekecewaanku lambat-lambat terkubur dan tergantikan dengan bahagia.

Tidak berlebihan seandainya aku mengatakan, bahwa ternyata mencintai dan dicintai, sayang dan menyayangi akan berakhir dengan fatal. Tiga tahun aku berkenalan dengan pemuda tingkat akhir di tempat kuliahku, yang berbeda dengan aku dan kawan-kawan karena dia sudah PNS pada Departemen Sosial Provinsi Sulawesi Selatan. Dia kusapa Kak Adit, nama lengkapnya Andi Baso Aditya Mappangara. Tiga tahun bukan waktu yang singkat, banyak suka dan duka kami lalui bersama, tapi memang aneh karena selama aku bersama pikiran dan asaku menganggap Kak Adit bukan kekasihku tapi saudaraku, mungkin karena perhatiannya sama perhatian yang kurasakan dari kakak pertamaku.

“Adik, kalau tertawa jangan kelewat batas, apa kata orang yang mendengarkan, untung tidak mengatakan “guru, katanya. Mengapa tertawanya sama dengan orang yang tidak punya sekolah” Apa saja yang kulakukan menurutnya dan menurut orang tidak baik, pasti menegurnya dengan bijak. Sama halnya dengan busana yang aku kenakan, spontan menegur kalau memang tidak enak dipandang oleh orang banyak.

“Adik, baju itu tidak layak dipakai karena jelas bentuk tubuh, lebih baik disedekahkan ke orang yang memang cocok, buat amal. Kalau menegur, kemudian tidak terlalu ekstrim, yah aku turuti, tetapi kalau bertentangan dengan kata hatiku, pastikan aku membantah dan aku marah berat kalau dibantah pula. Tapi itu jarang terjadi.

Suatu sore aku dijemput di tempat mengajar (waktu itu masih honor), karena lama, entah apalah yang membut terlambat.

“Ayo Adik, naiklah ke motor, maaf terlambat”.
Aku tetap jalan dan tidak mau naik ke motornya.

“Lihat ke langit mendung makin tebal, ayo adik, jangan seperti itu, ayolah maafkan kakakmu”. Aku tidak menghiraukan panggilannya.

Rintik mulai dan sebentar lagi akan deras, kak Adit berhenti untuk memasang baju hujan, tetapi tidak sempat dia kenakan karena aku berteriak “Tidaaaak, tidaak, jangan pakai baju itu, aku tidak mau melihat baju itu. Akhirnya baju hujan disimpan tidak jadi dikenakan. Maka berbasah-basahlah kami sambil jalan dan tidak bernaung karena takut, aku akan berteriak lagi. Setelah kejadian tersebut, Kak Adit tidak pernah lagi terlambat menjemputku.

Yang Kak Adit perhatikan, mulai dari penampilan, karakter, pergaulan, makanan yang dilarang karena memang aku mengidap penyakit, jadwal belajar, jadwal tidur dan yang paling keseringan dipantau adalah waktu sholat.

Adalah kesalahan dibuat oleh Kak Adit yang menyebakan orang tuaku tidak memaafkan. Orang tuaku murka dari kata-kata yang dilontarkan sore itu. Kak Adit mengunjungiku kebetulan aku tidak ditempat dan yang meladeni adalah ibuku (Puang Nurung). Ibuku bertanya “Kenapa mencari Ari” (Andi Tenri Batari Masagena), jawabnya “Saya rindu, Puang”. Kata rindu itu membuat ibuku murka. Kata itu masih tabu buat beliau. Itulah awal tragedy kami. Hal ini dimaklumi karena kami dalam keluarga masih menganut paham kolot, terkhusus kedua orang tuaku. Sejak itu Kak Adit memaklumi keadaan, jarang menjumpaiku di rumah. Pertemuan kami, sangat dibatasi oleh ruang dan waktu. Hari-hariku kujalani dengan kemurungan, seakan-akan dunia hancur dan hancurannya menimpaku sehingga badanku remuk, tulang-tulangku rasanya patah-patah, pandangku nanar, tawaku hambar. Seandainya Allah pernah menciptakan manusia cuma sepotong, seperti itupun tidak ada keluarga yang membantuku merasakan pahitnya kehidupanku. Aku jalani sendiri. Di rumah aku disuruh berpisah dengan Kak Adit, ketemu Kak Adit aku disuruh bertanggung jawab. Seperti apa pertanggung-jawabanku ke orang tua, sementara tidak ada lagi alasan buat beliau.

“Percaya Adik, cinta tidak bisa dibuat sandiwara, tolong pertahankan hubungan kita di depan Puang”. Aku tidak bisa menjawab, hanya air mataku yang dapat menjawab atas penderitaanku.

Aneh memang, kenapa di saat kami disuruh berpisaha, kemesraan mulai terasa sehingga makin perih hidupku, mulai aku merasakan rindu, takut akan kehilangan, takut ditinggal, ingin rasanya selalu bersama. Maka dari itu, aku dan Kak Adit merencanakan pertemuan dan mencari alasan sehingga selalu bersama.

Suatu sore, terpaksa aku dijemput Kak Adit membesuk kawanku yang sementara dirawat di rumah sakit Bayangkara. Ibuku berkata dengan sinisnya “Itu penjual boroncong, beli saja boroncong satu gerobak buat kamu bawa membesuk”. Rasanya nafasku sesak, penglihatanku gelap, syukur masih bisa kuatasi, sehingga tidak pingsan. Sepanjang jalan aku menangis, Kak Adit pun bingung mesti dengan apa membuat aku diam.

“Adik minta tolong berhentilah menangis, malu dilihat orang,. Apa kata orang-orang yang melihat adik dengan tangis yang memilukan, berhenti adikku”.

“Biarkan aku menangis Kak, biarkan aku meraungi nasibku yang sadis ini” , kataku.

Setiba di Bayangkara, kami bertemu dengan beberapa kawan ngajar, tapi sebelumnya kami mampir membeli bingkisan di toko depan. Kak Adit menegurku dan berkata “Adik, air mata di pipi kiri”. Artinya kak Adit menyuruhku menghapus air mataku yang tertinggal di pipi kiri. Tidak kuhiraukan dan hatiku memberontak, inginnya kak Adit yang menghapusnya, bukan aku. Karena aku tidak menghiraukan akhirnya dia menghapus dengan telunjuknya. Kurasakan telunjuk Kak Adit menyentuh pipi kiriku inginya berlama-lama, namun cuma sekejap, begitu terhapus titik air itu lepas pula telunjuk Kak Adit, itupun dilakukan dengan tergesah-gesah karena malu dilihat orang.

Lonceng berdering, tanda selesainya tamu pasien berkunjung, kami berserta kawan-kawan dan keluarga si sakit meninggalkan Bayangkara. Hatiku memberontak, inginnya berlama-lama dengan Kak Adit.

Aku menengok kiri-kanan mencari tempat duduk buat istrahat, karena perintahku, maka Kak Adit pun ikut duduk. Namun ada keganjilan karena begitu kami duduk, badanku spontan kubenamkan ke badan Kak Adit, saat itu belum ada bahasa, yang ada, aku menikmati hangatnya badanku bersandar ke badan kekasihku. Karena merasa kami akan berpisah dan perpisahan itu amat sangat pedih, maka kumohon aku mau dirangkul.

“Kak, tolong dekap badanku”. Kak Adit, bengong, “Kak, tolong aku dipeluk”, masih bengong.

“Kak, aku sakit, tolong rangkul badanku” “Kalau Kakak tidak melakukan aku akan berteriak meminta dipeluk” kataku.

“La haulawala, kuata illah billah, mengapa demikian, Adik” jawab Kak Adit.

“Tolong dekap badanku” kuulangi kalimat itu.

Akhirnya, Kak Adit merangkul badanku, kubenamkan wajahku dalam badannya, ada perasaan damai saat itu, kukatakan, rangkul erat-erat, jangan dilepaskan rangkulanmu Kak, sebelum rohku menyatu dengan rohmu. Dalam rangkulannya, hatiku menjerit, aku tidak mau berpisah, aku sakit ya Allah kalau Engkau memisahkanku. Mendengar suara azan magrib, lengan Kak Adit pelan-pelan dilepaskan lalu berkata, Adik, kita ke mesjid, aku lunglai, kutapak jalan yang kulalui seakan jalan di atas onak dan duri.

Dalam boncengan aku merangkul badannya. Itupun baru aku lakukan, kedua tanganku kudekap badannya dan hatiku menjerit, “Aku tidak mau berpisah”, “Aku sakit kalau berpisah”.

Kusangka suasana rumah masih biasa-biasa, ternyata tiba di rumah aku kena rudal dari kedua orang tuaku. Belum selesai sakit hatiku karena Kak Adit menurunkan aku di sudut jalan atas perintahku.

“ Tidak usah diantar sampai ke rumah, Kak” Takut Kakak dapat marah, aku diturunkan di pojok jalan sana”. Dengan terpaksa Kak Adit lakukan, “Adik, tidak enaknya yang begini, masa diturunkan di jalan persis saja barang curian, Kakak tadi menjemput di rumah, yah harusnya dikembalikan di mana dijemput” kata Kak Adit.

“Jangan! Bahaya kalau Ettaku lihat, pasti lebih murka dari kemarin-kemarin”. “Sadari-lah Kak, kita tidak direstui, kita disuruh berpisah”.

Begitu pintu aku buka, langsung Ettaku dengan penampilannya yang membuat isi perutku keluar semua sampai terasa pahit. Tapi apakah Beliau iba? Oooh tidaaak!!! Malah tambah murka. “HEE! Mulai besok kamu tidak bisa lagi ketemu dengan si setan itu”. Kata Ettaku.

Bayangkan saja orang segagah, dan sebaik Kak Adit dikatakan setan, aku tidak terima, dan kalimat itu tidak mungkin kusampaikan ke Kak Adit, tidak mungkin, biar aku saja yang mendengar dan merasakan sakit yang kelewat batas.

“Dengarkan, buka telingamu, tanam di hatimu, cerna di otakmu, kalau kamu sama si setan, jangan tulis nama Etta di belakang namamu, paham!!!”.

Dengan kalimat itu, aku sempat merenung, berarti kalau aku sama Kak Adit, orang tuaku membuangku, mengingkariku. AHHH, si malakama, makan mati ibu, tidak dimakan mati ayah.

Pagi hari aku temui temanku, sahabatku meminta tolong dihubungi Kak Adit, aku bertemu di rumah sahabatku itu. Kutumpahkan isi hatiku ke Kak Adit, tapi…

“Insyallah, minggu depan keluargaku akan melamar, aku akan bertanggung jawab, apa pun yang terjadi kami akan memintamu dengan adat” kata Kak Adit.

“Akan kubuktikan di hadapan kedua orang tuamu dan keluargamu kalau saya dan keluargaku bukan penghianat, dengan ku-melamarmu, itu bukti autentik keluargaku bukan pengecut, atau penghianat” lanjut Kak Adit.

Layak-kah keluarga aku dikatakan keluarga ber-adat?, keluarga baik-baik?, keluarga darah biru? Sementara utusan keluarga Kak Adit datang dengan adat, tapi disambut dengan makian, dan yang paling banter, Ettaku membalik meja di depan tamunya. Kiamat…. Ya Allah turunkan pertolongan-Mu, sadarkan orang tuaku ya Allah!

Setelah kejadian tersebut, lambat-lambat pertemuanku dengan Kak Adit, sekali-kali, kemesraan seakan berubah jadi saling membenci. Siapakah yang salah, aku-kah atau Kak Adit-kah? Solusi tidak kami temukan, walau Kak Adit pernah mengusulkan.

“Adik, sayang tidak sama Kakakmu ini”. “Ya, sayang banyak”, kataku.

“Kalau sayang, bagaimana kalau kita silariang”. “APA” kataku, silariang?” “Iya”. “Kita tinggalkan Makassar, kita pergi ke Palu, di sana kawanku pimpinan (Kepala Dinas Sosial) pasti mau menerimaku sebagai pindahan”.

“Kak, sadar. Kalau kita silariang, besok biar kita jaya semua yang mengenal kita pasti mengatakan hubungannya tidak direstui, jadi mereka silariang”. Bagaimana dengan turunan kita, mereka tidak bersalah tapi juga menanggung aib yang kita gores bersama, sadar, Kak”.

Keluarga Kak Adit merasa terhina atas perlakuan orang tuaku, maka dilamarkan-lah gadis pilihan orang tuanya. Aku menerima takdir Allah, kekasihku disuntingkan gadis pilihan orang tuanya, dari keluarga terhormat, aku tinggal sendiri menonton kebahagian orang lain.

Aku, selalu duduk berlama-lama di pantai losari, pun seakan aku sendiri yang menikmati ombak silih berganti.

Kulayari air mataku
Kupanggul luka jiwa
Kutatap tamparan laut ke cadas
Nyata seteguh asaku yang terkoyak

Kadang aku naik turun petek-petek sampai malam. Entah pula batasnya, rabun.

Setelah kejadian itu, maka aku mencoba mendaftar PNS di daerah terpencil Sulsel dengan harapan dukaku terhapus dengan kesibukanku mendidik dan mengasuh anak berkebutuhan khusus. Tapi lagi-lagi aku dilarang, dan kembali orang tuaku murka dengan kedatangan SK PNS.

Untuk kali ini, murka tetap murka, kujalani PNS tersebut di kaki gunung Lompo Battang, pun aku bersumpah, yang satu ini pasti akan kujalani, sekalipun lautan api akan kudobrak, kuyakin di sana ada bahagia yang menantiku, yaitu anak bangsa yang membutuhkanku.

Kuberusaha menghapus semua kenanganku dengan Kak Adit, tapi makin aku kubur makin tampak kenangan duka itu. Sampai akhirnya setahun aku mengabdi, derita belum akhir. Kanker di rahimku makin melela, terpaksa barang berharga itu pun dimusnahkan.

Pertanyaannya, mampukah aku mencintai setelah Kak Adit? Sementara aku tidak sempurna lagi?

Barang yang kubanggakan tidak ada padaku. Akan menjadi penipu ulung-kah aku, mencintai lalu khianat yang kuberi? Apa yang dibanggakan seorang istri ke suaminya tidak kumiliki. Seandainya ada orang yang mencitaiku, percaya buntutnya pasti ada lagi tangis, dan tangis itu tidak akan pernah reda. Kata orang sederas-deras hujan pasti akan reda. Tapi air mataku tidak akan pernah reda.

Aku senasib dengan anak-anak didikku, mereka tidak normal. Aku pun demikian, tidak normal!!!


Bumi Permata Hijau 10 Mei 2016, Pukul 8.45.
Home