Sebuah Cerpen: Menghargai Pemberian (II) | IAN KONJO

Sebuah Cerpen: Menghargai Pemberian (II)

warnahost.com
Nah, kira-kira begitulah yang terjadi denganku. Buku yang saat ini kupegang ialah buku kumpulan cerita A. S. Laksana, Murjangkung. Aku memiliki dua buku itu. Yang satu sudah kubeli sejak lama, satunya lagi adalah pemberian temanku, Rani.

Ini adalah lanjutan cerpen “Menghargai Pemberian” bagian. Kalimat di atas adalah salah satu isi di bagian satunya. Jika belum membacanya, baca saja di Menghargai Pemberian 1.

=======================================

Sebuah Cerpen: Menghargai Pemberian (II)

Alih-alih memilih kedua pilihan tersebut, aku malah bilang, “Lebih enak memanggilmu Rani.”

“Kok?”

Alasanku memanggilnya “Rani” dan kejadian setelahnya, aku betul-betul lupa. Yang aku ingat justru sebelum kami berpisah, aku mengatakan untuk bertukar kontak. Mungkin kalau besok-besok ada bazar lagi, nanti bisa janjian datang dan mencari buku bersama. Begitulah caraku meminta nomornya. Lucunya, ia langsung memberikan begitu saja dan mengetikkan nomornya di ponselku. Yang lebih tidak kusangka, begitu sampai rumah dan mulai mengontaknya, aku baru sadar ternyata diberikan nomor sedot WC. Jamban! Rani mengerjaiku. Kenapa enggak sekalian nomor telepon badut sulap?

“Udah bengongnya? Enggak usah segitunya kali mengenang pertemuan kita,” kata Rani, membuyarkan kenangan yang sedang kunikmati pelan-pelan itu. “Mau pesen apa? Udah laper nih.”

Aku pun protes kepadanya karena mengganggu hobi aneh sekaligus favoritku: melamun. Begitu Rani mengeluh lapar lagi, barulah aku memanggil pramusaji. Rani memesan machiatto dingin dan, karena kurang suka kopi, aku memilih es teh leci. Makanan yang kami pesan sama: roti panggang telur kornet.

Soal bagaimana kami bisa berteman, karena beberapa hari setelah pertemuan itu, Rani ternyata menemukan blogku dan mengirimkan surel. Surat yang berupa permintaan maaf dan nomornya yang asli. Sejak itu, kami jadi sering berburu buku bersama dan mendiskusikan buku-buku yang habis dibeli dan dibaca itu.

“O iya, soal buku yang kamu kasih ini, sebetulnya aku udah punya,” aku membuka obrolan sembari menunggu pesanan.

“Serius?” tanya Rani, yang tiba-tiba cemberut.

Aku mengangguk.

“Yah, telat ngasih berarti aku. Padahal lumayan susah tuh dapetin A. S. Laksana yang Murjangkung. Kamu, kan, kayaknya suka banget sama cerpen-cerpennya beliau. Makanya, waktu itu aku sengaja beli dua pas ada bazar. Kebetulan juga sisa segitu, sih. Pas kubaca, ternyata emang seru bukunya. Humornya Pak Sulak (panggilan akrab A. S. Laksana) keterlaluan kerennya.”

“Terus gimana nih?” tanyaku, kebingungan karena dikasih buku yang sudah kumiliki.

“Emang udah punya semua?”

“Cuma Kolam Darah yang belum pernah baca. Baru tahu juga soal penulisnya.”

“Baca deh tulisan Abdullah Harahap itu. Meskipun horor, menurutku ada sisi lucunya.”

“Oke, Ran. Dua buku yang lain berarti kukembaliin nih?”

“Yeh, enggak usah. Aku, kan, juga udah punya.”

“Terus?”

“Jual aja,” ujar Rani, lalu cekikikan sendiri.

Selagi bingung menanggapi perkataannya barusan, syukurnya pramusaji datang untuk mengantarkan pesanan kami. Aroma roti panggang itu menggodaku untuk segera menggasaknya. Suasana pun mendadak hening, sebab Rani tidak suka berbicara sambil makan. Baguslah. Aku pun bisa memikirkan kalimat ketidaksetujuanku akan pernyataannya tadi. Begitu makanan yang di meja sudah dilahap habis, barulah aku tahu untuk merespons apa.

Aku kemudian protes kalau menjual pemberian orang lain itu berarti enggak menghargai perasaan orang yang sudah memberikan hadiah.

“Kok kamu bisa bilang begitu?”

Aku mengaduk-aduk es teh leci, lalu memperhatikan dua buah leci yang berputar itu seraya mengingat sesuatu. Setelah ingat akan suatu hal, aku pun bercerita kalau pernah diberikan pacarku—yang kini sudah jadi mantan—sebuah jam tangan.

Karena setiap melihat jam tangan pemberian dari mantanku itu dadaku rasanya sesak, aku pun menyimpannya di kardus bersama benda-benda yang sudah jarang dan tidak terpakai. Sampailah ketika aku dan mantan pacarku itu tidak sengaja bertemu di lorong kampus. Awalnya kami bertukar kabar dan mengobrol baik-baik. Nah, begitu ia melihat pergelangan tangan kananku yang tidak mengenakan jam yang dihadiahkannya, ia bertanya kepadaku, kenapa jam yang ia berikan itu enggak dipakai?

Aku mengatakan kepadanya kalau jam itu hilang. Ia langsung marah-marah. Aku pun menirukan perkataan mantanku saat itu, “Bohong! Kamu jual pasti, kan? Sumpah, kamu jahat ya, Dit. Jahat banget! Kamu tuh enggak bisa apa sedikit aja menghargai pemberianku? Aku benci sama kamu, Dit!”

“Sehabis ngamuk kayak gitu, ia pergi begitu saja,” kataku.

“Drama banget,” ujar Rani, lalu tertawa terbahak-bahak sampai lupa tempat kalau suaranya itu bisa mengganggu pengunjung lain. Namun, aku pun jadi ikutan tertawa mengingat hal bodoh itu. Menertawakan diri sendiri seperti ini, kupikir asyik juga.

“Tapi bukannya dia yang ninggalin kamu untuk laki-laki lain, ya? Kok masih peduli gitu?”

Aku menjawab entahlah dan mencoba untuk mengalihkan topik. Sungguh, aku mulai malas mengingatnya lagi. Apalagi membicarakannya. Sialnya, Rani malah terus meledekku. Hingga ia pun bertanya, “Lantas, bagaimana denganmu yang kehilangan dia, ya? Apa dia enggak memikirkan perasaanmu?”

“Mungkin aku juga tidak memikirkan perasaannya.”

“Kok?”

“Ya, dengan menjawab seenaknya kalau jam itu hilang. Mungkin aku bisa bilang kalau ada di rumah dan lupa memakainya. Kupikir, responsnya pasti berbeda. Akhirnya, jam yang ia kasih itu pun belum lama ini hilang betulan ketika aku sedang merapikan kardus-kardus itu. Aku jadi menyesal sudah bilang begitu dan benar-benar menghilangkan jam pemberiannya.”

“Kenapa kamu mendadak jadi merasa bersalah?” Rani bertanya dengan suara yang tidak biasa. Seperti ikut bersedih dan memberikan simpati kepadaku.

“Seperti katamu, mungkin bisa dijual. Lumayan, kan, uangnya?”

“Dih, sialan! Adit ternyata emang berengsek!”

Aku gantian cengengesan melihat wajahnya yang berubah masam. Tak lama, ia pun ikut tertawa. Mungkin menertawakan dirinya sendiri yang sudah memasang tampang serius, ketika berharap akan mendengar curhatanku yang menyedihkan, tapi aku malah meledeknya dengan pernyataan dia sendiri.

***

To be continue....


Oh iya, ini adalah cerpen yang saya copy dari SINI!. Cerpen ini ditulis oleh Yoga Akbar Sholihin dan dipublish pada 24 April 2019.
Home