Sebuah Cerpen: Menghargai Pemberian (I) | IAN KONJO

Sebuah Cerpen: Menghargai Pemberian (I)

warnahost.com
Dari sebuah buku pemberian seorang teman, kamu dibawa ke suatu memori yang mengubah cara pandangmu dalam menghargai sesuatu.


Sebuah Cerpen: Menghargai Pemberian (I)

Selagi aku beres-beres lemari dan rak buku, ada salah satu buku yang saat kusentuh tiba-tiba memberikan sebuah cerita. Kau tahu, kenangan mudah sekali datang. Bisa lewat lagu, benda, ataupun tempat. Lagi pula, banyak cara untuk mulai mengenang. Mungkin cara mudahnya bisa dimulai dengan membuka tumpukan kardus berisi barang-barang lama. Pilih salah satu benda secara acak, setelah itu pandangi, dan biarkan ia berkisah.

Nah, kira-kira begitulah yang terjadi denganku. Buku yang saat ini kupegang ialah buku kumpulan cerita A. S. Laksana, Murjangkung. Aku memiliki dua buku itu. Yang satu sudah kubeli sejak lama, satunya lagi adalah pemberian temanku, Rani.

Aku sebetulnya memegang buku yang milikku sendiri. Namun, buku itu otomatis mengingatkanku kepada Rani. Mataku pun segera mencari buku yang satunya lagi. Setelah melihatnya berada di rak sebelah kanan dan baris nomor dua dari bawah, aku mengambil buku yang masih terbungkus plastik itu. Berikut beberapa buku lainnya yang juga masih tersampul plastik dan belum sempat terbaca. Kupandangi buku-buku itu, hingga aku dibawa ke sebuah cerita sekitar setahun silam.

Sehari sebelum Rani berangkat ke Yogyakarta untuk meneruskan kuliah S2-nya, kami sepakat bertemu di Kafe Wirdy, Jakarta Barat. Rani lah yang tiba-tiba mengajakku berjumpa. Katanya, sebagai salam perpisahan, sebab ia mungkin tidak akan kembali lagi dalam 2 atau 3 tahun. Selain urusan kuliah, ia mungkin juga ingin merasakan tinggal di Jogja.

Seperti biasa, aku sampai lebih dulu di kafe itu. Selain karena tidak suka membuat orang menunggu, lokasinya memang lebih dekat dari rumahku. Sepuluh menit berselang, barulah Rani sampai ketika dari kejauhan tercium aroma parfumnya. Tidak menyengat, begitu segar, dan sudah kukenali.

“Bisa enggak, sih, kamu sekali-sekali datang terlambat, Dit?”

Aku awalnya cuma tersenyum untuk memberi respons. Sampai melihat ia membawa tas punggung, barulah aku bertanya, “Bukannya masih besok berangkatnya, Ran?”

Sejauh yang kutahu, anak ini enggak pernah membawa tas punggung setiap pergi keluyuran denganku. Ia tidak mau ribet menggendong tas.

Biasanya ia hanya memegang dompet, yang setelah itu dititipkan ke dalam tasku. Sekalinya bawa tas, paling cuma membawa tas selempang kecil. Yang berisi dompet dan alat rias favoritnya: bedak bayi dan lipstik.

“Oh, ini,” ujarnya sambil membuka ritsleting tas. “Ada yang mau aku kasih ke kamu.”

Ia pun memberikanku tiga buah buku; Murjangkung—yang kusebutkan di awal cerita, Baju Bulan (Joko Pinurbo), dan Kolam Darah (Abdullah Harahap).

“Maksudmu ngasih aku buku kayak gini apa?”

“Kita, kan, kenalan awalnya dari buku. Aku entah kenapa merasa berutang buku kepadamu. Masih ingat hari itu, kan?”

Tahun 2015 pada bulan Mei dan bertepatan dengan Hari Pendidikan, aku masih ingat betul hari itu. Kami bertemu dengan tidak sengaja di sebuah bazar buku. Awalnya aku dari jauh memperhatikan sebuah buku yang sebelumnya kukenali. Aku pernah ikut kuis yang hadiahnya buku itu, tapi sayangnya belum bernasib baik. Lalu begitu menemukan buku itu lagi di tumpukan buku yang diobral di sebuah bazar, mendadak muncul hasrat untuk membelinya.

Bodohnya, aku tidak menyadari keadaan di sekitarku. Begitu sudah dekat dengan buku itu, ternyata ada seorang perempuan yang sudah terlebih dahulu mengambil bukunya. Rupanya, kami melihat satu buku yang sama: Draf 1 Taktik Menulis Fiksi Pertamamu.

Aku pun berdiri mematung, masih tidak percaya kalau gagal Iagi memperoleh buku itu. Ia tiba-tiba menoleh ke arahku. Aku pun salah tingkah, refleks garuk-garuk belakang kepala dan tersenyum. Ia kemudian membalas senyumku. Manis sekali. Seperti melihat kue brownies. Brownies yang memiliki bibir, mata agak sipit, dan rambut sebahu. Tak lama, ia malah berjalan menghampiriku. Baiklah, sekarang ia brownies yang dapat berjalan. Aku membalikkan badan, pergi ke arah tumpukan buku yang lain.

“Kamu tadi mau ngambil buku ini juga?” katanya.

Aku menoleh, lalu menunjuk diriku sendiri.

“Iya, kamu barusan sepertinya mau ngambil buku ini,” ujarnya sambil memperlihatkan buku itu kepadaku. “Tapi malah aku yang ambil duluan.”

“Oh, enggak apa. Itu buat kamu aja. Nanti aku cari yang lainnya. Mungkin masih ada stoknya.”

“Aku bantuin cari kalau gitu.”

Aku udah bilang kalau hal itu akan merepotkannya, tapi ia tetap membantuku mencari buku itu. Ya, enggak ada salahnya juga sih, pikirku. Setelah 20 menit berusaha mencari-cari buku yang sama dan tidak juga membuahkan hasil, Rani pun menyerah.

“Sepertinya tinggal satu yang kuambil ini. Maaf, ya, enggak ketemu lagi bukunya,” katanya begitu pasrah.

Mungkin ia mulai lelah mencari dan ada urusan lain yang lebih penting. Jadilah, aku mengatakan untuk tidak perlu membantuku lagi dalam menemukan bukunya. Aku juga bilang kalau telah memiliki buku panduan menulis lain, yakni Creative Writing (A.S. Laksana).

“O iya, namaku Akbar Aditya,” ujarku menyodorkan tangan kanan untuk bersalaman. “Panggil aja ‘Adit’, karena kalau ‘Akbar’ enggak cocok sama badanku yang kurus.”

Ia tertawa kecil mendengarku berkelakar semacam itu. Ia menjabat tanganku. Melihat tangannya, aku merasa agak aneh. Jarang sekali warna kulit tanganku lebih putih dari seorang perempuan. Jarang memakai sarung tangan setiap mengendarai motor membuat kulit tanganku belang. Namun, aku baru menyadari kalau kulit perempuan ini sawo matang. Karena saat melihat parasnya tadi, ia tampak cerah. Mungkin wajahnya sering dibasuh air wudu.

“Tirani Meliyana. Boleh panggil apa saja.”

Aku membatin, panggil “perempuan sialan yang tiba-tiba merebut buku dariku”, boleh?
Lalu aku tertawa sendiri dengan lelucon itu.

“Kenapa? Namaku ada yang aneh?”

“Di kamus, Tirani kalau enggak salah artinya: kekuasaan yang seenaknya sendiri,” aku sengaja memberi jawaban yang berbeda dari yang aku tertawakan sebelumnya.

“Wah, egois sekali. Aku bahkan enggak tahu sebelumnya.”

“Semoga kamu bukan orang seperti itu.”

Ia tertawa lagi. “Soal nama panggilan tadi, sebenarnya temen-temenku, sih, biasa memanggil ‘Tira’ atau ‘Meli’. Kamu boleh memilih salah satunya.”

***

To be continue....

Lanjtannya bisa dibaca di "Menerima Pemberian (II)".

Oh iya, ini adalah cerpen yang saya copy dari SINI!. Cerpen ini ditulis oleh Yoga Akbar Sholihin dan dipublish pada 24 April 2019.
Lihat/Beri KomentarSembunyikan Komentar
Home