
kekasihku, sisakan aku separuh matamu dengan terbuka,
separuh bibirmu yang berbisik,
separuh jiwamu yang berdoa,
separuh mimpimu yang terindah
perpisahan ini hanyalah sebuah ketupan mata
karena dalam setiap gelap
kita akan mencari cahaya pada ketupan rindu yang terpejam
ada bayangan kematian yang mendekat sekalipun aku tak sekarat
seperti akan ada yang akan berhenti pada matamu
ikatlah cintaku diantara kepergian dan kematian ini
karena aku tak pernah menjual cintaku pada kepunahan
aku melihat musim yang basah ini
beriringan dengan kesedihanmu yang tak putus-putus
di mataku, ketika aku bertanya cinta
selalu ada cahaya yang mencair dan melelehkan sunyi
ada bayangan kelembutan yang aku undang untuk mengubah takdirku
dengan begitu cinta ini akan terus bernyanyi
untukmu, aku tak pernah punya "tak mungkin"
aku akan selalu punya yang "mungkin"
bagimu, aku tak pernah punya "kadang-kadang"
tapi aku akan selalu punya "setiap saat"
buatmu, aku tak pernah punya "tak pernah"
aku selalu punya yang "selalu"
dan semua itu bukan sekedar "saat ini"
tapi "selamanya"
meski kau tak melihat aku terluka tapi aku berdarah
ada yang menembusi hidupku seperti peluru yang menghujam melukis kematian
meski aku berdarah tapi aku tak merah
ada yang lebih merah dari sekedar berdarah
itulah perpisahan yang kosong
di sini aku melengket pada malam yang bergetah
di antara rindu yang bersepakat dengan sunyi
begitulah keheningan yang lembut ini tercipta
aku sadar betapa berbedanya aku dalam cinta
satu jam perpisahan akan terasa menjadi tetesan-tetesan kecemasan
yang menitik berabad-abad
bahkan satu kedip kelopak matamu pun terasa begitu lama
kirimkan aku susunan perih yang runtuh dari menara kesunyianmu
aku ingin menghimpun ranting-ranting yang patah dari kegiranganmu
ada puzzle yang tak bisa aku susun
karena sehari itu sangat panjang jika aku berada di sebuah bandara yang kosong
di mana cinta ini tertidur
kekasihku, aku akan pergi di malam yang hujan
kita akan ada di seberang yang berbeda
seperti di belahan Sungai Yuma
di belahan sungai Yang-Tse
di belahan sungai sungai Amazon
di belahan sungai Gangga
di belahan sungai Nil
di mana aku pada siang dan engkau pada malam
aku mendengar suara violin yang menyusuri hujan
menatap sisa-sisa kebahagiaan pada bibir cawan anggur
perpisahan telah menawan hidupku dengan hikmah kesunyiannya
dan aku tak kuasa menghitung tabungan air mata kita yang mengering
kekasihku, dulu aku mendobrak waktu untuk mencuri kisahmu
aku mencintaimu tanpa bersammu
aku merindukanmu tanpa tahu apakah rindu ini untukku atau bukan
kini saat aku bersamamu, aku tak tahu
apakah cinta dan rindu ini untuk membuatku menyerah
pada kelopak-kelopak waktu yang gugur
oh hujan, tahukah, kalau cinta adalah perjalanan angin dalam air
yang disentuh cahaya bintang
suara cinta adalah gelegar
dimana dua petir dari dua jiwa bersilangan pada api
dan dua hati ditaklukkan oleh satu kisah yang berciuman
cinta ini seperti magnolia yang merekah dalam kesementaraan yang mekar
aku melihat rindu menghancurkan dirinya sendiri
mengesahkan kesunyian sebagai jalan untuk tiada
aku menembusi semua catatan mitos hingga filsafat
menelusuri semua catatan pada sastra
tapi engkau adalah mempelai kisahku yang tak terjelaskan
sastra dan filsafat telah aku telan untuk kemudian teracuni pada senyumm
aku mengerjakan tugas cinta ini untuk diriku sendiri
meski melukaiku dengan sabana derita yang luas
tapi aku membuat sajak dari kaca
agar serpihan-serpihan hujan bisa mengembun di mataku
agar matamu yang madah indah itu bisa jadi rumah kecil bagi kenanganku
karena matamulah yang bisa membuat kenanganku hidup
nestapa ini bukan salah jiwamu
tanganmu yang lembut tak pernah menancapkan belati cinta ini di hati
kakimu tak memaksakan langkah menuju jalan rindu ini
madu yang suram inilah yang mengalir menuju pertemuan kita





Posting Komentar