Perjalanan Rindu

Perjalanan Rindu

Pernah, aku berpura-pura seolah tak terjadi apa-apa
Melalui hari yang selalu saja membuatku gagal memahami rasaku
Aku tak peduli pada kekuatan rindu ketika itu
Hingga pada satu titik dimana tak ada lagi yang mampu kuperbuat selain merindu
.
.
Kepura-puraanku sirna terhempas topan kerinduan yang mengamuk
Aku benar-benar terhempas jauh
Teramat jauh
Hingga perasaan itu tak lagi kurupai
Semuanya terasa sangat berbeda
.
.
Aku berusaha mengenali perasaan yang kacau ini
Mencoba mencari satu arah yang mungkin saja bisa membuatku meredam semuanya
Menafsirkan keadaan sebagai peta menuju sesuatu yang entah
Aku merangkai pecahan-pecahan mimpi yang tersisa ditengah amukan rindu ini
.
.
Cukup lama;
Rakaian itu masih belum utuh
Tetapi aku menemukan sketsa yang tak asing
Aku seolah pernah berada di titik itu
.
.
Aku masih berjuang mengenali rasaku
Aku belum menemukan kebenaran atas kepura-puaraanku
Aku tak menyerah.
Aku terus membawa langkahku mengikuti kemanapun arah menuntunku
Aku menghitungnya satu-satu.
.
.
Lalu, tiba-tiba semua buyar.
Aku ingat.
Aku baru sadar jika kau pernah menitipkan rindu pada satu ruang di hatiku
Di satu senja pada pertemuan kita ketika itu
Aku menemukanmu di sana
Berdiri seraya tersenyum.
.
.
Dan kini, aku tak bisa lagi berpura-pura seolah tak terjadi apa-apa
Aku menemukan rekahan senyummu
Sebab aku terlanjur jatuh cinta
Dan kau menjadi sebab atas rindu yang kualami
.
.
Gowa, 02 Desember 201

Bergeraklah Para Mujahid

Oleh: Andhika Mappasomba Daeng Mammangka
.
saudaraku para mujahid
yang bersimpuh di subuh hari
yang bertebaran di siang hari
mencari keridhaan ilahi
menegakkan kalimat tauhid
menebarkan benih cinta ke islaman
mendengungkan kalimat-kalimat allah
di dalam sajadku kuuntaikan kata kagumku
meski kutaksanggup memekikkannya ke langit
turut bersamamu masuk ke medan juang
turut bersamamu menyusuri jalan panjang pulau jawa
turut bersamamu menyerukan keadilan di bandar bandar nusantara
turut bersamamu melintasi gurun-gurun di timur tengah
engkaulah itu kekasih allah
cahaya surgawi
yang mengokohkan kebenaran agama di semesta raya
.
saudaraku para mujahid
melepuh pundakmu dipanggang matahari dan hujan
melepuh kakimu menyusuri jalan raya perjuangan
dan aku terlalu pengecut untuk turut
dunia masih mengikatku dengan indah tipuannya
dan kaulah itu guru akhirat yang nyata
menyongsong daun-daun sorga dalam langkahmu
.
saudaraku para mujahid
dalam wajahmu aku bercermin
betapa munafiqnya aku
tak turut berjuang di jalan sorgawi
namun mengolok-olokmu dengan kalimat neraka
.
maafkanlah aku mujahid wahai para mujahid
dunia melenakanku seolah kekal abadi
dunia menggodaku seolah abadi sajak-sajaku
maafkan aku mujahid
tak turut berdiri di tepi jalan memberimu segelas air
tak bisa turut memberimu sepotong roti
di tepi jalan yang jauh dan sunyi
kumohonkan doa untukmu para mujahid
semoga allah menguatkan langkah-langkahmu
membela agama, membela kitab langit dan membela kalimat allah
.
allahu akbar
allahu akbar
berjalanlah para mujahid
semoga panas matahari menjadi saksi niat jihadmu
semoga tetesan hujan menjadi saksi jalanmu ke sorga
doaku menyertai langkah-langkah kecilmu yang letih
.
wahai para mujahid
engkaulah itu tentara allah
yang berjuang menegakkan kalimat allah
aku bangga kepadamu
aku mencintaimu
tetes peluh dan darahmu adalah pesan yang terus menyala
takkan padam di siram hinaan dan caci maki kaum fasik
akan terus menyala hingga akhir masa
.
allahu akbar
allahu akbar
.
wahai para mujahid
dengan sunnah dan kata-kata rasulullah
kau sonsong matahari dengan keberanian di dada
kau penuhi jalan-jalan kota jakarta
seperti wukuf di arafah, seperti lautan putih di makkah
berjuta kalian di sana
satu warna satu hadapan
kiblatmu ka’bah yang suci
satu gemuruh yang penuhi dada dan angkasa nusantara
takbir
allahu akbar
takbir allahu akbar
.
bergeraklah para mujahid
berjalanlah para mujahid
kau takkan pernah sendiri
berjuta saudaramu melihat dari sini
berjuta saudaramu mengirimu langkahmu dengan doa-doa
.
dunia sementara
akhirat selamanya
dua kalimat yang menawan hatiku
mengikis ego dan kemunafikan jalan-jalanku
.
yaa mujahid
yaa kekasih allah
salam dari kami
sebab kutahu kau berjuang bukan untuk membunuh dan melukai
kau hanya ingin hukum ditegakkan di republik ini
bergeraklah para mujahid
di tangan dan mulutmu kutitipkan kalimat seruanku
tegakkan hukum di nusantara


Selatan Nusantara, 1 Desember 2016

Andhika Mappasomba
Andhika Mappasomba Daeng Mammangka

Puisi: Lihat di Sana

Lihat di sana....
Ada banyak kisah yang tumpah....
Seperti derai hujan yang baru saja usai mengguyur bumi
Tidakkah itu pertanda rindu?
Bukankah hujan mampu menumbuhkan rindu yang beku?
Bukankah hujan mampu menghanyutkan kita dalam kenangan yang entah dimana ujungnya?

Lihat lagi ke sana...
Tidakkah guyuran hujan tadi membawamu menyelami tiap kenangan yang pernah kau lalui?
Bukankah kadang ada rasa yang tiba-tiba hadir lalu pergi tanpa pamit?

Tetaplah melihat ke sana.
Dan pertanyaan-pertanyaan itu tak perlu kau jawab
Walau hanya satu.
Cukup pejamkan matamu
Dan ingat padaku......


Malino, 23.10.2016

foto malino
Hasil Foto Kamera Handphone

Puisi: Surat

Jika kau membaca surat-suratku,
Kau akan menemukan kerinduan yang tidak akan habis kau baca....

Di malam kian lelap....
Aku masih setia menyusun kata dari bisikan-bisikan rindu yang entah kapan akan bermuara
Lalu, tak ada siapapun yang akan mampu menghentikannya
Bahkan diriku sendiri.

Jika kau membaca surat-suratku, kau akan menemukan satu nama di dalamnya.
Yaitu namamu....
Dan puisi ini aku tulis dari huruf-huruf namamu yang selalu mengisi ruang di otakku.
Kau menjadi bayangan pada siang dan malamku.

Jika kau membaca surat-suratku, kerinduan-kerinduan itu akan terus mengaliri nadimu.
Aku merasakan hangat pada sekujur tubuhku.
Aku merasakan getar dalam tiap tarikan nafasku.
Aku masih menulis isi surat-suratku.

Jika kau baca surat-suratku, namamu akan tetap bersemayam di sana.
Lalu pada malam yang gigil....
Jiwaku kian tak tertahankan menyusun aksara agar tersusun rapi.
Aku masih menulis.....

Aku dengan segenap aku yang masih merangkai kalimat-kalimat ini.
Jika kau membaca kalimat terakhir dari surat-suratku, tutuplah matamu agar aku tahu jika kau telah usai membacanya.

Jika kau membaca surat-suratku, kau akan menemukan kerinduan yang tak akan habis kau baca....


Gowa, 19.04.2016/Ian Konjo


poster surat

Sebuah Catatan: Roemah Langit, Gowa Sulawesi Selatan

Roemah Langit, Gowa Sulawesi Selatan adalah sebuah komunitas yang terletak di Dusun Bonto Kura, Desa Bonto Tanga, Kecamatan Bonto Lempangan, Gowa Sulawesi Selatan. Desa yang sangat indah. Bukit-bukit berjejer rapi dan hamparan persawahan yang tertata rapi menyelimuti perbukitannya.

Di sanalah sebuah Komunitas berdiri, membangunkan rumah bagi anak-anak untuk belajar alternatif selain sekolah formal. Uniknya, desa ini tidak banyak dikenali oleh orang di Gowa apalagi sulawesi selatan.

Saat berkunjung untuk melakukan "kelas menulis" bersama Ian Konjo, 27-28 Agustus 2016, kami melihat bahwa jarak desa itu ke Malakaji adalah 20-an KM dan ke arah Makassar sekitar 90-an KM.

Roemah Menulis yang dikelola oleh seorang gadis bernama Bunda Lina, alumni FEIS UNM Makassar ini seolah menjadi malaikat yang membawa cahaya di tangannya. Kegelisahan Lina dengan Roemah Langitnya berawal dari kegelisahannya atas fenomena putus sekolah anak di sana, menikah dini, dan hal-hal lain yang berkenaan dengan pengembangan diri anak pedalaman.

Roemah Langit memiliki anggota tetap sebanyak 118 orang yang bisanya diajar menari, berpuisi, dan bermusik di rumahnya atau di perbukitan sekitar kampungnya.

Kampung yang indah. Dari sana akan terlihat Gunung Lompo Battang yang tinggi dan hijau menjulang. Awan berarak bagaikan bunga-bunga ragam warna yang harum. Saat ini Bunda Lina sedang merintis Pustaka Rumah Langit untuk membuka wawasan anak-anak di desanya agar dapat membaca buku dan mengenali dunia lebih luas.....

Mereka sangat membutuhkan sumbangan buku bacaan untuk semua usia...... mereka ingin membaca tapi, mereka tidak memiliki buku. mari membantu mereka.


Add FB: Roemah Langit
No Telp. 085 2421 86106

Sebuah catatan Andhika Daeng Mammangka

Di bawah in ada dua video yag kami buat sewaktu berkunjung ke Roemah Langit.

Ini judulnya Puisi Roemah Langit yang dibacakan oleh Sitti Noer Awaliyah.


Yang kedua ini, judulnya Surat Cinta dari Rumah Langit yang dibacakan oleh Rezki. Video ini juga sedang diikutkan lomba. Semoga menang. Amin ya Rabb!