Untuk Indonesiaku

Usiamu kini bertambah lagi
Semoga saja kau tak lelah melihat orang-orang yang mungkin saja melupakanmu.
Aku sering mendengar banyak orang yang bertanya, "Apakah kita benar-benar sudah merdeka?"
Aku seolah tak bisa bicara apa-apa.
Kalimat apa yang harus aku berikan kepada mereka untuk menjawab pertanyaan itu?

Aku semakin gelisah kala melihat banyak orang yang teraniaya di negeri yang damai ini.
Aku semakin gelisah melihat orang-orang menderita kelaparan di negeri yang katanya subur ini.
Aku iba melihat orang yang menghinamu tapi malah diagungkan.
Aku marah melihat orang yang menusukkan belati ke jantungmu dibiarkan begitu saja.
Aku marah melihat orang-orang yang mencintaimu tetapi dikebiri
Lalu, inikah arti merdeka?
Inikah arti damai dan subur?
Inikah arti kemenangan dari sebuah bangsa yang besar??

Dirgahayu Indonesiaku

Indonesiaku, aku tahu ini bukan salahmu
Ini salah orang-orang yang seolah menutup mata tentang cita-citamu
Ini adalah salah orang-orang yang seolah tak pernah belajar tetangmu.
Ini afalah salah orang-orang yang hanya memikirkan kantongnya sendiri.

Oh, Indonesiaku!
Kini kau sudah renta.
Angka 71 itu bukan waktu yang sedikit.
Tahun 45 itu sudah lama berlalu
Lalu, apakah pertanyaan itu harus aku jawab??
Atau aku hanya perlu tersenyum saja lalu kembali menangis mengenangmu???


Gowa, 17-08-2016

Indonesia Pusaka (Musik Instrument) IK Media

Ini bulan kemerdekaan Indonesia tercinta. Ah, kembali mengingat kisah dan cerita-cerita tentang pahlawan-pahlawan yang berjuang mati-matian merebut kemerdekaan yang kini sudah sampai ke angka 71.

Di dirgahayu Republik Indonesia yang ke-71 ini, saya belajar membuat aransemen lagu Indonesia pusaka.

Selamat mendengarkannya.

Musik oleh Ian Konjo (saya sendiri)

Software:
- FL Studio 11
- Orchestral Edirol
- EZ Drummer
- 4Front Piano
- Cakewal - SI Bass Guitar
- Real PC
- Guitar Rig 5

Kado Ulang Tahun (Video)

Akhir-akhir ini sedang sibuk mengerjakan video ini. Hasilnya, blog pun jarang terisi. Hahaha....





Sebuah Rahasia

Akhir-akhir ini, sepertinya aku kembali jatuh cinta padamu. Aku lupa ini yang keberapa kalinya. Kau telah mencuri separuh hatiku sejak saat pertama kali aku melihat kau tertawa dengan sangat bahagia. Dan senyummu yang kadang membuatku tak mampu menatapmu lama. Senyum yang begitu anggun. Tentu saja aku paling menyukai senyummu.

Waktu seolah berjalan lebih cepat. Aku ingin mengucapkan banyak kalimat kepadamu. Tetapi, aku sangat tahu jika semua kalimat-kalimat itu sudah sangat terbiasa kau dengar. Aku juga tahu kalau kata-kata indah tidak akan mudah membuatmu luluh. Dan itu yang menjadi salah satu alasan aku tak pernah mengutarakan apa yang selalu aku rasakan setiap memandangmu tersenyum. Karena alasan itu pula, aku kadang hanya mengungkapkannya dengan candaan saja. Hanya dengan itu aku mengatakan apa yang seharusnya kukatakan dan itu benar-benar dari apa yang terasa dalam hatiku.

Aku tak pernah berharap kau tahu itu. Aku hanya berharap bisa melihatmu setiap saat ketika aku sedang dikerumuni rindu. Tentu saja rindu padamu. Meskipun yang bisa kulihat hanyalah fotomu. Bagiku itu sudah lebih dari cukup.

Aku memang telah cukup lama memendam perasaan ini. Tak perlu kau tahu berapa lama itu. Yang pasti, aku selalu memperhatikanmu. Kau sedang dimana. Kau sedang apa. Atau juga kau sedang bersama siapa.

Aku mungkin tak tahu segala tentangmu meski semua itu aku lakukan. Tetapi aku selalu sangat bahagia ketika melihatmu meski itu hanya lewat sebuah gambar yang tidak bisa kuajak bicara. Aku selalu menitipkan tanda kerinduanku yang rahasia. Dan aku ingin itu tetap menjadi sebuah rahasia yang tak perlu kuungkapkan padamu.

Apa kau masih ingat pertemuan kita di sebuah halte di pinggiran kota ini? Kita sama-sama menunggu matahari yang terik menjadi senja tanpa sebuah rencana pertemuan. Kita tak banyak bicara. Aku hanya menanyakan kabarmu dan kaupun demikian.
"Kau dari mana?". Tanyaku membuka percakapan kita ketika itu.
"Dari rumah". Jawabmu dengan sedikit tersenyum.
Aku kembali kikuk melihat senyummu itu. Aku berdebar. Semua bisu. Aku hanya membalasnya dengan senyum pula.

Taman Cekkeng Bulukumba
Sore di Sebuah Pantai di Bulukumba

Matahari kian mendekati sore. Sebentar lagi langit akan dipenuhi warna jingga. Ini menjadi sore paling indah yang pernah kulalui. Bukan hanya karena warna jingga itu yang membuatku tak bisa lupa. Tetapi karena kau juga ada di sana menyaksikannya. Dan rona matahari sore yang menerpa wajahmu kian mendebarkan hatiku. Kau bak bidadari yang sengaja datang menemaniku senja itu.

Ah, kata-kataku biasa-biasa saja bukan? Atau mungkin juga kalimat-kalimat itu terlalu menyanjung? Kalau iya, maka kau telah menemukan jawaban mengapa aku tetap menjaga rahasia hatiku yang diam-diam kau curi.

Sejak pertemuan kita hari itu, aku memutuskan menempatkan namamu pada sebuah ruang di hatiku. Ruang yang tak boleh siapapun membukanya selain dirimu. Ruang yang selalu kupinta kepada tuhan, agar selalu hanya namamu di sana.

Kelak, jika air matamu merayu untuk tumpah, datanglah kepadaku. Aku bersedia menjadi penyeka untukmu. Jika saat itu tiba, kau akan melihat tumpukan kerinduan-kerinduanku padamu. Lalu, akan kuceritakan kepadamu semua rasa yang diam-diam aku simpan untukmu.


Gowa, 18/07/2016

Rindu (Ada Dirimu) dan Kemarau

Ini tentang aku yang rindu...
Mengenalmu, mengubah banyak hal dalam hidupku
Ini sudah cukup lama...
Aku semakin lupa jarak waktu yang berlalu dan masih menyisakan namamu

Kadang, meski tanpa sengaja. Aku mengingat semua hal tentangmu
Dan rinduku akan kembali memberontak meremukkan segala kekuatanku
Sungguh, aku telah beribu-ribu kali mencoba mempertemukan hatiku dengan hati selain hatimu
Tetapi beribu-ribu kali pula aku terhempas dan tersesat dalam perjalanan itu
Terseret lalu aku tak mampu lagi melangkah
Aku tak menemukan arah menuju titik akhir dari perjalananku
Satu-satunya jalan yang kumiliki adalah jalan pulang
Meski aku pun tak pernah mampu lagi sampai ke sana. Ke HATIMU....

Aku masih mengingatmu dengan begitu jelas
Mengingat caramu berbicara juga caramu tersenyum
Aku semakin tak mampu menepismu ketika aku mencoba menghindarinya
Lalu aku hanya bisa menyelaminya dengan kereinduan yang semakin tak mampu aku pahami
Dan entah itu wajar atau tidak wajar

Permintaanmu yang dulu kau katakan padaku hingga kini tak mampu aku penuhi
Aku selalu menemukan namamu pada hati yang lain
Aku selalu menemukan rekahan senyummu di mana-mana
Dan ketika aku menulis ini, rindu itu kembali mengguncang hatiku

Dari sekian banyak persinggahan, tak ada satu pun yang mampu menahanku untuk menetap
Selalu ada dirimu yang menarikku untuk tidak tinggal di sana
Selalu ada bayanganmu yang mengikuti persinggahanku
Selalu ada dirimu. Dirimu. Dan dirimu....
Lalu, untuk kesekian kalinya aku terhempas dalam rindu yang amat
Kini rasaku seolah tak mampu lagi aku mengerti sendiri
Sungguh. Aku semakin takut.

Aku telah mencoba membuangnya sejauh yang aku bisa tetapi selalu saja tidak berhasil
Akarnya begitu kokoh tertancap hingga berbagai usaha untuk menaklukannya
Selalu saja berakhir dengan sebuah akhir yang selalu berulang

Dan pada setiap malam yang hening adalah petaka bagiku
Aku semakin tersiksa dengan rindu yang entah
Kau telah benar-benar menjadi bayanganku

Musim berganti dan aku tak merasakan apa-apa selain kemarau
Bunga-bunga yang pernah tumbuh di dalam hatiku gugur dan membusuk kekeringan
Hujan tak juga datang.

Sesekali aku sengaja membiarkanmu berada dalam bait-bait puisi yang aku tulis
Berharap akan ada penawar atas rinduku yang kudapati di sana
Tetapi itu hanyalah jalan kembali menuju kepedihan karena tak bisa menjangkaumu meski aku menemukanmu
Kau begitu dekat... Nyata.

Dan jiwa ragaku harus kembali bertarung melawan rindu
Aku pasrah... Aku kalah.
Rindu itu telah menjelma menjadi sesuatu yang menakutkan bagiku
Aku menggali kenangan dari waktu yang telah pergi

Maafkan aku atas kesalahan ini
Kesalahan karena hingga kini masih menyimpan cinta untukmu
Aku lelah. Aku takut jika semakin lama rindu ini tak lagi mampu kubendung
Maaf.... Ini hanyalah tentang aku yang rindu...


Gowa, 22.02.2016

Ian Konjo