IAN KONJO

Lirik dan Chord Lagu Tallumi Bara’ - Sese Lawing

Lirik dan Chord Lagu Tallumi Bara’ - Sese Lawing

Intro: G   C   D   Am   D    G
Tallumi Bara’ - Sese Lawing

     C                             G
*    Tallumi bara’ nilaoi
          D                                  G
Kissiloserang mange-mange
  C                                 G
Jai tommi je’ne’ mata
                  F                      C
Kakkala’ rannu teami ni paui
    C
Sikanakkuki….
              D
Lussa’ massing nyawayya
              C                        D                                   G
Punna tena…. punna tena kissiruppa mata
             E                                     Am
Reff:  Oo…. karaeng malompoku
                D                             G
Karaenna pangngaia
F                       C
Teaki’ la’bai massing pangngaia
     D                            G
Nasalama’ empo masunggu
            D                    G
Sa’genna anjayya sallang

Intro: E    Am    D    G    F   C   G   D   G
Back to: *, Reff
           D                              C
Sa’genna…. anjayya sallang

Outro: D    G

Puisi: Mencari Badik yang Hilang

Puisi: Mencari Badik yang Hilang
Ditulis oleh: Abidin Wakur

aku buka lembar-lembar daun lontar di rumah tua:
siri’ adalah BADIK yang menari di telinga
saat pertama mengenal dunia
kegagahan adalah badik yang terselip di pinggang
diam semedi di balik sarung
ketika bermain di pinggir hutan
kecongkakan dan kejantanan adalah badik yang BICARA di keramaian
laki-laki adalah
yang berpikir
kapan menancap lambungmu di tapal batas kampung
DARAH adalah jeruk nipis
pancuran kemilau badik pusaka
rambut dan tulang hutan bawakaraeng
MELIUKKAN PAMOR jeneberang ke selat makassar
kulit adalah sarung sutra
Pertahanan terakhir di somba opu
kaki adalah pinisi ke madagaskar
hati adalah tuanta salamaka si anak khaidir
prajurit di banten pahlawan di afrika
keringat adalah emas tetesi pesisir nusantara
rumah tua dicincang zaman:
pohon lontar sekarat menyembah gedung bertingkat
kelap-kelip lampu jalan memberantas kampunganku
duduk bersila adalah LELUHUR
asap kendaraan meracuni kuda penarik bendi
khalwatiah syeh yusuf tinggal tarian di panggung
badik pusaka raib bersama tubarani
telah lama aku disuapi fried chiken
ajari aku menikmati pallu basa
bagaimana resep sop konro
kepada siapa?

Makassar, 2000

Abidin Wakur

Puisi: Kemarin karya Kusuma Jaya Bulu

Puisi: Kemarin karya Kusuma Jaya Bulu
Kemarin karya Kusuma Jaya Bulu

Di suatu malam, aku ditemui oleh perempuan
Rambutnya sebahu, bersepatu hitam dengan kelopak mata yang indah
Ia duduk manis di dekatku. Tertunduk, sesekali wajahnya mencuri pandang

Aku suguhkan senyum
Tapi ia melotot padaku
Ku letakkan salam di telinganya
Lalu perempuan itu menampar wajahku
Setelah itu ia entah kemana?

Di malam ke dua
Ia kembali menemuiku, tapi tidak dengan sepatu
Apalagi dengan wajah yang kaku
Aku mengulurkan tanganku, lalu perempuan itu dengan lembut mematahkan jari-jariku

Di setiap malam
Perempuan berparas cantik itu mengunjungiku
Bibir mungil miliknya mendekati telingaku
Tidak berbisik, apalagi mengucapkan kata-kata

Tapi,
Telinga kananku di gigitnya
Tangannya gemulai mencekik leherku
Kakinya begitu cepat menghantam dadaku
Kuku tajam miliknya mencakar-cakar wajahku
Lalu hilang, entah ke mana?

Sudah sepekan aku tidak bertemu padanya
Aku sudah menitip surat di kanton celana anak awan yang kutemui bermain-main dengan pagi
Aku menitip pesan pada setiap sepi yang kutemui
Aku sudah menyampaikan
Galau ini disembilan puluh sembilan sudut kehidupan
Katakan itu adalah bagian caraku
Untuk mencari tahu tentang dirinya

“Apakah kau ingin menemuiku?”
Aku balikkan pandangan ke arah perempuan yang memisahkan aku dengan iamajiku
“siapa kau?”
Aku adalah Kerinduan
Yang tak ingin kau akui
Aku adalah kerinduan
Yang tidak pernah kau ingin mempertemukan dengan Dzat yang menciptakanku
Kerinduan dari Maha Perindu

Aku kerinduan, yang selalu kau tumpuki dengan dosa-dosa
Aku kerinduan yang menyaksikan
Kau berorasi panjang menyampaikan kebenaran
Seraya ayam tetangga murung dalam laci rumahmu
Aku kerinduan yang selalu mengikutimu menggunakan gaun putih dengan kain batik kau lilit di kepalamu
Sedangkan, jutaan anak-anak bangsa yang hidupnya lebih buruk dari binatang yang binasa
Maaf, Ucapnya!
Aku hanya ingin
Memperkenalkan namaku, kerinduan!

Puisi: Laki-Laki dan Perempuan

Puisi: Laki-Laki dan Perempuan
Laki-Laki dan Perempuan
Ilustrasi gambar by pixabay.com

Dulu, semasa masih kuliah suka mendengarkan puisi ini dibacakan. Apalagi yang membacakan itu adalah penulisnya sendiri. Abidin Wakur, itulah nama lelaki yang menulis puisi ini.

Kak Abi, begitu sapaan saya ke padanya. Dia memberikan banyak ilmunya. Suka berdiskusi dan tidak sombong. Hehehe.

Sekarang, kak Abi masih terus menggeluti dunia kesenian, meski memilih pulang ke kampung halaman di Sinjai. Lalu di sana, beliau ini mendirikan sebuah komunitas bernama Tobonga.

Pernah suatu ketika (saya lupa tahun berapa), puisi ini dibacakan di auditorium Al Amien Unismuh Makassar. Ini moment yang paling saya ingat meski waktu dan acara apa saya tidak ingat.

Kira-kira begini puisinya.
Laki-Laki dan Perempuan

perempuan adalah pasir dan LAKI-LAKI ombaknya
perempuan adalah mutiara
raih DAN jadikan permata cincin yang bertengger pada jari manis
PEREMPUAN untuk diselami dengan rasa PEREMPUAN untuk DIMILIKI bukan untuk DICICIPI
laki-laki bila berkubang di rawa perempuanlah santapannya dagingnya dilahap DENGAN PELUH dan darah tulangnya dicampakkan
untuk diperebutkan anjing penjaga kemaksiatan
hati-hatilah laki-laki
jika perempuan angin sepoi kamu hancur oleh tiupan kelembutannya
tenaga dan keberingasanmu akan remuk di hadapannya lalu ambruk ke tanah yang enggan MENETESkan air matanya UNTUKMU
jadilah laki-laki jadilah perempuan

Makassar, 2000
Older Posts
Home