
Ada lagu-lagu yang sekadar terdengar di telinga, lalu berlalu begitu saja. Tetapi ada pula lagu yang seperti membawa kita kembali pada sebuah masa, pada seseorang, atau pada perasaan yang pernah begitu dalam tinggal di hati.
“Hitam Pada Gelap” adalah salah satunya.
Lagu yang dipopulerkan oleh Laskar Kelor ini ditulis oleh Andhika Daeng Mammangka. Judulnya bukan sekadar rangkaian kata yang dipilih untuk memperindah sebuah lagu. “Hitam Pada Gelap” diambil dari judul sebuah tulisan karya almarhum Ahyar Anwar.
Menurut penuturan Kanda Andhika Daeng Mammangka, penggunaan judul tersebut telah mendapatkan persetujuan langsung dari Ahyar Anwar.
Bagi saya, informasi kecil itu justru membuat lagu ini terasa memiliki cerita yang lebih panjang. Ada pertemuan antara tulisan, perasaan, dan musik yang kemudian melahirkan sebuah karya yang terus dikenang.
## Tentang Waktu yang Menjadi Jurang
Sejak bait pertama, lagu ini langsung membawa kita pada suasana penantian.
waktu bagiku adalah jurang kesedihan
dalam penantian cinta tak bertepi
Waktu yang biasanya berjalan biasa saja, dalam lagu ini berubah menjadi sesuatu yang berat. Penantian membuat waktu terasa panjang, bahkan seperti sebuah jurang yang sulit diseberangi.
Kenangan tentang seseorang pun tidak lagi menjadi sesuatu yang menenangkan. Ia justru digambarkan sebagai duri yang menusuk seluruh kehidupan.
Begitulah mungkin cinta ketika seseorang masih berharap, sementara kepastian belum juga datang.
Malam menjadi belati. Siang berubah menjadi badai rindu. Dua waktu yang biasanya hanya menjadi bagian dari keseharian, di dalam lagu ini berubah menjadi gambaran tentang pergulatan batin seseorang yang sedang menunggu.
## “Kau Adalah Simfoni Hitam Pada Gelap”
Bagian yang paling kuat dari lagu ini barangkali ada pada kalimat:
kau adalah simfoni hitam pada gelap
Sebuah ungkapan yang terasa sederhana, tetapi menyimpan banyak ruang untuk ditafsirkan.
Simfoni biasanya identik dengan alunan nada yang tersusun dan indah. Namun di sini, simfoni itu hadir dalam warna “hitam” dan berada “pada gelap”. Ia menjadi sesuatu yang indah sekaligus menyakitkan—sebuah kenangan yang terus mengalun, tetapi justru melukai hati.
Cinta dalam lagu ini bukan cinta yang ringan. Ia adalah cinta yang bertahan bersama air mata, penantian, dan kenangan.
Bahkan air mata tidak dianggap sebagai akhir dari cinta. Sebaliknya, ia justru digambarkan sebagai sesuatu yang akan menyuburkan cinta itu.
deraskanlah air mata penantian
itu akan menyuburkan cintaku padamu
Ada kesetiaan yang begitu kuat di dalam dua baris tersebut. Sebuah perasaan yang tidak mudah terhapus hanya karena jarak, waktu, ataupun luka.
## Mendengarkan Kembali Sebuah Kenangan
Mungkin setiap orang memiliki cara sendiri dalam memahami lagu.
Bagi sebagian orang, “Hitam Pada Gelap” mungkin adalah lagu tentang seseorang yang pernah dicintai. Bagi yang lain, ia bisa menjadi gambaran tentang penantian, kehilangan, atau kenangan yang belum benar-benar selesai.
Dan mungkin di situlah kekuatan sebuah lagu.
Ia tidak harus memiliki satu makna untuk semua orang. Setiap pendengar boleh membawa pengalaman dan kenangannya sendiri ketika mendengarkannya.
Bagi saya, “Hitam Pada Gelap” adalah sebuah lagu yang mengingatkan bahwa cinta tidak selalu hadir dalam bentuk kebahagiaan. Ada cinta yang tumbuh dalam penantian. Ada cinta yang bertahan bersama luka. Dan ada kenangan yang, meskipun menyakitkan, tetap menjadi bagian dari perjalanan hidup.
## Lirik Lagu “Hitam Pada Gelap” – Laskar Kelor
waktu bagiku adalah jurang kesedihan
dalam penantian cinta tak bertepi
ingatanku padamu adalah duri
yang menusuk seluruh hidupku
malam bagiku adalah belati tajam
yang menyayat jiwaku dengan perih
siang bagiku adalah badai rindu
yang menghanyutkan ku padamu
inilah cintaku yang tulus dan murni
takkan terhapus perih air mata
kau adalah simfoni hitam pada gelap
yang mengalun melukai kenanganku
deraskanlah air mata penantian
itu akan menyuburkan cintaku padamu
inilah cintaku yang tulus dan murni
takkan terhapus perih air mata
kau adalah simfoni hitam pada gelap
yang mengalun melukai kenanganku
deraskanlah air mata penantian
itu akan menyuburkan cintaku padamu
## Dengarkan “Hitam Pada Gelap” – Laskar Kelor
Berikut video lirik “Hitam Pada Gelap” yang dapat disimak sambil menikmati kembali setiap bait dan makna yang terkandung di dalamnya.
## Tentang Lagu “Hitam Pada Gelap”
Judul: Hitam Pada Gelap
Dipopulerkan oleh: Laskar Kelor
Penulis lagu: Andhika Daeng Mammangka
Judul lagu ini diambil dari judul sebuah tulisan karya almarhum Ahyar Anwar. Berdasarkan penuturan Andhika Daeng Mammangka, penggunaan judul tersebut telah mendapatkan persetujuan langsung dari Ahyar Anwar.
Pada akhirnya, ada lagu yang tidak hanya untuk didengar, tetapi juga untuk dikenang.
Dan mungkin, “Hitam Pada Gelap” adalah salah satu lagu itu.





Posting Komentar