
setelah puisi ini aku bacakan
akan ada hati yang berdarah
sebab ia kubacakan dengan napas tersengal
dan ditulis dari tinta darah dan perahan air mata
yang dirangkai dari sisa kejujuran yang tergali dari kesadaran
wahai bulan separuh
simaklah jiwa yang terluka
tentang sebuah pengakuan yang mungkin tak sempurna
tentang anak manusia yang akan melangkah ke medan peperangan
untuk menaklukkan puncak-puncak rindu menjadi perpisahan
dua anak manusia yang mungkin saling mencintai
mengantarnya ke dalam pintu-pintu penutup kisah yang haru
wahai bulan separuh
malam ini
simak dan dengarlah pengakuannya
aku sangat mencintainya
merindukannya tanpa ujung batas
menyanyikan namanya dalam senyapku mengarung malam
walau kutahu jarak yang tak mungkin kulipat
dan hadir menatap matanya dalam sekedip mata setiap perpisahanku
aku sangat mencintainya
merindukannya di setiap tarikan napasku
dan bahkan kurasakan tatapannya selalu hadir dalam aliran darahku
bayangnya seakan tak pernah lepas menjadi selimut dalam tidurku
bagiku
menatap matanya adalah kesejukan
seperti sentuhan sutera dan belaian butiran salju di tengah gurun
wahai bulan separuh
pernahkan kau melihatnya merindukanku juga
seperti kerinduan dahsyat yang selalu kupendam
pernahkah ia mengerti tentang rindu dan kedamaian cinta ini
wahai bulan separuh
malam ini
kurasakan cahayamu dipaksakan menjadi purnama
lalu merneteskan air mata
adakah itu air matanya yang menyesali diam dan ketidakmengertiannya
atau itu adalah tetesan darahku sendiri yang akan mengakhiri kisah cinta ini
malam ini
dengan segala kesadaran kunyatakan rasa dengan seksama
aku menyudahi segala kisah
menutup ruang rasa dengan paksa
setelah puisi dan kisah ini usai
izinkanlah aku melangkah pergi
menangis diam-diam
mungkin membawa rasa sesal yang tak terbahasakan
malam ini dengan kesadaran yang tersisa
kunyatakan rasa dengan seksama
aku menyudahi segala kisah
menutup ruang rasa dengan paksa
izinkanlah aku pergi
menghilang dengan malam





Posting Komentar