Esai Cinta Ahyar Anwar: Absahnya Melankolia | IAN KONJO -->

Esai Cinta Ahyar Anwar: Absahnya Melankolia

Esai Cinta Ahyar Anwar: Absahnya Melankolia - Konon, Adam dan Hawa dipisahkan lebih 300 tahun. Tentu bukan untuk saling terpisah, melainkan untuk saling mencari. Sebuah pencarian adalah sebuah perjalanan. Sementara waktu adalah cara kita untuk menandai kekuatan perjuangan.

warnahost.com
Esai Cinta Ahyar Anwar: Absahnya Melankolia
Ahyar Anwar

Konon, Adam dan Hawa dipisahkan lebih 300 tahun. Tentu bukan untuk saling terpisah, melainkan untuk saling mencari. Sebuah pencarian adalah sebuah perjalanan. Sementara waktu adalah cara kita untuk menandai kekuatan perjuangan. Tanpa perpisahan, kita tak bisa memahami pertemuan sebab pada pertemuan itulah tuhan menitipkan takdir cinta kita. Tapi kita tidak akan bertemu jika kita tak saling mengenali suara-suara hati kita yang senantiasa mencari panggilan hati lain yang hilang.

Bukankah Allah telah menciptakan seseorang dari rekahan kesunyiannya? Tanpa menemukannya, kita hanya akan berada dalam desahan kesepian. Tetapi bagaimana kita menemukan serpihan kesunyian kita yang tersebunyi pada takdir jiwa seseorang?

Kita harus mengenali keindahan yang ditanamkan Allah dalam jiwa kita karena dari keindahan itulah, sekeping hati ditumbuhkan. Lalu keindahan yang tersisa menciptakan lautan kesunyian yang dipenuhi rahasia. Jika kita tak mengenali keindahan kita, maka kita takkan bisa menemukan kepingan lain dari keindahan itu.

Kita semua memiliki keindahan dalam diri kita. Tentu saja keindahan melampaui kejelitaan atau ketampanan. Kejelitaan dan ketampanan hanya cara mata kita menerka kebahagiaan. Kebahagiaan itu sendiri tidak ada pada kejelitaan dan ketampanan. Kebahagiaan adalah sebuah kedalaman nada yang menuntun kita pada simfoni yang agung. Dalam keagungan itu, keindahan dalam kebahagiaan akan memandu jiwa kita menuju satu anasir terbaik yang mampu menerjemahkan apa yang tak sanggup kita ukir pada kata-kata, yaitu air mata.

Tak ada cara yang lebih lembut dan hening untuk mengatakan tentang keindahan yang membahagiakan selain mencairkan segala keangkuhan jiwa kita lalu membeningkannya dengan doa-doa yang teduh lalu membiarkannya menjadi air mata yang mencucur dalam senyuman.

Jika kau yakin memiliki keindahan lalu seseorang yang kau anggap tercipta dari kepingan kebahagiaanmu itu, tetapi ia mengabaikanmu, maka ia sesungguhnya tak punya keindahanmu. Maka ia bukanlah kebahagiaan. Karena keindahan akan saling menatapi keagungannya.

Tetapi jika ada seseorang yang indah dan ia dapat dengan agung menatapi keindahanmu, maka tersenyumlah. Bukan sekadar untuknya, tetapi untuk semua orang yang memiliki keindahan di dalam dirinya. Dan tersenyumlah untuk Allah yang telah menciptakan perpisahan dan menitipkan rindu pada setiap hati. Kerinduan itulah yang akan menunjukkan padamu sebuah jalan kecil yang agung menuju segala kenangan yang berhenti pada satu hasrat tentang kesunyian. Bahwa keindahan seperti apapun ketika mencapai yang terdalam dari keindahannya hanya akan menuntun kita mengalirkan kelembutan air mata.

Apakah air mata itu pantas untuk penemuan kebahagiaan? Atau apakah keriangan adalah puncak dari sebuah pencarian? Tentu saja tidak. Tertawa dan keriangan tidak pantas untuk menerjemahkan pencarian dan penemuan sebab keduanya adalah keagungan yang indah. Adam dan hawa pasti mencucurkan air matanya saat bertemu. Mereka meratapi kesedihan perjuangan dan mensyukuri nikmat dari keindahan pertemuannya itu.

Untuk itulah wahai kekasih, kesedihan adalah peristiwa yang paling absah dari cinta. Menangislah, karena setiap air mata yang mencucur keluar dari hatimu akan tergantikan dengan keindahan yang mengalirkan rasa bahagia yang agung.

Bersedihlah, karena kesedihan adalah kenyataan yang paling absah dari kehidupan.


Ahyar Anwar


Untuk versi audio yang dibacakan langsung oleh beliau bisa dengarkan di bawah ini!

Home