Kisah: Percakapan Jiwa dan Raga | IAN KONJO

Kisah: Percakapan Jiwa dan Raga

warnahost.com
Ini hanyalah percakapan biasa antara Jiwa dan Raga.

Sesi I

Jiwa: Ada apa denganmu?
Raga: Entahlah, akhir-akhir ini aku sering merasa lelah.
Jiwa: Akupun kadang merasakan itu.
Raga: Aku merasa tak kuat lagi bertahan dengan keadaan seperti ini.
Jiwa: Apa yg kau rasakan saat ini?
Raga: Aku tak lagi bisa merasakn apa-apa.
Jiwa: Aku akan tetp bersamamu dalam keadaan apapun.


Sesi II

Raga: Apa kau akan meninggalkanku dengan luka yang ada?
Jiwa: Entahlah.
Raga: Apa yang kau pikirkan, kini?
Jiwa: Aku sedang merenungi jalan yang telah kupilih.
Raga: Kau menyesal?
Jiwa: ....... (diam sejenak). Tak ada yang kusesali dan tak akan ada yang kusesali.
Raga: Lalu?
Jiwa: Kadang, aku ingin tertawa jika mengingat semuanya.


Sesi III

Setelah beberapa lama.

Jiwa: Coba kau lihat senyumnya...
Raga: Yah, aku melihatnya!
Jiwa: Aku merasa semuanya kembali terjahit seperti dulu.
Raga: Aku bisa merasakan getarannya.
Jiwa: Tapi, ini hanyalah sesaat. Aku tak percaya pada siapapun.
Raga: Apakah termasuk padaku?
Jiwa: (dengan sedikit tersenyum) Mungkin. Aku lelah mempercayai jalan kehidupan yang tak pernah kumengerti meski aku selalu berusaha untuk mengerti.
Raga: ...... (hanya tertunduk diam)
Jiwa: Aku benar-benar lelah dengan semuanya.
Raga: Berhentilah! (dengan nada yang agak tinggi)


Sesi IV

Setelah suasana agak tenang.

Jiwa: Aku hanya tidak ingin ada yang merasa bersalah atas apa yang menimpaku. Termasuk kau.
Raga: ..... (tak tahu harus mengatakan apa).
Jiwa: Aku rasa, kau lebih mengerti aku dari siapapun.
Raga: Iya, kita mengalaminya bersama-sama dan aku tak pernah jauh darimu. Iya kan?
Jiwa: Kelak kita pasti akan berpisah juga.
Raga: Maka, biarkanlah aku tetap menemaniku hingga saat itu tiba.
Jiwa: (tersenyum sambil melihat angkasa yang terselimuti gelap)

Sebentar lagi matahari akan kembali menampakkan parasnya yang gagah.


Sesi V

Cuaca begitu amat gerah. Matahari menyengat hingga Jiwa dan Raga serasa terpanggang. Mungkin sebentar lagi bisa menjadi santapan.

Jiwa: Aku ingin minta maaf sebelum benar-benar pergi.
Raga: Apakah ini sudah tepat waktunya perpisahan itu?
Jiwa: Jika aku menunggu waktu yang tepat, mungkin aku tak akan pernah pergi. Aku tak ingin kau lebih menderita daripada aku. Cukup aku yang terpuruk seperti ini.
Raga: Haruskah seperti ini akhirnya? Kenapa kita tidak mencoba untuk menghempas duka dan lara yang ada?
Jiwa: Kini, tak ada lagi niatku untuk menghalau duka itu. Hanya dia yang selalu menemani kesepianku selain kau. Aku harus pergi.
Raga: ??????

Tiba-tiba semua gelap. Semua tampak samar. Perlahan memudar dan.......
MATI.


Makassar, 5 Juni 2012
Akhirnya terselesaikan ketika aku benar-benar
ingin kembali berjalan berdampingan denganmu.
Home