Perjalanan hidup ini memang tak ada yang mulus. Lika liku gelombang yang datang terkadang sangat dahsyat hingga membuat orang putus asa untuk melaluinya. Menyesal di kemudian hari. Ini yang paling banyak terjadi. Sebuah kepastian yang berbeda cara mengekspresikannya. Yang paling mengerikan dan tak kalah sering juga terjadi. Kematian. Inipun akan menjadi satu dari sekian juta jalan yang ada. Dan tidak sedikit yang memilih jalan ini untuk lari dari terpaan ombak kehidupan yang bengis.

Ini hanyalah sebuah cerita fiksi. Mungkin kisah ini juga adalah satu dari sekian banyak orang yang mengalaminya. Sebuah akhir yang begitu merongrong ketenangan jiwa. Kisah dengan sebuah sesal yang akan melekat dalam kehidupan ini. Sekali lagi, ini hanyalah cerita yang lahir dari keheningan malam yang dingin.
***

Diyah telah lama menaruh hati pada seorang lelaki. Lelaki yang menurutnya mempunyai sesuatu yang tidak dimiliki orang lain. Sahaja dan sikap dewasanya membuat Diyah jatuh hati padanya. Lelaki itu satu organisasi dengannya.

Telah lama sejak pertama bibit-bibit cinta itu tumbuh. Tapi Diyah tak pernah berani mengatakannya. Kepada lelaki itu atau kepada siapapun. Meski kadang cinta dan kerinduan ini selalu memaksa untuk jujur tentang apa yang ada dalam hatinya, kini. Namun, lagi-lagi kesadaran akan posisinya sebagai seorang perempuan. Sangat tidak mungkin dan pasti akan sangat memalukan jika mengungkapkan perasaan kepada lelaki itu. Apa kata orang-orang nanti? Diyah hanya bisa memendam kerinduan itu yang mungkin suatu saat kelak akan memuncak dan meluap.

Segala harap yang ia genggam jika suatu saat nanti, pujaan hatinya akan datang dan membawa obat atas segala kerinduannya. Membawakan segenggam cinta yang telah lama berakar dalam ruang hatinya. Cinta yang Diyah yakini juga ada dalam hati lelaki itu. “Jika ada cinta di hatimu, maka yakinlah ada cinta di hati yang lain”.

Diyah dan hari-harinya dilalui dengan begitu banyak mimpi tentang dirinya dan lelaki itu. Mimpi tentang kebersamaannya suatu hari nanti. Mimpi dimana waktu akan membawa dirinya dan lelaki itu pada satu senja yang indah.
***

Kini tibalah saat yang Diyah rindukan.......
Sungguh, tak ada yang lebih menyakitkan dari kekosongan hidup dan kegalauan hati dalam sepi tanpa cahaya di kegelapan. Setidaknya itu yang dirasakan ketika sang lelaki idamannya mengucap kata cinta dengan sebait puisi kepadanya. Kalimat yang sudah bertahun-tahun dia tunggu datangnya. Dan hari ini, kalimat itu telah menghampirinya di antara bengisnya terpaan dan aral kehidupan yang seolah enggan menjauh darinya.

Dia terdiam dengan perasaan yang tak pernah menetap dalam hatinya. Apa yang pernah ingin terucapkan ketika saat itu tiba, raib begitu saja. “Ah, betapa tersiksanya aku mendengar sebait puisi yang diucapkannya sebagai ungkapan isi hatinya. Bukan karena aku tak lagi berharap bisa mendengar dia mengucapkan kata cinta itu padaku. Tapi saat ini persoalannya berbeda. Sangat berbeda. Kini, aku telah menjadi calon istri lelaki lain. Lelaki yang dipilih orang tuaku.”

Angan dan mimpi yang selalu hadir dalam tidurnya bagai terhempas dan terbawa angin. Tak ada lagi yang tersisa. Walau sekuat tenaga dia mencoba memunguti serakan-serakan mimpi yang tersisa. Tapi, tetap saja tak membuatnya lega.

Hanya doa dan usaha yang harus tetap dipegang. Keyakinan yang bersemayam dalam diri Diyah akan membawanya ke telaga kebahagiaan sebagai permulaan hidup yang baru. Semoga!!!


Talasalapang II, 30 Oktober 2011
Menghabiskan secangkir kopi untuk menyelesaikan yang tertunda
Bermimpilah, maka tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu


Launching KAREBA PMII

Bagikan ke

10 Komentar

Sesuatu yg indah berawal dari mimpi :)

baguslah jika bukan engkau lelaki ku, andai engkau lelakinya...aku bisa pingsan karena mencium bau mu.
hadeuh..pake kode chapta euy kolom komentarnya, keren gituh ya?

Lelaki itu bukan kamu
yang dipilih orang tuaku
tapi pilihan hatiku
sudah pasti dirimu

Hihihi

Semua memang harus berawal dari mimpi. Lalu diikuti dengan harapan... :)

Hahaha.... Boleh...boleh...

Koce chapta-nya non-aktif kang tapi masih tetap aja bandel tu chapca... Bingung cara ngilanginnya..

Cinta tapi tak bisa bersama....
Sakitnya tuh di sini (nunjuk kepala)

Hehehehe

Di otak belakang pastinya karna mikir terruss

Hehehe.. Sepertinya tebakannya benar... :D

Luar biasa daeng, tetap konsisten di dunia sastra... Kau tetap lelaki pilihan ku hihihiihihi

Hehehe..... Siiplah, masih tetap konsisten dengan sastra hingga saat ini.