Aku mulai goresan ini tanpa kalimat indah karena aku bukan penyair. Imaji yang sempat kurekam dalam ingatanku hilang. Mataku memandang bayangan sesosok perempuan yang terpampang di hadapanku. Seolah memberi mantra ke dalam pikiranku, akupun memulai cerita di sepotong malam. Cerita tentang seorang anak perawan yang tak sengaja aku temui di alam khayalku. Yah........! Dia seorang perempuan tanpa wujud, Enni namanya.
"Kamu siapa? Dari mana kamu tahu namaku?" Tanyanya dengan suara lembut bernada sedang.
Aku serasa bercumbu dengan petir padahal mendung malu-malu tampakkan wujudnya. Khayalku melonjak hingga aku lupa menulis sebuah sajak cinta untuk kekasihku. Aku pun lupa mengeja nada gitar yang baru saja kulumat dengan kedua tanganku. Dan aku bahkan lupa dengan diriku sendiri.
"Halo!" Getaran suaranya menusuk ke tulang sumsumku.
"I.... i.... i.... iya" Jawabku terbata-bata. Enni ya?" Lanjutku.
"Iya. Kamu siapa?"
"Aku Opik. Taufiqurrahman"
"Mengapa kamu menatapku di sudut mimpi?"
"Maaf bila hadirku tak kau inginkan. Aku cuma ingin memandang bianglala yang melingkar di langit-langit hatimu"
"Lantas, dari mana kamu anyam serpihan-serpihan bayangan yang hanya hadir dalam imajimu?"
Tiba-tiba aku ingat, aku memang belum pernah menjamah tubuhnya dengan mataku yang sudah mulai memerah. Pertanyaan itu hanya membuatku terbangun dari mimpi yang belum menghanyutkanku. Aku termenung.
"Aku belum pernah mengeja namanya apalagi temuinya di alam nyata" Gumamku.
Mungkinkah ini cucuran dari Sang Maha Tinggi yang dititiskan ke dalam ubun-ubunku yang telah lama tak menatap kitab suci-Nya. Pesan tentang amanah yang harus kupenuhi karena sudah setahun akupun lupa dengan janji dan sumpahku pada-Nya.
"Maaf bila inginku mengusik riangmu malam ini. Aku tak pernah berniat keruhkan hatimu yang bening"
"Tapi mengapa hanya aksara itu yang kau ingat? Sedangkan buku yang kau gantung di pergelangan tanganmu tak pernah kau baca".
Perempuan tanpa wujud itu masih menelanjangiku dengan sekali sentakan yang seakan ditusukkan ke selangkangan jiwaku. Perempuan itu terus memaksa dan memaksa dengan beribu pertanyaan yang belum juga kuberi jawab.
“Entahlah, aku hanya menuruti jejak mimpi yang ditinggalkan malam dua hari yang lalu”, ucapku mencoba menepis segala pertanyaan-pertanyaan yang merangkak dalam pikiran perempuan itu.
Enni masih menyimpan beribu tanya dalam batinnya. Dia terdiam dan tak lagi melanjutkan perkataannya. Sementara langkahku berayun agak menjauh dari perempuan itu dan seolah mencari ujung jalan sana. Walau bagiku Enni hanya seorang perempuan yang tak pernah kukenal wujudnya karena aku memang tak pernah ingin mengetahui wujudnya seperti apa? Dan di belahan mana dia berada.yang kuinginkan hanya mengawinkan suaraku dengan suaranya hingga menjadi kata indah untuk kujadikan sajak dalam imajiku. Tapi yang terjadi malah sebalikya, perempuan itu kini antarkan aku temui mimpi yang tak usai.
“Kembalilah ke dalam mimpimu yang belum kau akhiri”, suaranya yang lembut masih terdengar jelas di pendengaranku.

Sisa mimpi yang terpotong malam ini
Adalah kisah tak berujung,
Helaian nafas yang berhembus
Mencari tapak berselimut mendung

Di balik malam ingin kuraih
Setitik jalan menemui muara mimpi

Hanya suara rembulan yang terurai
Meski ku tak tahu kemarin,
Tapi esok pasti kan mengalir
Bersama rindu di ujung malam

Kini mimpi masih bertahta di singgasana malam tanpa belaian cahaya. Aku masih belum sempat mengeja kalimat-kalimat indah untuk kujadikan cahaya malam ini. Aku pun tak sempat menganyam sajak rindu yang pernah ada dalam benakku. Semuanya raib. Sirna. Hilang entah ke mana. Yang kuingat hanyalah perempuan tanpa wujud itu. Yah......, hanya suara dari perempuan tanpa wujud yang selalu kuingat. Suara dari sosok yang tak pernah kupandangi parasnya. Hanya suaranya. Hanya itu...........!!!

Makassar, 19 Juli 2008

Bagikan ke

0 Komentar