Dimulailah kisah ini.
Pertemuan yang tak disengaja.
Lampu berwarna biru dengan sedikit redup....

Kau dan aku memang telah lama saling mengenal. Namun, yang kurasakan dengan pertemuan kali ini sangat berbeda dengan pertemuan sebelumnya. Walau perasaan lain itu telah sedikit lama bersarang di hatiku. Aku sama sekali tak tahu pasti sejak kapan munculnya. Hingga saat pertemuan kita yang tidak di sengaja malam ini, aku berusaha untuk tidak terlalu memikirkannya. Tetapi hatiku serasa terseret untuk terus mencapainya hingga kadang membuatku tak mampu untuk menepisnya. Aku takluk dalam rasa yang mungkin saja tumbuh di tempat yang kurang tepat.
***

“Ketika cinta memanggilmu maka dekatilah dia walau jalannya terjal berliku, jika cinta memelukmu maka dekaplah ia walau pedang di sela-sela sayapnya melukaimu”. Kalimat ini adalah salah satu kata-kata Kahlil Gibran dalam buku Sayap-Sayap Patahnya yang pernah kubaca. Aku tak akan memilih melakukan itu. Bukan karena aku tak punya keyakinan jika semua itu akan mampu dicapai jika dijalani. Alasan satu-satunya adalah karena aku tetap lebih memilih untuk tidak melakukannya dan lagi-lagi bukan karena aku tak punya keyakinan. Meski sesekali tumbuh bisikan untuk mendekat dengan kerinduan yang ada dan tetap berusaha melalui jalannya yang berliku. Meski pula aku tak akan mampu bertahan dengan sayatan pedangnya. Mampu bertahan pun terasa sangat berat. Luka yang melekat masih terasa sangat pedih. Masih ada luka yang tak kering.

Aku sadar jika aku bukanlah seorang Kahlil Gibran yang mampu menikmati sepi dan perih karena cintanya kepada Selma Kharimi. Aku tak ingin menjadi seperti dirinya. Aku ingin menjadi diriku sendiri dan menciptakan kisahku sendiri. Mungkin akan seperti kisah cinta Romeo dan Juliet atau kisah tentang Liu Goujiang dengan cintanya yang begitu dalam kepada Xu Chaoqin hingga rela meninggalkan desanya dan tinggal di sebuah gua di desa Jiangjin, China. Atau seperti kisah tentang Layla dan Majnun. Ketika Majnun jatuh sakit, tabib menyarankan untuk mengeluarkan sebagian darahnya, tetapi Majnun menolak dan mengatakan jika Layla berada di dalam setiap bagian tubuhnya. Atau juga seperti kisah raja Shah Jahan yang patah hati karena sang isteri (Mumtaz Mahal) meninggal ketika melahirkan puteranya, yang diabadikan dengan sebuah menara bernama Taj Mahal di India. Karena rasa cintanya yang begitu besar sehingga dibangunlah monumen itu.

Sungguh kisah cinta mereka selalu mampu menggetarkan hati. Aku berpikir tak akan mampu menyamai kisah-kisah mereka. Seperti kalimat yang dikirim seorang teman melalui pesan di media sosial: “Kau mampu menciptakan kisahmu sendiri melebihi kisah Kahlil Gibran atau kisah cinta Romeo dan Juliet ataupun kisah-kisah yang lain.”

Aku tetap ingin menciptakan kisahku sendiri. Meskipun tak akan sedahsyat kisah cinta yang melegenda itu. Aku menyadari jika tiap-tiap orang memiliki jalan untuk menuliskan kisahnya sendiri. Tentu saja bukan hanya kebahagiaan tetapi juga air mata dan luka akan ikut mengambil andil penting di dalam perjalanannya. Ah, aku ingat kalimat seorang satrawan sekaligus seorang budayawan bernama Dul Abdul Rahman yang ia tulis dalam prolog buku kumpulan cerpen “Menetak Sunyi” karya Dipta 354, Irhyl R Makkatutu, dan Damang Averroes Al-Khawarizmi. “Dan, satu yang pasti. Bilik-bilik kesunyian, batu-batu kesedihan, dan jejak-jejak kerinduan, semuanya menyuguhkan menu utama: Cinta”.
***

Malam belum begitu larut. Cahaya bulan setengah sempurna tak begitu terang karena awan. Sepertinya tidak terlalu cerah tapi sedikit terkesan romantis. Aku tahu ini bukan waktu yang tepat untuk mengatakannya, tapi aku takut jika setelah ini, aku tak lagi mampu untuk mengungkapkannya. Bukan karena aku takut orang tahu dengan apa yang kurasakan, tetapi lebih dari itu. Aku takut jika semua yang sudah terbangun lama hancur seketika.

Aku masih ingat dengan jelas dan ini yang membuatku termotivasi. Dulu, kau sering mengingatkanku untuk tidak terlalu tenggelam dengan masa lalu. Mengingatkanku bahwa perihnya luka itu adalah jalan untuk menjadi lebih baik. Mengingatkan bahwa luka, air mata, dan kepedihan adalah bagian dari cinta. Kau selalu mengingatkanku untuk mencoba membuka hati untuk orang-orang yang peduli padaku. Yah, aku memenuhinya. Aku berusaha bangun dan mencoba membuka hati untuk orang lain. Itu sudah kulakukan dan lagi-lagi cinta datang kepada orang-orang yang dipilihnya. Cinta memilihku dan aku kembali mampu berdiri tegak dari keterpurukan.

Hati kian memberontak dan beradu dengan ketakutan-ketakutanku. Aku harus mengatakannya. Setidaknya dia sudah tahu jika aku memiliki perasaan lain terhadapnya. Perasaan yang lebih dari sekedar sahabat atau sebagai kakak seperti katanya. Bagiku, sekedar mengatakannya sudah lebih dari cukup. Yah, itu saja sudah cukup. Setidaknya aku tak dihantui perasaan sesal di kemudian hari. Sesal karena aku lebih memilih menjadi seorang pengecut yang tak mampu berkata jujur.

Sepertinya waktu tak cukup memberiku kesempatan untuk mengatakannya. Walau beberapa kali aku mencoba. Aku seolah kehabisan kata-kata untuk berucap. Padahal jauh dari hati, ada banyak hal yang ingin aku katakan kepadanya. Tentang kegelisahanku. Tentang perasaanku. Tentang kerinduanku yang kian dalam tertancap pada hatiku. Tentang ketakutan-ketakutanku. Tentang kegalauanku. Tentang ketulusan dan tentang cintaku. Aku bisu. Aku menjadi orang yang sangat pendiam. Malam tentu saja tak akan pernah mampu menolak datangnya sang pagi.
***

Beberapa pagi dan senja berlalu dengan cepat. Kesibukan yang sedikit padat membuat komunikasiku dengannya menjadi sangat jarang. Lumayan lama aku tak bertatap muka dengannya. Apalagi di tempat kerjaku, ada posisi baru yang diamanahkan padaku. Aku menerimanya karena aku juga menginginkannya meskipun beban kerjanya sedikit bertambah. Tetapi itu tak masalah bagiku. Aku menjalaninya lagi-lagi karena cinta. Aku mencintai pekerjaanku.

Di sela-sela kesibukan kantor yang lumayan padat itu, aku sesekali menyapa lewat pesan via blackberry messenger atau via pesan facebook. Itupun hanya sekedar bertanya "Apa kabar?". Hanya itu saja. Aku menjadi dingin terhadap perasaanku sendiri. Apalagi ketika ketakutan-ketakutanku kembali menjadi onak yang menusuk dalam. Aku seolah terikat dengan kerinduanku sendiri. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku pasrah membiarkan segenap kerinduan itu menggerogoti hati dan pikiranku. Lalu tiba-tiba semuanya berubah. Benar-benar berubah. Kau memilih jalanmu untuk menemukan kebahagiaanmu.

Ada yang retak tentu saja. Ada yang tak biasa. Dan aku pernah mengalami hal tersebut beberapa tahun lalu walau tak terlalu parah. Tapi apapun itu, ada yang remuk sekali lagi. Aku merasakan kekosongan yang entah sampai kapan akan seperti ini. Niat dan tekad untuk mengungkapkan semuanya, mau tidak mau harus terkubur dalam-dalam. Berusaha menganggapnya tak pernah ada atau apapun untuk menghapusnya. Aku berusaha dengan banyak cara. Berdiskusi dengan diri sendiri dan menasehati diri sendiri juga pernah kucoba. Ini juga saran darimu dan aku yakin bisa melakukannya. Aku berusaha untuk tetap meyakinkan diriku bahwa semua akan baik-baik saja dan tak ada yang perlu dicemaskan. Aku pernah melewatinya sekali meski dengan terlunta-lunta. Aku jatuh. Tapi aku mampu bangkit meskipun tak sepenuhnya.

Dengan sebuah keyakinan dan support dari orang-orang yang dekat denganku membuatku bertekad untuk kembali menata kehidupanku. Setidaknya kehidupan yang dulu membuatku selalu bahagia, bisa tertawa lepas dan menikmati perihnya luka. Itu saja. Satu babak kehidupan kembali berlalu dan babak-babak kehidupan selanjutnya akan kujalani. Aku telah mempersiapkannya. Dengan banyaknya air mata, luka, pedih, dan pengalaman pahit.###


Gowa, 24 September 2014
Akhirnya mampu menuntaskannya!

Bagikan ke

0 Komentar