Oleh: Novita Sari

Aku tak pernah menyalahkan siapa-siapa atas apa yang menimpa diriku saat ini karena aku yakin, segala sesuatu yang terjadi pada diriku bukan karena siapa-siapa. Bukan karena dirimu tapi karena diriku sendiri. Seandainya aku lebih berhati-hati, ini tidak akan mungkin terjadi. Aku tidak ingin mengungkungmu dalam masalah ini, meskipun kamu yang melakukannya. Aku juga tak bisa memaksa kamu untuk mempertanggungjawabkan semuanya karena ini ulahku sendiri. Sekarang, biarkanlah aku pergi menjauh dari kehidupanmu. Membuang lara dan mengembara jauh darimu. Kuakui aku memang terluka. Namun, aku tak lagi memahami luka itu. Aku hanya bisa tersenyum dan berterima kasih. Karena kamu, aku bisa memahami luka itu dan menjadikannya indah. Semoga kau temukan bahagia setelah kepergianku”.

***
Hhmmm.... Perih yang terpatri dalam hati memang tak mudah untuk memahaminya. Namun Yuyun mampu menghadapi semua itu. Ia meninggalkan kotanya tanpa sepengetahuan kekasihnya. Ia pergi dengan segala harap jika semuanya akan menjadi lebih baik setelah kepergiaannya. Kepergiannya tanpa sepengetahuan siapa pun membuat orang-orang terdekatnya selalu mencari keberadaannya. Bahkan orang tuanya sekalipun tak pernah tahu kemana buah hatinya itu mengembara. Ini menjadi rahasia antara Tuhan dan Yuyun. Nono takjub dengan kepergian Yuyun.
***
“Aku tak ingin menjadi beban dalam hidupmu, No. Biarlah beban ini kutanggung sendiri. Jalanilah hidupmu seperti biasanya”. Setidaknya, inilah harapan Yuyun yang menjadi kalimat terakhirnya kepada Nono, orang terkasih dalam hati dan hidupnya.
Nono tidak mengerti apa yang sedang ada dalam pikiran Yuyun. Namun, Nono tetap tidak ingin melepas Yuyun begitu saja. Ia bersikeras memperjuangkan cintanya. Dan pada akhirnya, tak ada gunung yang tak hancur. Kegigihan Nono akhirnya membuat hati Yuyun luluh dalam dekapannya. Yuyun memutuskan untuk mengurungkan niatnya untuk beranjak pergi. Mereka sepakat untuk menghadapi badai nestapa yang melanda perjalanan kasih mereka bersama-sama. Meskipun mereka masih berstatus mahasiswa, namun Nono sudah cukup siap untuk mengarungi bahtera rumah tangganya bersama Yuyun. Setelah berdialog panjang mereka sepakat untuk melabuhkan cintanya di pelaminan.
Persiaan pernikahan direncanakan dengan matang. Orang tua mereka pun sudah merestui keputusan mereka. Sungguh beruntungnya Nono mendapatkan perempuan seperti Yuyun. Dan lebih beruntungnya lagi Yuyun mendapat laki-laki seperti Nono yang setia dan bertanggung jawab.
Tanggal dan hari untuk resepsi pernikahan telah ditentukan. Namun di balik semua kebahagiaan itu, Tuhan ternyata memiliki rencana yang lain. Apa boleh buat, manusia hanya berhak merencakan dan berusaha serta berdoa tetapi Tuhanlah yang mempunyai otoritas untuk menentukan segalanya. Semua sirna oleh tragedi yang menguras air mata. Dan lagi-lagi semua kembali kepada takdir. Manusia hanya bisa berencana dan yang menentukan semuanya adalah Tuhan. Baik menurut manusia belum tentu baik menurut-Nya.
Nono menganggap keputusan untuk menikahi Yuyun itulah yang terbaik. Namun ternyata Tuhan telah memilihkan mereka rencana yang lain. Tiga hari sebelum hari pernikahan mereka, Nono mengalami kecelakaan dalam perjalanan pulang ke kampung halamannya. Kecelakaan itu membuatnya tak bisa tertolong lagi. Tuhan lebih mencintainya. Yuyun kini kehilangan seseorang yang sangat dikasihinya. Semuanya kini tinggal bayangan dan harapan yang tak akan pernah terwujud.
***
Sepeninggal Nono, Yuyun mengalami pergejolakan batin yang sangat mendalam. Bayang-bayang Nono selalu saja menghampiri setiap lamunannya. Yuyun hidup bersama kenangan-kenangan indah yang mereka lalui semasa hidup Nono. Cinta dan kenangan itu membuat Nono selalu hidup di hati Yuyun dan seolah Nono selalu berada di sampingnya meskipun ia telah tiada. Yuyun tidak ingin menyakiti orang yang ingin menikahinya karena ingatan-ingatan tentang sang kekasih tidak juga padam. Meski banyak yang tidak percaya akan cinta sejati, tapi itulah kenyataannya. Yuyun tidak pernah bisa melupakan kekasih yang hampir saja menjadi imamnya. Cinta dan cinta. Itulah yang menjadi sebabnya.
Setelah kepergian Nono, tidak sedikit orang datang melamar Yuyun, namun ia tetap bersih teguh pada pendiriannya. Yuyun sudah berkomitmen dengan dirinya sendiri, ia tak akan berlabuh kepelaminan jika bukan bersama Nono. Yuyun hanya menjalani hari-harinya bersama kenangan-kenangan yang telah ia lalui bersama Nono. Ia bertekad menjalani hidupnya seperti itu hingga masa tua menghampiri dan Tuhan mengizinkannya untuk menyusul kekasihnya. Yuyun tidak mau menikah dengan laki-laki lain. Alasannya tidaklah rumit. Selain karena cintanya kepada Nono, ia juga tidak ingin laki-laki yang akan menikahinya mendapatkan gadis yang tidak suci lagi.
Jika kita tak berjodoh di dunia, kuharap Tuhan menjodohkan kita di akhirat kelak”…………

Makassar, ……. 2013
Ditulis ditanggal yang tak pernah hilang dengan segala kenangan.

Bagikan ke

0 Komentar