Oleh: Lao Teelliy

"Andai semua orang tahu. Ternyata akhir dari segala nyata adalah Air mata, tidak lebih."

Derai air mata mengiringi pagi yang mulai merangkak dari balik bukit Barnabas yang jauh, saat itulah kudapati setiap wajah terbakar lava air mata. Kutatap ke setiap pelosok lembah, dan kutemukan hati-hati yang mengeras mulai mencair. Hingga tetesan air jingga  meruah menjadi telaga yang membahana dalam senandung duka membuncah di sudut-sudut lembah kasih yang dahulu hijau.
Kini, ketika segalanya usai. Semua tatap hadir saling mengais sisa-sisa kasih di antara puing-puing yang berserakan. Segalanya menuntun jiwa pada renungan panjang tentang serpihan butiran-butiran harapan yang terbentur di sudut hati; "aku ingin meniupkan roh cinta dalam raganya dengan lafaz-lafaz cinta para mullah, dan segalanya tak kuasa tiada daya. Aku hanya seorang remaja yang lemah".
"Ingin kuhembuskan roh cinta untuk semua keretakan, namun pada detik-detik itu tidak ada roh cinta yang tersisah bagiku. Segala yang dahulu ada telah hancur lebur enyah sudah. Pedih terlumurkan pada sekujur jiwa yang menyesal dan merasa nista di telaga air mata."
Para pembacaku. Yang kudapati hanyalah sesobek tirai tragedi merah yang samar mengibar di ufuk senja yang menyelimuti jiwaku dengan selimut senyap. Ia menyerupai panji yang bagiku adalah "panji keangkuhan" yang telah melumatkan semua raga pada telaga kematian. Panji itulah yang telah menjadikan sudut-sudut lembah menjadi makam dan telah membuat semua orang yang pada mulanya terlahir dari satu rahim saling membunuh atas nama suku dan golongan-golongan. Menyedihkan.
Aku sadar jika semua itu telah menjadi torehan masa silam. Cukup sudah, sematkanlah kelopak cinta di sudut hati yang luka oh, semua jiwa. Sebab, dalam hikayat cinta telah tertulis jika keindahan terusik maka hanya cambuk kesunyian yang ada.
Oh, para remaja. Aku adalah setangkai tanaman hias peradaban yang merindukan telapak musim semi. Kita adalah ranting-ranting lemah yang terselip dalam keangkuhan badai kesejarahan. Aku hanya kuasa mengungkapkan, "kita semua sama, kita adalah para remaja yang sengaja disisihkan karena pahala yang mereka kejar-kejar dengan mengorbankan sesama. Aku ingin hadir dan membelai kalian di tenda-tenda pengungsian dengan senandung ketegaran yang hendak kulagukan, namun rasanya aku pun mengharap sebongkah kasih dari semua orang untuk denyutku yang mulai berlaga tidak waras memandang semua orang."  
Tersentaklah semua nurani ketika helatan udara pagi mendesah resah kabarkan kenangan damai masa silam yang telah  jauh. Hapus air mata jiwa kalian dan mari bersamaku mendapati jiwa-jiwa yatim terkeluh dalam isak sedih bergejolak. Kemudian marilah kita saksikan semua kaki ke luar rumah menyambut uluran perdamaian. Mari menyaksikan betapa kaki-kaki itu melangkah sambil memamerkan hatinya yang telah memar.
Tibalah hari dimana kita akan kembali untuk menelusuri jejak-jejak masa silam dan reruntuhan kota berserakan di sudut-sudut lembah yang dahulu menyejukkan.
Maka biarkan semua orang yang membaca setiap deret kata-kata ini menganggap sebagai sebuah pemberontakan yang terbangun dalam sebuah pemahaman sempit. Akan tetapi bisakah mereka sejenak menoleh suasana hati dan pikiranku terhadap perbuatan mereka yang mengusik kedamaian hingga membuat kita, para remaja, tidak bisa tenang menyibak tabir ketidak tahuan dengan kitab pengetahuan.
Setiap sudut masa kini berselimutkan aroma ketakutan menyesakkan dada. Hingga butiran-butiran resah susupi nadiku yang kering. Adakah di sana Tuhan masih lemah dalam pasungan para hambanya ?. Mungkin aku salah.
Taman-taman masa silam yang indah, sungguh, ketika semua jemari berjabat menyambut setiap sesi hari. Kini hanya rimba-rimba yang menjulang dan semua jiwa tersesat dalam derap langkah saling mencari untuk saling menyapa dan berpeluk mesra. “Susurilah rimba masa kini dan temukan jiwa-jiwa lemah untuk kalian belai. Cinta, hadirkanlah sebagai madu yang akan mengisi kehidupan dengan madu kebermaknaan. Rindu, biarkan menjadi semerbak yang menghiasi setiap denyut yang hidup untuk jiwa-jiwa pencinta yang terbaring dalam ketiadaan. Maka sucilah hati sebening embun yang mengkristal  dalam telapak hari yang cerah.”  
Hingga kini aku masih tegak berdiri. Menatap semua angan dari balik jendela waktu. Dan sunyi bercampur pengap masih menusuk helatan nafasku ketika pagi menerangi seisi bukit yang telah berubah. Aku hanya terkatung-katung dalam imajiku yang menatap tajam wajah-wajah piatu, bidadari-bidadari yang menjanda, dan jompo-jompo yang dibuat cacat, adakah syair keberuntungan dalam daftar riwayat kehidupan mereka sesudah segala kekurangan menjadi nyanyian langkah kehidupan. Bakar saja kitab sejarah jika tangis mereka tidak tertulis dalam setiap lembarannya.
Para pembacaku. Catatan masa kini adalah pahatan terpahit sejarah yang harus menyejarah; maka menyejerahlah. Mengabadilah untuk mengetuk hati-hati yang mengeras. Menyejarahlah ketika jiwa-jiwa rentan berbeda keyakinan saling menjamah dengan air mata penyesalan. Biarkan tangisan para kekasih terpantul dalam setiap lembaranmu untuk belahan jiwa mereka. Dan biarkan puing-puing dari reruntuhan istana dan rumah Tuhan menjadi lukisan tersuram yang akan ditoleh oleh setiap tatap.
Aku adalah remaja yang terlanjur Tuhan menghidupkanku dalam bilik kebodohan yang sempit tidak bersimpatik penuh trauma. Bantah saja jika aku yang merintihkan semua ini salah.
Kelopak-kelopak musim yang sakit mengiba pada telapak musim dengan mata yang berkaca-kaca, itulah aku, menanti petang yang menyapa telanjang. Walaupun kami dalam kesakitan, namun kami akan tersenyum dengan wajah serampangan kami hingga bauh mesiu berlarian meninggalkan sudut-sudut rumah kami.
Selamat malam kasih. Selamat menempuh kekekalan yang tak terputus. Hatiku telah menjadi makammu sepanjang hayatku. Aku akan mengenang saat-saat kita saling tersenyum; ketika itu kau membidik sanubariku dengan busur rindu. Takdir nampaknya terlalu ganas menghadirkan cambuk kekalutan cinta bagiku ketika cinta hadir. Sangat terasa jika semua kenyataan ini enggan menyatukan hati kita dalam dekap bahagia.
Kekasihku, lihatlah. Aku menangis di atas lara yang membara karena pesonamu yang tak lagi menghiasi mata jiwaku. Hingga nafas rindu menuntunku menuliskan berderet kata cinta untukmu, duhai permata keabadian.
Hamparan lembah Kalbaharu kini telah kosong dari tawa kita. Hingga kutemui jiwaku dalam cengkraman bisu yang mencabik-cabik. Adakah kau merindukanku ?, mengingat hari-hari kita bercanda sambil berkejeran mengintari sudut-sudut taman rumah ketika senja tiba...?, Mazdah...aku terbakar oleh desah nafas cinta untukmu yang jauh.
Sahabatku, lihatkah. Aku menyapamu dari kejauhan, adakah kau di sana menantiku rindu ?. Mungkinkah engkau telah mendendamku ketika semua kebodohan ini berakhir, ataukah sebaliknya..?
Hadirlah kalian dan akan kupersembahkan setumpuk rindu yang menggunung di hatiku. Hadirlah untuk mengusik kesunyian yang kini menyelimuti lembah kita dengan kengeriaan.
Kekasih dan sahabat adalah nyanyian. Nyanyian yang akan selalu menggema sepanjang denyut musim tiada putusnya. Gemanya mengalir hadirkan ritme untuk ketenangan jiwa dalam telapak semesta raya. Maka abadilah cinta untuk keduanya hingga jiwa kembali dipertemukan dalam bilik tak terbatas dan tak berhijab.
Bisikan kerinduan menggemalah. Bergetar dalam petikan detik yang melangkah bersama hempasan kesedihan hati dari jiwa-jiwa yang terluka. Bersenandunglah, kabarkan kebebasan untuk hati-hati yang tercumbu bahagia.
Telapak musim menghadirkan tetesan mataair langit untuk kehausaan dahaga jiwa. Mimpi-mimpi menghadirkan pahatan taman surga pada lembaran-lembaran malam yang menjamah. Namun kemanakah cinta, mungkinkah ia jenuh, ketika semua yang indah memilih menjauh, maka angan bertahta dengan cumbuan sederet kisah suka cita bahagia.
Memang bukan hanya aku yang meretap pilu di balik trali kelabu yang kokoh memenjarai. Lihatlah kehidupan saudara-saudaraku yang dahulu tertawa dalam kebebasan kini tergelincir di sudut-sudut rumah yang kumuh dan pengap. Lihatlah, kini mereka bersila dan mengarahkan tangan dalam ketermanguan menatap iba kepahitan yang berpentas. Nasib terlalu kejam bukanlah kesimpulan akhir dari sejarah ini; sejarah duka cita, sejarah air mata, sejarah kemanusiaan, sejarah...sejarah...sejarah kematian bersimbah darah.
Bergumamlah ucap dalam kata-kata agar semuanya terbaca. Adalah sebuah kekejaman jika semua tangis lebur dalam kekosongan tak berkisah. Maka mengalirlah syair-syair pada setiap episode kehidupan.
Dan mungkin hanya ini yang kupersembahkan, duhai kekasihku, duhai sahabatku, dan untuk jiwa-jiwa yang terlelap. Sepotong sajak yang terputus-putus dan belumlah sempurna sepenuhnya dari kepingan-kepingan obsesi yang mungkin akan ditertawai oleh semua orang karena kebutaan. Namun tawa mereka tidak akan menyulutkan kobaran obsesiku untuk mengabadikan cinta dan kisah kita yang harus direnungkan.
Kita tidak mengharapkan kekaguman, apalagi air mata. Sebab kita telah memiliki segalanya. Biarkan kehidupan saling bersentuhan sebagaiman kehendak cinta yang hadir, tidak perlu berlebihan. Teriakan duka yang mengelegar biarlah menundukkan auman petir yang menakutkan kelemahan kita. Kegetiran adalah sayap kehidupan yang niscaya ada, terbentang membawa pertanda dari Sang petala langit untuk ego yang menghasut demi lafaz pujian kebesaran yang berkicau setelah menjauh.
Lihatlah, malam kembali menyelimuti lembah kita dengan sisa-sisa kengerian. Namun mimpi tentang hari esok tetaplah ada hingga fajar akan kembali menerangi jalan kita, menuju gerbang bahagia.
"Dari lembah tandus yang terhampar." 
"Kisahku !, baru sekeping yang terpantul dari wajah malam."

Bagikan ke

0 Komentar