Terik mentari memanggang bumi yang gersang. Sementara angin masih membelai kulit gerah. Angin bertiup sepoi membelah dedaunan yang bergandengan. Di bawah pohon yang meringis Herman merenung. Ia tak tahu lagi apa yang harus diperbuat untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Kebingungan terus menghantui pikirannya. Belurn lagi janjinya pada Avni tentang orang yang ia aku sayangi selama ini. Di sisi lain, Herman tidak ingin satu orang pun yang tahu termasuk Avni. Meski orang itu sebenarnya adalah Avni sendiri.

Tiba-tiba Herman tersentak dan tersadar dari khayalnya. Tanpa ia sadari Avni dan teman-temannya telah berdiri di sampingnya.

“Hai Herman, lagi mikirin apa?”, sapa Avni sambil menepuk bahunya. “Janjinya mana?”, tagihnya pada Herman.
“Ah, kau bikin kaget saja. Memang ada apa?”, ia balik bertanya seolah-olah lupa pada janjinya.
“Katanya mau beri tahu kepada aku, siapa orang yang kau suka selama ini”
“Oh, itu! Bukannya aku tidak mau. Tapi bagaimana ya! Aku memang tidak mau ada yang tahu. Biarlah cinta itu tersimpan rapi dalam hati ini”
“Kau ngomong jujur saja karena itu akan jadi beban pikiran kau kalau dipendam terus”, bujuk Avni.
“Terima kasih atas nasehatnya. Tapi cukup aku dan Tuhan saja yang tahu. Mungkin takdirku memang seperti ini”
“Berarti kau bukanlah seseorang yang bisa berkata jujur kepada orang yang sudah seperti saudara. Atau kau tidak percaya kalau aku bisa menyimpan rahasia yang begitu besar dan sangat berarti buat kau?”
“Tolong Avni, kau jangan menyudutkan aku. Bukannya aku tidak percaya padamu tapi saat ini aku pusing dengan masalahku yang begitu menumpuk”

Avni hanya terdiam mendengarkan Herman yang berbicara dengan nada agak meninggi. Sementara mentari yang berdiri dengan angkuh masih saja menusuk bumi dengan cahayanya. Ranting-ranting pohon masih asik berdialog dengan angin. Sesekali pohon itu melempariku daun kering yang tak mampu lagi mengantung pada rantingnya. Sesaat suasana terjamah kebisuan. Mereka berdua hanya tertunduk diam.

“Maaf kalau perkataanku menyinggung perasaanmu. Saat ini aku hanya ingin menenangkan pikiranku. Aku harap, kau bisa mengerti”, sambung Herman setelah adrenalinnya menurun.
“Aku bisa ngerti kok. Kalau itu yang terbaik buat kau. Aku juga tidak mau terlalu memaksa. Aku cuma tidak mau kau dihantui perasaan kau sendiri”, jawab Avni agak kecewa.

Avni akhirnya mengalah juga. Herman menatap Avni yang terdiam. Ia merasa bersalah karena sebelumnya ia telah berjanji untuk memberitahukan hal itu kepada Avni.
Dengan berat hati ia pun mengucap kesediaannya menceritakan semua meski keragu-raguan membalut seluruh tubuhnya.

“Baiklah! Tapi bukan sekarang dan bukan di tempat ini. Dan satu hal lagi, kau harus berjanji padaku kalau kau tidak akan menceritakan ini kepada siapapun”
“Iya, aku janji”

Herman terdiam sejenak dan menundukkan kepalanya. Sunyi kembali menyusup dalam suasana tegang di tempat itu. Daun-daun kering terus mencumbu wajah bumi yang berjerawat. Lidah-lidah angin yang terus menjilati tubuh tak mampu menghilangkan peluh yang mengalir. Tak lama kemudian, Herman mengangkat kepalanya yang serasa tertusuk batu karang di tepian pantai.

“Sekarang kau pulang saja, nanti malam aku hubungi. Lagipula aku tidak bisa mengatakannya sekarang”
“Iya!”, jawab Avni singkat seraya mengangguk.

Avni dan teman-temannya berlalu meninggalkan Herman. Sementara Herman masih duduk dipayungi pohon yang nyaris tak berdaun lagi. Sang penguasa terang beranjak meninggalkan tahtanya. Rona merah membingkai kaki langit sore itu. Herman pun beranjak dari tempat duduknya. Dengan sisa tenaga, ia berjalan menelusuri lorong-lorong menuju pondok tempat tinggalnya.

Senja berlalu dengan cepat. Waktu terus berlari menggapai malam. Dingin mulai menusuk tulang sumsum. Malam itu, setelah seruan Ilahi dikumandangkan pertanda sholat magrib telah menunggu, Herman ke rumah temannya yang kebetulan tidak jauh dan tempat tinggalnya. Tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul 23.15. Herman yang dari tadi sedang memainkan gitar dengan menyanyikan sebuah lagu yang ia ciptakan sendiri bersama temannya, Ahmad. Judulnya “takkan ada lagi”. Namun, lantunan lagu itu tak sempat menemui muaranya karena Herman tiba-tiba teringat pada janjinya. Dikeluarkannya ponsel bermerek nokia 1110 dari saku celana jins berwarna biru tua yang sudah satu minggu tidak dicucinya. Tangannya dengan lincah mempermainkan tombol-tombol ponsel itu. Di layar ponselnya tertulis nama seorang perempuan yang disayanginya.

“Memanggil Avni
+6285299820848”


“Halo!”, terdengar suara yang tak asing di telinganya.
“Iya! Maaf ya, tadi siang aku tidak sempat bicara langsung karena aku takut teman-temanmu mendengarnya”
“Tidak apa-apa, aku bisa memahami posisimu”
“Sebernarnya orang itu......“, Herman sedikit ragu untuk mengatakannya. “Orang itu adalah ka....ka.....mu”
“Siapa?”, kata Avni dengan nada terkejut. “A... aku! Apa aku tidak salah dengar?”, Avni bertanya untuk memastikan apa yang baru saja didengarnya.
“Iya, kau tidak salah dengar. Kaulah orang yang selama ini aku sayangi”, jawab Herman meyakinkan Avni. “Tapi, aku tidak berharap kau menjawab ya atau tidak. Aku juga tidak akan memaksamu percaya kalau aku benar-benar sayang padamu”

Jantung Herman berdetak kencang seperti aliran air sungai yang terus mengalir ke muara. Kata yang selama ini tidak mampu ia ucapkan kepada orang yang ia cintai, akhirnya terungkap juga meski dengan keadaan terpaksa.

“Sebenarnya, aku percaya tidak percaya” Avni bingung mau berkata apa pada Herman. Mulutnya seakan terkunci dan tak mampu berucap. “Bukannya aku tidak mau. Tapi, aku sudah terlanjur menganggap kamu sebagai saudaraku sendiri”
“Tidak apa-apa. Aku kan sudah bilang, kau tidak perlu menjawab ya atau tidak. Karena itu, aku minta maaf atas kejujuranku malam ini”
“Aku juga minta maaf. Aku tidak bisa menjadi seperti apa yang kau inginkan. Dan kalau boleh aku tahu sejak kapan kau seperti ini?”

Pertanyaan Avni membuat Herman sejenak terdiam dan tak mampu berucap apa-apa. Herman sebenarnya tidak ingin Avni tahu semua tentang perasaannya selama ini. Ia ingin menjadikannya bingkisan hati yang tak tersampaikan. Dalam kalbunya pun berperang antara ya dan tidak. Karena Avni sudah terlanjur tahu jadi untuk apa lagi disembunyikan. Katanya dalam hati.

“Halo!”. Sapa Avni memecah kebisuan yang hadir di celah pembicaraan Herman.
“Ya, sa....sa...ya seperti ini sejak pertarna aku melihatmu”, jawab Herman dengan suara yang agak terputus-putus.

Malam semakin larut dan berselimut dingin yang menyapa di keheningan. Cahaya bulan masih menerpa bumi dengan lembut.

“Herman, aku harap kau tidak berubah karena kejadian ini. Dan satu lagi, kenapa baru sekarang kau mau jujur padaku?”
“Aku memang tidak mau kau tahu perasaanku yang sebenarnya. Tapi, karena semua sudah terbongkar, jadi untuk apa lagi disembunyikan. Kau juga jangan pemah berpikir kalau aku akan berubah. Cuma yang aku takutkan kalau kau yang berubah”
“Kau tidak perlu takut, aku tidak akan berubah sama sekali. Memang salah ya, kalau aku ingin tahu perasaanmu yang sebenamya!”
“Bagaimana sendainya aku jujur sejak dulu padamu tentang perasaanku? Mungkin ceritanya akan lain, iya kan?” tanya Herman menyesalinya.
“Entahlah karena sekali saudara tetap saudara”
“Ya, sudahlah. Sudah larut malam kau harus cepat tidur”
“Terima kasih untuk kejujuranmu malam ini. Setidaknya, sebagai jalan untuk mengurangi beban dalam hatimu. Meski aku tidak bisa menyambutnya dengan ketulusan seperti yang kau rasakan”
“Aku juga berterima kasih atas kejujuranmu”

Malam serasa berlari dengan cepatnya. Dinginpun membawa dua insan itu ke puncak penyesalan. Nyanyian jangkrik yang tak lelah mengalung sepanjang malam seakan ikut merasakan duka Herman yang mendalam. Beban yang selama ini Herman bawa dalam cawang kalbunya tertumpah sudah. Jatuh membasahi jiwanya yang dahaga. Namun, meski berakhir dengan kecewa, cinta yang ada dalam hatinya tetap hidup untuk Avni.

Makassar, Februari 2007

Bagikan ke

0 Komentar