kubisikkan pada bulan sepotong kisah tentang bumi
yang merindukan kehangatan sang mentari
masihkah ada kehangatan itu melekat pada langit
ataukah kehangatan itu telah menjelma menjadi bara
lalu menghanguskan keakraban yang telah tumbuh
dan beranting yang sebentar lagi berbuah

kerinduan bumi pada matahari dengan hangatnya
kerinduan bumi pada bulan dengan sejuknya
kerinduan bumi pada awan putih dengan teduhnya
ke mana raibnya semua itu
mencari embun di antara isak tangis hingga jenuh
lalu akan berlalu terbawa desir angin
tak ada yang tahu ke mana arahnya
sirna begitu saja tanpa jejak tertinggal

tak ada yang merindukan bumi
damai tanpa darah membasahinya
atau tanpa air mata membanjirinya

tak ada yang merindukan bumi
tertawa di pagi yang merekah senyumnya
atau di senja yang menawarkan jingga jadi peraduannya

tak ada yang merindukan bumi
yang ada hanya kerinduan bumi


Makassar, 6 Maret 2010

Bagikan ke

0 Komentar