dan malam ini,
aku tak menemukanmu di sini
pada ayunan ombak Losari
pada tatapan bulan yang mulai sayu
pada awan yang belum juga menanggalkan angkuhnya
pada lampu-lampu kota yang beragam warna
pada satu sudut Kota Daeng yang belum juga terpulas

dan malam ini,
aku tak sempat memberimu senyuman
pada duka yang melekat di tepian pantai
pada belaian angin sepoi yang pilu
pada debu yang beterbangan entah ke mana
pada deru kendaraan yang melantakkan sepi
pada jantung Kota Daeng yang haus


dan malam ini,
di tepi jalan itu kulihat kau meratap
pada sebotol kaleng bekas yang telah terinjak
pada sobekan koran yang berisikan berita tentangmu
pada setiap puntung rokok yang mematuk wajahmu
pada secerca makna yang terkoyak malam
pada tiap dinding Kota Daeng yang bisu

dan malam ini,
mereka tak memberimu segelas teh hangat untuk kau minum
dan kutahu kau pasti menginginkannya
mereka tak pernah menyeka air matamu
yang sebentar lagi kering seperti kemarin
saat kau masih dimanjakan untuk keserakahan mereka

dan malam ini,
di setiap sudut jalan Kota Daeng yang kulalui
aku sendiri tak sempat mendoakanmu
meminta pada Tuhan menurunkan hujan
membasahimu agar kau teduh
sebab kini kematian sedang mengintai di muara sana
pada kemarau panjang yang bersarang di hatiku

kota Daeng malam ini meringis pilu
keelokannya tak lagi seperti kemarin
terenggut oleh ketamakan mereka yang jadi wali

Makassar, 25 Januari 2010

Bagikan ke