Sore itu, tepat seminggu setelah Erni menerima Jamal menjadi kekasihnya, masalah pun menghinggapi kisah kasih mereka. Semua bermula saat Erni mengingkari apa yang telah ia ucapkan beberapa hari yang lalu. Ucapannya hari ini sangat berbeda dengan apa yang keluar dari mulutnya hari itu. Ia tak mengungkap lagi kesediaannya menjadi sandaran hati Jamal. Erni tiba-tiba berubah pikiran. Entah apa yang jadi penyebabnya. Yang terjadi adalah pengingkaran dari cinta yang telah dipersatukan dengan janji untuk setia. Semua hancur seketika. Cahaya yang membias dalam hati Jamal kini memudar kembali. Alasan Erni yang tidak jelas itu menumbuhkan luka yang amat perih. Erni Cuma beralasan kalau ia tidak bisa mencintai Jamal sepenuhnya karena rasa persaudaraannya terhadap Jamal yang tak mampu ia lawan.

Memang antara Erni dengan Jamal begitu akrab. Jamal sering bertamu ke pondokan dimana Erni tinggal. Hampir tiap malam Jamal
bertemu dengan Erni. Terkadang Jamal ke pondokan itu untuk istirahat karena kebetulan pondokan Erni dekat dari tempat mereka meraih cita-cita. Erni juga sering mengajak Jamal ke pondokannya bila mereka telah selesai kuliah. Dan kedekatan itulah awal dari sebuah elegi di awal bahagia. Jamal mulai merasakan sesuatu yang lain.
Waktu seolah merangkak begitu lambat. Sementara Jamal yang tidak percaya, diam tanpa bahasa. “Ini bagaikan mimpi yang menghampiriku namun pergi sebelum aku sempat meraihnya”, ucapnya dalam hati. Kebahagiaan yang baru mengakar pun kini layu. Hati dan perasaannya terluka. Meski di mulutnya tersenyum namun hatinya menjerit.
“Mengapa kamu tega melakukan ini sama aku?”, tanya Jamal dalam kecewanya. Erni terdiam dan menunduk. Ia tak mampu berucap. Matanya yang simpit nampak mulai berkaca-kaca.
Jamal masih ingat betul apa yang pernah Erni ucapkan. Kata yang pernah membuat Jamal merasakan kebahagiaan. Hari-harinya begitu indah. Pikirannya tak lagi terbebani sejuta kata yang ingin diutarakannya pada Erni. Dia meyakinkan Erni kalau dia benar-benar sayang padanya. Jamal tak ingin jauh darinya. Dia ingin menjaga Erni dengan sepenuh hatinya. Dia tidak akan rela kalau Erni terluka sedikitpun.
Namun seiring waktu yang terus berhijrah, semua jadi berubah. Erni telah membuat Jamal kecewa. Semuanya berlalu seperti bayangan yang tak dapat dia sentuh. Seperti mimpi saat lelapnya namun nyata.
“Aku minta maaf, aku tidak bermaksud mengecewakan kamu. Aku tidak bisa mencintai kamu karena rasa persaudaraan itu tidak bisa aku ubah”, ucap Erni yang masih tertunduk.
“Jadi apa arti semua ini? Apa kamu hanya ingin mempermainkan perasaanku?” Erni kembali membisu. Bibirnya masih tetap terkatup. Sementara mentari terus merangkak perlahan hendak menggapai ujung langit.
“Bukannya aku mau mengecewakan kamu. Aku sudah berusaha mencintai kamu tapi aku tidak bisa. Mudah-mudahan hati kamu tidak memberontak dan membenciku. Aku juga memohon kamu tidak berubah sama aku”, Erni berusaha membela dirinya.
“Aku tidak akan berubah apalagi sampai membencimu. Hatiku memang sangat kecewa tapi itu tak merubah cintaku karena aku sangat sayang padamu”, Jamal berusaha menegarkan hatinya dan kembali mencoba meyakinkan Erni.
Meskipun Erni membuat hati dan perasaan Jamal terluka, namun dia tetap mencintai Erni sepenuh hati. Cintanya terhadap Erni tak sedikitpun berubah. Walau bunga yang sudah digenggamnya gugur dan jatuh ke bumi, Jamal tak pantang menyerah. Dia tak akan pemah lelah. Dia terus berusaha membuktikan kalau dia sangat mencintai dan menyayangi Erni.
***
Waktu berlalu hari-haripun berganti. Jamal bersikap seolah-olah tak terjadi apa-apa. Dia tetap tersenyum meski hatinya bersedih. Dia tak pemah memperlihatkan kepada sahabat-sahabatnya atau pada siapapun, tidak juga Erni. Jamal tidak ingin ada yang tahu apa yang terjadi padanya.
Masih dengan sengatan mentari yang begitu panas. Jamal kembali menemui Erni. Saat itu Jamal masih mempertanyakan masalah yang membuatnya sakit hati. Pertanyaan yang pemah dilontarkannya tiga hari yang lalu kepada Erni.
“Sebenarnya apa mau kamu?” Jamal kembali membuka perban pada hatinya yang terluka. Dia tak ingin menyerah begitu saja karena dia yakin kalau Erni juga sayang padanya. Dia cuma ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi sehingga Erni tega membuatnya seperti itu.
“Kalau kamu masih mempertanyakan masalah itu, aku minta maaf. Aku tidak ada maksud sedikitpun untuk menyakiti hati kamu. Dari dulu aku sudah bilang, kalau aku akan berusaha mencintai kamu tapi aku tidak bisa. Rasa persaudaraan yang ada dalam hatiku tidak bisa aku ubah”, suara Erni agak lantang.
“Lalu apa maksud kamu yang sebenarnya. Kalau memang kamu tidak bisa mencintai aku, mengapa kamu mengucapkan kata yang pernah membuatku melayang dalam nirwana. Kamu tidak perlu meminta aku berjanji agar aku tidak mengecewakan kamu. Itu sama saja kalau kamu hanya ingin melihat aku menderita” Jamal mengingatkan Erni tentang apa yang telah dia ucapkan. Jamal masih ingat betul semua kata-kata yang keluar dati mulut Erni.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Jamal, Erni pun terdiam. Dia tak tahu lagi bagaimana cara menjelaskannya. Pikirannya sangat terbebani dengan masalah itu. Dia merasa kesalahannya itu tidak bias lagi dimaafkan. Namun di hati Jamal yang paling dalam tak bisa dia pungkiri kalau dia sangat menyayangi Erni. Tak sedikitpun terlintas dalam pikirannya untuk berlalu meninggalkan Erni meski ia telah dikecewakan.
“Er, satu hal yang harus kamu tahu, aku sangat sayang sama kamu dan tidak akan pernah berhenti menyayangi kamu. Aku berharap jika suatu saat hatimu berubah dan kau bisa menerimaku untuk mendampingimu, aku akan selalu ada”
Senja pun hadir dalam kesunyian. Suasana sekeliling kampus agak sepi menambah perih yang menyapa di relung hati. Jamal sadar kalau cinta itu tak baik jika dipaksakan. Dia tidak ingin terlalu memaksakan kemauannya. Prinsip untuk tidak memaksakan perasaan terhadap orang lain tetap dipegangnya. Ia tidak ingin mengedepankan egonya.
***
Malam itu masih seperti malam kemarin. Sepi dan sunyi. Senyap masih mencumbui kegelapan. Bintang yang menari tanpa sinar rembulan pun seolah merasakan apa yang dirasakan Jamal. Di dalam kamar yang sangat sederhana, Jamal kembali merangkai mimpi yang terpecah berkeping-keping. Diutak-atiknya kembali memori yang terkubur terkubur. Dia sengaja menyimpan apa yang pernah Erni ucapkan padanya. Dia ingin menjadikannya sebagai kenangan indah sekaligus kenangan terpahit dalam hidupnya. Rindunya pada sosok wanita yang sangat dicintainya pun hadir menelusuri aliran darahnya. Meski rindu itu tak bisa dia penjarakan. Tapi apa mau dikata, tak ada lagi senyum dari bibir mungilnya. Tak ada lagi kata mesra yang mengiring setiap hembusan nafasnya. Semua tinggal khayalan semu dan mimpi yang datang merangkul kenyataan meski tak sempat.
Malam kian terseret dalam kesunyian. Jiwa tak sanggup lagi melawan rindu. Sementara raga hanya bisa menangis dan menangis. Harapan serta impian Jamal sirna dalam gulitanya malam. Dia tak pemah menyangka kalau Erni akan membuatnya kecewa.
Diantara samudera luka yang membentang dalam luasnya alam khayalnya, malam menusuk hingga mata tak mampu lagi terbuka. Jamal pun terlelap bersama kebingungan yang menggunung dalam otaknya.
***
Di pagi yang cerah. Mentari menyapa dari sisi kosong hembusan angin. Awan putih terlukis indah di hamparan cakrawala. Dengan tumpukan-tumpukan pertanyaan yang mengisi kepalanya, Jamal pun berangkat ke kampus. Sesampainya di kampus ia kemudian menemui Anti.
“Pagi Anti!” kata Jamal menyapa Anti yang sedang duduk di halte.
“Pagi juga!” jawabnya singkat.
“Masih ada kuliah?” tanyanya lagi seraya duduk di samping Anti.
“Tidak. Memang ada apa?”
“Aku ingin cerita masalah yang kemarin”
Anti memang sudah tahu banyak tentang masalah yang menggorogoti tubuh dan pikiran Jamal. Anti adalah teman sekamar Erni. Bagi Jamal, Anti orang yang tepat dan bisa ia percaya untuk berbagi cerita. Begitupun sebalikya, jika Anti ada masalah. Dia juga sering curhat pada Jamal. “Apa dia sudah mengiyakan?“
“Belum!”
“Kenapa kamu tidak tanya lagi?”
“Sudah, tapi jawabannya tetap itu-itu saja. Terkadang aku berpikir mungkin sebaiknya aku akhiri saja. Aku terkadang berpikir kalau aku adalah orang terbodoh di dunia ini”.
“Kok, baru seperti itu kamu sudah menyerah. Kamu harus bisa membuktikan kalau kamu benar-benar sayang sama dia” Anti memberi semangat kepada Jamal untuk tidak berputus asa.
“Tapi, aku juga tidak mau memaksakan perasaanku. Itukan namanya egois”
“Tapi setidaknya kamu usaha dulu dong. Kamu harus berusaha membuktikan kalau cintamu untuk dia memang tulus”.
“Kamu benar. Aku harus meyakinkan dia kalau aku benar-benar sayang padanya. Tapi bagaimana kalau......”
“Ets, tidak ada tapi-tapian. Yang jelas kamu berusaha saja. Ok!!!” Kata Anti memotong pembicaraan Jamal.
“Ok”
“Begitu kan lebih baik. Ya sudah, aku mau ke perpustakaan dulu. Ada tugas yang harus kuselesaikan”
“Iya! Aku juga mau masuk kuliah. Aku duluan ya! Sampai ketemu besok?” Jamal mengakhiri pembicaraannya sambil berlalu dari tempat duduknya.
“Iya!”
Jamal jalani hari-haninya dalam kekecewaan. Seperti berjalan di atas jalan yang penuh onak. Meski perih, pedih dan menyakitkan terkadang tak dirasakan. Yang ada dipikiran hanyalah bayangan putni impian yang datang membawa cinta tapi menancapkan pedang ke dasar hatinya. Hatinya pun berdarah.

Bagikan ke

2 Komentar

Bukan lagi perih mass. Kalau ada rasa di atas perih, mungkin itu. Hehe