Siang itu mentari begitu terik. Dengan iringan lagu Ana’ Kukang dari handphone milikku, ingin kutulis semua unek-unek yang bertumpuk dalam batok kepalaku. Semuanya kutumpahkan dalam sebuah cerpen. Tapi, tiba-tiba suara tangisan dari luar rumah mengagetkanku. Tangisan pilu itu membuatku berhenti menggoyangkan tanganku dari papan komputer. Aku tersentak. Diam. Kucoba mengintip di balik jendela kamarku, namun aku tak melihat siapa pun di luar sana. Aku hanya melihat sebatang pohon yang tumbuh tak jauh dari tempat tinggalku. Yah, sekitar dua puluh meter dari kamarku. Meski sudah tak berdaun, pohon itu masih berdiri kokoh. Pohon itu pasti sudah berumur puluhan tahun karena batangnya yang memang sudah tak muda lagi.

Kukerutkan keningku dan perlahan kembali ke depan komputer yang selalu setia menemaniku. Kunyalakan sebatang rokok LA Lights dan mengisapnya dalam-dalam hingga kepulan asap memenuhi kamarku yang mungil. Imajiku kembali mencoba menjelajah. Namun, belum sempat kuterawangkan pikiranku, tangisan itu kembali menari pada gendang telingaku. Konsentrasiku pun buyar. Kucoba mencari tahu sumber suara tadi. Lima menit, sepuluh menit berlalu. isak itu seolah terkubur bersama sepi. Yah…, suara itu tak terdengar lagi. Rasa penasaranku kian memburu nafasku yang mulai tak beraturan. Rasa takut! Mungkin iya atau mungkin juga tidak. Dari mana asal tangisan itu? tanyaku dalam hati.

Jam telah menunjukkan pukul 14.13. Cahaya mentari masih memanggang bumi. Suasana di sekitar tempat tinggalku begitu sepi. Penghuni rumah sebelah pasti sedang terpulas atau mungkin juga belum pulang kuliah. Aku belum beranjak dari tempat dudukku. Kubalikkan tubuhku hendak membangunkan Kudus yang sedang tidur di atas kasur yang sudah mulai membatu, tapi niat itu kuurungkan.

Beberapa menit berlalu suara tadi terdengar lagi, tapi kali ini terdengar agak jauh.
Siapa yang menangis di luar sana? gumamku.
Kembali kudekatkan kelopak mataku ke jendela dengan harap bisa melihat asal suara itu. Namun, lagi-lagi aku terkejut. Kali ini bukan dari suara aneh tadi. Tapi, Kudus yang baru saja terbagun dari lelapnya mengagetkanku.
He…..! Apa yang sedang kamu lakukan? tanya Kudus dengan logat Ambonnya.
Dengan gerakan refleks, aku langsung membalikkan tubuhku yang tinggal tulang terbalut sedikit daging.
Ah, kamu! kataku.
Kenapa kamu mengintip di jendela? Memang, ada apa di luar sana? tanyanya lagi.
Tidak ada. Aku cuma heran, siapa yang menangis di luar sana?
Kamu ada-ada saja. Dari tadi aku tak mendengar apa-apa. Ia membantah perkataanku sambil berjalan ke arah pintu kamar. Kudus pasti ke kamar kecil. Sudah menjadi kebiasaannya, bangun tidur langsung ke kamar kecil.

Ah, Kudus tidak mungkin mendengar tangisan tadi, iakan lagi tidur. Sudahlah! Aku mencoba meyakinkan diriku. Kutarik nafas dalam-dalam dan mencoba menenangkan pikiranku yang kelelahan karena sudah beberapa hari aku tak pernah tidur di siang hari, bahkan pada malam hari. Aku hanya menghabiskan waktuku di depan sebuah komputer tua yang kubeli dua tahun lalu dari seorang teman.

Kucoba untuk tidak terpengaruh oleh suara-suara aneh yang mungkin saja hanya halusinasiku. Namun, lagi-lagi aku tak bisa berkonsentrasi. Aku tiba-tiba saja teringat pada cerita teman sekostku, Indra. Dua minggu sebelum Indra pindah kost juga pernah mendengar hal yang sama seperti apa yang aku dengar siang ini.

Kejadian itu terjadi tepat sebulan yang lalu. Saat pulang dari acara musyawarah besar jurusannya di kampus sekitar pukul 14.00, Indra yang biasa pulang sendiri tiba-tiba saja mendengar suara aneh dari balik pohon di depan kostnya. Suara itu persis sama dengan suara yang kudengar malam ini. Karena kaget, Indra dengan sedikit berlari langsung memasuki rumah kost yang dihuni sebelas orang tempat ia tinggal. Kemudian ia mengintip dari jendela kamarnya yang kebetulan bersebelahan dengan kamar yang aku tempati sekarang. Indra mencoba melihat ke luar. Namun, pandangannya tak menjumpai siapa pun. Hanya suara itu yang terdengar. Berulang kali hingga matahari kembali ke peraduannya. Karena kelelahan dan sumber tangisan tak ia lihat, Indra akhirnya tertidur.

***

Malam sebentar lagi menunjukkan kegelapannya. Alunan ayat-ayat Al Qur’an membahana dari mesjid di lorong sebelah yang terletak tidak jauh dari kontrakan Indra. Indra pun terbangun. Setelah cuci muka dan minum segelas air putih, ia kembali mengintip di balik jendela. Isak itu tidak terdengar lagi. Dengan rasa penasaran yang masih menjelajah di batok kepalanya, Indra memberanikan diri keluar rumah dan mendekati pohon jati yang sudah tak berdaun itu. Ia ingin tahu siapa yang menangis di balik pohon itu.

Sekitar dua meter dari pohon itu, ia menghentikan langkahnya. Perasaan ragu dan was-was kini menghampirinya. Lama juga ia berdiri di tempatnya. Setelah menarik nafas panjang, Indra melanjutkan langkahnya dengan pelan. Beberapa kali mengelilingi pohon itu, ia tak menemukan siapa-siapa di sana. Yang ia temukan hanya sepotong kain berwarna putih yang sudah berubah warna menjadi kecoklat-coklatan.
Mungkin kain ini milik orang yang sejak siang tadi menangis. Tapi, ke mana orang itu? Katanya dalam hati.

***

Rasa penasaranku kian menjadi setelah mengingat pengalaman yang pernah dialami Indra. Sampai-sampai aku tak menyadari jika Kudus sudah kembali ke kamar dan melanjutkan tidurnya. Pikiranku pun mulai tak beraturan.
Ah, jangan-jangan suara itu adalah suara penghuni pohon jati itu, kataku dalam hati. Isak tangis itu masih sesekali terdengar. Kugaruk kepalaku yang tidak gatal.

Lebih baik aku mencari tahu suara siapa itu. Dan mudah-mudahan saja, selendang yang dimaksud Indra juga bisa aku temukan. Bisikan nuraniku mencoba membekaliku sedikit keyakinan.

Dengan keberanian yang aku miliki, aku mencoba mendekati sumber tangisan itu. Tepatnya di belakang pohon jati tua itu. Mendekat dan kian mendekatinya. Kulihat sosok perempuan sedang duduk di bawahnya. Tangan kanannya memegang sehelai kain, seperti selendang. Aku yakin kain itu yang pernah Indra ceritakan padaku. Perlahan aku mendekatinya, tapi ia tak bergerak atau menoleh kepadaku. Apakah ia tak mendengar langkah kakiku? Ataukah ia memang tak merasakan kehadiranku? Kepalaku kini dipenuhi tanda tanya. Tanya yang tak menuai jawab.

Aku tetap melangkah mendekatinya dan semakin dekat. Kini aku berdiri di sampingnya. Aku terdiam. Aku memperhatikannya menatap sehelai selendang usang yang digenggamnya. Kedua pipinya tampak basah. Mungkin karena menangis. Yah, aku yakin ia menangis. Suara tangisan perempuan ini yang aku dengar. Tangisan kesedihan yang amat memilukan. Tangisan yang membuatku tak bisa berkonsentrasi menyelesaikan luapan unek-unekku. Pertanyaan dalam benakku pun kian sesak. Apa yang ditangisi perempuan ini? tanyaku dalam hati.

Mengapa engkau menangis di bawah pohon ini? tanyaku pada perempuan itu. Namun, perempuan itu tak menjawab pertanyaanku. Dia masih terus meneteskan air mata. Bahkan semakin keras. Aku jadi bingung sendiri. Apa yang harus aku lakukan agar perempuan ini berhenti menangis? gumamku.

Aku berusaha berpikir keras mencari tahu apa yang ditangisi perempuan ini. Siapa tahu aku bisa membantunya. Meski aku sendiri belum tahu apa yang membuatnya menangis.
Mengapa engkau menangis? tanyaku lagi.

Rupanya perempuan itu mulai menyadari kehadiranku. Ia menatapku kosong. Entah apa yang ia pikirkan. Tapi tak satu kata pun yang ia lontarkan. Hanya tatapan matanya yang seolah membisikkan apa yang membuat ia menangis.

Apa yang membuatmu menangis? Untuk yang ketiga kalinya, aku mengulang pertanyaanku.
Semua telah pergi, jauh. Tak ada lagi yang tersisa. Semuanya sirna.
Akhirnya, bibir perempuan itu berucap juga. Aku mulai sedikit lega. Kutarik nafas dalam-dalam untuk menghilangkan rasa tegang yang mendekapku.
Siapa yang pergi? tanyaku dengan lembut.
Dia.. .. .. .. !!!
Dia siapa?
Orang yang paling aku sayangi. Lelaki yang selalu aku tunggu menemuiku di tempat ini. Di bawah pohon ini. Katanya seraya menundukkan kepala, kemudian ia menangis lagi.
Siapa lelaki itu? Dan mengapa harus di bawah pohon jati ini? Aku kian penasaran dan ingin segera tahu siapa yang membuat perempuan ini menangis. Namun, perempuan itu tak langsung menjawab. Dipandanginya selendang usang di tangan kanannya, lalu ia menangis lagi. Aku mulai merasa iba padanya.
Darsan. Lelaki yang kucintai dengan sepenuh jiwa dan ragaku. Lelaki itu yang aku tunggu di bawah pohon ini. Dia yang membuatku meneteskan air mata.
Aku hanya menjadi penyimak yang baik, seperti mendengar penjelasan dari dosen. Karena aku belum mengerti apa yang menimpa perempuan ini.
Ada apa dengan Darsan? Tanyaku seolah kenal dengan Darsan yang ia maksud. Meski aku tak pernah mengenal lelaki yang dicintainya itu.

Lima tahun lalu, aku jatuh cinta pada seorang lelaki. Dialah Darsan. Lelaki yang tak segaja bertemu denganku di sebuah acara pernikahan salah seorang keluargaku adalah awal dari semua yang kualami. Ternyata Darsan juga memiliki perasaan yang sama denganku, hingga aku dan dia memutuskan untuk menjalin kasih. Kami saling mencintai. Kami selalu memandang matahari yang tenggelam dari tempat ini. Yah, di bawah pohon inilah kami biasa menghabiskan waktu melukis langit dengan canda dan tawa. Di tempat ini pulalah Darsan memberikan selendang ini pada hari ulang tahunku, dimana aku saat itu berusia 22 tahun. Aku sangat bahagia berada di sisinya. Begitu indah hingga rasa cintaku semakin dalam padanya. Tapi, itu hanya berlangsung dua tahun, sedangkan tahun ketiga sampai detik ini, kebahagiaan itu tak pernah lagi ada. Darsan meninggalkan cintaku di sini. Meninggalkan kenangan yang pernah kami jalani. Dia meninggalkanku tanpa pamit. Dia tak pernah mengabariku tentang keberadaannya. Entah dimana dia berada saat ini. Aku merindukannya. Karena rasa cintaku padanya, aku selalu duduk di tempat ini sampai malam tenggelamkan rona merah di ufuk sana. Menagis, menangis, dan menangis. Hanya itu yang bisa aku lakukan, sebab keluarganya tak pernah setuju dengan hubungan kami. Aku pasrah dengan nasib yang aku alami. Aku selalu berdoa pada Tuhan dan berharap Dia mengembalikan Darsan padaku.

Tak terasa cairan bening di kedua pipinya kembali mengalir. Aku seolah merasakan penderitaan yang dialami perempuan itu. Tuhan, berikan perempuan ini ketabahan dalam menjalani hidupnya. Pertemukan dia dengan orang yang sangat dicintainya.

Malam telah bertahta di bumi. Lampu-lampu jalan di sekitar tempat tinggalku telah memancarkan cahayanya. Nampak indah. Namun aku tak merasakan keindahan gemerlapnya malam itu karena masih terpikir dengan apa yang dialami perempuan yang kutemui sore tadi. Ke mana rimbanya sang kekasih yang sangat dicintainya?

***

Sejak sore itu, aku selalu menemuinya dan memberinya semangat agar ia tegar menghadapi masalahnya meski aku sendiri tidak terlalu mengenalnya. Namanya siapa. Tempat tinggalnya di mana. Dan siapa orang tuanya. Aku hanya mengikuti perasaan tak tega melihat ia menangis dan meratap setiap hari. Aku harus bisa membuatnya tertawa. Sebab aku tidak melihat ketegaran di parasnya. Yang kulihat hanya kesedihan yang amat dalam. Dan lagi-lagi, entah bisikan apa yang mendorongku untuk melakukan hal itu. Aku tidak tahu. Tiba-tiba saja rasa iba merasukiku. Hingga aku pun bertekad menghiburnya. Mengajaknya bercanda dan kembali menikmati hidup yang begitu indah. Aku berharap perempuan itu tak lagi meneteskan butiran bening dari kelopak matanya.
Perlahan aku pun bisa membuatnya tersenyum. Aku bisa membuatnya tertawa dan tidak terlalu larut dalam kesedihannya. Aku selalu berpesan kepadanya untuk tidak terlalu memikirkan apa yang menimpanya. Kau harus tahu, terkadang Tuhan tidak memberikan apa yang kita minta, tetapi Dia akan memberikan apa yang kita butuhkan. Bukan kita yang menentukan hidup kita. Kita hanya berencana dan Tuhan yang punya kehendak. Yakinlah bahwa di balik semua ini, Tuhan telah mengatur sesuatu yang terbaik untukmu.

***

Waktu berlalu. Tak terasa memang. Kesibukan membuatku terkadang tak bisa menemuinya seperti hari-hari sebelumnya. Kini aku hanya bisa menemuinya sekali dalam seminggu. Bahkan pernah hanya sekali sebulan aku bertemu dengannya. Hingga pada suatu waktu, aku istirahat dari segala aktivitasku. Aku libur.

Senja sebentar lagi terbangun dari lelapnya. Sore itu aku berniat ingin menemuinya. Namun, perempuan itu tak juga muncul hingga gelap menutupi separuh permukaan bumi. Ke mana perempuan itu? Apakah ia telah bertemu dengan orang yang dinantinya, Darsan? Tanyaku dalam hati.

Detik, menit berganti jam dan jam pun berganti hari. Begitupun hari terus berlari berganti minggu. Namun, aku tak lagi menemukan perempuan itu duduk menanti sang pujaan hati yang rimbanya tak meninggalkan jejak. Dan entah mengapa, tiba-tiba aku ingin menemuinya seperti hari-hari yang telah lalu. Tapi di mana? Namanya saja aku tidak tahu. Lalu, ke mana aku mencari alamatnya. Aku harus bertanya pada siapa? Apa aku harus mencarinya di setiap sudut kota ini? Ah, rasanya tidak mungkin.

Pertanyaan demi pertanyaan mengisi kepalaku yang telah sesak dengan masalah akademik. Pertanyaan yang tak kunjung menemui jawab. Pertanyaan yang menggunung dalam kepalaku. Hingga suatu hari, di mana matahari sebentar lagi terlelap kembali. Aku berencana ke tempat kost sahabatku, Kudus. Bagiku, letaknya tak jauh dari tempat tinggalku. Hanya sekitar satu kilometer atau lebih. Seperti biasa, aku hanya berjalan kaki. Tapi, kadang juga memakai sepeda butut peninggalan nenekku. Langkahku menapaki jalan tanpa aspal dan dipenuhi debu yang beterbangan ke manapun angin membawanya dan hinggap di mana saja. Aku terus melangkah seraya berpikir dan mencari cara untuk bisa menemukan alamat perempuan yang tak kukenal asal-usulnya. Saat aku melangkahkan kakiku di antara orang-orang berpakaian serba hitam, aku seperti tertampar. Entah apa yang terjadi. Apakah ini pertanda akan terjadi sesuatu? Ataukah sesuatu telah terjadi? Tapi apa? Karena penasaran dengan sekumpulan orang-orang tadi, aku mendekat dan iseng bertanya.
Siapa yang meninggal? Tanyaku pada seorang perempuan setengah baya yang sedang duduk terisak sendu.
Anti, jawabnya singkat.

Aku mengerutkan keningku. Anti itu siapa? Tanpa bertanya lagi, perempuan itu kemudian melanjutkan perkataannya. Perempuan itu menceritakan kisah Anti semasa hidupnya sampai ia di panggil oleh Sang Khalik. Aku serasa berada di alam mimpi. Seolah tak percaya dengan cerita perempuan itu.

Hingga akhirnya pertanyaan-pertanyaan yang selalu muncul dalam benakku terjawab sudah. Perempuan yang kutemui beberapa bulan lalu duduk dan menangis di bawah pohon jati itu bernama Anti. Dan kini ia telah menghembuskan nafas terakhir karena penyakit yang telah lama dideritanya. Cinta terhadap kekasihnya pun terkubur bersama jasadnya. Penantiannya di dunia telah berakhir untuk selamanya.

Muhajirin, 22 Juni 2009
Kuselesaikan saat Makassar sedang tertidur pulas

Bagikan ke

0 Komentar