Akhir-akhir ini, sepertinya aku kembali jatuh cinta padamu. Aku lupa ini yang keberapa kalinya. Kau telah mencuri separuh hatiku sejak saat pertama kali aku melihat kau tertawa dengan sangat bahagia. Dan senyummu yang kadang membuatku tak mampu menatapmu lama. Senyum yang begitu anggun. Tentu saja aku paling menyukai senyummu.

Waktu seolah berjalan lebih cepat. Aku ingin mengucapkan banyak kalimat kepadamu. Tetapi, aku sangat tahu jika semua kalimat-kalimat itu sudah sangat terbiasa kau dengar. Aku juga tahu kalau kata-kata indah tidak akan mudah membuatmu luluh. Dan itu yang menjadi salah satu alasan aku tak pernah mengutarakan apa yang selalu aku rasakan setiap memandangmu tersenyum. Karena alasan itu pula, aku kadang hanya mengungkapkannya dengan candaan saja. Hanya dengan itu aku mengatakan apa yang seharusnya kukatakan dan itu benar-benar dari apa yang terasa dalam hatiku.

Aku tak pernah berharap kau tahu itu. Aku hanya berharap bisa melihatmu setiap saat ketika aku sedang dikerumuni rindu. Tentu saja rindu padamu. Meskipun yang bisa kulihat hanyalah fotomu. Bagiku itu sudah lebih dari cukup.

Aku memang telah cukup lama memendam perasaan ini. Tak perlu kau tahu berapa lama itu. Yang pasti, aku selalu memperhatikanmu. Kau sedang dimana. Kau sedang apa. Atau juga kau sedang bersama siapa.

Aku mungkin tak tahu segala tentangmu meski semua itu aku lakukan. Tetapi aku selalu sangat bahagia ketika melihatmu meski itu hanya lewat sebuah gambar yang tidak bisa kuajak bicara. Aku selalu menitipkan tanda kerinduanku yang rahasia. Dan aku ingin itu tetap menjadi sebuah rahasia yang tak perlu kuungkapkan padamu.

Apa kau masih ingat pertemuan kita di sebuah halte di pinggiran kota ini? Kita sama-sama menunggu matahari yang terik menjadi senja tanpa sebuah rencana pertemuan. Kita tak banyak bicara. Aku hanya menanyakan kabarmu dan kaupun demikian.
"Kau dari mana?". Tanyaku membuka percakapan kita ketika itu.
"Dari rumah". Jawabmu dengan sedikit tersenyum.
Aku kembali kikuk melihat senyummu itu. Aku berdebar. Semua bisu. Aku hanya membalasnya dengan senyum pula.

Taman Cekkeng Bulukumba
Sore di Sebuah Pantai di Bulukumba

Matahari kian mendekati sore. Sebentar lagi langit akan dipenuhi warna jingga. Ini menjadi sore paling indah yang pernah kulalui. Bukan hanya karena warna jingga itu yang membuatku tak bisa lupa. Tetapi karena kau juga ada di sana menyaksikannya. Dan rona matahari sore yang menerpa wajahmu kian mendebarkan hatiku. Kau bak bidadari yang sengaja datang menemaniku senja itu.

Ah, kata-kataku biasa-biasa saja bukan? Atau mungkin juga kalimat-kalimat itu terlalu menyanjung? Kalau iya, maka kau telah menemukan jawaban mengapa aku tetap menjaga rahasia hatiku yang diam-diam kau curi.

Sejak pertemuan kita hari itu, aku memutuskan menempatkan namamu pada sebuah ruang di hatiku. Ruang yang tak boleh siapapun membukanya selain dirimu. Ruang yang selalu kupinta kepada tuhan, agar selalu hanya namamu di sana.

Kelak, jika air matamu merayu untuk tumpah, datanglah kepadaku. Aku bersedia menjadi penyeka untukmu. Jika saat itu tiba, kau akan melihat tumpukan kerinduan-kerinduanku padamu. Lalu, akan kuceritakan kepadamu semua rasa yang diam-diam aku simpan untukmu.


Gowa, 18/07/2016

Bagikan ke

0 Komentar