..........
Seperti yang dikatakan seorang penyair
Diberi nama cinta dan tanda-tanda kerinduan yang kadang melebihi nalar manusia
Hingga kini, aku masih tak mampu memaknainya
Aku tak mampu menjelaskannya dengan kata-kata
Aku hanya berusaha menyusun kerinduan-kerinduan padamu menjadi bait-bait puisi
Mengalir bak alir sungai yang mencari muara
Seperti setiap kata dari kalimat-kalimat yang terangkai dari rasa paling dalam dan dari keheningan yang paling hening
Aku seolah mampu menatapmu sangat jelas
Tapi tak pernah mampu aku gapai
Dan di setiap akhir dari bait-bait puisi yang kutulis selalu kusisipkan namamu
Sungguh hanya namamu.
Aku semakin tak mampu membendungnya...

*****

Matamu;
Mungkin karena matamu;
Yang membuatku selalu takjub
Tatapmu menggerakkan jantungku tak seperti biasanya...
Caramu tersenyum;
Mungkin karena senyummu;
Yang selalu membuatku merasa terbebas dari beban
Ada kedamaian yang tumbuh dalam hati
Aku selalu menemukan cara untuk selalu bisa tertawa
Apa kau tahu jika aku telah lama kagumi senyummu itu?
Apa kau tahu jika aku suka cara matamu menatap??

Tiap malam sebelum gelapnya benar-benar berbuah cahaya
Ada asa yang teriring bersama doa yang kukirim untukmu
Doa yang selalu kupinta itu adalah jelmaan dari segala rasaku
Dan selalu ada namamu yang terselip di sana


Bulukumba, 2015 


Ian Konjo

Bagikan ke

0 Komentar