Tiar Djimbe
Namanya LISA. Aku mengenalnya tahun 2010. Perempuan yang kunamai “malaikat kecilku” itu menjadi warga (anggota) di sebuah organisasi seni angkatan keenam. Sebuah organisasi yang bukan hanya sekedar organisasi, tetapi sudah menjadi rumah bagiku. Kami yang bergabung di dalamnya memberinnya nama “nirwana kecil” karena tiga pilarnya. Organisasi yang membuatku merasakan hidup lebih berwarna.

Seperti biasanya, calon warga baru sebelum dikukuhkan harus melewati beberapa tahap. Salah satunya adalah mengikuti masa magang selama kurang lebih enam bulan. Pada masa magang itulah aku mengenalnya. Namun, entah mengapa aku begitu mengaguminya? Mungkin itulah kodrat sebagai perempuan yang selalu dikagumi oleh laki-laki.

Aku ingat betul ketika aku mulai mendekatinya. Malam dimana dia lagi menjalani magangnya (sesi latihan tari) untuk persiapan pengukuhannya menjadi warga. Disaat itu dia selalu mengeluh tentang jam pulangnya setelah latihan.
"Daeng, tidak bisaka terlalu larut malam baru pulang ke kostku, karena tutupmi kalau jam 10 baru jauh bela." Keluhnya dengan logat Makassar. Aku pun menawarkan diri saat itu.

"Begini pale Andi, kalau masalah itu ji, siapja antarki pulang ke kost ta tiap malam sehabis latihan. Jadi janganmeki khawatirkan soal itu! Dari pada terganggu lagi latihan ta gara-gara begituji." Kataku yang ingin berbaik hati. Dia pun meng-iyakan tawaranku.

Sejak saat itu, aku pun selalu mengantarnya pulang setiap malam seusai latihan. Dan begitu seterusnya. Hingga pada suatu malam, teman-teman Lisa yang mengambil bidang teater di lembaga seni yang kugeluti sedang latihan. Mereka latihan di sekitaran taman Pertamina dekat kampus kami. Kebetulan Lisa ada di sana sedang nonton mereka yang sedang latihan. Aku pun ke sana dan langsung menyapanya.
"Belumpeki pulang ke kost ta, Andi? Sudah jam berapa mi inie? Nanti tutupki lagi."
"Iye, mauma pulang ini daeng. Tapi tidak ada kutemani bela." Begitu katanya.
"Ayomi pale Andi! Kuantarki." Tawaranku.

Aku pun mengantarnya pulang dengan mengendarai sepeda motor Jupiter MX milikku. Hampir tiap malam aku mengantarnya pulang. Bahkan kalau sudah sampai di kost-annya, dia selalu menawariku makan. Mungkin karena dia sangat menerti kalau mahasiswa itu kebanyakan puasa tanpa sahur alias kelaparan di masa-masa itu hehehe... (makan lagi kite).

Saat itu kami pun sering jalan bareng dan sepertinya aku harus memastikan statusku ke Lisa itu kaya gimana sekarang. Aku pun mengatakan kalau aku suka dan sayang sama dia. Dan dia pun menerimaku sebagai cowoknya. Alhamdulillah. Dan mulai saat itu, tiap sore aku mengantarnya ke Taman Perpustakaan Umum Multimedia untuk latihan tari. Latihannya pun masih sampai malam.

Sebagai cowok, aku harus menunjukkan perhatianku ke dia dengan mengantarnya pulang sehabis latihan. Sungguh, aku menyayanginya kala itu. Bahkan aku tidak pernah ada niat untuk mengecewakan apalagi menduakannya.

Lisa orangnya perhatian. Buktinya, saat kuliahku lagi hancur-hancurnya, dialah yang selalu memberiku semangat untuk cepat menyelesaikan studiku. Dia jugalah yang selalu siap menanggung dosa ketika dia menjadi makmumku saat shalat lima waktu. Sebab dari dialah aku begitu yakin kalau aku akan menjadi imamnya kelak.

Suka duka pun kami jalani berdua. Aku sering menyisihkan uang kuliahku untuk dia, meskipun dia tidak meminta. Begitu pun sebaliknya. Dan disaat aku benar-benar membutuhkan bantuan, dia selalu ada untuk menolongku.

Untuk mengisi waktu kosongnya di luar latihan dan kuliahnya, Lisa juga menjadi Guru Les. Biasanya sehabis gajian, kami selalu belanja di pasar ikan yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Yah, sekedar membeli ikan dan rempah-rempah lainnya. Makan pun kami selalu berdua. Entah itu di kosannya ataukah di asrama tempat tinggalku.

Kadang aku terharu bila mengingat masa-masa sulit yang telah kami lalui berdua. Makan sepiring berdua dan seadanya, cuma nasi putih dan mie instan sebagai lauknya. Sangat romantis bagiku saat itu. Susah senang kami selalu bersama. Karena bagiku, keromantisan tidak selamanya identik dengan kemewahan ataukah kelezatan makanan saat berdua, tapi dengan ketulusan dan keikhlasan menerima keadaan pasangan kita serta selalu siap mendampingi kita sampai benar-benar mapan. Bukan yang mendampingi kita setelah kita mapan.

Nurlisa Said, dulu aku hampir menjadi bagian keluarga besarmu. Aku mengenal keluargamu dan kau mengenal keluargaku. Aku bersyukur akan itu. Dan aku yakin jika Allah SWT punya rencana yang terbaik untukku. Perpisahan itu tak pernah aku inginkan. Namun, keinginan seorang lelaki yang amat mengharapkan dirimu. Dialah yang selalu memujamu dan menyanjungmu dengan syair-syair indahnya. Aku tahu dan kuakui itu.

Mungkin saat ini dirimu begitu membanggakannya seperti dulu aku membanggakanmu. Kesadaran akan hal itu selalu melekat pada diriku. Kekuranganku melebihi kekurangannya. Kini dirimu telah bersamanya, menjalani kisah-kisah yang mungkin saja seperti kisahku kala bersamamu dulu.

Nurlisa Said, separuh kisah hidupku yang indah bersamamu akan selalu ada di sini. Ya, di hati ini. Yang akan terukir indah sebagai syair-syair sanjungan untukmu dalam diamku. Kisah-kisah cinta nan indah ala seniman jalananan yang pernah kita lalui bersama, akan abadi di hati ini.

Kebaikan dan keburukanmu selama bersamaku, biarlah aku dan Allah SWT yang tahu.


Dalam_Kenangan_
Gowa, 1 Maret 2015
Tiar_Djimbe

Bagikan ke

0 Komentar