Oleh: Ahyar Anwar
2 September 2011 pukul 13:20

Kekasih itu memandikan wajahnya dengan sinar lampu yang menyala. Ia berjalan dengan jiwa yang rapuh dari kerumunan orang-orang yang bersesak disekeliling Ka’bah. Ia merasa sendiri dan kehilangan dirinya. Ia mencari doa yang paling tepat untuk ia panjatkan kepada Tuhan. Ia mencari sisi yang paling sunyi dari dirinya sendiri untuk bisa menemukan sebuah permata harapan yang paling bercahaya bagi hidupnya. Ini adalah kesempatan pertama ia menyentuhkan dirinya di tanah suci tetapi bukan harapan yang pertama baginya untuk menemukan sebuah doa.

Semua orang pernah berdoa pikirnya. Semua orang pasti punya doa. Tetapi tidak semua orang dapat menemukan doa yang tersembunyi dibalik kesunyiannya. “Aku ingin belajar pada kesunyian malam”, bisiknya pada dirinya sendiri. Kekasih itu begitu percaya bahwa malam menyembunyikan doa dari balik kelamnya yang gelap dan dari selimut kesunyiannya yang dingin. Ia tak ingin menaburkan harapan-harapan pada doa-doanya yang tidak ia mengerti.

Baginya, orang yang berdoa untuk harapannya yang tidak ia mengerti adalah orang yang tidak melihat wajah misteri dalam kehidupannya. Ada rahasia yang bersembunyi dari setiap waktu yang telah berlalu dan akan tiba dalam seluruh hidupnya. Itulah sebabnya ia ingin menemukan wajah dari harapan yang tersembunyi itu. Sesuatu yang bercahaya kemilau seperti matahari yang menyala terik.Kekasih itu masih terus berjalan dalam pencariannya sebelum ia mendengar bisikan dari dalam dirinya sendiri.
“Pada setiap jiwa ia terselip diantara tumpukan jiwa-jiwa yang saling tersentuhkan. Seperti tumpukan kartu-kartu remi yang dikocok dengan tangan takdirnya masing-masing”
Kekasih itu tiba-tiba merasakan dirinya seperti sebuah kartu yang terselip diantara begitu banyak orang. Ia lalu membayangkan semua orang yang pernah ia temui dalam hidupnya. Semua menyadarkannya bahwa setiap pertemuan menitipkan sebuah misteri dari lipatan rahasia yang bersembunyi dibalik semua pertemuan itu. Ia menelisik satu persatu orang-orang yang berjejalan bersesakan disekeliling Ka’bah. Ia ingin menemukan sebuah doa yang paling misterius bagi dalam hidupnya sebelum ia mencapai sisi Multazam di Ka’bah. Ini malam Ramadhan. Tepat berada diantara sepuluh Ramadhan terakhir. Bisa saja ini adalah waktu yang mulia yang dijanjikan sebagai Lailatul Qadr itu pikirnya.

Jika itu benar, ia tak punya banyak waktu. Ia harus menemukan misteri dari dirinya secepatnya dan merangkainya menjadi sebuah wajah harapan dan menyusunnya menjadi sebuah permintaan doa. Tapi terlalu banyak pertemuan dan terlalu banyak kemungkinkan misterius yang harus ia pilah untuk bisa menemukan satu cahaya harapannya.

Ia membayangkan sedang menyelipkan dirinya pada satu tumpukan kartu remi dan mencoba mengacaknya untuk menentukan pada bagian mana dari dirinya itu tersembunyi. Ia tercenung dan mencoba tetap senyap diantara senggolan-senggolan manusia yang bersesakan. Sesekali ia bertanya: “Apakah mereka semua yang berada ditempat suci ini tahu apa yang ia ingin panjatkan sebagai sebuah doa yang paling ia butuhkan dan harapkan dalam hidupnya?”. Tentu saja ia tak yakin.

Setiap kartu remi disusun dalam urutannya masing-masing. Lalu dikemas dalam sebuah bungkusan yang rapih. Tetapi kartu yang tersusun rapih itu bukanlah kehidupan karena tidak ada permainan yang bisa dimainkan dalam kartu yang tersusun rapih. Hidup ini adalah sebuah permainan Tuhan. Maka Tuhanlah yang mengocok kartu itu untuk mengacaukan semua susunan takdir dan nasib masing-masing manusia menjadi sebuah misteri dan rahasia yang terburai dan tercerai berai.

Kekasih itu lalu merasakan sebuah lorong kecil untuk memahami dirinya sebagai sebuah kartu misterius. Rahasia dirinya ada disebuah tanda pada kartu yang lain yang juga misterius. Ia lalu merasakan sebuah desakan yang pasti bahwa setiap manusia akan menemukan titik misterius dari dirinya untuk menemukan titik rahasia pada diri manusia yang lain. Sebelum ia menemukan sebuah kesimpulan “Tugas besar seorang manusia adalah menemukan urutan takdir penciptaannya dengan pasangan misterinya, rahasia diantara mereka adalah sebuah perjalanan pencarian cinta terbesar untuk menyatukan diri kembali pada urutan penciptaannya”.

Karena kekacauan nasib dan takdir itulah! Seseorang harus menemukan jalan untuk keluar dari permainan nasib. Harus bisa keluar dari kocokan Tuhan untuk menemukan pasangan misterinya. Tentu saja bagi siapapun manusia yang mencoba keluar dari permainan takdir itu harus berhadapan dengan kemungkinan-kemungkinan. Kemungkinan untuk salah menemukan pasangan, kemungkinan untuk merasa kecewa dan patah hati, kemungkinan untuk tenggelam dalam telaga kesedihan jiwa, kemungkinan tersesat pada kehidupan seseorang, atau kemungkinan hilang arah dan berada dalam waktu yang berlalu ambigu. Tapi semua hanya bisa berlalu dengan cara melaluinya! Tuhan memberikan masing-masing manusia sebuah jalan untuk cintanya. Manusia itu harus melalui rintangan dari misteri cinta itu. Tak ada jalan lain selain mencari jalan itu!

Dari kesimpulan itulah ia merasa telah menemukan sebuah jalan untuk sebuah doa. Mengapa seseorang perlu sebuah doa? Tentu karena tidak semua orang percaya dan merasa yakin dengan jalan yang ia sedang tempuh dalam pencarian misterinya. Bahkan banyak orang yang menjalani hidupnya dengan rasa yang penuh tidak percaya pada jalan yang ia jalani itu. Lebih buruk dari itu banyak orang yang lebih memilih selamanya berada dalam permainan misterius dirinya dengan menghancurkan jalan yang memungkinkan ia menemukan pasangan misterinya. Ia memilih untuk terus menjalani jalan yang sesungguhnya ia sadari sebagai jalan yang tak ingin ia jalani.

Kekasih itu ingin menyusuri satu jalan yang bisa membuat dirinya sungguh-sungguh berada dalam sebuah jalan yang akan membawanya pada sebuah titik misterius, titik misteri yang didalamnya tersembunyi rahasianya sendiri. Rahasia mengapa dirinya diciptakan. Pencarian jalan itulah yang terlalu banyak tipuan dan muslihat. Ilusi-ilusi yang harus dihadapi. Ilusi dan muslihat itulah yang sering memerangkap hidup seseorang dalam “sihir hitam” cinta. Tiba-tiba saja antara hidup bersama dan berada dalam cinta adalah dua hal yang berbeda.

Sama halnya dengan internet, katakanlah seperti facebook, twitter, kaskus, dan semacamnya yang tiba-tiba saja membuat pertemuan menjadi berbeda dengan persentuhan. Banyak orang yang setiap hari berkomunikasi dengan banyak orang lainnya melalui facebook. Mereka saling bertemu tetapi tidak saling bersentuhan. Hal yang berbeda yang dirasakan kekasih itu ditengah-tengah sesaknya jejalan manusia di pelataran tanah suci. Mereka bersentuhan tetapi tidak saling bertemu.

Soal pertemuan kadang dianggap oleh sebagian orang sebagai sebuah peristiwa praktis. Terutama pada orang-orang yang pernah merasakan penderitaan dari rasa sakit atas kegagalan cintanya. Untuk menemukan jalan cinta, rasa sakit dan kesedihan adalah kerikil yang harus dipijaki. Satu-satunya cara untuk terhindar dari tajamnya kerikil itu adalah dengan berhenti berjalan. Tetapi dengan cara seperti itu, mereka harusnya membuang semua jalan impian yang ada dalam pikirannya. Atau mungkin membuang hatinya dari dalam dadanya.

Meski demikian, kekasih itu percaya, bahwa tidak ada yang pernah bisa menemukan kebenaran selain Al Mustafa yang dikirim Tuhan sebagai kebenaran itu sendiri. Hidup ini adalah meraba-raba diantara kekeliruan-kekeliruan. Salah satu dari kekeliruan itu, yang paling bisa diterima oleh pikiran dan perasaan kita, pasti kita anggap sebagai yang paling benar.

Dari semua yang telah ia sadari itu, setidaknya, ia telah menemukan sebuah doa. Doa untuk menemukan yang misterius dari pasangan rahasianya. Sebuah kepingan jiwanya yang terserak dalam kehilangan takdir. Ia akan meminta pada Tuhan untuk memberikan padanya jalan kembali pada penciptaannya. Karena pada titik penciptaan itulah, Tuhan meniupkan rahasia jiwa yang lain pada jiwanya!

Tapi bagaimana cara untuk berdoa? Tentu itu bukan soal tata cara berdoa, tetapi lebih pada menemukan tempat pada diri sendiri untuk berdoa. Sesuatu berbisik pada bathinnya.
“Engkau harus masuk pada jiwamu yang paling hening dan bening. Karena pada keheningan dan kebeningan jiwamu itulah kau bisa mendengarkan suara dirimu yang selama ini tersembunyi. Jika kau bisa menemukan suara dirimu yang tersembunyi dari kedalaman jiwamu! Maka dengan suara itulah seharusnya engkau berbicara dengan Tuhanmu”
Dari situlah ia percaya kalau sebuah doa cinta dipanjatkan, ia akan memancarkan cahaya keindahan pada semesta. Air matanya menetes, seluruh dirinya tertunduk. Tiba-tiba ia telah berada di sisi Multazam Ka’bah yang mulia itu. Seluruh jiwanya menengadah, seluruh dirinya menjadi sunyi, seluruh semesta menjadi hening, dan seluruh harapannya menjadi bening. Seluruh dirinya berdoa dalam cinta.

Setelah doa itu selesai, sebuah cahaya pengertian, tiba-tiba menjadi begitu jelas pada diri kekasih itu. Tentang cinta, tentang sebuah taman hidup yang berbuah keindahan. Kekasih itu lalu teringat, sehari sebelum ia kembali ke tanah suci, ia sempat berkunjung ke kebun kurma di Medinah di Muslih Al Aufi. Perjalanan dari Mekkah menuju Madinah hanyalah menyusuri kekeringan dari padang pasir yang tandus. Membayangkan sebuah padang pasir yang tandus ditumbuhi oleh pepohonan kurma yang tegar dan membuat padang pasir yang tandus itu terasa sejuk ditengah matahari yang terik membakar.

Baginya itulah pertemuan dan persentuhan. Padang pasir yang tandus kering dan sunyi bertemu dan disentuh oleh bibit kurma yang menyimpan rahasia keindahannya. Dan ketika pertemuan dan persentuhan itu menumbuhkan cinta diantara mereka, maka mereka berada dalam satu kebun hidup yang menciptakan keindahan dan buah bagi semesta. Maka cinta adalah sebuah pertemuan dan persentuhan yang saling menerima misteri dan saling menyingkap rahasia. Ia masih merasakan nikmat dan segarnya buah kurma segar . begitulah seharusnya kenikmatan buah cinta. Dari padang tandus yang hening bertemu dan bersentuhan dengan bibit kurma yang setia dan tulus lalu terciptalah sebuah kearifan hidup yang indah. Terciptalah sebuah taman kehidupan yang indah.

Tugas manusia adalah menemukan jalan untuk menumbuhkan taman itu dalam hidupnya. Jangan pernah bertanya soal rintangan dan resiko dalam mencari jalan menuju taman itu! Seperti halnya, janganlah pernah bertanya berapa lama padang pasir yang tandus dan hening itu menunggu kedatangan bibit kurma yang misterius itu. Atau jangan pernah bertanya seberapa tulus dan setianya kurma itu menumbuhkan akar-akar hidupnya pada padang pasir yang tak punya banyak air untuk meneduhkannya. Semua itu adalah misteri! Dan rahasianya ada pada cinta!

“Pada sebuah kisah tertentu dalam hidupmu, sesungguhnya engkau telah menemukan kekasihmu, dan engkau harus mencarinya lagi untuk bersentuhan yang terakhir kalinya dengannya dalam sebuah taman kehidupan yang indah”

(Untuk seorang kekasih yang berdoa untuk cintanya di Ka’bah)

Ahyar Anwar

Bagikan ke

0 Komentar