Saya hanya ingin mengemukakan apa yang ada di kepalaku. Seperti yang kita saksikan di media-media baru-baru ini, terjadi banyak unjuk rasa yang dilakukan oleh mahasiswa menolak rencana pemerintah yang akan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM). Ini tentu saja membuat kemacetan yang sangat parah. Apalagi, Makassar juga dikenal sebagai kota macet. Ditambah lagi pengrusakan rambu-rambu di jalan raya. Saya sering bertanya dalam hati, “Apa yang sebenarnya mereka perjuangkan? Nasib rakyat ataukah keegoisan mereka sendiri yang cenderung ingin dianggap pembela hak-hak rakyat?”

Dalam tiap orasinya, selalu saja mengatas-namakan rakyat. Padahal sadar atau tidak, rakyatlah yang secara langsung dirugikan. Banyak masyarakat yang menggerutu, mengumpat, menyumpahi, mencaci maki bahkan bentrok jika ada unjuk rasa. Bagaimana tidak, jalan-jalan ditutup. Ban dibakar di tengah jalan hingga membuat arus kendaraan yang memang sudah macet menjadi tambah parah. Ditambah lagi jika terjadi kerusuhan. Rakyat semakin dirugikan. Tukan becak tidak bisa mengayuh becaknya karena takut terkena lemparan batu atau juga gas air mata. Pedangang pun terpaksa menutup kiosnya karena takut barang dagangannya hancur. Pertanyaan tadi kembali muncul, “Nasib siapa yang mereka perjuangkan?” Menuntut pemerintah untuk berpihak kepada rakyat sementara fasilitas umum banyak yang dirusak sehingga menyebabkan kerugian bagi Negara. Mereka tidak sadar jika para tukang becak dan para pedangan telah mereka rugikan.

Unjuk Rasa
Sumber gambar: www.tribunnews.com

Saya semakin yakin menyimpulkan jika banyak mahasiswa sekarang ini yang hanya bisa membuat kekacauan, namun dari segi ilmu pengetahuan sangatlah minim. Mahasiswa tak lagi identik dengan orang yang memiliki pengetahuan intelektual tinggi. Mengapa tidak melakukan protes dengan cara intelektual?

Sudah bertahun-tahun ketika pemerintah berencana menaikkan harga BBM, mahasiswa selalu melakukan unjuk rasa secara anarkis, tetapi tidak menghasilkan apa-apa. Semuanya hanya omong kosong belaka. Bahkan lebih banyak menyusahkan dan meresahkan masyarakat.

Dari beberapa tahun yang saya ingat, tidak pernah sekalipun ada unjuk rasa menuntut harga BBM tidak dinaikkan yang terealisasi. Harga BBM tetap saja naik. Lalu, pernahkan kita berpikir untuk itu? Untuk apa melakukan sesuatu yang lebih banyak merugikan? Ataukah para mahasiswa itu sudah tidak bisa berpikir kreatif lagi selain melakukan unjuk rasa yang ujung-ujungnya terlibat bentrok dengan pihak kepolisian? Sudah banyak yang dirugikan dari aksi mereka yang katanya membela rakyat. Sudah banyak pula mahasiswa yang menjadi korban dari kerusuhan saat berunjuk rasa. Ada yang luka-luka dan bahkan ada yang sampai meninggal Lalu, apa yang sebenarnya mereka perjuangkan?

Berunjuk rasa bukan hanya merugikan mahasiswa itu sendiri, tetapi juga merugikan masyarakaat dan negara ini. "Apakah kita lebih senang melihat kota ini tidak aman dan berantakan?" Apakah kita tidak miris melihat kota kita yang diidentikkan dengan kota paling rusuh jika berunjuk rasa?

Dua tahun lalu dengan kasus yang sama ketika presiden Susilo Bambang Yudhoyono berencana menaikkan harga BBM, terjadi unjuk rasa besar-besaran. Bahkan di salah satu perguruan tinggi swasta, “berperang” dengan polisi karena satu jalur utama jalan mereka tutup selama beberapa hari. Kekacauan pun tak bisa dielakkan. Kejadian itu terjadi dari pagi sampai dini hari. Beberapa teman dari luar Sulawesi banyak yang mengirimi saya pesan singkat yang melihat betapa kacaunya Sulsel karena unjuk rasa itu. Lalu, untuk apa berjuang jika yang dihasilkan hanyalah kerugian? Pertanyaan yang kembali muncul adalah “Apa dan siapa yang mereka perjuangkan?”


Gowa, 11 November 2014

Bagikan ke

1 Komentar