Karya: Kusuma Jaya Bulu

Matahari baru saja berbenah, sedangkan aku sudah menemukan kerinduanku duduk diteras yang berada pada sisi kanan rumahku. Aku dekati dan mencoba memecah kebekuan. Sikapnya acuh, aku tak bisa memaksanya tersenyum. Cemberut! Itu hal yang pasti ia beritakan dari wajahnya. Aku menangkap kegalauan dan memberiku pemaknaan sendiri. Kerinduan itu bahkan seketika beranjak, ia meninggalkan aku. Tentu aku mengejar dan kembali membujuk.
"Tunggu!"
"Aku ingin pergi sendiri"
"Tidak mungkin kamu pergi sendiri", rayuku.
"Aku harus menemuinya", katanya.
"Itu hal yang mustahil dan aku tak ingin kamu kecewa"

Ia selalu begitu, ketika aku tak menuruti keinginannya. Aku juga akui, jika sikapnya itu karena ketidakberanianku menterjemahkan perasaanku. Perempuan itu adalah Qanita, ia memang cukup dekat denganku. Tapi aku tak berani mengatakan bahwa perempuan itu ada kekasih. Aku mengenalnya sejak dulu, ketika aku duduk di semester tujuh di salah satu universitas Kota Daeng.

Di malam hari, ia menemuiku. Kerinduan itu menepuk pundakku dari belakang.
"Aku dari sana", katanya.
Aku memilih untuk diam. Kini giliranku tak bicara seperti ia ketika kutemui di teras rumah pagi tadi. Aku tak ingin katakan jikalau aku tak sepakat dengan sikapnya, karena aku akui, jika aku berharap ia bicara tentang Qanita. Perempuan cantik tersebut sudah semusim bertahta dalam ingatanku. Aku terkadang sadari, jika Qanita selalu membuka ruang untukku berterus terang. Hanya, aku tak terlalu bisa mengatakannya. Aku bukan siapa-siapa, sedangkan dirinya?

Ia anak seorang pejabat, bapaknya baru setahun menjadi seorang camat di kampungku. Aku kenal ia sebelumnya. Ia adik kelasku di perguruan tinggi. Tentu, ia pun begitu. Kerinduanku seolah tak mau peduli, ia memaksaku menghantarkan dirinya kepada Qanita. Kurasa itu bukan hal yang mudah.
"Ia merasakan hal yang sama, Qanita pun memiliki rasa yang serupa. Aku tahu, aku lama berbincang dengan detak jantungnya. Perempuan itu mencintaimu".

Kuharap demikian, tapi bagaimana aku bisa mengawalinya. Ini pilihan dengan konsekwensi yang harus kuhadapi.
"Assalamu alaikum".
Itu Qanita, saya cukup mengenali suaranya. Aku harus bagaimana? Tersenyum dan langsung menyapanya, menjawabnya dengan pandangan mataku? Atau aku langsung saja katakan, aku mencintaimu. Tak cukup romantis, aku harus bergegas mengambil bunga dengan kepala tertunduk seraya menyerahkan bunga. Tidak! Kurasa itu sinetronisme.
"Bagaimana kabarmu?"
"Aku baik-baik saja", jawabku.
"Sampai kapan?"
“Aku tak bisa menjawabnya"
"Kalau begitu, apakah kerinduanmu mengatakan hal yang salah?"
"Apakah ia menemuimu?"
"Siang tadi", singkat katanya.
Aku pergi, aku tak mau mengakuinya. Qanitapun setelah itu beranjak dan sempat menemuiku.

Kini, aku semakin terpojokkan. Sejuta kerinduan bertengger di setiap sudut dinding dan jendela kamarku. Aku tak peduli, ia bergantian mengunjungi serta memakiku. Akupun tetap saja memilih diam! Karena aku mau semua menjadi RAHASIA. Qanita tetap akan sempurna di mataku. Biarkan ia abadi dan menjadi kenangan paling indah dalam hidupku. AKU MENCINTAIMU! Itukan yang kamu ingin dengar? AKU MENCINTAIMU! Itu juga yang sebaiknya kukatakan padamu. Tapi, kurasa kamu tahu tanpa terucap bukan?



Kusuma Jaya Bulu

Bagikan ke

0 Komentar