Menulis puisi ini seperti menemukanmu dalam belantara sunyi yang abadi
Juga senyum dan tuturmu yang kini menadah duka dalam kalbu.
Hati yang luka menawarkan damai dengan kenyataan yang pilu.
Memang sulit, tapi bukan berarti tak bisa.

Menulis puisi ini seperti memberiku kesempatan untuk tak lagi memikirkanmu
Juga tak ada luka dan perih yang merapat
Yang ada hanyalah penawar atas dalamnya duka yang kujalani
Air mata dan rindu itu telah sampai di puncak
Bahkan untuk merasanya pun aku sudah tak bisa
Aku telah pergi dari segalanya....

Menulis puisi seperti ini menjadikanku lebih mengerti tentang luka dan air mata
Juga tentang hati yang telah beku....
Atau tentang reingkarnasi rasa yang telah mati
Sebuah kelahiran yang baru

Kekasihku, terima kasih atas luka dan perih yang kau berikan
Kini,
Aku tak akan lagi terjebak dalam rindu
Menjejaki gelap dengan harap ada sinar setelahnya
Pada ujung jalan itu

Aku menulis puisi bukan lagi tentang dirimu
Tetapi puisi tentangnya....


Kuselesaikan di Jeneponto, 
25 Mei 2014


Bagikan ke

0 Komentar