Pernah. Aku menulis status. Ada percakapan dengan salah seorang teman di akun sosial milikku....
Aku:
Aku ingin berkata jujur. Aku merindukanmu entah sejak kapan.
Apa itu salah?

Teman:
Aku merindukanmu sejak setelah aku mengenalmu. Entah mengapa aku selalu merindumu semenjak pertemuan yang singkat itu. Aku juga tak tahu... :)

Aku:
Hhmmmm... Aku tahu, rindu tak pernah salah. Tak peduli pertemuan sesingkat apapun atau telah berulang kali sejak pertemuan yang pertama. Aku hanya ingin berkata jujur.

Teman:
Rindu memang tak pernah salah, ia menghadirkan kenangan-kenangan yang mungkin sudah usang dan juga sedikit menyiksa jiwa!

Aku:
Rindu. Aku tak tahu harus diapakan. Atau kubiarkan saja menjadi rimbung seperti sebatang pohon agar yang bernaung di bawahnya merasakan sejuk hingga pertemuan sekalipun tak akan mampu membendungnya. Atau mungkin lebih baik membiarkannya kering dan punah....
Sungguh menyiksa.

Teman:
Biarkan saja ia tumbuh laksana bebungaan di taman surgawi, menyebarkan harum semerbak ke seluruh panorama jiwa....

Aku:
Aku takut.
Bukan karena adanya rindu itu, tetapi karena lain hal.
Aku takut. Benar-benar takut.

Teman:
Tak ada yang perlu ditakutkan, karena ketakutan hanya akan menimbulkan kerisauan dan kegelisahan dalam hati yang juga begitu menyiksa...

Aku:
Entahlah.
Sepertinya saya sedang tersesat dan menikmati kerisauan dan kegelisahan itu...
Hanya itu saja. Lalu semua berlalu dan tak ada bekas sama sekali. Aku hanya sekedar ingin berkata jujur. Aku merindukanmu entah sejak kapan.


Makassar, 6 Agustus 2014


Bagikan ke

0 Komentar