Desember, telah lama aku menunggumu.
Dalam hening dan dalam langkah yang tak pernah kutahu kapan akan bermuara.
Seperti detak jantung yang setia berdetak dan jika detaknya tak ada; maka itulah kematian.
Tapi aku yakin jika itu bukan akhir dari langkahku
Selalu seperti itu.

Seperti kisah Desember lalu, datang dan pergi.
Hanya pedih yang membekas. Merayap perlahan;
Mengiris dan menusuk dalam.

Dan aku tak pernah bisa berbuat apa-apa selain menikmatinya.
Dengan begitu, mungkin aku akan terbiasa.

Desember, tikamlah lebih dalam lagi
Agar aku tak lagi mampu membedakan mana duka dan mana bahagia.
Aku telah lama menunggumu;
Di sini.....!
Di waktu yang telah lama kulewati.

Hahaha.......
Mengapa aku baru ingat;
Jika aku belum menyelesaikan tulisan tentangmu; Desember.
Tepat ketika aku ingin berhenti menuliskan semua tentangnya
Seperti aku meminta menghapus apapun tentangku.
Kini, tak ada yang lebih kunikmati selain perih, sepi, dan luka.
Itu sangat indah. Sangat.
Aku tak ingin mengatasnamakan siapapun.
Itu hanya akan menjadi kisah yang tak pernah dikisahkan.
Biarkan saja menjadi cerita yang akan tenggelam oleh malam.

Desember; tikamlah lebih dalam lagi agar aku tahu;
Semua perih yang kau berikan tidak sia-sia.


Bagikan ke

0 Komentar