Pagi yang dingin. Jalan-jalan yang masih basah. Hari ini tetap saja seperti kemarin. Hujan. Meski hujan pagi ini tak sempat menjadi deras, tapi itu tetap saja membuatku basah ketika berangkat kerja. Aku berpikir, ini sebenarnya tidak ada hubungannya dengan apa yang ingin aku tuliskan. Aku sendiri belum tahu peris apa yang ingin aku tuliskan pagi ini. Ia hanya mengendap di kepalaku dan tak mampu aku tumpahkan. Dari semalam imajinasiku melanglang untuk menemukan sesuatu yang aku sendiri belum tahu. Aku hanya ingin menulis sesuatu. Dan yang kuingat hanyalah sebuah novel berjudul Infinitum karya Ahyar Anwar yang semalam selesai kubaca. Novel yang bercerita tentang realisme romantik untuk melawan kebenaran-kebenaran sentimental yang berkembang dalam masyarakat yang suka berpura-pura [hipokrit]. Mengisahkan kehidupan besar seseorang yang kadang berawal dari sebuah titik kecil dalam kenangannya. Inilah titik awal keinginanku untuk menulis setelah hampir setahun aku tak lagi pernah menuliskan sesuatu.
***
Seperti biasanya, di setip pagi ketika sampai di kantor aku langsung menyalakan komputer dan membiarkannya membuka jendelanya sendiri setelah dua hari kutinggalkan. Aku berjalan menuju sebuah tangga bagian belakang. Lagi-lagi seperti biasa, menghabiskan sebatang rokok sebelum memulai pekerjaan atau melanjutkan pekerjaan yang belum usai.

Hujan masih belum reda. Seraya menghisap dalam rokokku, aku menikmati genangan air di atas atap parkiran motor yang seolah memberikan isyarat tentang resahku. Agak lama hingga tak sadar jika rokokku sudah hampir habis. Rintiknya perlahan berkurang. Mungkin sebentar lagi hujan reda. Tapi aku belum juga bisa menemukan apa yang sebenarnya ingin aku tuliskan. Semakin dalam aku berpikir tentang apa yang ingin aku tuliskan itu.

Aku mengingat-ingat beberapa kalimat dalam novel yang semalam selesai kubaca. Tak banyak yang bisa kuingat. Maklum saja, saya orang yang pelupa. Apalagi banyak bahasa yang kadang tidak kumengerti maksudnya. 

“Manusia tak hanya bergerak dari satu waktu ke waktu yang lain, tetapi dari satu kisah menuju kisah yang lain. Tetapi tidak semua kisah bergerak meninggalkan waktu, kadang berputar kembali, dan melingkar kembali. Tidak semua pencarian berjalan ke depan, kadang sebuah pencarian harus berjalan ke belakang, menemukan masa depan pada kisah kenangan. Seperti sebuah musik yang mengalun mencari refrain kenangan. Seperti sebuah lagu yang bisa mengembalikan kita pada seutas kenangan yang berlalu. “

Kalimat-kalimat ini yang paling kuingat. Setidaknya, ini membawaku kembali mengingat banyaknya kenangan yang telah terlampaui dalam kehidupan. Kenangan yang tak pernah kusadari jika itu mungkin adalah jalan menuju masa depanku. Tentu saja tidak seperti yang kujalani kini. Aku seperti sedang dalam ketakutan mengakui kenangan-kenanganku sendiri. Seperti kalimat yang ditulis seniorku dalam komentar “statusku” di jejaring sosial. Katanya; aku harus berani mengatakan jika dia [seorang perempuan istimewah] adalah bagian kenangan perjalan cintaku yang memilih jalan kebebasannya.
Aku sepertinya memposisikan kenanganku dan kenangan seorang perempuan sebagai sesuatu yang kurang berharga sementara novel Infinitum telah memberikan pencerahan bahwa setiap kenangan memiliki nilai yang sama dan esensial dalam hidup manusia. Lagi-lagi ini adalah kalimat yang ditulis oleh seniorku itu. Ini yang perlu saya tanamkan dalam jiwaku karena jiwa itulah yang merasakan cinta. Dan juga kenangan-kenangan yang mengikutinya.

“Hidup sebenarnya adalah sekumpulan peristiwa yang mengantarkan dari satu pertemuan ke pertemuan lainnya, diselingi beberapa kemungkinan juga kepastian. Sebuah keputusan kecil bisa jadi mengubah takdir hidup ke arah yang benar-benar berbeda. Ada sejumlah kesedihan dan kesepian yang selalu terselip dengan bentuk yang berbeda, berserak di antara pertemuan-pertemuan, perpisahan-perpisahan, dalam kemungkinan bahkan kepastian.”

Ah, aku semakin lupa apa sebenarnya yang sejak semalam ingin aku tuliskan. Mungkin aku hanya perlu meyakinkan diriku sendiri bahwa kenangan-kenangan itu akan kembali berulang dan menikmati setiap kerinduan yang ada. Tentu saja dengan waktu yang berbeda. Seperti yang dilakukan Dewa, salah satu tokoh dalam novel itu.

Hujan, malam, kopi, dan sebuah misteri yang selalu tak tersingkap.


Graha Pena, 2 Januari 2014

Bagikan ke

0 Komentar