Oleh: Muh. Nurfajrin

Di bawah kepingan senja, kebisuan dan aliran detak waktu cumbui rongga kepiluan. Resah yang telah menggema dalam titipan muara yang begitu buram, bisikan angin malam menghiasi ruang-ruang hidup. Kini sepi menggalau kegelisahan batin dan raga. Seribu malam telah terlewati mengaung dalam penderitaan, tetap kutelusuri badai topan yang terus menyapaku, kutetap menatap sang rembulan di bawah atap kesengsaraan.
Di tepi senja, mentari pagi telah menyapaku kian merona warna pelangi dan Edi mulai terbangun dalam panggilan derasnya hujan. Dengan melirik jam dingdingku yang terus bernyanyi. Kini waktu telah menyambut, tak lama kemudian Edi menyiapkan  kain dengan warna kemerah-merahan menuju meja makan yang telah disiapkan ibu tercinta. Ibu berkata,
"Nak, setelah makan kamu pergi ke sawah membawakan bekal buat ayahmu! Sampai saat ini ayahmu belum juga pulang." Kata ibunya.
"Iya bu!", ucap Edi.
Dengan asyiknya dan rasa puas dengan makanan yang begitu lesat dan bergizi Edi pun berangkat ke sawah dengan kantongan berisikan makanan buat Ayahnya.
Seiring pancaran matahari membayangi langkahnya. Edi terus berjalan menelusuri petakan-petakan sawah. Cukup melelahkan juga. Di tengah sandaran jalan ia temukan sebuah dompet berisikan uang lima puluh ribu dan beberpa surat-surat berharga lainnya. Edi pun menyerahkan dompet itu kepada ayahnya dan berkata.
"Ayah, aku menemukan dompet di jalan!" ucap Edi kepada ayahnya.
"Apa? Dompet?" Jawab ayahnya heran.
"Iya, aku temukan dompet ini di jalan."
Sang ayah pun mengambil dompet di tangan anak yang mengantarkan bekal untuknya.
"Kalau begitu, kita simpan dulu," ucap ayahnya lagi. "Siapa tahu besok ada orang yang mencari dompetnya."
"Iya ayah. Kalau begitu ayah makan dulu, biar Edi yang gantikan bekerja."
Di bawah sinar petang yang mencumbui Edi. Semangatnya begitu luar biasa serta senyuman bersama sawahnya.
Sampul Buku Kumpulan Cerpen "Menawar Cinta"
Kini malam mulai menyapa dengan taburan bintang-bintang di naungi pancaran sang rembulan yang begitu menggema, langkah kaki terus menjilati tanah menuju rumahku bersama ayah tercinta. Sang Ibu menyambut kedatangan kami dengan sebuah senyuman manis. Suara adzan pun mengalun begitu merdu dan indah.
Edi berpikir sejenak tentang keluarganya yang tiap hari meneteskan keringat demi kebutuhan hidup mereka. Ingin rasanya kudaki dunia dan mungkin sudah saatnya aku terbangun dan berusaha menjadi baik dan lebih baik lagi di mata keluargaku. Kucoba imajinasikan diri dari sudut ruang-ruang kehidupan memiliki rumah yang besar dan mobil mewah dengan halaman rumah yang cukup luas dihiasi dengan bunga-bunga yang cantik dan wangi semerbak.
Malam kian tenggelam dengan berselimut dingin, angin sepoi-sepoi seiring nada sumbang mengalun di atap rumahku. Kini saatnya kurajut impian dan menanti sang fajar yang bertahta sesat lagi.
Mentari pagi telah membasahi raut wajahku yang begitu hangat dalam penantian. Edi pun bangun dan bertasbih, berzikir serta berdoa kepada pemilik alam semesta. Tepat pukul 07.30 terdengarlah suara ketukan dari balik pintu rumahku. Tok...tok...tok...!!!
            "Siapa???" teriak Edi menanyakan siap gerangan yang mengetuk pintu.
            Dengan rasa semangatnya, Edi pun membuka pintu. Edi kaget melihat orang itu. Cara berpakaiannya sangat rapi.
            "Pasti bapak ini orang kaya," gumamnya. "Silahkan masuk pak!"
            Setelah mempersilahkan duduk, Edi pun melangkah menuju kamar ayahnya. Dengan percakapan yang begitu asyik antara si Ayah dan si tamu, padahal tak sadarkan diri kalau si tamu itu ingin menanyakan, apakah di rumah ini ada yang menemukan dompet.
            Edi yang lagi menguping, kaget mendengar penjelasan dari si bapak itu.
Pembicaran ayah dengan tamu itu sudah berlangsung beberapa lama. Dan ditambah dengan segelas air manis dan segumpal terigu kering yang telah di anyam, sang tamu pun mengutarakan maksud kedatangannya ke rumah Edi. Akhirnya ayah pun berdiri menuju ke kamar mengambil dompet itu. Dengan sebuah kejujuran dan keinginan hati, siayah pun memberikan dompet itu kepada pemiliknya tanpa ada yang kurang sepeser pun.
            "Terima kasih banyak pak atas kejujuran Anda dan keinginan hati bapak untuk mengembalikan dompet ini karena di dalam dompet ini berisikan barang-barang yang begitu banyak dan berharga. Jadi, sebagi tanda terima kasih saya terhadap keluarga ini saya akan memberikan hadiah, sepeda motor buat anak bapak  dan uang satu juta untuk kebutuhan hidup keluarga bapak. Itu sebagai jasa bapak kepada saya. Saya tidak bisa membayangkan kalau orang lain yang menemukannya, mungkin orang itu tidak mau mengembalikannya.  Ternyata di daerah ini, masih ada orang jujur dan baik seperti bapak."
             Kegembiran keluarga Edi begitu jelas terlihat di raut wajah mereka. Meski sedikit  terkejut setelah mendengar perkataan dari siBapak itu. Pagi yang begitu indah yang tidak mampu digambarkan oleh keluarga Edi dengan kata-kata. Dengan senyuman mentari pagi yang menyapa, rasa syukur pun mereka lantunkan atas reski yang mereka terima. Sebuah kejujuran dan ketulusan hati mereka dapat memberikan rahmat dan kebahagiaan yang tak pernah kita pikirkan. ###

Bagikan ke

0 Komentar