Karya: Kusuma Jaya Bulu

Kendatipun kabar hujan turun d ibawah awan sejak pagi lelaki berseragam GURU itu tetap saja melanjutkan perjalanannya. Ia bernama Rasyid, sesuai ejaan yang tertera di papan nama sebelah kanan dadanya.Keluarga sederhana dan hidup dalam rumah tangga yang juga sederhana. Semuanya serba sederhana, bahkan lelaki yang beranak dua itu punya cita-cita yang sangat sederhana, GURU! Tapi, bukan guru. Baju seragam berwarna hijau bermerek linmas tampak mulai pudar akibat disengat matahari, sepatu hitam yang dibersihkan dengan kain basah setiap pagi sudah akrab dengan debu dan kacamata berlensa tebal sangat cocok dengan sepeda ontel miliknya.

Rasyid sangat akrab dengan anak didiknya. Terkadang di sisa mata pelajaran,  bersalaman adalah hal yang dianggap penting baginya.
***

Rapat di hari Senin pukul sebelas, pembagian jam mata pelajaran mulai dibacakan oleh pihak yang bertugas dikurikulum. Wajah para GURU mulai pasang strategi dan raut muka seorang guru tampak was-was.
“Pak Rasyid, hati-hati piring pecah!”
“Betul pak Lukman. Sudah piring plastik, terbelah lagi” jawab Rasyid yang membalas lelucon seorang guru yang berada di dekatnya.

Perdebatan tiba-tiba mulai terjadi. Terdengar mereka saling senggol-senggolan lidah. Angka dua puluh empat! Harus dua puluh empat jangan di bawah dua puluh empat. pokoknya semua mau dua puluh empat! Padahal para guru, telah melintas piring pecah sudah bertabrakan dengan harga beras yang masih mahal. Para GURU saling memicingkan matanya. Yang duduk di bangku sebelah kanan sedang sibuk menelpon tetangga untuk dicarikan angka dua puluh empat. Paling depan sebelah kiri asyik kirim sms ke beberapa kepala sekolah untuk dicukupkan dua puluh empat.

“Kami minta maaf kepada para GURU apabila tidak mendapatkan angka dua puluh empat. Karena banyak juga guru yang ingin mengabdikan dirinya”

“Utamakan GURU, jangan dulu bahas guru dong!” Sedikit Bu Lastri membatin.

Rapat belum selesai, akan tetapi sebahagian GURU sudah berdiri meninggalkan ruangan. Sedangkan, guru masih sibuk memperbaiki piring yang sudah mulai retak.
***

Rumah tampak mulai sepi. Daun hanya bisa menggoyangkan pinggulnya dengan sisa angin senja. Rasyid terlihat paling sudut di rumahnya menghitung bintang yang setiap malam tak pernah selesai. Pantulan bulan bertengger pada ranting-ranting kayu kering yang terletak depan rumah Rasyid. Diajak khayalannya sedikit bergeser ke masa akan datang. Tapi, Rasyid belum bisa menemukan sesuatu yang pasti….

Bagikan ke

0 Komentar