Lokasi Foto Ini, di Kampung Halamanku Tercinta
Hari sudah hampir pagi. Aku belum juga bisa memejamkan mataku. Sudah menjadi kebiasaan buruk dan telah lama berlangsung seperti ini. Aku tahu itu, tapi aku juga dibuat bingung alasannya. Selalu saja begitu meski kadang berulang kali aku mencoba untuk memaksa mataku untuk tertidur. Seolah ada yang membuatnya terus terjaga. Bayangkan saja sepanjang tahun ini, tidur malamku bisa dihitung jari. Benar-benar terserang imsomnia tingkat dewa. Mungkin! Jika sudah seperti ini, kopi dan rokoklah yang menjadi pelengkap dari semua malam yang kulalui tanpa tidur. Setiap malam yang sepi.
“Sudahlah! Aku tidak ingin membicarakan ini terlalu jauh karena bukan itu pokok permasalahannya”, katamu ketika aku sedikit menceritakan keadaanku saat ini.

Aku terdiam dan tak melanjutkan kata-kataku yang mungkin bagimu hanyalah omong kosong. Aku hanya menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya. Aku berharap, perasaan kecewa dan sakit yang kurasakan kala itu hilang bersama hembusan nafasku. Mungkin semuanya memang tak ada gunanya lagi. Seperti halnya yang aku lakukan selama ini. Meratapinya hanya semakin membuat luka semakin dalam. Kisah tentang luka dan kesedihan yang takkan mampu digambarkan. Menyelaminya dengan segala rasa yang pun telah remuk. Sakit!

Lalu, apa yang harus kulakukan setelahnya? Kebingungan kian menyelimuti pikiranku. Aku memutuskan pergi dan berlalu meninggalkannya di balai-balai. Ia hanya memandang lepas ke depannya. Entah apa yang dipandanginya. Aku hanya membalikkan pandanganku sekali lalu melanjutkan langkahku pergi.

Di awal malam yang sendiri. Kembali kulihat jejak yang semakin jelas. Aku selau berharap itu Dia. Datang dengan senyuman yang selalu kurindukan. Itu senyummu. Pun seandainya masih ada, tolong simpan untukku. Aku ingin membawanya kembali seperti ketika aku berbincang sederhana dengannya di bawah terik mentari pagi. Aku tak mampu berbuat apa-apa selain mengingatnya hingga malam mengucap selamat tinggal padaku. Pagipun datang. Sejak saat itu aku selalu berpikir bahwa esok akan datang, tapi esokpun pergi begitu cepatnya hingga aku sadar bahwa waktu telah jauh meninggalkanku.

Kupetik gitar lalu mengisap dalam-dalam sebatang rokok yang sudah hampir habis. Dengan segelas kopi good day cappucino di depanku, aku mengingat setiap waktu yang terlewati dalam perjalanan hidup ini. Apa lagi yang harus dibenahi untuk perjalanan esok dan seterusnya. Mungkin seharusnya aku tak mengingatmu lagi.Kelak. Di suatu tempat dan di satu waktu yang entah itu kapan, aku ingin membangunkan kembali asa yang telah lama mati suri dengan tanganku dan tanganmu yang berpegang erat seraya tersenyum bahagia. Semoga!

Makassar, 28 Agustus 2012
Tak ada lagi yang mampu kutulis sejak saat itu,
Hanya beberapa sajak picisan dan terlalu lebay
Setidaknya begitu kata seorang teman

Bagikan ke

2 Komentar

semoga kelak.. luka dan kesedihan itu akan segera terobati.. :)
Fotonya cakep bgt ^^

Hehehe... Iya. Kata yang punya kisah ini, "saya selalu meyakini jika tuhan telah menyiapkan sesuatu yang indah di balik luka dan cobaan yang Dia berikan padaku"

Makasih, foto ini pemandangan saat pagi...