Sore tadi. Tanpa rencana, aku dan dua orang teman sepakat untuk berbuka puasa bareng di Pantai Losari. Tempat yang telah lama tidak kami singgahi. Sekedar untuk menikmati sunset ataukah sekedar mencari sesuatu yang mungkin saja bisa kami jadikan sebagai bekal dalam tulisan. Entah itu puisi ataupun cerpen.

Jam sudah menunjukkan pukul 17.35. Sebentar lagi waktu berbuka puasa. Tanpa membawa bekal apa-apa untuk buka puasa, kamipun berangkat melewati jalan yang seolah tak lagi muat dengan begitu banyak kendaraan yang berlalu lalang. Di sana sini terkena kemacetan. Sementara perjalanan dari tempat tinggalku menuju pantai Losari biasanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit. Itupun kalau sedikit ngebut dan tidak macet. Aku berencana mengabadikan matahari terbenam sore ini dengan handycam yang kubawa. Sudah lama aku tak melihat matahari berpamitan pada kota ini di balik samudera di Losari.

Laju motor tidak terlalu kencang karena kendaraan sore ini berdesak-desakan mengantri melewati jalan yang juga tak terlalu lebar untuk jalan dengan dua jalur. Kulirik lagi jam tanganku. Waktu begitu cepat meninggalkan kami. Aku mulai cemas memikirkan keinginanku tadi. Menikmati sunset.

Di tengah-tengah kecemasan itu, pandanganku tiba-tiba dialihkan oleh satu sosok yang sedang duduk di trotoar jalan. Entah apa yang dilakukannya. Aku tidak tahu karena dia duduk membelakangi jalan raya. Seorang lelaki dengan sebuah kamera di tangan kanannya sedang memotretnya, namun sosok itu tetap asik dengan dirinya sendiri. Aku sedikit penasaran lalu kuperhatikan dengan seksama. Ah, rupanya dia adalah orang gila yang selalu lewat depan rumahku. Aku mengenali persis pakaiannya yang lusuh dan compang camping. Aku yakin dia tak pernah menggantinya. Seingatku, pakaian yang dia gunakan hari ini masih sama seperti ketika pertama kali aku melihatnya. Tepatnya awal-awal tahun ini. Aku sering bertanya-tanya dalam hatiku sendiri. Kemana keluarganya? Mengapa dia ditelantarkan begitu saja. Meskipun gila, tapi dia kan manusia juga.

Waktu semakin bergegas berlalu. Perlahan orang gila tadi telah jauh menjarak dan tak terlihat lagi karena terhalang kendaraan yang juga sedang mengantri di belakang motor yamaha mio berwarna merah yang kukendarai. Aku kembali teringat sunset sore ini. Pasti sangat indah. Apalagi cuaca sedang cerah dan tak berkabut seperti asap kendaraan dan debu yang beterbangan di jalan ini. Kuminta kepada teman yang memboncengku untuk menambah kecepatan. Tanpa menjawab, dia langsung tancap gas melewati kendaraan-kendaraan yang terjebak macet.

Di pertengahan perjalanan, tepatnya di perempatan dengan lampu merah yang sedang menyala. Sebuah mobil avanza silver berhenti menunggu lampu berubah menjadi warna hijau. Yang tidak aku mengerti adalah, mengapa mobil ini berhenti padahal lampu weser kirinya menyala. Sementara di tiang lampu merah tersebut jelas-jelas tertulis “Belok kiri langsung”. Apakah sopir mobil ini tidak bisa membaca ataukah tidak mengerti dengan tulisan itu? Lalu, bagaimana caranya saat ambil SIM ya. Kan ada tes drive-nya. Aku semakin bingung memikirkan semua itu.

Kembali kulirik jam di tanganku. “Sial, aku pasti tidak sempat lagi melihat matahari terbenam”, kataku dalam hati. Sepuluh menit lagi jam menunjukkan pukul 18.00. Matahari sebentar lagi tak terlihat. Kembali kuingatkan kepada temanku untuk mempercepat laju motornya. Meski belum sampai ke tempat yang ingin aku tuju, aku sudah sedikit merasa kecewa karena sudah kuperkirakan tidak sempat lagi melihat dan mengabadikan sunset hari ini.

Laju motor semakin cepat dan akhirnya sampai juga di pantai Losari. Namun matahari ternyata sudah tak terlihat lagi. Aku hanya melihat pantulan-pantulan cahayanya yang kemerah-merahan. Benar-benar aku tak bisa menikmatinya. Apalagi biaya tempat parker motor yang tak wajar lagi. Aku tak menyangka kalau untuk parker motor saja bisa sampai 10 ribu rupiah, tanpa karcis pula. “Ini tempat parker resmi ataukah illegal?”, aku kembali bergumam.

Pantai Losari di sore hati.... Indah!

 Selain perasaan kecewa karena tak bisa menikmati sunset sore ini, perasaan aneh dan ganjil pun datang juga memenuhi pikiranku. Aku baru melihat kalau ternyata ada sebuah mesjid cantik yang dibangun di sana. Sebuah mesjid di atas permukaan air laut. Yang membuat ganjil karena seharusnya mesjid itu dijadikan tempat untuk beribadah, malah digunakan sebagai tempat pacaran. “Apa fungsi mesjid sudah berubah?”.

Aku hanya menebak-nebak saja, toh aku tidak pernah bertanya kepada mereka. Sedang pacaran atau tidak. Aku hanya melihat dari gerak-gerik mereka dan bisa kupastikan jika mereka sedang pacaran. Aku sedikit banyak mengenal gaya pacaran kebanyakan orang, apalagi sedang berada di sana. Di pantai itu. Bukan aku sok suci ataupun munafik, tapi tempat itu adalah tempat ibadah. Tempat suci untuk menghadap kepada sang Pencipta, bukan tempat pacaran. Apalagi sambil berpegangan tangan dan hampir berpelukan. Sungguh pemandangan yang membuatku berpikir jika tempat itu dibangun bukan sematap-mata untuk beribadah tapi juga tempat untuk berbuat maksiat. Astagfirullah. Di bulan Ramadhan ini, seharusnya kita tidak berbuat demikian. Tapi kenyataannya, masih banyak saja yang seperti itu. Entah apa yang mereka pikirkan.

Aku jadi tak betah tinggal lama-lama. Bukan karena gaya pacaran tadi, tapi karena tempat ibadah yang mereka tempati untuk melakuka aktivitas yang tak semestinya. Setelah berbuka puasa dan menghabiskan sebatang rokok. Kamipun kembali ke rumah.

Makassar, 14 Agustus 2012

Bagikan ke

2 Komentar

hmmmmmmmmmmm indahnya pantai Losari
seakan membawaku hanyut ke cerita ....

Hehe. Pantai itu memang sangat indah, apalagi kalau sore hari....