Karya: Salmawati "Ndeng"


Di balik jendela rumahku yang tak berkaca. Kutemui matahari pagi tersenyum padaku seraya awan pamit terusik oleh burung kecil dengan tarian di atas tangkai-tangkai yang barusan bergaun air hujan semalaman. Aku belum beranjak dari tempatku, seseorang memanggil namaku dari balik kamar.
"lma......!"                                                             
"Ada apa?” Jawabku.
"Ima, tolong bapak nak”
Suara itu adalah suara lelaki yang telah membesarkanku. Tanpa menunggu lama aku meninggalkan pemandangan pagi itu. Aku tak mendengar lagi cerita burung pada matahari terbit pagi itu.
"Kenapa Pak?”
"Tubuhku sangat terasa dingin Nak”
Selimut yang tidak terlipat rapi di sampingnya Iangsung aku tarik dan menutupi tubuhnya. Matanya menatap sayup padaku. Seiring air rnatanya mengalir mewakili seribu bahasa yang ingin diungkapkan. Aku sentuh kesepuluh jari-jari kakinya. Dingin, ya sampai pergelangan kakinya terasa kurang bersahabat.
"Nak, tubuh Bapak terasa sakit”
"Sakit?"
"Yah, entahlah Bapak merasakan seribu rasa rnenjalar pada tiap lekuk tubuhku"
Tak lama kemudian, tuhuhnya kaku dan tak bisa digerakkan. Matanya dipejamkan mencoba melawan dingin dan rasa ngilu dil tubuhnya yang kian rnenjadi-jadi.
"Ima, tolong panggilkan Ibumu nak. Bapak tidak tahan lagi"
"Baik Pak, aku akan segera memanggil ibu”
"Jangan lama yah?”
"Baik Pak!”
Air mataku menetes mengiringi langkah menemui ibuku di depan rumah.
“Bu! Bapak bu!”
“Ada apa Nak?"
“Bapak!!!"
“Iya, kenapa bapakmu Nak?”
Belum aku jawab, tiba-tiba ibu meninggalkanku dan bergegas menemui bapakku dengan tergesa-gesa.
"Apakah kamu baik-baik saja?” Tanya ibu kepada bapakku.
Hanya tubuhnya yang kian menggigil dengan suhu tubuh yang panas. Bibirnya pucat, tak memberikan sepeserpun jawaban dari pertanyaan yang baru dilontarakan ibuku. Aku tak hanya berdiam diri. Tanganku kuletakkan pelan di atas pundak Ibuku lalu mencoba untuk merayu nuraninya yang kelam.
"Bu, sebaiknya bapak dibawa ke rumah sakit saja karena aku takut panasnya kian menjadi-jadi”
"Betul nak."
Tubuh pak Sudarso dibawanya ke rumah sakit dengan kendaraan umum yang sempat melintas di depan rumahnya. Namun sesampainya di sana, seorang suster mencoba memberikan penjelasan.
"Maaf bu, dokter tidak datang,”
"Kami rencana untuk rnengopname dan kuharap suamiku secepatnya mendapatkan pertolongan.” Ucap ibuku pada suster yang kami temui.
Tak lama kemudian dokter Kudus Paulus Al Hangus Bin Taurus bertubuh kurus dan kulit yang tak mulus datang tapi hanya memberikan resep saja. Tiga hari kemudian penyakit bapakku belum juga sembuh sedangkan, sms plus telepon dari pacarku selalu berdering dengan irama yang sama. Lelaki itu memintaku ikut dalam kegiatan lembaga yang digelutinya.
“Apakah aku harus meninggalkan bapakku yang masih terbaring? Atau haruskah aku mengekori langkah rinduku menemui kak Abe’?”
Pertanyaan itu selalu saja hadir sebelum dan sesudah air mataku berpapasan dengan kebisuan waktu. Ragu selalu datang dan akhimya kami bertekad untuk membawa bapak ke rumah sakit yang lain. Belum juga tali infus melekat di pergelangan bapakku, ucapan salam dari seseorang yang sangat dekat denganku datang melambung senja yang belum bersolek.
“Halo, apakah kamu baik-baik saja?"
“Kamu bersama siapa?”
“Ria, putri jomblo dan irma”
“Oh ya, bukankah kalian akan berangkat bersama rombongan untuk bakti sosial di Bikeru?” tanyaku pada Ria dan Irma.
"Kurasa tidak, lagian kami ingin menemani menjaga bapakmu.”
Perkataan itu disertai anggukan manis dari Ria dan Irma yang Iebih dulu menemuiku. Kebahagiaanku tak bisa aku lukiskan dengan sederet kata. Mereka memang sahabatku, saudara yang tak sempat bersamaku dalam rahim ibuku. Malam kami habiskan dengan curhat-curhatan. Pangeran yang mendampingi kami tak lupa juga diperbincangkan, tentu kak Abe' dan kanda Rian. Meski aku sadari kalau Irma harus bersain dengan empat perempuan. Yah, katakanlah Hela, Ine, Andil dan Wiwik. Sedangkan untuk Ria hanya menceritakan kisah anak-anaknya.
Akan tetapi, bumi belum juga berganti kulit ketiga, sahabatku itu pamit padaku. Aku tercengan. Rasa sedih dan kegalauan seketika datang rnenggorogoti hati kecilku yang baru memujinya. Entahlah, kini aku bersama adik dan ibuku mengapit tubuh bapakku. Namun, aku patut mensyukuri karena lelaki yang memintaku untuk ikut bersamanya memahamiku. Hingga akhirnya, beberapa hari kemudian karni sekeIuarga pulang mengikuti anjuran dokter. Walau terkadang aku tak bisa memahami bila usia kata tak terbilang seribu detik atau mungkinkah Tuhan membisikkan sesuatu pada perjaIananku musim ini? Ah, kurasa mereka adalah kekasih-kekasihku. ###

Ini dia foto penulisnya

Bagikan ke

0 Komentar