Ini hanyalah percakapan biasa antara Jiwa dan Raga.

Sesi I

Jiwa: Ada apa denganmu?
Raga: Entahlah, akhir-akhir ini aku sering merasa lelah.
Jiwa: Akupun kadang merasakan itu.
Raga: Aku merasa tak kuat lagi bertahan dengan keadaan seperti ini.
Jiwa: Apa yg kau rasakan saat ini?
Raga: Aku tak lagi bisa merasakn apa-apa.
Jiwa: Aku akan tetp bersamamu dalam keadaan apapun.


Sesi II

Raga: Apa kau akan meninggalkanku dengan luka yang ada?
Jiwa: Entahlah.
Raga: Apa yang kau pikirkan, kini?
Jiwa: Aku sedang merenungi jalan yang telah kupilih.
Raga: Kau menyesal?
Jiwa: ....... (diam sejenak). Tak ada yang kusesali dan tak akan ada yang kusesali.
Raga: Lalu?
Jiwa: Kadang, aku ingin tertawa jika mengingat semuanya.


Sesi III

Setelah beberapa lama.

Jiwa: Coba kau lihat senyumnya...
Raga: Yah, aku melihatnya!
Jiwa: Aku merasa semuanya kembali terjahit seperti dulu.
Raga: Aku bisa merasakan getarannya.
Jiwa: Tapi, ini hanyalah sesaat. Aku tak percaya pada siapapun.
Raga: Apakah termasuk padaku?
Jiwa: (dengan sedikit tersenyum) Mungkin. Aku lelah mempercayai jalan kehidupan yang tak pernah kumengerti meski aku selalu berusaha untuk mengerti.
Raga: ...... (hanya tertunduk diam)
Jiwa: Aku benar-benar lelah dengan semuanya.
Raga: Berhentilah! (dengan nada yang agak tinggi)


Sesi IV

Setelah suasana agak tenang.

Jiwa: Aku hanya tidak ingin ada yang merasa bersalah atas apa yang menimpaku. Termasuk kau.
Raga: ..... (tak tahu harus mengatakan apa).
Jiwa: Aku rasa, kau lebih mengerti aku dari siapapun.
Raga: Iya, kita mengalaminya bersama-sama dan aku tak pernah jauh darimu. Iya kan?
Jiwa: Kelak kita pasti akan berpisah juga.
Raga: Maka, biarkanlah aku tetap menemaniku hingga saat itu tiba.
Jiwa: (tersenyum sambil melihat angkasa yang terselimuti gelap)

Sebentar lagi matahari akan kembali menampakkan parasnya yang gagah.


Sesi V

Cuaca begitu amat gerah. Matahari menyengat hingga Jiwa dan Raga serasa terpanggang. Mungkin sebentar lagi bisa menjadi santapan.

Jiwa: Aku ingin minta maaf sebelum benar-benar pergi.
Raga: Apakah ini sudah tepat waktunya perpisahan itu?
Jiwa: Jika aku menunggu waktu yang tepat, mungkin aku tak akan pernah pergi. Aku tak ingin kau lebih menderita daripada aku. Cukup aku yang terpuruk seperti ini.
Raga: Haruskah seperti ini akhirnya? Kenapa kita tidak mencoba untuk menghempas duka dan lara yang ada?
Jiwa: Kini, tak ada lagi niatku untuk menghalau duka itu. Hanya dia yang selalu menemani kesepianku selain kau. Aku harus pergi.
Raga: ??????

Tiba-tiba semua gelap. Semua tampak samar. Perlahan memudar dan.......
MATI.


Makassar, 5 Juni 2012
Akhirnya terselesaikan ketika aku benar-benar
ingin kembali berjalan berdampingan denganmu.

Bagikan ke

12 Komentar

Hehe. Makasih! Tapi jangan sampai menangis hingga banjir ya. Hahahaha

Iya.... Dia pergi untuk selamanya dengan luka dan duka yang teramat perih. Mungkin tak akan bisa untuk dituliskan ataupun dilukiskan. Takkan pernah bisa walau berat semuanya tuk dilaluinya. Semuanya dipasrahkan. Menyerah dan kalah. Itulah mungkin bahasa yang tepat!

eh, so sweet ya? Keren kalo punya anak dinamai jiwa dan raga...

duuh.. mengharukan.. kok jd pengen nangis ya.. hiks

Hahaha. Pasti unik,lain daripada yang lain. Tks! #

Hehhee.... Jangan nangis dong, ntar banjir lagi. Hahaha....

Itulah mungkin satu dari sekian banyak skenario yang dilalui oleh setiap insan.....