Ini kisah tentang Aku dan Kau yang entah berakhir seperti apa. Kini, Aku bingung dengan hatinya sendiri. Tapi, keyakinan masih tetap pada keteguhan yang sejak dulu Aku pegang. Hingga saat ini, Aku merasa kalau Kau itu untuknya. Hanya untuknya! Di lain sisi, menurutnya ini sangat menggelikan. Lucu. Banyak hal yang lucu. Dulu Aku pernah bersama Kau kemudian terpisahkan. Kini ada lagi kesempatan untuk kembali menganyam mimpi-mimpi indah itu bersamanya. Entahlah, Aku tidak tahu ke mana takdir akan membawa mereka. Hati kecilnya pun seakan tak berfungsi lagi untuk menentukan apa yang harus Aku lakukan untuk keluar dari masalah ini.

Aku pernah diberi saran oleh salah seorang teman. Bisa dikatakan dia itu sudah Aku anggap sebagai kakaknya sendiri. Katanya, pertahankan yang bisa kita pertahankan karena kesempatan biasanya tidak datang dua kali. Jangan sia-siakan kesempatan yang ada di depan mata.

Memang! Andai saja semudah itu, mungkin Aku tidak akan sebingung ini. Satu sisi, perasaan takut untuk memiliki Kau telah bersarang dalam dadanya. Aku takut jika hati Kau tak seperti dulu lagi. Aku takut kalau dia tak sesayang dulu padanya. Aku takut disakiti dan menyakiti lagi. Namun jauh di dalam lubuk hatiku, Aku juga takut kehilangan Kau untuk yang kesekian kalinya.
***

Kisah cinta ini bermula ketika Aku masih duduk di bangku kelas 1 SMP. Mungkin bagi banyak orang, itu bukanlah perasaan cinta seperti yang dialami orang dewasa. Cinta monyetlah istilahnya. Tapi Aku dan Kau menjalani hubungan itu tak sesingkat usia sekolah kami di SMP. Delapan tahun. Yah! Selama delapan tahun Aku menjalin kasih dengan Kau. Memang itu bukanlah waktu yang singkat. Dan Aku tidak pernah menganggap bahwa rasa cinta yang ada dalam hatinya hanyalah sekedar perasaan biasa yang seperti kebanyakan anak sekolahan mengalaminya. Begitupun Kau.

Dari rentang waktu inilah dan semua ketakutan-ketakutan yang kini berperang dalam batinnya membuat Aku terhempas dalam perkampungan bernama “kebingungan”. Sejak dulu, Aku tak bisa lepas dari Kau, tapi entah mengapa akhir-akhir ini Aku sering merasa tidak nyaman berada di dekatnya. Aku seperti memiliki kepribadian ganda. Kadang Aku ingin tertawa terbahak-bahak mengingat hal ini. Aku merasa aneh karena orang lain. Untung saja hanya satu orang. Tidak bisa dibayangkan andai saja ada banyak hati yang disinggahinya. Mungkin Aku stress dan gila dibuatnya.

Keyakinan jika Kau itu untuknya pun terkadang goyah. Masalahnya bukan dari Aku ataupun dari Kau. Lingkungan sosial merekalah yang mengharuskan mereka seperti ini. Terpisah dengan lukisan-lukisan luka yang tertoreh begitu dalam dan amat memilukan. Orang-orang disekitarnya tak pernah sekalipun memahami mereka berdua. Orang-orang itu hanya peduli dengan diri mereka sendiri.

Semester 4 lalu, Aku seolah tak sanggup lagi membendung gelombang yang datang menghadang. Aku terkadang menghindar dari Kau. Bukan karena tidak ada lagi rasa di hati Aku, tapi lagi-lagi karena lingkungan yang memaksa. Aku harus bisa menjaga jarak dengan Kau untuk waktu yang Aku sendiri tak mampu memprediksikan entah sampai kapan. Aku menjauh darinya tapi bukan lari dari masalah dan kenyataan ini. Meski jauh di lubuk hatinya, Aku sendiri masih sangat mengharapkan Kau selalu berada di sampingnya. Kadang pemikiran konyol Aku datang dan selalu berpikir kalau Kau itu jodohnya. Aku sendiri tidak tahu apa yang membuatnya seperti itu.

Kebingungan demi kebingungan yang selalu hadir silih berganti dalam benak Aku seakan membuatnya kehilangan ketenangannya. Orang sekitar mereka juga tak ada yang merespon. Terlebih lagi, sekarang Kau memilih lebih banyak diam. Walaupun sesekali Aku mendapati Kau curi-curi pandang atau tersenyum padanya.

Itu masalahnya dengan Kau dan hatinya. Yang satunya lagi adalah masalah dengan ibu Aku. Dari dulu ibunya tidak pernah mengizinkan Aku menjalin hubungan dengan Kau dan mungkin juga dengan orang lain.

Aku tak pernah menduga jika hingga sekarang, ibunya masih tak memberikan tanda kalau dia akan merestui hubungannya dengan Kau. Meskipun ibunya sendiri tidak mengetahui kalau Aku menjalin hubungan spesial dengan Kau. Hanya saja, ibu Aku selalu mewanti-wanti. Aku selalu diingatkan kalau ibunya tidak akan merestui hubungannya dengan Kau sampai kapanpun. Aku sama sekali tidak pernah tahu alasan ibunya sehingga bersikap seperti itu. Yang paling membingunkan lagi karena ibu Aku sudah kenal dengan keluarga Kau meski silaturahmi di antara mereka tidak terlalu dekat. Ibu juga tahu kalau Aku sudah sangat dekat dengan keluarga Kau. Tapi entah alasan apa sehingga ibu Aku tidak menginginkan Kau menjadi bagian dari keluarganya.

Beberapa bulan yang lalu, ada yang pernah mengatakan bahwa seandainya Aku dijodohkan dengan Kau mungkin akan ada baiknya. Tapi ibu Aku menolaknya. Alasan penolakan itu pun tak ada kejelasannya. Aku nyaris tak percaya akan masalah yang begitu rumit menghadang di tengah perjalanan cintanya dengan Kau. Sangat tidak mengasyikkan memang karena harus egois terhadap orang yang Aku sayang. Mungkin itu lebih baik daripada mengecewakan banyak orang.

Aku selalu berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan hubungan mereka. Dengan sisa keyakinan yang ada dalam dirinya, ia tetap berharap jika ia bisa tetap bersama-sama lagi dengan Kau. Namun, ditengah perjalanan inipun lagi-lagi Aku harus menghadapi masalah baru. Aku yang mencoba meyakinkan Kau supaya dia mencari jalan untuk meyakinkan ibunya, tapi dia tidak pernah mengatakan apa-apa. Meng-iya-kan ataupun tidak menyanggupinya. Ditambah lagi, Kau adalah seorang yang super pendiam. Mungkin dari sikap Kau yang seperti itu sehingga tidak ada keluarganya yang respeck padanya. “Jangan sampai aku mempertahankannya, sementara dia sendiri tidak sesayang itu padaku. Aku harus bagaimana?”, gumam Aku dalam hati.

Saat ini yang Aku pikirkan hanyalah bagaimana caranya agar bisa membicarakan masalah ini baik-baik dengan Kau. Aku harus mencari waktu yang tepat untuk membahas masalah mereka. Walau agak susah juga untuk melakukannya. Apalagi Kau bukan orang yang mudah diajak bicara. Ia sedikit egois. Mungkin saja dia seperti itu karena Kau adalah anak tunggal.

Sementara menunggu yang tepat untuk membicarakan persoalan ini, Aku hanya berdoa dan berdoa semoga dalam waktu dekat ini sudah ada kejelasan. Apakah memilih tetap dengan Kau atau memilih hati yang lain. Aku juga selalu berusaha agar masalah hatinya tidak mengganggu tanggung jawabnya sebagai seorang guru di sebuah sekolah di kotanya.
***

Waktu berlalu dan hingga saat ini belum ada sedikitpun kesempatan yang bisa Kau luangkan untuk menyelesaikan masalah ini. Walau terasa sangat berat menjalani saat-saat dengan keadaan yang seperti ini, Aku tetap meyakini satu hal kalau jodoh itu tidak akan kemana. Masalah ini memang agak rumit dan Aku selalu mencoba berpikir realistis. Dia mencoba memahami keadaannya dan mencoba untuk berdamai dengan hatinya. Hal terpenting yang Aku lakukan adalah tetap berusaha untuk tidak lari dari kenyataan. Itulah yang Aku lakukan selama berpisah dengan Kau.

Yang jadi persoalan lagi adalah ketidak mudahan untuk melewati semua ini. Aku terpaksa harus menjaga jarak dulu dengan Kau. Menyibukkan dirinya agar tidak terlalu terpuruk dan akhirnya jatuh. Aku mencoba berdamai dengan dirinya. Setelah itu, Aku ingin berusaha berdamai dengan masalahnya. Lalu perlahan akan kucoba berusaha berdamai dengan Kau.

Hidup ini tak sebatas tentang cinta.…
Dulu, aku pernah berpikir yang mungkin terlalu naif
My life it's just all about Kau


Tapi Aku tersadar bila hidup ini punya sisi lain dan itu tidak boleh terabaikan hanya karena Aku terluka oleh cinta. Terlebih lagi, Aku memegang prinsip dasarnya bahwa mencintai itu sama dengan memahami. Jadi, kalau Aku sayang kepada Kau, dia juga harus paham tentangnya.
Semangat... Semangat... Semangat…
***

Suatu hari, Aku yang telah sedikit banyak sudah memiliki ketegaran menghadapi masalah dalam kehidupannya harus kembali merasakan sakit yang teramat. Bagaimana tidak, hal terbesar yang sama sekali tidak pernah dipikirkannya selama menjaga kedekatan dengan Kau menjadi penyebab kepedihan itu.

Minggu ini, mereka merencanakan untuk bertemu dan menyelesaikan semuanya. Aku ingin memantapkan hatinya dan harus memilih jalan yang harus dia tempuh. Tetap kembali merajut mimpi tengtang masa depan yang bahagia bersama Kau atau meninggalkan semua untuk selama-lamanya.

Pernahkah kau melihat jauh ke dasar hatiku?
Andai iya,
Mungkin tak akan ada rasa yang kini menjalar
Pada tumpakannya
Pada hatiku yang kini bak ter-euthanasia
Hanya tinggal menunggu waktu saja
Hingga ia berhenti merintih kesakitan
Lalu mati;

Dan andaipun tidak,
Maka aku tak punya kata lagi
Untuk kukatakan padamu.

Kini hati ini dalam keadaan koma
Ia menunggumu,
Membangunkannya lalu mengajaknya beranjak
Melewati segala kepedihan yang dirasakannya
Adakah yang bisa menahanku
Dari segala luka di dadaku
Membawaku pergi jauh dari kegelisahan ini
Memantraiku hingga aku lupa
Jika aku pernah sakit dan terpuruk karenamu


Markas D’Code, 21 Januari 2012
Kuselesaikan ketika akupun mengingatmu dalam
kerinduan yang tak berhenti menyelimutiku

Bagikan ke

2 Komentar

kenangan asmara yang mengharu biru

@BlogS of Hariyanto Heheheee.... Iya. Kisah salah seorang sahabatku....