Mengurai segala kekecewaan dan menumpahkannya pada sehelai kertas tanpa noda. Mengotorinya dengan coretan-coretan hingga tak bersih lagi. Melampiaskan amarah yang selalu melekat dalam penat. Amarah yang tak bermuara. Terasing dalam perkampungannya sendiri. Seorang diri.

Syahid adalah seorang lelaki yang akhir-akhir ini berulang kali merasakan kekecewaan yang datang bertubi-tubi. Meski dulu, ia pernah mengabdikan jiwa dan raganya pada rumpung kebersamaan. Mencurahkan segala pikiran dan apa yang dimilikinya untuk semua orang. Menguras tenaga demi sebuah kemenangan dan pengakuan di desanya yang biru.

Namun, kini ia hanya bisa menjalani sisa keberadaanya dengan kekecewaan itu. Tak ada yang mengerti. Bahkan memang tidak ada yang mau mengerti dan mempedulikan apa yang sedang dialaminya. Ia seorang diri. Tanpa teman, sahabat, dan saudara. Untung saja ada seorang kekasih yang selalu memberinya semangat untuk tetap bertahan dan tidak berpikiran yang bukan-bukan.

Meredam kecewa rapat-rapat memang tidaklah mudah. Tidak semudah membalik telapak tangan. Tapi apa mau dikata, semua harus begini. Kesabaran dan ketabahan Syahid membuatnya tetap bertahan dalam situasi yang sudah tidak bersahabat lagi seperti dulu. Seperti ketika ia baru menginjakkan kaki pada perkampungan kecil itu. Dimana rasa kerinduan masih kental melekat pada tiap sudut kampung dan canda tawa yang selalu menyertai setiap pertemuan para penduduknya. Rasa saling menghargai sesama penduduk sangat dijunjung tinggi.

Setelah bertahun-tahun, keteduhan yang meraja di perkampungan itupun kian menipis dan mungkin sebentar lagi akan pupus. Semoga saja tidak.
“Syahid, kamu dipanggil oleh pak desa. Ada hal penting yang harus dibicarakan. Sepertinya menyangkut tentang hasil kebun kita”, Burhan menghampiri Syahid yang sedang membuat kandang untuk ayam-ayamnya.
“Ada apa lagi dengan kebun kita, Bur?”
“Entahlah. Yang jelas, kamu harus ke rumah pak desa sekarang”
“Baiklah. Aku ganti baju dulu”
“Ya sudah, aku juga mau ke rumah Imam. Dia juga dipanggil oleh pak desa”. Lalu, Burhan pun berlalu meninggalkan gubuk kecil milik Syahid. Gubuk yang berukuran delapan kali lima dan baru dia tempati selama tiga tahun ini. Gubuk dimana Syahid melalui suka dan duka.

Setelah mengganti pakaian, Syahid langsung berangkat ke rumah pak desa dengan mengendarai sepeda butut miliknya. Jaraknya tidak begitu jauh. Hanya sekitar satu kilometer saja. Sepanjang perjalanan, ia selalu memikirkan hal yang membuat pak desa memanggilnya. Apa yang ingin dibicarakan pak desa? Gumamnya.

Sepeda digayuh dengan santai. Ia tak ingin buru-buru. Sesekali ia menyapa penduduk yang sedang berjalan kaki. Keramahan Syahid membuat ia dikenal dan disegani oleh warga di desanya. Meskipun baru beberapa tahun berada di desa itu, ia seperti telah berpuluh-puluh tahun menjadi penghuni perkampungan yang memiliki banyak lahan persawahan penduduk. Karena keramahannya itulah, ia sering dipanggil oleh pak desa bila ada masalah serius menyangkut desa mereka. Sekedar untuk memberi pertimbangan atau usulan dalam menyelesaikan masalah karena ia memang berpotensi pada wilayah itu.

Syahid melayangkan pandangan ke hamparan sawah yang begitu luas. Menghijau oleh daun-daunnya yang sebentar lagi menguning. Sungguh tuhan memberikan desa itu karunia yang amat besar. Memberikan tanah yang sangat subur sehingga setiap kali paneng raya, selalu mendapat hasil yang melimpah.

Beberapa menit kemudian, sampailah Syahid di depan rumah yang sangat sederhana namun begitu rapi dan bersih. Rumah mungil itu adalah rumah milik kepala desa di perkampungan kami. Di halaman rumah dipenuhi dengan bunga-bunga yang mulai mekar. Sungguh indah.

Perlahan ia melangkah memasuki pekarangan rumah pak desa. Dari dalam rumah nampak ramai dengan suara-suara yang sedang berbincang. Entah apa yang mereka bicarakan. Mungkin tentang sawah-sawah kami. Sawah yang masih sangat kering, tapi tidak berhenti diperebutkan.

Aku tak sempat mengingat darimana cerita ini berawal....

Bagikan ke

0 Komentar