Pagi itu aku bertemu mereka untuk yang pertama kali. Di sebuah rumah yang baru kudatangi. Masih terasa asing. Saat itu pertama kali aku bertemu dengan kalian, sahabat. Orang-orang yang tak pernah kusangka sebelumnya akan menjadi bagian dari perjalanan hidupku. Ya, aku tak pernah berpikir seperti itu. Seperti kejadian yang tak pernah terencana dan berjalan secara alami.
Hari itu, matahari nampak cerah bersinar. Sesuai ketentuan dari kampus, aku berangkat ke sekolah tempat untuk melaksanakan kewajiban akademik sebagai mahasiswa, P2K. Program pemantapan profesi keguruan atau biasa disingkat P2K adalah salah satu mata kuliah pengganti KKN. Program yang baru dilaksanakan selama dua tahun di kampusku.
***

Setelah mandi dan memakai pakaian hitam putih ditambah dengan jas berwarna biru, aku segera berangkat dengan mengendarai motor tua milikku. Jaraknya cukup jauh dari rumah kost-ku. Butuh lima belas sampai dua puluh menit untuk sampai ke SMK Handayani Sungguminasa, Gowa. Deru dan hiruk pikuk kendaraan yang berlalu lalang membuat jalan sedikit macet. Aku melirik jam di HP-ku. Sudah menunjukkan pukul 07.20. “Gawat! Aku pasti terlambat sampai ke sekolah. Mana lagi jalannya macet. Padahal hari ini adalah hari pertamaku ke sekolah tersebut. Teman-teman yang lain pasti sudah ada di sana. Mudah-mudahan saja dosen yang mewakili kampus agak telat sampai”, kataku dalam hati.

Acara penerimaan mahasiswa P2K di sekolah direncakan pukul 07.30. Seluruh masiswa yang ditempatkan di sekolah itu harus hadir. Supaya tahu lokasinya dan pengenalan terhadap guru-guru serta kepala sekolahnya. Dari jurusanku sendiri sebanyak sepuluh orang. Begitupun dari jurusan lain.
***

Akhirnya aku sampai juga di sekolah setelah lama berputar-putar karena aku memang belum tahu persis letaknya di mana. Jam sudah menunjukkan pukul 07.40. Pintu gerbang sudah dikunci oleh satpam penjaga sekolah. Untung saja aku bisa memberikan alasan sehingga pak satpam mau membuka gerbang.

Aku melangkah mencari aula sekolah sambil merapikan pakaian. Dari jauh terlihat sudah banyak yang telah berkumpul di depan sebuah ruang berukuran besar. Aku langsung menuju ke tempat itu. Kuperhatikan wajah orang-orang yang begitu asing di mataku. Mereka pasti teman-teman dari jurusan lain yang juga ditempatkan di sekolah yang sama denganku.
“Jam berapa acaranya dimulai?”, tanyaku pada Jum. Salah seorang teman dari jurusan matematika yang memang sudah kukenal sebelumnya.
“Ndak tahu juga. Perwakilan dari kampus belum datang”, jawabnya.

Alhamdulillah. Untung saja perwakilan dari kampus yang akan melepas kami belum datang. Aku bisa berkenalan dengan yang lainnya sambil menunggu dosen dari kampus. Aku duduk di sudut di sebuah kursi plastik yang sudah tersusun rapi. Rupanya pihak sekolah sudah mempersiapkan kedatangan kami. Kubuka jas yang kupakai karena sinar matahari pagi begitu menusuk hingga gerah. Keringatpun tak bisa terbendung lagi. Baju kemeja putih yang kupakai agak basah.
Kita dari jurusan apa?”, tanyaku pada seorang lelaki yang duduk di sebelahku. Kita adalah sapaan hormat orang Makassar kepada orang yang baru dikenal atau orang yang lebih tua.
“Jurusan Fisika. Kita?”, katanya bertanya balik padaku.
“Saya dari Bahasa Indonesia. Namaku Ian. Kita?”, tanyaku lagi.
“Saya Alka”.

Perbincangan kamipun berlanjut dengan saling bertanya. Mulai dari daerah asal sampai yang lain-lainnya. Ternyata kami berasal dari daerah yang sama, Bulukumba. Hanya saja berbeda kecamatan. Hari itu, aku hanya berkenalan saja dengan Alka.

Tak terasa waktu berjalan. Dosen perwakilan dari kampus telah datang. Semuanya telah berkumpul. Bapak kepala sekolah dan guru-guru lainnya juga sudah duduk di depan kami. Prosesi serah terima mahasiswa dari kampus ke sekolah berjalan lancar. Kami bisa mulai mengajar besok.
***

Sinar matahari kian terik. Perut sudah mulai keroncongan karena sejak pagi belum terisi apa-apa. Pagi tadi aku terlambat bangun dan tidak sempat sarapan sebelum berangkat ke sekolah. Aku mengajak beberapa teman ke kantin belakang sekolah. Sekedar berbincang-bincang sambil menikmati teh gelas dingin.
“Besok, kamu ke sekolah lagi?”, tanyaku pada salah seorang teman.
“Kayaknya tidak. Besok pagi aku ada kuliah”, jawabnya setelah meneguk teh dingin yang sudah kami pesan. “Kalau kakak?”, ia balik bertanya padaku dengan panggilan kakak. Setelah berkenalan tadi, memang banyak yang memanggilku dengan panggilan kakak. Selain karena usiaku yang memang lebih tua dari mereka, mungkin juga karena ikut-ikutan ketika mendengar Jum memanggilku kakak.
“Tidak juga. Ada sedikit urusan”.
“Oo...”

Perjalanan hari ini sedikit melelahkan ditambah lagi dengan cahaya matahari yang membuat tenggorokan kering. Dari sekolah, aku langsung pulang ke rumah. Istrahat, makan, dan tidur siang. Aku benar-benar kelelahan.
***

Seminggu kemudian, aku kembali ke sekolah. Masih dengan motor tua yang kumiliki, aku menyusuri jalan beraspal. Tapi kali ini aku mengambil jalan pintas melewati jalan-jalan yang kurang dilewati kendaraan. Takut terlambat lagi karena hari ini adalah hari pertamaku mengajar.

Sehabis mengajar, aku tidak langsung pulang. Ada rapat dengan teman-teman mahasiswa P2K. Rapatnya diadakan di rumah salah seorang teman kami yang letaknya tidak jauh dari sekolah. Hanya sekitar dua ratus meter dari sekolah. Pemilik rumah itu namanya Iies. Begitulah panggilan yang sering kudengar dari mulut teman-teman yang lain. Aku, Alka, Jum 1, Jum 2, Zilin, Iies berangkat barengan dan disusul teman yang lainnya. Kami semua telah berkumpul di rumah yang dimaksud. Rapat pun dimulai dengan agenda persiapan kegiatan-kegiatan non-mengajar yang akan kami lakukan. Beberapa kegiatan telah disepakati, mulai dari kerja bakti hingga pembuatan papan jalan di salah satu kelurahan sekitar sekolah.

Aku mengajar setiap hari senin.... To be continue

Bagikan ke

2 Komentar

Banyak orang yang terlibat dalam perjalan hidup yang bergelombang..... Banyak juga yang tak sempat kita ingat lagi.....