Lelah. Aku memulainya dengan kata itu. Entah apa sebabnya. Aku juga tak pernah tahu. Jadi, jangan bertanya lagi “mengapa?”

Aku masih setia ditemani motor butut yang sudah tiga tahun ini bersamaku. Berbekal sedikit modal untuk si butut, aku nekat mengendarainya melewati dua kabupaten. Padahal biasanya aku tak pernah meninggalkan Makassar dengan modal yang sangat minim. Alasannya bukan karena si butut sering menyusahkan ataupun sering macet di jalan, tapi karena si butut ini terlalu sering kehausan. Untung saja hari ini ada teman yang mau menemani bersusah-susah ria jika sumber air minum si butut habis dan tak ada lagi lembaran kertas untuk ditukarkan. “Kasihan, aku ini orang yang tak punya apa-apa selain si butut. Saat ini aku benar-benar tak punya uang untuk bekal ke lokasi pengkaderan calon warga baru di lembagaku. Namun cinta pada nirwana kecilku itu mampu menyemangatiku untuk tetap berangkat.”

Dalam perjalanan hari ini, tak banyak yang bisa kucerita. Aku hanya terus berkonsentrasi dengan jalan yang kulalui bersama si butut dan seorang teman tentunya. Kadang mengebut dan kadang juga memperlambat. Kayaknya tergantung mood.

Bagikan ke

1 Komentar

Ada banyak kisah yang tak sempat terselesaikan.